Penyesalan

Happy Reading

Mama Fraya menatap cucunya yang terlihat sudah cukup baik, wanita paruh baya itu berjalan ke arah Aaron sambil mengulurkan tangannya mengelus rambut cucu kesayangannya. "Bagaimana keadaan mu, Aaron?" tanya Fraya menatap sang cucu.

"Baik, Oma, hari ini sudah boleh pulang," jawab Aaron.

"Kenapa kamu gak hati-hati, kalau mainin cutter itu bahaya, bisa-bisanya sampai mengiris pergelangan tangan!" Fraya menghembuskan nafas kasar saat mengingat bagaimana cucunya itu sampai terkena silet.

Milea memang mengatakan jika Aaron tidak sengaja terkena benda tajam itu, tentu saja Milea tidak akan mengatakan bahwa putranya melakukan percobaan bunuh diri gara-gara diputuskan cinta oleh kekasihnya.

"Baiklah, kalau begitu kalian bersiap-siap, setelah dari rumah sakit aku akan bertemu dengan calon besan," ucap Fraya tersenyum lebar.

"Calon besan?" cicit Milea dan Aaron bersamaan.

"Iya, calon mertuanya Alexander," jawab Fraya.

"Wah, aku jadi penasaran siapa wanita yang akhirnya bisa menaklukkan hati seorang Alexander," seru Milea.

"Besok kalian juga tahu kalau Alexander sudah melamar kekasihnya," jawab Fraya tersenyum.

****

Pagi itu Devina pergi ke kampus di antar oleh Daffa, setelah kemarin dia berkunjung ke rumah Mama dari Alexander dan berpura-pura menjadi kekasihnya, kini Devina harus menghadapi Dosen Killer nya itu di kampus.

"Nanti aku gak bisa jemput, biar sopir yang jemput kamu," ujar Daffa mengelus rambut kembarannya itu.

"Heemm," hanya itu jawaban Devina.

Daffa mengerutkan keningnya ketika melihat Devina yang sama sekali tidak semangat, "

Devina melihat Alexander masuk ke dalam kelasnya, pria itu berpenampilan formal dengan kemeja berwarna biru cerah dan juga celana hitam panjang.

Alexander selalu memakai kacamata setiap mengajar, mungkin itu juga yang membuat Devina tidak mengenali nya saat mabuk malam itu.

'Dilihat seperti ini ternyata Mister killer tampan juga, ya? Tapi dia lebih tampan jika melepaskan kacamata nya dan berpenampilan lebih santai, pantas saja semua mahasiswi di sini mengidolakannya!' lamun Devina menatap Alexander intens.

"Sstt, Devina, apa sekarang kamu sudah mulai tertarik dengan Mr. Alexander?" bisik Jessica.

"Ehmm, tidak, eh maksud ku iya, aku tertarik dengan pelajaran nya," jawab Devina gugup.

Entah kenapa dia tiba-tiba merasa malu saat kepergok Jessica sedang menatap Alexander tanpa berkedip.

'Ada apa denganku? Kenapa aku jadi menatap Mr. Alexander seperti ini?' batin Devina menundukkan pandangannya.

Alexander melihat hal itu, padahal sejak tadi dia merasa senang jika Devina memperhatikan penjelasannya, tapi sepertinya Devina tidak benar-benar memperhatikan.

Alexander berjalan ke arah meja Devina, dan hal itu tentu saja membuat Devina terkejut.

"Nama kamu Devina Alvares 'kan?" Devina hanya mengangguk menatap mata yang mulai dia sukai saat ini.

Mata yang selalu menatapnya dengan tatapan berkabut, membuat kedua orang yang pernah terlibat hubungan one night stand itu merasakan desiran halus pada darah mereka.

"Aku lihat kamu tidak pernah serius memperhatikan penjelasannya saya, jadi saya ingin kamu membuat esai dan bawa ke ruangan saya setelah jam pelajaran selesai!" Ujar Alexander tajam menekan setiap kalimat yang ia ucapkan.

Bahkan mahasiswa di sana merasa terintimidasi padahal Alexander hanya mengucapkan kalimat itu pada Devina.

'Benar-benar Dosen killer!' rutuk semua orang dalam hati.

Namun berbeda dengan reaksi Devina, yang menganggap semua ucapan yang terlontar dari mulut Alexander terdengar sangat seksi.

'Astaga, Devina!! Kenapa sekarang pikiran kamu berubah menjadi messum hanya karena mendengar dia berbicara!' batin Devina mengalihkan tatapan Alexander.

"Baik mister, akan saya kerjakan," Devina menundukkan wajahnya tidak berani menatap Alexander yang tiba-tiba memiliki berjuta pesona di mata wanita itu.

Alexander tersenyum dalam hati, dia bisa melihat telinga Devina yang berubah merwah saat ini. Aroma Lily Blossom yang wanita itu pakai juga memenpel di hidung.

Tidak ada yang bisa mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh kedua orang itu, karena hanya mereka berdua yang bisa merasakan.

****

Devina berjalan dengan langkah berdebar, wanita itu melihatnya papan nama yang tertera di atas pintu dan menghela nafas kasar.

Itu adalah ruangan Alexander, biasanya dia tidak pernah segugup ini hanya karena harus menumpuk tugas kepada salah satu Dosennya.

'Apa yang kamu pikirkan, Devina!' wanita itu menepuk pipinya beberapa kali, mengusir berbagai macam bayangan yang sejak tadi mengusiknya.

Bayangan ciuman panas yang dilakukan oleh Alexander membuat Devina lagi-lagi merasakan hawa panas disekitarnya. Padahal saat ini cuaca berasa cukup dingin.

Saat Devina akan mengetuk pintu ruangan Alexander, tiba-tiba dia dikejutkan oleh seseorang yang saat ini ingin sangat dia hindari.

"Devina, tolong kasih aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki hubungan kita!" Devina menghempaskan tangan Aaron yang memegang pergelangan tangannya kuat.

Wanita itu bahkan menatap jijik terhadap bekat tangan Aaron pada lengannya.

"Tidak ada lagi kesempatan kedua!" desis Devina menahan emosinya.

"Please!! Aku benar-benar menyesal, sayang!"

"Stop!! Jangan panggil aku sayang!! Itu sama sekali tidak pantas keluar dari dalam mulutmu!" Aaron merasa hatinya begitu sakit mendengar penolakan dari wanita yang masih sangat dicintai itu.

Perdebatan mereka menjadi tontonan para mahasiswa yang berada di sana. Bahkan Zoey juga melihat itu.

Zoey mengepalkan tangannya kuat, menahan amarah karena melihat Aaron yang mengejar Devina kembali.

BRUKK!

Devina terkesiap saat Aaron berlutut di hadapannya, pria itu terlihat sangat menyedihkan, sejujurnya Devina merasa sedikit kasihan melihat Aaron dan penampilannya yang seperti ini.

"Tolong, kasih aku kesempatan, sayang! Aku mohon!" bujuk Aaron mengiba.

"Ada apa ini?" tanya Alexander yang baru saja membuka pintu ruangan nya dan melihat drama di hadapannya ini dengan kening yang mengkerut.

"Tidak ada apa-apa, Mister! Saya kesini ingin menyerahkan esai yang anda inginkan!" ucap Devina.

"Masuk, Devina!" seru Alexander.

Devina dengan senang hati masuk ke dalam ruangan itu, meninggalkan Aaron yang saat ini masih berlutut menahan kecewa di hatinya.

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Dosa gak sih aku menari nari diatas penderitaan Aarion..💃💃💃💃💃💃💃😂😂😂😂

2024-06-15

1

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Modus nya pak dosen..😂😂😂😜😜

2024-06-15

0

Adreena

Adreena

Rasain lho, salah sendiri gatal...kapok

2023-12-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!