"Gila emang si Devina. Masih saja nekat ingin mendekati kamu. Padahal sudah pernah diajak putus," ujar Steven.
"Ya, begitulah cewek kalau sudah bucin. Pastinya akan tetap nekat melakukan apapun demi bisa mendapatkan orang yang dia sukai. Serem bro," kata Mike.
"Padahal itu semakin menjatuhkan harga dirinya sendiri," celetuk Defan. Cowok yang irit bicara ini sekalinya berbicara pastinya lebih pedas dari ketiga temannya yang lain.
"Busyeeeeeeeeeettttttt omongan lu fan. Udah menyeramkan aja," sahut Mike.
"Tapi kalau aku jadi Brian. Sudah aku embat aja tuh si Devina. Dia itu ratu sekolah, cantik, kaya raya dan juga body nya uhuuuuiiiii, aduhai banget nggak tuh. Pasti kalian pada ngebayangin kan sewaktu dia meluk Brian tadi. Pasti si Brian menang banyak tuh. Kalian ngelihat kan kek gimana body nya si Devina," ujar Steven sambil membayangkan kalau dia ada di posisi Brian saat itu.
"Pikiranku nggak sekotor omonganmu barusan ya, stev!" sahut Brian yang jengah dengan omongan teman-temannya tentang dirinya.
"Ayolah bro, kurang apa lagi Devina. Ratu kecantikan di sekolah SMA Dirgantara lho sampai tergila-gila padamu. Tetapi kamu masih saja mengabaikan dia. Sampai dia segila itu coba. Masak ada cewek waras yang mau ngadain paniti pendaftaran calon kekasih sementara Brian. Dia itu secintanya sama dirimu, jadi oleng otaknya. Asalkan masih bisa berstatus sebagai kekasihmu. Dia sampai bertindak seekstrim itu," ujar Steven kembali.
Brian berdecih mendengarkan ucapan Steven. Memang dia playboy tetapi itu dia lakukan untuk menghilangkan rasa penat yang dia terima selama ini dari perlakuan orang-orang di rumah yang memuakkan baginya.
"Aku nggak tertarik sama dia. Dia biasa saja buatku. Seorang cewek bucin begitu. Aku sudah tidak mood lagi bersamanya. Hanya saja dari dulu dia sudah untuk putus sama aku. Malah pernah ngancam mau bunuh diri segala. Sekarang ini masih mendingan dia buat panitia begitu," ujar Brian panjang lebar.
"Emang selama ini nggak ada apa? Cewek yang bisa buat hatimu tergerak?" tanya Mike penasaran. Soalnya teman baiknya itu tidak pernah berhubungan lama dengan seorang cewek. Brian gampang banget bosannya.
"Nggak ada. Mereka mudah banget dirayu. Sampai malas aku dibuatnya. Karena mudah sekali mereka luluh dengan bujuk rayuan saja," jawabnya sambil duduk santai di rooftop sekolah. Tempat yang paling nyaman untuk mereka berempat berbincang-bincang selama di sekolah.
"Memang seperti itulah para cewek. Mudah dirayu, mudah nangis dan juga mudah menjadi bodoh karena cinta," sahut Mike dan disambut gelak tawa oleh kedua temannya yang lain, kecuali Defan. Cowok irit bicara itu hanya tersenyum kecil saja. Dia menjadi ingat almarhumah sang kakak yang sifatnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan oleh temannya barusan.
"Kamu nggak takut karma?" tanya Defan dan semuanya menoleh ke arahnya.
Defan menatap Brian dengan sorot mata tajam. Dia tampak meminta Brian menjawab apa yang menjadi pertanyaannya barusan.
"Trauma apa?" tanya Brian tidak mengerti.
"Mempermainkan mereka sama juga menyakitinya. Apakah kamu tidak takut karma suatu hari akan datang padamu? Mungkin nanti ada cewek yang bisa menaklukkan dirimu?" tanya Defan dan Brian hanya tersenyum getir.
"Aku justru ingin bertemu dengan cewek yang bisa menaklukkan diriku. Agar aku tidak lagi merasa hampa seperti ini. Kalian mengerti kan apa yang ku maksud?" tanya Brian dan ketiga temannya hanya menganggukkan kepalanya pelan.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments