Setelah seharian bergumul dengan kegalauan di rumah sahabatnya, Merilin membawa Langkah kakinya dengan lesu. Dia menyerek kakinya menapaki jalan trotoar. Berjalan sendirian, menuju RS. Setiap akhir pekan dia akan menginap di RS. Perawat khusus akan libur selama akhir pekan.
Gadis itu termenung sambil menghitung langkah kakinya sendiri.
Menikah dengan Tuan Rionald.
Bibirnya bergumam nama itu, namun wajah yang melintas di kepalanya adalah wajah penuh senyumam Serge. Laki-laki yang menawarkan pernikahan itu padanya. Sampai hari ini perasaan sakit hati itu pun belum memudar. Kenyataan pahit yang harus ia hadapi seumur hidupnya. Cinta bertepuk sebelah tangan.
Kak Gege sendiri sudah punya pacar belum ya? Tipe wanita yang dia sukai seperti apa ya? Apa gadis tinggi semampai dan cantik tapi urakan seperti Jesi, atau gadis cantik dan cerdas seperti Dean. Kenapa cuma aku yang bertubuh kecil diantara mereka si!
Pikiran aneh bermunculan, sepanjang langkah kaki Merilin. Bibirnya memanggil nama Serge lagi.
Serge menampung semua keluhan Merilin, namun, gadis itu tersadar, kalau Serge jarang sekali membahas mengenai kehidupan pribadinya. Dia hanya bercerita tentang pekerjaan, atau hal remeh temeh yang bisa menghibur Merilin. Yang dilakukan laki-laki itu adalah mendengarkan, dan meminjamkan bahu bagi Merilin untuk bersandar. Merilin merasa menyedihkan, kenapa itu baru terasa. Kak Serge memeng hanyalah laki-laki yang baik hati.
Dia baik, karena memang hatinya yang baik. Tidak ada hubungan dengan simpati, apalagi cinta pada lawan jenisnya.
Jalanan ramai, gadis itu tidak menyadari kalau dia sudah berjalan sejauh ini. Rumah kontrakan sahabatnya dan RS cukup lumayan jaraknya sebenarnya, namun, karena banyak yang ia pikirkan. Tak terasa langkahnya sudah membawanya ke hadapan gedung RS. Lampu-lampu terang menyala. Area parkir juga terang. Orang hilir mudik. Di jam segini di akhir pekan, kehidupan malam, bahkan di RS sekalipun akan berjalan lebih panjang.
Bunyi pesan di hp. Gadis itu sigap mengaduk tasnya menemukan hpnya. Dia jatuhkan lagi tangan tidak bersemangat. Grup chat fans Tuan Rion sedang ramai.
Salah satu orang mengirimkan sebuah foto Tuan Rion di sebuah lapangan golf, bersama presdir, ayahnya. Di ambil dari jarak yang sangat jauh. Anak-anak ramai mengomentari penampilan dan pakaian yang di pakainya. Sementara itu dengan tidak semangat Merilin memasukkan lagi hpnya ke dalam tas. Tidak ada foto Serge di sana. Membuatnya tidak merasa penting untuk melihat. Karena sekali lagi, dia masuk ke grup itu untuk diam-diam mendapatkan foto Serge, laki-laki yang ia sukai dalam keheningan.
Walaupun sudah ditampar kenyataan kalau Serge tidak menyukainya, tapi tetap saja hanya Serge yang masih dipikirkan Merilin.
Dia sudah masuk ke dalam RS, menyusuri lorong menuju ruangan di mana ibunya di rawat.
“Terimakah Bu, untuk semuanya. Terimakasih sudah menjaga ibu saya. Ini minuman mengusir kantuk.” Merilin menyodorkan kantung plastik yang dia beli di minimarket tadi pada para perawat yang sedang berjaga. Lalu dia pamit keruangan ibunya berada.
Sayup dia mendengar obrolan para perawat.
“Kasihan sekali ya, dia masih muda padahal. Adiknya juga masih sekolah.”
“Ia, mana pengobatan ibunya mahal.”
“Bebannya berat sekali.”
“Pengobatan ibunya juga tidak sebentar.”
“Kasihan ya.”
Ah sudahlah, gumam mereka kemudian setelah Merilin menghilang dari pandangan, karena mereka sendiri juga sangat lelah dengan beban pekerjaan membuat mereka hanya sekenanya saja bicara.
Merilin membuka pintu kamar perawatan ibunya.
“Lho Dek, kamu di sini?” Melihat Harven adiknya yang sedang tiduran di sofa sambil bermain hp. Adiknya menggangguk. “Kan Kak Mei bilang pulang aja di rumah belajar, sebentar lagi kamu kan ujian.” Mendekat ke arah tempat tidur ibu. Mengusap kepala ibu dan mencium keningnya. “Mei datang Bu. Mimpi indah bertemu ayah ya Bu. Mei dan Harven tidur di sini. Maaf Mei baru bisa datang di akhir pekan,” ujarnya lirih mencium kening ibunya lagi, membetulkan selimut.
Merilin meletakkan tas di meja. Mendekat ke arah adiknya.
Harven bangun, duduk bersandar.
“Malas di rumah sepi Kak. Lagian ini akhir pekan, kenapa masih nyuruh orang belajar si. “
Merilin mendekat, duduk di sebelah adiknya. Mengacak rambut adiknya yang lembut bergoyang.
“Kau kan sebentar lagi ujian masuk perguruan tinggi, awas saja kalau sampai tidak lolos ujian masuk.”
Harven mendengus. Dia menjatuhkan kepala ke bahu Merilin. Sebenarnya dia tidak tertarik untuk kuliah. Bukan karena dia bodoh atau malas belajar untuk ujian, namun dia cukup tahu diri bagaimana kakak perempuannya telah banting tulang bekerja keras selama ini. Apalagi pengobatan jangka panjang ibu. Matanya bersiloroh melihat ibu yang tertidur dengan tenang di tempat tidur. Kalau sedang tidur seperti itu ibu seperti orang normal pada umumnya. Hanya luka fisik pada kakinya yang memang membuatnya masih susah berjalan mungkin yang paling ketara. Namun kalau ibu sudah bicara mulai akan terlihatlah, kalau ibu tidak baik-baik saja.
“Kak.”
“Hemm.” Merilin menyandarkan bahunya pada sandaran sofa. Kepala Harven masih bersandar padanya. Bahkan sekarang tangannya melingkar di lengannya.
Aku nggak mau kuliah, cuma bergumam dalam hati beraninya Harven. Kalau dia mengatakannya, pasti akan mengkhianati kerja keras kakaknya selama ini. Jadi dia mengusir kata-kata itu jauh.
“Kak.”
“Kenapa?”
“Ada yang mengajakku pacaran di sekolah. Anak orang kaya, sudah kubilang keluargaku bangkrut dan aku tidak punya apa-apa, eh dia masih mengejarku.” Tangan Merilin langsung menyambar punggung adiknya.
Plak!
Suaranya keras terdengar.
“Apa sih Kak, sakit.” Bersungut-sungut. Akhirnya Merilin mengusap bahu yang baru saja dia pukul itu. Dia usap dengan penuh kasih sayang.
“Sudah kubilang kan, jangan menceritakan tentang keluarga kita pada sembarangan orang Dek. Tidak semua orang bisa bersimpati pada keadaanmu.”
Cih. Harven tahu, Merilin melarangnya karena dia tidak mau adiknya direndahkan, dibully atau jadi bahan pembicaraan negative seisi sekolah. Keluarga bangkrut, orang mungkin hanya melihat itu. Tanpa menilik latar belakang cerita dibaliknya. Siapa perduli keluarganya adalah korban, tidak ada yang perduli untuk itu. Bahkan saudara-saudaranya pun menjauhinya. Takut Merilin menemui mereka hanya untuk berusaha meminjam uang misalnya. Jadi Merilin selalu mewanti-wanti dia untuk hati-hati bicara.
“Kau tahu kan, masa depanmu masih sangat panjang Dek, kau harus kuliah di kampus yang bagus. Bekerja di perusahaan besar dan menikah dengan gadis pilihanmu kelak. Jadi biarkan cerita keluarga kita menjadi masa lalu yang tidak akan merusak masa depanmu nanti.”
Ah, Kak Mei memang selalu serius kalau sudah membahas masa depanku. Padahal dia sendiri melupakan masa depannya. Hati Harven ngilu sendiri.
“Ia, ia, aku tahu.” Sekarang Herven melorot menjatuhkan kepala di pangkauan Merilin. Meminta gadis itu membelai kepalanya, dengan memindahkan tangan Merilin. Gadis itu mengusap kepala adiknya lembut. “Dia yang mengejarku duluan, sudah aku bilang aku nggak mau pacaran, masih saja nembak tiap hari.”
Lebih baik mengalihkan pembicaraan sekarang batin Harven.
“Teman sekelasmu? Bagaimana dia?” Merilin malah penasaran dengan sosok gadis itu. Buat bahan menggoda adiknya nanti.
“Imut seperti Kak Mei. Tapi lebih manis dan cantik Kak Mei.” Harven memejamkan mata. Merilin tergelak mendengar kata-kata adiknya. Sepertinya tipe adiknya yang mirip-mirip dengannya. “Gara-gara aku menolongnya waktu dia diganggu anak-anak sekolah lain, katanya dia langsung jatuh cinta. Tidak perduli apa pun, yang penting dia jatuh cinta katanya. Bodoh kan.”
“Haha, imutnya.” Merilin menutup mulut kaget dengan suara tawanya yang cukup keras, dia menoleh ke tempat tidur. Ibu tidak menunjukan reaksi apa-apa. Masih tertidur dengan tenang. “Kau jadi pahlawannya donk, pantas saja dia jatuh cinta padamu. Kau baik dan keren sih." Tangan Merilin masih mengusap pelan kepala adiknya.
“Cih, baik apanya. Aku hanya menolongnya karena bosan saja.” Harven menjawab acuh.
“Ia, ia. Kak Mei percaya.”
Sambil mengusap kepala Harven Merilin memikirkan kata-kata Serge lagi. Menikah dengan Tuan Rion. Dia sudah harus memberi jawaban segera, namun hatinya masih bimbang.
Dilihatnya adiknya, bagaimana aku mengatakan padamu. Merilin bingung, bagaimana harus memulainya. Supaya Harven tidak terkejut dengan kabar tiba-tiba ini.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 211 Episodes
Comments
Ade Bunda86
lqnjut
2024-11-16
1
Fhebrie
hampir samalah sama daniah
2024-07-08
1
Abinaya Albab
Kaya'y merilin kaya' daniah ya tubuhnya mungil rambutnya kruwel² nasibnya juga hampir sama
bikin novelnya dinasti wijaya (saga) juga dong kak otor.... pingin tau usaha jodohnya erina menaklukkan saga ... aku baru bayangin aja pasti berat banget tuh jodohnya erina nnti/Silent/
2024-05-27
0