Kedatangan Alexander

Happy Reading.

Pagi itu Daffa masuk ke dalam kamar Devana dengan senyum menyeringai. Pria berusia sembilan belas tahun itu melihat sang adik tidak ada di dalam sana.

Daffa Alvares memiliki postur wajah tampan, hidung mancung, bibir tipis, dan tubuh yang proporsional menjadikan putra David dan Stela itu idola di kampus nya.

Pria itu selalu bersikap dingin dengan orang lain, namun dia bisa begitu usil jika dengan keluarganya sendiri, apalagi dengan Devina sang adik.

Daffa masuk ke dalam kamar dan melihat sekeliling.

"Apa Devina baru mandi?" gumam Daffa menatap ke arah kamar mandi yang sepertinya memang sedang ada aktivitas di dalamnya.

"Hemmm,, iya betul dia sedang mandi," lanjutnya di jawab sendiri.

Daffa melihat ke arah ranjang dan melihat sesuatu di sana, seketika ide jahil muncul di dalam otaknya.

Sedangkan di dalam kamar mandi.

Devina baru saja menyelesaikan acara mandinya. Gadis cantik itu memakai handuk dan melilitkan ditubuhnya. Untung di lehernya tidak ada bekas tanda merah yang di buat oleh Alexander. Tapi jangan tanya dadanya, bekas itu bahkan belum memudar hingga sekarang.

Devina memiliki postur tubuh ideal, seksi, cantik menawan dan mempesona. Rambut coklat sebatas pinggang dan juga dada yang besar membuat para kaum Adam berlomba lomba ingin menarik perhatiannya.

Tetapi bagi Devana sekarang tidak ada ada pria yang menarik di matanya. Gadis berusia sembilan belas tahun itu paling sebal dengan makhluk yang namanya pria, terutama dengan saudara kembarnya yaitu Daffa.

Devina keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan menuju ke arah ranjang. Hari ini rencananya dia akan bersantai dirumah untuk menenangkan diri.

Tugas kuliah akan dia serahkan pada Daffa, terkadang mereka juga berbagi tugas bersama karena mengambil jurusan yang sama yaitu Management bisnis.

Tetapi mereka tidak satu Universitas, dari dulu Devina memang tidak mau kalau harus sekolah bersama Daffa di sekolah yang sama.

Kenapa? masalahnya saudara kembarnya itu sangat posesif, membuat pergerakan Devina menjadi tidak leluasa. Apapun yang dilakukan Gadis itu pasti selalu diawasi oleh Daffa, dan semua itu berlangsung sejak dari kecil.

"Eh, mana pakaian ku!" Devina mencari salah satu pakaiannya yang tidak ada di atas ranjang, padahal tadi ia ingat betul sudah meletakan semua baju yang akan dipakainya di tempat itu.

"Eghemm ,,, sedang mencari apa adikku yang cantik?" Devina menoleh ke belakang dan mendapati saudara kembarnya itu tengah berjalan ke arahnya dengan senyuman yang sangat di benci oleh Devina.

Senyuman menyeringai bak iblis.

"Daffa!! keluar dari dalam kamarku!" Devina berjalan ke arah Daffa dan menarik tangan pria itu mengajaknya keluar.

"Eh, tunggu Dev jangan galak-galak donk!" Daffa melepaskan tangan saudara kembarnya itu.

Devina menghela nafas.

"Aku mau pakai baju Daffa, kalau kamu ada di dalam kamar bagaimana aku harus memakainya?"

"Ya tinggal pakai aja, kenapa bingung?" jawab Daffa enteng.

Devina melempar bantal ke arah Daffa dan mendorong tubuh pria itu hingga keluar dari dalam kamarnya.

BRAAKK!!

Suara pintu kamar ditutup dengan sangat keras oleh Devina.

"Hei, apa kamu tidak kehilangan sesuatu!!" teriak Daffa dari luar kamar.

Devina yang menyadari ada sesuatu yang janggal akhirnya membuka pintu kamarnya kembali.

"Daffa,, kembalikan pakaian dalam ku!!" Daffa memperlihatkan pakaian keramat Devina dengan senyum menyeringai.

"Kamu kok mesum sih!!" teriak Devina kesal dengan tingkah laku saudara kembarnya itu.

"Hei, anak-anak, ada apa ini?" Mommy Stela datang dengan bersedekap dada.

Daffa dan Devina langsung diam melihat Mommy-nya datang. Daffa menyerahkan benda keramat milik saudarinya itu dari belakang tubuh.

"Eghem.. apa itu Daffa?" tanya sang mommy.

"Bukan apa-apa Mom," jawab Daffa nyengir kuda.

Stela memicingkan matanya menatap putranya yang suka sekali menjahili adiknya.

"Devina, kenapa belum pakai baju? kamu ini sudah besar, sudah remaja, ingat,, jangan sampai keluar hanya memakai handuk seperti itu, tidak sopan namanya. Apalagi sekarang Daffa juga sudah sama-sama dewasa, kalian sudah sama-sama mengerti apa yang harus ditutupi dan tidak boleh dilihat oleh orang lain selain diri kita sendiri." Wejangan dari Mommy.

'Padahal tubuh putrimu ini sudah dilihat seorang pria, Mom!' batin Devina sedih.

"Iya Mommy, Devina paham." Jawab putri gadis itu sambil melirik ke arah saudara kembarnya.

"Iya itu Mom, Devina suka sekali memakai pakaian minim, padahal aku juga sudah melarangnya." Devina kali ini melototkan matanya.

"Gak kok Mom, aku pakai pakaian yang sopan, tidak seperti gadis-gadis yang dekat dengan Daffa, mereka selalu memakai pakaian yang terbuka!"

"Tapi mereka beda sama kamu, Dev."

"Gak ada bedanya, mereka juga perempuan!"

Stela memegang kepalanya yang pusing karena setiap hari di suguhkan dengan pertengkaran putra dan putrinya itu.

Tiba-tiba suara bel berbunyi.

Tidak lama setelah itu seorang asisten rumah tangga menemui Stela yang sedang berada si lantai atas.

"Nyonya, ada tamu untuk tuan dan Nona Devina," ucap Asisten rumah tangga itu.

"Siapa Bi?"

"Saya tidak tahu Nyonya,"

Devina dan Daffa saling berpandangan, Stela turun untuk melihat tamunya, sedangkan Devina kembali masuk ke dalam kamarnya.

"Maaf, anda siapa, ya?" tanya Stela yang melihat seorang pemuda dewasa duduk di sofa ruang tamu.

Pria itu berdiri dan segera menyalami Stela.

"Saya Alexander Wiliam, dosen Devina sekaligus kekasihnya," jawab pria yang tidak lain adalah Alexander.

Bersambung.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Ehem ehem..udah langsung di klaim aja pak..🤣🤣🤣😜

2024-06-15

1

Dewi Zahra

Dewi Zahra

keren kak

2023-07-04

1

Ita rahmawati

Ita rahmawati

waah alexander gercep ya 😅😅

2023-04-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!