My Hero

"Aduuhhh..." rintih Liora saat salep dioleskan oleh Zizi ditangannya yang terluka.

"Tahan," ucap Zizi karena dia bel selesai mengobati luka di tangan teman barunya tersebut.

"Terimakasih banyak ya zi, kamu sudah menolongku. Kamu hebat," puji Liora sambil memberikan tanda jempol dengan tangannya yang tidak terluka.

Zizi hanya menjawabnya dengan berdehem saja. Gadis itu benar-benar irit bicara. Setelah selesai mengobati luka Liora. Kini keduanya duduk di taman sekolah saja sambil menikmati roti dan minum dengan sebotol air mineral. Perut Zizi demo karena dia sebenarnya agak lapar. Tetapi belum sempat makan sudah terjadi insiden yang tidak diinginkan.

"Maaf ya zi, kamu nggak jadi makan dikantin gara-gara aku," lirih Liora merasa bersalah.

Dia begitu lemah sehingga mudah tertindas. Dia tidak memiliki keberanian untuk melawan seseorang. Sehingga dirinya selalu dijadikan bahan bulan-bulanan oleh kelompok Devina.

"Kenapa diam saja ditindas?" tanya Zizi sambil mengunyah roti pemberian dari Liora.

Liora seketika menundukkan kepalanya saat mendengarkan pertanyaan dari Zizi. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena memang dirinya yang tidak bisa melindungi diri sendiri.

"Aku lemah dan juga bodoh. Tidak bisa melindungi diriku sendiri dari kekejaman mereka. Aku yang bodoh ini tidak berani melawan mereka. Aku terlalu penakut," ujar Liora dengan tatapan yang mengarah ke bawah. Dia menundukkan kepalanya meratapi dirinya sendiri.

"Kamu bisa melawan, kalau mau," ujar Zizi.

"Bagaimana caranya?" tanya Liora tampak antusias.

Dia sebenarnya juga ingin melawan tetapi hati kecilnya selalu mengatakan bahwa dia tidak mungkin menang dari Devina cs.

"Kamu harus berani melawan. Bukan terus-menerus jadi kaum tertindas," jawaban Zizi membuat Liora malah semakin bingung. Bagaimana cara melawan. Sedangkan dia saja setiap kali dikerjain selalu berujung menangis.

"Aku bingung zi, bagaimana caranya melawan. Aku ingin sekali menghentikan perbuatan mereka. Tetapi aku selalu nggak berani. Aku terlalu takut untuk melawan. Aku bodoh ya," Liora mulai menangis.

Zizi menepuk bahu Liora perlahan.

"Belajarlah melawan. Jangan mau ditindas terus menerus," ucap Zizi memberikan semangat kepada sang teman baru.

Liora menganggukkan kepalanya. Dia mencoba menghapus air matanya. Benar apa yang Zizi katakan bahwa dia tidak boleh terus terusan sebagai bahan pembulian. Dia juga harus melawan perbuatan Devina itu agar tidak dikerjain terus setiap kali di sekolah.

Ketika selesai jam pelajaran terakhir. Zizi dan juga Liora tampak berjalan berdua menuju ke gerbang sekolah. Mereka akan pulang ke rumah masing-masing. Namun, tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi kepada mereka berdua.

Byuuuurrrr!

"Arrrkh....."

"Hahahahaha......"

Ada yang menyiram air kotor dari lantai dua ke badan Zizi dan juga Liora. Keduanya basah kuyup dan menjadi tontonan siswa lain yang saat itu sedang berjalan untuk pulang. Belum lagi bau yang ditimbulkan dari air yang digunakan buat menyiram mereka berdua. Sungguh bau banget air tersebut. Entah dicampur apa oleh geng Devina sehingga baunya seperti itu.

"Hahahahaha..... kapok nggak lu! Makannya jangan belagu jadi cewek. Anak baru aja sok mentang-mentang di sekolah ini. Dia nggak tahu siapa kita kali ya," suara tawa kembali menggema dari lantai atas. Itu adalah kelompok Devina.

Zizi menatap ke arah lantai dua. Kemudian dia berjalan masuk kembali ke gedung sekolah.

"Eh, zi kamu mau kemana?" tanya Liora yang panik dan cukup takut. Dia takut Zizi akan melawan Devina cs. Bagaimana ini?

Liora mengejar Zizi yang tampaknya naik ke lantai dua dimana Devina cs berada.

"Hahahahahaha... lihat wajah mereka di foto. Lucu banget ya," ujar Imel yang tadi sempat mengambil foto Zizi dan juga Liora.

"Wajahnya menggelikan banget sih,hahahha," sahut Devina dan kembali gelak tawa terdengar dari ketiga orang tersebut.

Byuuuuuuurrr!

Aaaaaarrrkkhh!

Apa-apaan ini!

Jeritan itu berasal dari Devina cs saat seseorang menyiram mereka bertiga dengan air yang cukup bau banget.

"Kamuuu!!!!" teriak Devina yang begitu marah melihat siapa yang sudah berani melakukan hal itu kepadanya.

Orang yang ditunjuk oleh Devina itu hanya tersenyum tipis.

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!