" Tania? Bisakah kau coba memanggilkan Nona Zaskia? Nona belum sarapan padahal ini sudah cukup siang. Bibi khawatir Nona sakit atau kenapa. " ungkap Bi Marni cemas.
Tadi pagi Bi Marni sempat melihat Tuan Kendra pergi tanpa menyentuh sarapannya. Dan sekarang, hari sudah siang tapi Nona Zaskia belum keluar dari kamarnya.
Sebagai orang yang sudah lama bekerja disana, dirinya bisa menebak jika kedua majikannya sedang bertengkar. Dan kemungkinan besar masalahnya tidak jauh dari seputar anak.
Tania nampak ragu, dirinya sendiri bisa merasakan hawa panas yang ada di rumah ini semenjak kedatangan orang tua Tuan Kendra. Dirinya bahkan sempat memergoki saat ibu Tuan Kendra mendorong Zaskia hingga jatuh.
" Tapi, Bi? Apa tidak apa-apa? Takutnya Nona sedang beristirahat atau mungkin sedang ingin sendiri?" tanyanya ragu.
" Sudah tidak apa-apa. Bagaimanapun justru tidak baik jika Nona melewatkan sarapannya. Yang ada nanti dia malah sakit. Buruan sana panggil. " perintah Bi Marni menahan gelak tawa. Ia melihat wajah Tania yang begitu imut karena takut bercampur keragu-raguan.
Taniapun menaiki tangga menuju kamar majikannya.
Tok...tok..tok...
Mendengar pintu kamarnya diketuk, Zaskia langsung berhambur menuju pintu. Ia berharap suaminyalah yang ada diluar sana.
Namun, dirinya harus kembali menelan kekecewaan saat mengetahui bahwa yang diluar adalah Tania.
Tania dapat menangkap gurat-gurat kekecewaan di wajah majikannya. Ia semakin tak enak hati, sepertinya Zaskia sedang menunggu kedatangan orang lain dan kemungkinan besar orang itu adalah suaminya.
" Maaf, Nona. Saya diminta Bi Marni untuk membujuk anda sarapan pagi terlebih dahulu. Beliau tidak ingin anda sakit lagipula mubazir makanan sudah disiapkan, tetapi tidak ada yang makan. " bujuk Tania.
" Ya. Sebentar lagi aku akan ke bawah. "
Tak berselang lama, Zaskiapun turun ke ruang makan. Namun, langkahnya terhenti, ingatan akan kebersamaannya bersama sang suami mulai terbersit di kepalanya. Biasanya mereka akan meluangkan waktu untuk bisa sarapan pagi bersama.
Ia menjatuhkan bobot tubuhnya diatas kursi makan sembari menatap berbagai hidangan yang tersaji diatas meja. Nafsu makannya seakan meluap begitu saja, tidak ada yang bisa menggugah selera makannya sama sekali.
" Nona, dimakan jangan dilihat saja. " Tania sampai keceplosan karena gemas melihat kelakuan majikannya. Padahal jujur, dirinya saja hampir ngiler melihat makanan hanya dipajang tanpa disentuh.
" Mubazir..Mubazir..." batinnya menatap berbinar berbagai hidangan yang tersaji.
Tingkah polos Tania berhasil membuat Zaskia terkekeh karenanya.
" Kau mau makan bersamaku? Aku tak mungkin menghabiskan semuanya sendiri. " goda Zaskia.
" Iya, Mau. Eh..maksud saya apa Nona tidak jijik makan bersama pelayan? " dalam hati Tania merutuki kebodohannya karena tidak mampu menjaga mulutnya. Maklum, jangankan makan enak, dirinya bahkan sering tidak kebagian makanan karena mengalah pada adik-adiknya.
" Tentu saja tidak. Aku tidak suka makan sendiri, rasanya kurang nikmat. Ayo duduklah. "
Tanpa menunggu lama, Taniapun langsung duduk. Ia menelan salivanya dan berusaha mengontrol diri. Bagaimanapun dirinya harus bersikap sopan terhadap majikan.
Keduanyapun akhirnya makan bersama. Setelah selesai sarapan, Zaskia mencoba mengajak gadis itu mengobrol.
" Apa kau pernah punya cita-cita? " tiba-tiba kata itu terlontar dari mulutnya.
" Tentu saja, Nona. Dulu aku ingin sekali menjadi guru, tapi manamungkin. Biayanya terlalu besar, apalagi ibu hanya bekerja sendiri setelah kepergian Bapak. Tapi, tidak apa-apa, paling tidak aku bisa menjadi guru buat adik-adikku. " ungkapnya tersenyum ceria. Ia jadi ingat adik-adiknya dikampung sekarang.
Zaskia tersenyum mendengarnya,
" Apa salah jika kita berusaha sekuat tenaga agar bisa meraih apa yang kita cita-citakan? Apalagi, jika cita-cita itu merupakan harapan orang yang begitu kita sayangi? "
" Tentu saja tidak, Nona. Selama kita merasa mampu, kita berhak memperjuangkannya. " jawab Tania jujur.
" Tapi kenapa, kenapa mas Kendra tidak bisa mengerti tentang hal itu? Dia dan orang tuanya selalu memaksaku untuk segera hamil. Aku bukannya tidak mau, aku hanya menundanya. " tanpa sadar ia mencurahkan segala keluh kesah dihatinya. Dirinya memang butuh tempat curhat saat ini.
" Aku tahu Mas Kendra suami yang baik, mapan , perhatian. Tapi, aku belum bisa menuruti keinginannya. Aku ingin bisa menjadi artis go internasional seperti yang almarhum Papaku dulu cita-citakan. Jika kau berada di posisiku, apa kau juga akan melakukan hal yang sama? " tanya Zaskia penuh antusias.
" Kalau aku diposisi Nona tentu aku akan memilih melayani suamiku dengan sebaik-baiknya. Semuanya sudah ada, untuk apa kita memikirkan cita-cita? Nona tidak tahu rasanya jika kita kekurangan bukan? Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja, kita harus bersusah payah mencarinya. Belum lagi biaya sekolah adik-adik, uang jajannya. Aduh pusing, Nona. " jawab Tania tanpa rasa berdosa, dirinya jadi ikut curhat tentang apa yang dialaminya selama ini.
" Astagfirulloh..Maaf Nona. Saya tidak bermaksud.." ia langsung meralat kata-katanya saat menyadari jawabannya pasti menyinggung majikannya.
" Ti, tidak apa-apa. Aku tidak masalah." Zaskia memaksakan senyumnya. Ia tak bisa memarahi gadis itu, Tania memang gadis yang polos dan biasa apa adanya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussehat
2024-08-18
1
Sweet Girl
Khan setelah menikah, bukan lagi papamu yang menjadi prioritas utama, tapi suami mu.
2024-07-22
1
Susana Kalibato
wanita aneh dan egois kebangetan
2024-07-06
1