Devina semakin panik karena merasa terpojok sekarang. Dia tidak menyangka kalau lawan yang ada di depannya saat ini ternyata lebih gila dari dirinya. Zizi berjalan dengan tatapan dingin dan sorot mata tajamnya. Sungguh menyeramkan di mata seorang Devina Hutomo. Dia terus berjalan mundur sampai dia terpojok di tembok dan tidak bisa lari kemana-mana lagi.
"Kamu tidak bisa kemana-mana lagi ya?" ucap Zizi dengan senyum menyeringainya. Hal itu membuat Devina bergidik ngeri melihatnya Gadis itu manusia apa setan sebenernya sih, batin Devina dengan ketakutan.
Zizi menunjukkan pisau milik Devina yang tadi terjatuh dan kini berada tepat di tangannya. Dia menunjukkan kepada Devina keahlian dia memegang pisau dan hendak menusukkan pisau tersebut tepat di mata Devina sehingga gadis yang terkenal sebagai ratu kecantikan di SMA Dirgantara itu menjerit sangat keras.
Aaaaaarrrkkhh!
"Ada apa ini?" sebuah suara melengking membuat Devina seketika membuka matanya karena merasakan sebuah bantuan datang menolongnya.
"Bu... aaarkkkhhh!" sebuah benda dingin dan tajam sedang berada tepat di punggungnya.
Ketika Devina merasakan kalau Zizi ternyata kini sedang merangkul tubuhnya dari samping. Devina tidak menyangka apa yang akan cewek psikopat ini lakukan kepadanya. Devina menjadi berdebar-debar tidak karuan. Dia tidak mau mati konyol ditangan cewek gila tersebut.
"Ada apa ini? kenapa kalian basah-basahan begitu?" tanya Bu cinta yang melihat apa yang terjadi dengan kelima cewek yang dia temukan dengan pakaian seragam basahnya.
"Jangan berkata apapun kalau tidak ingin pisau itu menancap dengan sempurna," bisik Zizi dengan nada dinginnya.
Glek!
Devina menelan salivanya dengan susah payah saat mendengarkan ancaman yang Zizi berikan kepadanya. Dia belum pernah mendapatkan ucapan semenyeramkan itu.
"Apakah kalian sedang berkelahi di sekolah? apakah itu benar?" tanya Bu cinta kali ini dengan suara yang meninggi melihat ada yang terduduk di lantai dan kelakuan Zizi dengan Devina yang tampak aneh dengan posisi Zizi memeluk bahu Devina. Sedangkan Liora tampak menundukkan kepalanya dengan memilih ujung roknya. Ada apa sebenarnya mereka berlima ini.
"Kami merayakan pertemanan kami Bu, benar begitu bukan Devina," ucap Zizi sambil menatap ke arah Devina dengan sorot mata tajamnya saat Devina balik menatapnya.
"Devina...." lirih Zizi meminta pembelaan dari gadis tersebut agar pernyataan yang dia berikan kepada Bu cinta benar-benar kuat.
"I... iya Bu," ujar Devina lirih dengan senyum yang dibuat-buat.
Jawaban Devina tentu membuat Bu cinta mengernyitkan dahinya. Dia merasa masih ada yang aneh di sini.
"Lalu kenapa kalian bajunya basah dan bau begini. Memang apa yang kalian lakukan barusan?" tanyanya kembali ingin tahu yang sebenarnya terjadi.
"Ini salam perkenalan Bu, Devina ingi membuat sesuatu yang berkesan di awal pertemanan kami. Bukan begitu," kata Zizi dengan senyum yang dibuat-buat semanis mungkin.
Sambil tangannya menekan pisau yang ada di punggung Devina. Merasakan ada pergerakan di punggungnya membuat Devina mau tidak mau mengikuti Skenario alur yang telah dibuat oleh Zizi.
Begitu juga dengan dua dayang setianya Devina. Mereka ikut apa yang dikatakan oleh sang ratu mereka. Bu cinta manggut-manggut mendengarkan penjelasan mereka. Bahkan Liora ikut membenarkan apa yang dikatakan Zizi dan juga Devina.
"Baiklah kalau memang begitu. Cukup main-mainnya sekarang kalian berlima pulang. Baju kalian basah begitu. Kalau dibiarkan terlalu lama kalian bisa masuk angin nanti," perintah Bu cinta setelah memberikan banyak perintah guru cantik dan merasa seksi itu berjalan dengan anggunnya meninggalkan kelima siswi yang masih berada di lantai dua gedung sekolah SMA Dirgantara.
Bug!
"Jangan pernah bermain-main denganku. Atau kalian ingin merasakan yang lebih dari ini," ucap Zizi menunjuk ke arah ketiga cewek yang sudah membulli dirinya dan juga Liora.
Kretak!!!
Mata ke empat gadis yang ada di sana seketika terbelalak saat melihat apa yang zizi barusan lakukan kepada benda pipih nan tajam tersebut. Dia semudah itu mematahkannya tepat di depan devina cs.
"Berpikirlah ulang sebelum melukaiku dengan benda seperti ini," ucap datar Zizi dengan sorot mata dinginnya.
Dia berjalan melewati kelompok Devina begitu saja.
"Ayo pulang," ajak Zizi kepada Liora yang tidak mampu lagi berkata apapun.
Gadis tambun berkacamata hitam tebal itu tidak jauh berbeda dengan kelompok Devina yang masih syok dengan apa yang Zizi lakukan barusan.
Dia cukup seram juga, batin Liora dengan detak jantungnya yang masih berdebar dengan kencang.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
evita vita
senang bnget sm cewe yg bisa melindungi dirinya
2023-06-01
2
🍃yanni🍃
makin seruu neeeexxt thoor👍💪
2023-01-04
1