Happy Reading.
Pagi itu Alexander dan Devina ikut menikmati sarapan mereka yang sudah telat di rumah mama Fraya. Mereka menikmati secangkir coklat hangat dan roti isi daging yang disediakan oleh pelayan.
Musim dingin segera tiba, dan itu artinya libur musim dingin juga tidak lama lagi.
"Jadi gimana, Alexander, kapan kamu akan melamar Devina?"
"Uhukk, uhukk!" Devina langsung batuk mendengar pertanyaan dari Mama Fraya.
"Ehhmm, entahlah Ma, Devina masih kuliah, jadi sepertinya masih agak lama kalau untuk membicarakan masalah lamaran," jawab Alexander datar.
Devina merasa bersyukur atas jawaban dari Alexander barusan, sungguh dia tidak pernah berpikir akan terseret ke dalam sandiwara seperti ini.
Mama Fraya menyipitkan matanya, merasa curiga dengan putranya yang terdengar kelewat datar dengan jawaban itu.
"Alexander, apakah kalian hanya bersandiwara? sebenarnya kalian bukanlah sepasang kekasih? dan Devina, Apakah kamu diancam oleh putra Tante ini?"
Devina mendelik mendengar ucapan Mama Fraya yang terdengar seperti pernyataan dan bukan pertanyaan, dan semua itu memang benar.
Sedangkan Alexander sedikit menegang, tetapi berhasil menguasai dirinya kembali. Alexander lupa jika mamanya ini memiliki insting yang tajam, sepertinya dia harus akting lebih natural lagi agar mamanya tidak curiga.
"Eghem,, begini Ma, Mama Jangan berpikir seperti itu, kami ini memang sepasang kekasih dan tidak ada ancaman apapun untuk Devina agar membantu saya," Alexander melirik ke arah Devina yang masih fokus dengan coklat panasnya yang kini sudah mulai dingin.
"Benar seperti itu Devina? kalau kalian memang sepasang kekasih? tetapi kenapa sejak tadi kalian terlihat sangat kaku? bahasa tubuh kalian itu tidak bisa dibohongi?"
"Tante, Alexander memang sangat kaku, jadi tante tidak perlu khawatir, kami saling mencintai," Devina menatap Alexander yang kini sedang menatapnya.
Tatapan matanya benar-benar berbeda, membuat Devina bisa tenggelam di dalamnya.
Alexander yang merasakan perasaan aneh itu dengan cepat langsung berpaling, tidak mau jika Devina menyadarinya.
Devina tiba-tiba merasa ingin buang air kecil, seharusnya dia bisa menahannya sampai nanti Alexander mengantarnya pulang, tapi saat ini Devina tidak bisa menahannya lagi.
Mama Fraya yang melihat gelagat calon menantunya itu merasa sedikit curiga, Devina terlihat gelisah pada saat dia duduk.
"Devina ada apa nak?" tanya mama Fraya.
Alexander menoleh ke arah Devina dan melihat wanita itu yang sedang tersenyum aneh.
"Sebenarnya Devina ingin buang air kecil tante, ini udah nggak tahan," jawab wanita cantik itu.
"Astaga, kenapa kamu tidak bilang kalau mau buang air kecil, Alexander, antar kekasihmu ini ke toilet yang ada di dalam kamarmu," ucap mama Fraya terhadap putranya.
"Ayo, aku antar ke toilet, tetapi kamarku ada di lantai atas," Alexander berdiri mengulurkan tangannya meminta Devina untuk menyambutnya.
Devina pun mengerti dan segera menggenggam tangan Alexander sambil berdiri.
"Permisi tante, saya ke toilet dulu," Mama Fraya mengangguk sambil tersenyum.
Setelah kedua sejoli itu pergi mama Fraya memerintahkan asisten pribadinya untuk menelepon seseorang.
"Halo tuan David, apa kabar? Saya ingin bertemu dengan anda untuk membicarakan tentang anak-anak kita."
Sedangkan di sisi lain.
Devina masuk ke dalam kamar Alexander yang berada di mansion, hampir sama dengan kamarnya yang ada di apartemen, warna abu-abu dan putih juga mendominasi kamar ini.
"Kamar mandinya ada di sana," tunjuk Alexander pada sebuah pintu berwarna abu-abu.
Devina mengangguk dan berjalan masuk ke dalamnya, Alexander menutup pintu kamar dan berjalan ke arah sofa, duduk di sana untuk menunggu wanita itu.
Tidak lama kemudian Devina membuka pintu kamar mandi dan keluar dari dalam sana, Alexander menatap Devina yang saat ini juga tengah menatapnya.
Perlahan pria itu berjalan mendekat, menatap Devina dengan sorot mata yang tak terbaca.
"Mister," nafas Devina tercekat ketika wajah Alexander sudah berada di depan wajahnya, mungkin hanya berjarak lima centi.
"Jangan menggoda saya, Devina!" wanita itu mengerjab kan matanya bingung dengan ucapan Alexander.
"Sa-saya tidak sedang menggoda mister," wanita itu mundur beberapa langkah karena Alexander terus maju dan mengukungnya di tembok tepat saat Devina sudah tidak bisa berkutik.
"Kamu menggoda saya Devina, apakah kamu mau mengulangi kegiatan malam lusa itu denganku," Alexander menyeringai.
Sedangkan Devina langsung melotot ketika Alexander membelai pipinya sampai ke tulang leher, membuat sensasi menggelitik diperut.
"Apa maksudmu? saya tidak menggoda!!"
Alexander tidak menghiraukan ucapan Devina, pria itu langsung menarik Devina ke dalam dekapannya, menciumnya penuh hasrat.
Sepertinya Alexander tidak bisa mengendalikan dirinya saat hanya berdua Devina.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Udah langsung Nikahin aja Lex,Ntar ketikung lagi sama Aeron,Dia tuh licik,Aku gak rela Devina sama dia..
2024-06-15
0
Qaisaa Nazarudin
Yezzzz gercep juga nih Camer 👏👏👏💪💪💪😄😄
2024-06-15
0
Nur fadillah
Heeerrmmm....sabar Mister...😑😑
2023-11-25
0