"Kamu mau pesan apa zi? biar aku saja yang pesankan," tawar Liora sambil membenarkan letak kacamatanya.
Zizi masih memandangi beberapa kedai makanan yang ada di kantin. Dia sedang berpikir apa yang dia inginkan.
"Aku mau bakso yang pedes ya, minumnya es teh," jawab Zizi sambil menatap Liora. Lagi-lagi dengan raut wajah datarnya. Gadis ini memang sudah terbiasa melakukan hal tersebut.
"Baiklah, kamu tunggu sebentar ya, aku akan segera bawakan kemari," ujar Liora sebelum dia berlalu meninggalkan Zizi duduk sendirian di bangku yang ada dikantin sekolah SMA Dirgantara.
Jangan tanyakan bagaimana modelan kantin SMA yang begitu populer dan juga berkelas. Tentunya bagus banget untuk ukuran sebuah kantin. Harga makanan di sana juga tidak bisa terbilang murah. Karena mereka tahu bahwa yang membeli adalah anak-anak dari orang-orang kaya.
Zizi memainkan handphonenya karena merasa bosan sambil menunggu kedatangan Liora dengan makanan yang dia pesan. Meskipun dia anak baru di sekolah SMA Dirgantara. Tetapi Zizi bukan tipe orang yang akan bersosialisasi dengan sekitarnya. Dia terkesan cuek dan acuh tak acuh dengan orang-orang yang tampak menatapnya. Tentu saja mereka sudah mengetahui kalau Zizi adalah siswi baru pindahan di sekolah itu.
Bug!
Pyaaaarrr!
"Aduh, panas!" seorang gadis berkacamata hitam itu mengaduh saat tangannya ketumpahan kuah panas yang dibawanya. Tampak tangannya itu sedikit melepuh karena terkena kuah bakso yang panas tersebut.
"Heh! Kalau jalan pakai mata dong! dikira jalan nenek moyangnya apa ya?" suara teriakan itu justru berasal dari salah satu dari tiga gadis yang kini sudah berdiri mengepung si gadis tambun dengan kacamata hitamnya yang tebal.
"Sudah mata empat masih saja jalannya nggak bener. Gimana kalau nggak pakai kacamata tuh. Semua orang ditabrak itu pastinya," ujar gadis dengan rambut seleher tersebut.
Dia tersenyum mengejek ke arah Liora yang masih menundukkan kepalanya sambil memegangi tangannya yang sakit. Lebih tepatnya perih karena luka itu sudah melepuh. Dia butuh sebuah salep untuk luka bakar sekarang. Tetapi trio rusuh di depannya ini tentu tidak akan melepaskan dia begitu saja.
"Maaf Devina, Cindi dan Imel, a-aku tidak sengaja," cicit Liora dengan menundukkan wajahnya.
Bug!
"Aduh!" lagi-lagi Liora mengaduh saat lututnya beradu dengan ubin di kantin dengan kerasnya.
"Heh, anak cupu, nggak sopan banget ya, ngomong sama ratu nggak tau aturan banget. Yang bener posisi kamu itu dibawah. Bukan berdiri sejajar seperti kita. Kamu itu cuma sampaaah. Tempatmu yang cocok itu ada di bawah. Bukan berhadapan sama kita-kita. Sadar diri dong. Dan juga ngaca!" seru Imel dengan pedasnya.
Cuiihhhh!
"Udah jelek aja sok-sokan," tambah Cindi dengan menarik-narik rambut Liora yang dikuncir kuda tersebut.
"Wkwkwkwkwk, dia nangis guys!!!! Wkwkwkwkw, videoin aahhhh," ujar Imel dengan semangat empat limanya.
Dia mengamb handphone dan memvideo Liora yang sedang menangis tersebut. Sungguh lucu menurutnya. Sedangkan Devina hanya tersenyum bangga dengan apa yang dilakukan oleh dayang kanan dan kirinya.
Liora hanya menangis mendapati dirinya diperlakukan seperti itu oleh Devina cs. Dia selalu tidak bisa melawan mereka. Liora merasa tidak pernah mampu melawan kekuasaan dari Devina cs.
"Lepaskan dia!" suara di belakang Devina cs membuat ketiganya sontak menoleh.
Seorang gadis dengan raut muka datarnya. Menatap trio rusuh itu dengan sorot mata yang datar tetapi cukup tajam untuk membuat ketiganya sedikit terintimidasi karenanya.
"Heh, ada pertunjukan seru neh kayaknya," ujar Mike menepuk bahu Steven kencang.
Ketiga temannya yang lain pun memperhatikan ke arah yang tunjuk oleh Mike.
"Anak baru itu?" senyum tersungging dibibir menawan milik Brian.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments