Sejak kehadiran Cakra di hidup Liora, banyak yang berubah. Rezeki gadis itu semakin mengalir, dagangan setiap harinya semakin laris. Mungkin bisa dikatakan, kehadiran Cakra dalam hidup Liora adalah sebuah keberuntungan.
Walau begitu, ada saja musibah yang selalu mendatangi setiap orang jika sedang merasakan bahagia. Mungkin untuk menguji sampai mana batas sabar seseorang menghadapi sebuah ujian.
Dagangan yang laris setiap harinya membuat orang-orang yang berjualan di sekitar Liora mulai iri melihat kesuksean gadis yatim piatu itu.
Hingga suatu malam, laki-laki bernama Jamal merencanakan sesuatu yang jahat untuk Liora karena iri dagangannya tidak selaris gadis tersebut.
Jamal mengumpulkan semua warga dan mengomporinya agar menghakimi Liora.
"Kalian pasti tidak tahu berita ini. Ternyata laki-laki yang sering bersama Liora itu tinggal serumah dengan Liora," ucap Jamal menghampiri pos ronda di mana terdapat banyak bapak-bapak di sana.
"Laki-laki tampan yang namanya Wildan itu?" tanya salah satu bapak-bapak.
"Iya benar, dan tadi saya baru saja melihat dia sedang bermesraan di depan rumahnya. Kita harus mengusir dia dari kampung ini, jika tidak dia akan membuat kampung kita sial karena berbuat zi*na!"
Mendengar kata sial dan z*ina, membuat bapak-bapak yang ada di pos ronda tersulut, ikut bersama Jamal kerumah Liora untuk menggerebek. Warga Desa Nelayan tidak akan sudi jika kampung mereka dijadikan tempat berbuat z*ina.
"Pantas saja gadis itu tidak takut sendirian, ternyata itu alasannya."
Jamal tidak hanya mengompori bapak-bapak yang ada di pos ronda, tetapi semua warga yang mereka lewati dia kompori agar ikut bersamanya untuk mengusir Liora dari Kampung Nelayan.
Dengan kepergian Liora dari kampung, maka dia tidak akan mempunyai saingan penjual ikan.
*
"Mas Wildan mau minum kopi?" tanya Liora yang baru saja dari dapur. Cakra yang di tanya segera menganggukan kepalanya.
"Boleh kalau mau dibikinin," jawab Cakra.
Laki-laki itu sedang duduk di kursi rotan seraya memandangi televisi tabung persegi yang sedang menayangkan pertandingan sepak bola.
Liora yang mendapat jawaban, kembali kedapur membuatkan Cakra kopi lalu meletakkanya di atas meja.
"Di minum, Mas, aku ke kamar dulu, kalau butuh sesuatu panggil saja," ucap Liora.
Walau tinggal berdua saja dalam satu atap, keduanya tidak pernah duduk berdua meski sekedar basa-basi, karena Liora dan Cakra tahu batasan.
Keduanya akan duduk berdua saja jika makan atau membahas sesuatu yang penting.
"Terima kasih, Ra," ucap Cakra sebelum tubuh Liora menghilang di balik horden.
Baru saja Liora akan merebahkan tubuhnya di kasur, suara teriakan warga terdengar di luar rumah. Suara gemuruh yang meneriakkan namanya.
"Liora keluar kamu! Dasar perempuan pembawa sial!"
Liora yang tidak terima diamuki tanpa sebab segera keluar, dan mendapati Cakra sudah berdiri di ambang pintu.
"Kenapa, Mas?" tanya Liora berdiri di belakang Cakra.
"Ini mereka mengatakan kita berbuat zi*na, padahal berduaan saja tidak," jawab Cakra bingung sendiri.
Baru kali ini laki-laki itu menghadapi situasi seperti sekarang.
Liora segera maju, berdiri di depan Cakra. "Ada apa ini? Kenapa kalian teriak -teriak di depan rumah saya?" tantang Liora tegas.
Walau hidup sebatang kara, Liora tidak pernah takut pada siapa pun selama menilai dirinya benar dan tidak melakukan kesalahan.
"Halah, nggak usah pura-pura bodoh kamu, keluar dari kampung kami sekarang juga! Apa yang kalian lakukan sudah membuat malu kampung kita, tinggal satu atap tanpa ada orang dewasa yang mengawasi!" teriak Jamal di ikuti sorakan yang lainnya.
Kali ini Liora tidak melawan, dia berdiri mematung. Untuk yang satu itu dia memang bersalah karena menerima laki-laki tinggal di rumahnya tanpa ada izin dari dusun setempat.
Tubuh Liora terpental karena tarikan ibu-ibu, dia diseret keluar dari halaman rumah.
"Pergi dari kampung ini! Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sudah tidak heran jika dia bersikap seperti ini, secara ibunya wanita bekas p*elacur!"
Mata Liora berkaca-kaca dia manatap nyalang wanita paruh baya di depannya. "Jaga mulut Anda! Mungkin saja ibuku lebih suci darimu!" pekik Liora tidak terima.
Walau begitu tubuhnya terus di seret oleh warga karena di anggap melakukan zi*na, terlebih riwayat ibunya mantan wanita malam.
Cakra yang merasa kasihan dan tidak tega langsung menghampiri para warga, mendorong satu persatu kemudian menarik Liora ke pelukannya.
"Apa pantas kalian memperlakukan Liora seperti ini? Padahal dia tidak bersalah sama sekali?" bentak Cakra dengan mata memerah.
Marah, karena gadis yang selama ini baik padanya malah diperlakukan tidak adil.
"Jangan melawan kamu, pergi dari kampung ini sekarang juga!" usir Jamal.
Bapak-bapak yang sedari tadi terdiam angkat bicara karena tidak tega melihat anak baik seperti Liora diperlakukan demikian oleh para warga.
"Nikahkan saja mereka jika tidak ingin pergi dari kampung, dengan begitu tidak ada lagi yang namanya zin*a!"
Bukan tanpa alasan bapak-bapak tersebut mengatakan hal tersebut, dia hanya kasihan pada Liora kalau saja harus pergi dari kampung, ke mana anak itu akan tinggal?
"Saya akan menikah!"
...****************...
Ritual setelah membaca, kuy tebar kembang yang banyak biar wangi. Jangan lupa juga tekan tombol vote, like, fav dan ramaikan kolom komentar. Jika kalian sayang sama otor jangan lupa nonton iklan setelah baca ya, iklannya bisa di lihat di bar pemberian hadiah🥰💃💃💃💃💃💃🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Follow untuk melihat visual
IG: Tantye005
Tiktok: Istri sahnya Eunwoo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 224 Episodes
Comments
Esther Lestari
orang iri itu selalu menghalalkan segala cara utk menghancurkan pesaingnya dan paling mudah adalah fitnah,kayak Jamal ini bisa nya cuma memfitnah
2024-03-14
2
Dilansius Yeru
vitnah
2023-10-11
2
Varhan Thio
aduhhhh....fitnah lebih kejam dari pembunuhan....kasian Liora
2023-09-18
1