Setibanya di mansion, Kendra langsung menuju ke kamarnya. Ia mendapati Zaskia tengah meringkuk diatas ranjang.
Zaskia buru-buru menghapus airmata lalu menghampiri suaminya.
" Kau sudah pulang? Bagaimana keadaan Papa? Beliau baik-baik saja kan? Maaf kalian jadi bertengkar karena aku. " tanyanya cemas.
Kendra menatap Zaskia, netra istrinya nampak bengkak dan memerah, wajahnyapun masih sembab oleh bekas airmata. Ia menangkup kedua pipi wanita itu,
" Ini semua bukan sepenuhnya salahmu. Jangan khawatir, keadaan Papa sudah membaik. "
Kendra menarik sang istri kedalam pelukannya. Dirinya dapat merasakan jantung Zaskia yang berdebar dengan kencang lantaran rasa takut yang melanda istrinya.
Zaskia memang takut, bagaimanapun dirinya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Papa suaminya. Apalagi semua berawal karena dirinya yang belum menginginkan keturunan. Ia membalas pelukan Kendra dengan erat, dirinya merasa aman dan nyaman jika berada dalam dekapan sang suami.
Kendra kembali teringat kata-kata Mamanya sewaktu di rumah sakit.
" Sayang. Bolehkah kali ini aku memohon kepadamu? Aku benar-benar tak tega pada Mama dan Papa. Bisakah kita menuruti keinginan mereka untuk memiliki cucu? " pinta Kendra menghiba.
Dirinya hafal betul tabiat Zaskia. Wanita itu pasti akan menuruti keinginannya kecuali satu hal yaitu memiliki anak secepatnya. Namun, dirinya berharap setelah kejadian tadi Zaskia mau sedikit melunak.
Netra Zaskia kembali berkaca-kaca, sebenarnya ia sudah menduga apa yang menjadi permintaan suaminya.
" Ken, tolong mengertilah. Sekarang aku hampir bisa mewujudkan cita-citaku, cita-cita almarhum Papaku dulu. Papa ingin aku jadi penyanyi hebat seperti dulu. " Zaskia kembali beralasan.
" Kau masih bisa mewujudkannya, aku berjanji setelah kita punya anak, aku tidak akan melarangmu untuk bernyanyi kembali. " bujuk Kendra.
" Ken?! Tolong jangan memaksaku. Jika kau terus memaksa, aku lebih baik mundur. Atau mungkin benar kata Mama Santi, kau bisa menikah dengan wanita lain setelah melepaskanku. " ancam Zaskia merasa tertekan.
Kendra benar-benar tak habis pikir jika istrinya bisa sampai berpikiran sejauh itu hanya karena ia meminta seorang anak. Hatinya kecewa, seolah pekerjaan Zaskia lebih penting daripada dirinya.
Zaskiapun menyesali apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Padahal sebenarnya ia tak sepenuhnya bermaksud begitu.
" Sepertinya aku sama sekali tak berarti bagimu. " ungkap Kendra penuh rasa kecewa.
Pria itu hendak keluar, ia tak ingin masalah ini semakin runyam. Dirinya sendiri tak akan siap jika harus berpisah dengan Zaskia.
Akan tetapi, saat hendak membuka pintu tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh Zaskia yang memeluk tubuhnya dari belakang.
" Maafkan aku. Aku tidak akan sanggup berpisah darimu. Tapi aku mohon jangan menekanku terus-terusan. "
Kendra bisa merasakan airmata Zaskia yang merembes hingga membasahi kemeja belakangnya. Iapun kembali berbalik dan memeluk sang istri.
" Sudah. Tidak perlu dibahas lagi, aku mau keluar sebentar. " Kendra mendorong tubuh Zaskia perlahan dan keluar dari kamarnya.
Zaskia mematung di tempatnya, ia tahu suaminya sangat kecewa sekarang.
" Apa yang harus aku lakukan supaya aku tidak mengecewakan Kendra, tapi aku bisa tetap mewujudkan cita-citaku? " batinnya terus berpikir hingga sebuah ide gila terbersit di kepalanya.
***
Kendra berjalan menuju ruang kerjanya. Dia ingin menenangkan pikirannya terlebih dahulu, ia yakin jika dirinya tetap di kamar yang ada suasana justru akan semakin memanas.
Tanpa sengaja dirinya melihat Tania yang tengah membersihkan lorong lantai atas rumahnya.
" Hai kau, sini. " panggilnya pada Tania.
Yang merasa terpanggil segera mendekat.
" Siapa Tuan? Saya maksud anda? " ia celingukan, sepertinya tidak ada orang lain lagi selain dirinya.
Kendra membuang nafasnya kasar, hatinya sedang kesal tapi gadis ini malah semakin menguji kesabarannya.
" Siapa lagi kalau bukan kau? Kau pikir aku memanggil hantu? Aku lupa lagi siapa namamu. "
" Oh..nama saya Tania Ayuningsih,Tuan. Biasa dipanggil Tania. " jelas Tania dengan wajahnya yang selalu sumringah.
" Aku tidak bertanya nama lengkapmu. Ya sudah, tolong kau buatkan kopi untukku dan antar ke ruangan yang ada di sana. " pintanya pada Tania sambil menunjuk ruang kerjanya.
" Baik, Tuan. Siap laksanakan. " ucapnya penuh semangat.
Kendra sampai geleng-geleng kepala, tetapi dirinya maklum. Tania hanyalah seorang gadis ingusan dengan tingkahnya yang masih kekanak-kanakan. Ia pun berjalan kembali menuju ruang kerjanya.
***
Kendra berdiri ditepi jendela ruang kerjanya sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya menerawang jauh, mengingat masa-masa perkenalannya dengan Zaskia hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Dulu Zaskia belum begitu terkenal, Kendra bertemu wanita itu saat dirinya tanpa sengaja nongkrong di cafe dan Zaskia sedang bernyanyi disana. Kecantikan dan suara merdu Zaskia seolah menghipnotisnya. Bisa dibilang dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Ia tak menyangka jika Zaskia membalas perasaannya. Merekapun akhirnya berpacaran dan mengenal lebih dekat kepribadian satu sama lain. Melihat pribadi Zaskia yang begitu baik, tanpa menunggu lama Kendrapun langsung melamar Zaskia.
Padahal dulu mereka bercita-cita sekaligus memimpikan jika seandainya mereka berdua telah memiliki anak. Betapa ramai dan ceria rumah mereka oleh tawa putra dan putrinya.
Namun, semua hanya tinggal impian semata. Kenyataannya justru berbanding terbalik. Awal menikah karier Zaskia sebagai penyanyi justru semakin melejit. Istrinya jadi semakin terobsesi untuk menjadi penyanyi terkenal.
Awalnya ia setuju dan mendukung keinginan istrinya. Mereka sepakat menunda kehamilan sampai cita-cita Zaskia tercapai. Dirinya pikir itu hanya sampai dua tiga tahun, tapi nyatanya hingga pernikahan mereka berjalan lima tahun Zaskia masih juga belum menginginkan seorang anak.
" Kenapa hatimu sekeras batu? Harus bagaimana lagi agar aku bisa meluluhkan sikap keras kepalamu itu. " batinnya bergejolak.
" Tuan..Tuan..Tuan!!! "
Kendra begitu kaget saat mendengar seseorang meneriakinya. Ia menatap tajam pada gadis yang berada disisinya.
Tania beringsut mundur saat mendapat tatapan amarah dari majikannya. Ingin rasanya ia kabur dari ruangan itu, tetapi dirinya memang salah karena tidak sopan pada Tuannya.
" Hei, kau berani sekali meneriakiku dan masuk ruangan ini tanpa izin! Apa kau sudah bosan bekerja disini, heum? Jangan mentang-mentang kami menghormati ibumu, kau bisa berbuat semaunya disini! " tekan Kendra kesal.
" Ma-af, Tuan. Sa-saya pikir Tuan kesambet. Tadi saya sudah puluhan kali mengetuk pintu tidak ada jawaban, akhirnya saya terpaksa masuk sebab pintu ruangan ini tidak dikunci. Saya memanggil- manggil Tuan berkali-kali tapi Tuan masih melamun. Jadi saya mencoba berteriak supaya Tuan kembali sadar. " jelas Tania apa adanya. Jantungnya sudah mau copot rasanya akibat amukan Kendra.
" Sekali lagi kau berbuat begitu aku tidak akan segan-segan memecatmu! Cepat pergi dari sini! " bentaknya kembali.
" Baik, Tuan. Maaf, itu kopi Tuan keburu dingin. Saya sudah membuatnya dari tadi. Permisi. "
Kendra hampir lupa jika dia sendiri yang meminta Tania untuk mengantar kopi ke ruangannya. Tapi apa boleh buat, dia sudah terlanjur memarahi gadis itu.
Sedangkan Tania, dia langsung berlari keluar. Perasaannya sungguh lega setelah keluar dari kandang harimau menurutnya. Ia tak menyangka, suami idolanya ternyata sangat galak.
" Duh Gusti. Apes banget punya majikan galak bener. " gerutunya sambil mengelus dada. Ia bertekad tak ingin berurusan apalagi mencari masalah dengan majikan laki-lakinya. Bagaimanapun ia bersyukur bisa bekerja disini, setidaknya lebih baik dari pada menjadi buruh cuci dan bersih-bersih dikampung halamannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 119 Episodes
Comments
Hani Ekawati
Entar setelah mengalami berbagi suami nangis kejer kejer lu.
2024-09-20
0
Bunda
Zaskia egois
2024-08-26
1
Gamar Abdul Aziz
Tania polos amat
2024-08-24
0