Liora menjalani kesehariannya seperti biasa walau terkadang rasa sepi sering menghampiri di waktu-waktu tertentu, entah saat makan atau hanya duduk sendiri di depan Tv.
Wanita berbadan dua itu membuka galeri ponselnya dan memperhatikan foto-fotonya bersama Cakra saat berada di laut. Terlihat sangat bahagia tanpa ada masalah sama sekali.
Karena tak kuasa menatap cukup lama, Liora segera keluar dari galeri, kemudian beralih pada perutnya yang buncit.
"Udah seminggu Nak papa pergi, tapi kenapa Mama belum terbiasa? Apa karena kamu?" lirih Liora seraya tersenyum.
Ketukan pintu terdengar, ketika dia membukanya, seorang laki-laki tampan yang akhir-akhir ini mengunjunginya berada di sana.
"Siang Lio," sapa Wildan ramah.
"Mas Wildan ada perlu apa?" tanya Liora tanpa basa-basi. Wanita itu segera menutup pintu rumahnya, kemudian duduk di teras depan bersama Wildan.
Lelaki itu menyerahkan satu lembar kertas berwarna putih juga benda kecil berwarna biru muda pada Liora.
"Baru selesai sekarang, kata abah nggak usah bayar," ucap Wildan.
"Makasih Mas, tapi tetap aja aku harus bayar, kalau bu Firda tau dia bakal marah. Tunggu disini!" Liora segera beranjak, mengambil uang untuk upah pembuatan Kartu Keluarga juga KTP, sayangnya Cakra tidak membawa KTP tersebut karena terlambat jadi.
"Ini Mas." Menyerahkan 3 lembar uang merah pada Wildan. Kebetulan Cakra sudah mengirim gaji pertamanya sabtu sore kemarin, kabar laki-laki itu juga baik disana, setiap malam tidak pernah absen memberi kabar sebelum tidur.
"Lio, sudahlah, nggak usah, mending uangnya buat kebutuhan kamu sama anak kamu," tolak Wildan. "Kalau ada yang nanya, bilang aja kamu bayar biar nyak, nggak tau."
Tetap saja Liora menyerahkan uang itu pada Wildan, dia tidak ingin berurusan dengan bu Firda, apa lagi sekarang perasaanya sedikit sensiftif sebab mengandung, mudah tersindir dan sakit hati.
Wildan terpaksa menerima uang pemberian Liora, kemudian menyisihkan selembar untuk dia masukkan kesaku celananya, dua lembar lagi dia kembalikan pada Liora.
"Buat anak kamu, rezeki nggak boleh ditolak!" usai mengatakan hal tersebut, Wildan langsung pergi dari rumah Liora atau wanita itu akan mengembalikannya uangnya.
***
Seperti malam-malam sebelumnya, Cakra kembali menelpon Liora sebelum tidur, kali ini keduanya Video Call setelah Liora membeli paket.
"Itu mas lagi dimana?" tanya Liora.
"Lagi diteras Ra, maaf mas baru hubungi jam segini, kirain kamu udah tidur. Uang yang mas kirim cukupkan?"
Liora mengangguk dengan senyuman. "Cukup Mas, aku udah bayar utang sama bu Fatimah, sisanya mau ditabung untuk lahiran nanti."
"Jangan di tabung semua! Belanjain buat kamu kalau mau makan sesuatu, jangan di tahan-tahan. Aku kerja buat kamu Ra bukan orang lain, jadi nikmati aja."
"Iya Mas, kok makin manis aja sih, jadi kangen bawaanya," Liora menggulum senyum, terus menatap wajah Cakra yang kian menggelap, mungkin karena bekerja di bawah terik matahari.
"Mas juga kangen, nanti mas pulang sebelum kamu lahiran, bawa uang banyak untuk kalian."
"Nggak usah bawa uang yang banyak, asal Mas pulang dengan selamat."
Cakra menganggukan kepalanya diseberang telpon, seling memandang dalam diam, Liora begitu menikmati wajah manis suaminya, semakin hari Cakra semakin perhatian dan peduli padanya.
"Ra, udah dulu ya, pak Ridwan mau minjam hp mas, buat nelpon bu Fatimah." Pamit Cakra.
"Iya Mas, selamat malam."
Setelah sambungan telpon terputus, Liora membungkus tubuhnya dengan selimut, udara malam ini sangat dingin, mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
Sekarang perasaanya mulai tenang setelah bertatap muka bersama sang suami. "Selamat malam mas Wildan, semoga mimpiin aku," gumam Liora walau dia tahu ucapannya tidak akan sampai pada pemiliknya.
Di tempat lain, Cakra melakukan hal yang sama, tidur menghadap tembok, mengucapkan selamat malam pada Liora. Rumah yang di tinggali Cakra lumayan luas tetapi tidak ada kamar, mereka tidur di atas lantai beralaskan seadaanya, dimana rumah itu hanya ada satu toilet untuk semua.
Untung saja Liora sangat pengertian hingga menyiapkan selimut juga bantal kecil untuknya sebelum pergi.
Sekarang Cakra benar-benar merasakan sulitnya bertahan hidup tanpa kekuasaan. Entah jika tidak lupa ingatan, Cakra pria Arogant tersebut ingin hidup seperti ini, padahal dia terlahir di keluarga tanpa kekurangan apapun.
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiah🥰💃💃💃💃💃💃🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
amanda kiting
suhun
2024-05-24
0
Naufal Azkia
bihun ternyata....maaf ya kak Thor,aku ngak tau nama aslinya,aku taunya cuma bihun doang
2023-08-10
0
Aminah Adam
lanjuut thor
2022-09-19
0