Entah apa yang kulihat tadi, tapi jika aku berusaha untuk mengingatnya kembali seluruh tubuhku menjadi gemetar, bahkan jantung terasa sangat sakit.
"Putt...sepertinya nenek tadi membuka mata batinmu deh" ujar Tania menatapku dengan serius.
"Mata batin, apa itu?" tanyaku, benar benar tak tahu artinya.
"Sepertinya kau harus lebih banyak menyaksikan tayangan tv yang berbaur mistis kali ini, agar kau bisa paham." jawab Tania malas
Kami melanjutkan perjalanan lagi, namun saat tiba tepat digerbang perumahan, kakiku terasa sangat berat untuk melangkah. Seperti ada sesuatu yang menahannya.
"Duh kakiku kenapa nih? mana Tania udah kabur duluan lagi, karena sakit perut. Duh kenapa sih kakiku ini!" ucapku dengan kesal sambil menyeret pelan kedua kakiku.
Semangkin lama aku merasa bahwa gerbang perumahan semangkin menjauh dariku, padahal aku sudah berusaha untuk mempercepat langkah kakiku walaupun diseret.
Keringat mulai bercucuran dikeningku, hawa disekeliling mulai terasa sangat sunyi dan mencengkeram. Tidak ada satu orang pun yang melintas, kali ini aku benar benar tidak bisa apa-apa.
Kakiku perlahan lahan mulai melemas membuatku terjatuh tak berdaya diatas jalan aspal, aku hanya berharap Pak Satpam bisa melihatku saat ini.
Aku mencoba untuk berteriak meminta tolong agar ada yang membantuku, tapi nyaris suaraku sama sekali tidak bisa keluar, seluruh tubuhku merasa sangat kedingan secara mendadak.
"Tuhan ada apa denganku, kenapa kakiku tidak bisa digerakkan?bahkan mulutku nyaris tidak bisa mengeluarkan suara. Ada apa dengan semua ini?"
Hawa dingin semangkin menjadi jadi dibelakangku, kusentuh tengkuk leherku yang terasa sangat begitu tegang, dan berbalik kebelakang.
"Arghhh! Po...pocong!" teriakku dalam keadaan tidak bersuara, sekarang ini dia tepat berada di hadapanku membuatku ketakutan setengah mati.
Wajahnya yang pucat membiru, bola mata sebelah kanan yang terlepas, kedua hidung disumpal dengan kapas yang sudah mengguning, dan kain kapan pembungkus tubuhnya yang sudah sangat begitu kumal. Warna kain kapan tersebut sudah seperti warna tanah dan sobek juga dibagian bahunya.
Saat ini dia tepat berdiri di hadapanku, aku hanya bisa melihatnya dengan mendongakkan kepala, ingin saja aku menunduk tapi seluruh saraf bagian leherku tidak ingin menunduk.
"Tolonglah, kenapa kau harus menampakkan dirimu kepadaku?apa salahku, sehingga kau sampai menakutiku seperti ini?" ucapku dalam hati, karena aku tahu percuma saja aku berbicara atau teriak suaraku tetap tidak bisa keluar.
Phukk...
Seseorang menepuk pundakku dari samping, seketika tubuhku langsung tersadar dan bisa bangkit berdiri.
"Kamu sedang apa duduk dijalan seperti itu?" tanya seorang wanita parubayah, sambil tetap memegang pundakku.
Sebelum menjawab wanita itu, aku menolak kembali kehadapan pocong tadi, namun dia sudah menghilang entah kemana. Seperti buaya, menghilang tanpa memberikan sebuah jejak.
"Ti- tidak ada kok Tante, terimakasih...saya permisi dulu." ucapku sambil berlari meninggalkan wanita tersebut, walaupun sedikit tidak sopan....
"Kamu sudah pulang?ayo mandi dulu, setelah ayah pulang kita akan makan malam bersama, oke." ucap Ibu begitu melihatku datang dari depan pintu.
"Put...napas kamu kok terengah-engah begitu?habis lari yah?atau dikejar anjing gitu?" tanya Ibu
"Uhupp...ti- tidak apa-apa kok Bu, nanti saat makan malam tiba tolong bangunkan aku." jawabku tidak berani menatap mata Ibu.
Aku berlari menuju kamarku dan melempar tasku disembarang tempat, dan langsung merebahkan tubuh diatas kasur, mataku mulai ingin terpejam namun aku berusaha untuk tetap sadar. Perlahan aku bangkit dari atas kasur dan berjalan kearah kamar mandi, dan mulai menguyur seluruh tubuhku dengan air sebanyak mungkin untuk menetralkan pikiranku.
Prangggg...
Pikiranku tersadar ketika mendengar suara pecahan barang dari luar kamar mandi, tapi aku tidak terlalu menggubrisnya karenaku pikir itu pasti keusilan Kakak.
Prangggg...
Ini kedua kalinya terdengar suara pecahan lagi, aku tidak tahu barang apa yang hancur. Untuk memastikannya aku segera keluar dari dalam kamar mandi begitu selesai.
"Ini pasti ulah Kakak, tega benar sih dia mecahin vas bunga hadiah dari miliknya sendiri. Dasar Kakak gak ada akhlak!"
Aku keluar dari dalam kamar untuk mengambil sapu dan tong sampah, untuk mengutip puing dari pecahan vas bunga.
"Lah, Ibu pikir kamu benar benar tidur." seru Ibu ketika berpapasan denganku saat kedapur.
"Siapa yang bisa tidur kalau Kakak mengacaukan semuanya terus." sahutku merasa kesal kepada Kakak.
"Kakak?"
"Iya Bu, dia memecahkan vas bunga yang ia berikan padaku. Membuat seluruh puing pecahan berserakan dimana mana, dasar!" jelasku
"Tapi Kakakmu sendiri belum pulang kuliah, bagaimana bisa dia berada dikamarmu." sambung Ibu kebingungan
"Apa?Ibu yakin Kakak belum pulang?"
"Tentu saja..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 53 Episodes
Comments
Putri Minwa
semangat thor
2023-02-09
0
Hepi Hani
putri di teror mahluk astral hiiii serem bklan gk bisa tidur nih
2020-06-09
3
Arini
si putri mulai di teror. hiiii jagi degdegan yg baca.
2020-06-09
3