"Aku nggak mau dinjual lagi. Aku akan mengabdi dengan Pak Rendra saja. Aku akan ikuti apa maunya Bapak." Dita menangis dalam pelukan Rendra. Pria itu menjadi heran mendengar ucapan Dita.
"Kenapa Kau!" ucap Rendra dengan suara sedikit keras karena Dita masih terus menangis.
"Raffa ... Mas Raffa tadi di sini. Tolong aku, Pak. Aku nggak mau dijual lagi."
Rendra melihat kesekeliling. Tidak ada tampak orang yang dikenalnya. Apakah ini akal-akalan Dita saja, karena ingin memeluk tubuhnya.
"Nggak ada siapa-siapa. Lepaskanlah lagi pelukannmu! Kau sengaja ingin memeluk'kan?"
Dita melepaskan pelukannya dan sedikit menjaga jarak. Dia baru sadar jika memeluk erat tubuh pria itu. Rendra memberikan segelas susu hangat yang di belinya.
Satu jam mereka duduk di tepi dermaga itu, Rendra membawanya kembali ke hotel. Setelah membersihkan wajah dan tubuhnya, Dita membaringkan badan.
Rendra ikut juga membaringkan tubuh di samping Dita. Pria itu memeluk tubuh Dita erat. Dita merasakan suhu tubuh Rendra sedikit hangat. Dita pikir mungkin karena tubuh pria memang selalu hangat.
Pagi hari saat bangun, Dita melihat Rendra mengeluarkan keringat dingin. Dipegangnya dahi pria itu, terasa panas. Dita menjadi kuatir. Diambilnya air hangat dari dispenser dengan membasahi handuk kecil. Dita mengompres dahi Rendra dengan handuk itu.
Berulang kali Dita melakukan hal yang sama hingga dia merasakan suhu tubuh Rendra sedikit turun. Dita memesan teh hangat dan sarapan. Saat ini dia telah bisa melakukan karena Rendra mengajarinya.
Rendra membuka matanya dan merasakan sesuatu di dahinya. Rendra teringat jika pulang dari dermaga tadi malam kepalanya pusing banget dan badannya terasa hangat.
Bertepatan dengan Dita yang datang membawa sarapan untuknya. "Pak Rendra udah bangun?" Dita mendekati ranjang dan mengambil handuk yang berada di dahi pria itu. Dengan tangannya Dita memegang dahi Rendra, terasa telah dingin.
"Syukurlah suhu badan Pak Rendra telah turun," gumam Dita. "Sekarang Bapak sarapan dulu. Saya udah minta belikan obat penurun panas. Setelah sarapan bisa minum obatnya," ucap Dita.
Dita menyuapi Rendra hingga bubur di piring habis. Dan meminta pria itu minum obat penurun panas. "Obat apa itu, kamu mau meracuni aku?"
"Pak Rendra, sekejam apapun Bapak denganku, tidak mungkin aku meracuni. Karena Bapak adalah ayah dari bayi yang aku kandung."
Rendra terdiam mendengar ucapan Dita. Bagaimana wanita itu masih berpikir tentang dirinya. Sedangkan Rendra tidak pernah berpikir, jika dia harus memperlakukan Dita dengan baik karena wanita itu ibu dari bayinya.
Setelah sarapan dan obat telah Rendra minum, Dita naik ke ranjang dan meminta Rendra membuka pakaiannya. "Buka seluruh pakaian Bapak!" ucap Dita.
"Ternyata kau gila juga. Tubuhku masih lemas, mau minta main kuda-kudaan. Rindu kau dengan genjotanku. Dulu aja pura-pura nangis. Sekarang doyan."
"Bapak ngomong apa? Aku minta Bapak buka baju untuk membersihkan seluruh bagian tubuh Bapak, bukan untuk berhubungan badan," ujar Dita tersenyum. Rendra langsung menoyor kepala Dita karena malu.
Dita membersihkan tubuh Rendra dengan handuk kecil yang telah dibasahi air hangat. Rendra memandangi wajah Dita tanpa kedip saat wanita itu dengan telaten merawatnya. Setelah menggantikan pakaian Rendra, Dita meminta pria itu berbaring dan menyelimutinya.
"Kamu udah sarapan?" tanya Rendra lembut. Dita tersenyum mendengar suara Rendra yang tidak seperti biasanya, membentak dirinya.
"Itu sarapannya. Setelah ini aku makan."
"Jangan lewatkan sarapanmu. Aku nggak mau anakku sakit."
"Jangan takut, Pak Rendra. Jika aku tidak makan, bukan hanya anak Bapak yang sakit tapi aku juga. Mana mungkin aku mau membunuh diriku sendiri. Walaupun hanya sesaat, aku juga ingin melihat wajah anakku sebelum pergi dan memberikan untuk Bapak dan ibu Anggun." Dita turun dari ranjang setelah memastikan Rendra nyaman.
Dita duduk di sofa sambil memegang perutnya. Kehamilannya baru mau memasuki bulan ketiga. Namun rasa cintanya pada bayi dalam perutnya telah begitu besar.
Sayang, maafkan bunda. Jika suatu hari kamu tahu, jika bunda meninggalkan kamu dengan wanita lain, itu bukan karena bunda tidak menyayangi kamu. Semua terpaksa bunda lakukan, Nak. Bunda harap kamu bisa mengerti dengan keputusan bunda ini.
Dita menghapus air matanya. Dengan perlahan menyuapi sarapan. Dari tempat tidur ternyata Rendra memperhatian semua yang Dita lakukan.
...****************...
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
LENY
SEDIH LIHAT NASIB DITA. DITA WANITA BAIK CANTIK PULA.
2025-01-11
0
Azkia Amira
bagus
2024-09-15
1
Nurmiati Aruan
sedih nya....
2024-02-05
0