Aku pun kembali kekamar ku, setelah itu merebahkan diri diatas kasur sambil memejamkan kedua mataku.
"Putri..." suara Ibu terdengar begitu nyaring saat memanggilku, membuatku beranjak dari tempat tidur untuk segera menemui nya.
"Bu, ada apa memanggilku?" tanyaku, setelah sampai didapur sambil menggulung rambutku keatas.
"Tidak ada, Ibu tidak ada memanggilmu. Ngehayal kamu yah?" jawab Ibu dengan kebingungan, tapi yang paling binggung disini adalah aku.
"Ish Ibu bercanda terus, barusan aja tadi Ibu manggil aku. Makanya aku langsung turun, untuk menjumpai Ibu." jelasku, menarik kursi dari samping meja makan untuk duduk.
"Mungkin kamu salah dengar...sudah bantuin Ibu menyiapkan makan malam." ajak Ibu, seraya meletakkan piring dan gelas secara rapi diatas meja.
Baru saja aku mengelap buah buahan dari kulkas dan meletakkannya diatas keranjang buah, suara Ayah terdengar dari pintu masuk diiringi oleh suara cempreng Kakak.
"Ayah, pulang."
"Kakak, juga pulang."
Aku dan Ibu bersamaan menyambut mereka, tapi aku melirik aneh kearah senyuman Kakak dia seperti sedang memberikan sebuah kode rahasia kepadaku tapi tidak dapat kumengerti.
***
"Heii bocah ingusan, apa yang sedang kau pikirkan sekarang?" tanya Kakak mengambil remoteku, mengganti siaran Tv.
"Kembalikan remoteku, menggangung saja. Kembalikan, cepat kembalikan!" teriakku berulang kali, namun percuma saja tidak diberi.
"Astaga, kau mirip monster saat marah. Wajahmu berubah jadi jelek, bahkan tubuhmu juga berubah menjadi besar seperti Hulk." Ujar Kakak
"Sudahlah aku tidak ingin berdebat, kembalikan saja remoteku. Dan jangan ganggu aku setelah itu." ucapku tersenyum palsu.
"Jika Tuan Putri sudah mengakui kekalahannya, maka prajurit rendahan ini juga mengaku kalah." Kakak sok dramatis mengatakannya.
"Igh! apa semua mahasiswa fakultas kedokteran memiliki sifat kekanak-kanakan sepertimu?!" decitku, mengambil remote dari tangan Kakak.
"Entahlah tapi..."
"Nak, kemarilah sebentar." Panggil Ayah dari dapur, kami berdua pun bergegas menghampiri Ayah.
Terlihat diatas meja makan sebuah kue ulang tahun dengan lilin menyala "Selamat, ulang tahun Putriku." kata Ayah sambil membawa kue tersebut kehadapanku.
Aku tidak menyangkah bahwa mereka semua bisa mengingat ulang tahunku, padahal aku sendiri saja sudah lupa.
"Terimakasih Ayah, terimakasih semuanya." kami beramai-ramai menyanyikan lagu, disertai senyuman hangat dari setiap anggota keluarga.
Aku meniup lilin itu, lalu mereka semua bersorak gembira. Tak lupa juga Ayah, Ibu, dan Kakak memberikan kado kepadaku.
"Walaupun hadiah pemberian dari Kakak tidak terlalu mahal, tolong hargai yah. Maklum lah uang saku udah kepakai semua, buat praktek dikampus." ungkap Kakak seraya mengaruk kepala belakang nya.
"Wah, ternyata prajurit tidak lupa untuk memberikan sang Putri ini kado juga yah." aku menerima kado pemberian Kakak dengan senang hati.
"Tentu, saja dong."
Ayah dan Ibu juga memberikanku kado dengan dus yang sangat besar, membuatku sangat penasaran dengan isinya tapi aku sudah memutuskan untuk membukanya dikamar nanti.
"Aku memutuskan tidak akan membuka kadonya sekarang, aku akan membukanya nanti saat didalam kamar."
"Terserah, padamu."
Terimakasih semuanya atas hari ini, padahal aku sendiri sungguh lupa dengan hari ulang tahunku tapi keluargaku selalu mengingatnya. Entahlah mungkin setelah ini, aku tidak dapat merasakan hal ini lagi.
Malam semangkin larut, aku kembali kedalam kamar sambil membawa beberapa tumpukan kado ditanganku.
"Loh, kaca jendela kamarku kok terbuka? Padahalkan tadi sudah tertutup rapat, siapa yang membuka?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Putri Minwa
lanjut
2023-02-09
0
Irma Sari
Surverais...????
🤣🤣🤣
2020-08-07
2
Hepi Hani
hmmm ultah 15 awal putri menjadi manusia misterius
lnjut thor seru...
2020-06-09
2