Eps 2. Wastafel Berdara

Aku tetap bertahan demi menelusuri semua ruangan untuk mengetahui rahasia tersembunyi apa yang ada didalam rumah tua ini, awalnya aku sangat begitu ingin sekali menelusuri lantai atas, namun penelusuranku dilantai bawah belum selesai. Jadi aku mengurungkan niat ku, untuk menyelesaikan bagian bawah terlebih dahulu.

"Astaga! Mengapa oksigen didalam ruangan ini seperti tidak ada?! Aku ingin keluar saja dari dalam rumah ini, tetapi aku belum nemukan apa yang aku cari, sialan!!" teriakku dengan kesal, membuat suaraku bergema diseluruh ruangan.

Brugg

Dari arah berlawan aku mendengar seperti ada suara benda yang jatuh, dengan cepat aku berlari untuk mencari dari mana asal suara tersebut. Dan ternyata itu berasal dari arah dapur dalam rumah ini, saat melirik kearah sekitar mataku malah terperanjat melihat sebuah buku yang tergeletak diatas lantai.

"Apa buku ini yang baru saja terjatuh?"

Aku mengambil buku tersebut, hampir seluruh buku tertutup oleh debu yang tebal. Aku mengusap bagian atasnya, yang menarik adalah buku itu disegel menggunakan seutas tali yang berasal dari ranting pohon. Yah, bagian belakang buku ditempel secarik kertas bertulisan aksara jawa.

Kerongkonganku semangkin terasa terkecat, aku benar-benar membutuhkan air saat ini. Aku melihat kearah sekitar, tiba-tiba saja senter ponselku terarah kesebuah wastafel diujung. Aku mencoba memutar keran nya, beruntung saja ternyata wastafel ini masih berfungsi walaupun sudah 10 tahun lebih tidak digunakan setelah pemiliknya pergi.

Aku membasuh wajahku menggunakan air tersebut, dan tak lupa juga untuk menghilangkan rasa hausku meminum sedikit air dari wastafel tadi.

"Wah, air nya segar banget nih."

Kalau air masih bisa berfungsi dengan baik, kemungkin listrik juga begitu. Aku mencari tombol lampu disekeliling area dapur, dan tepat dibalik kulkas aku menemukannya. Langsung saja aku nyalakan, membuat seisi dapur menjadi terang benderang.

"Ternyata dapur ini sangat begitu luas, nuasan dari dapur ini seperti kerajaan jawa kuno. Bahkan mulai dari meja makan dan kursi yang ada disini semua dipahatan nya terdapat tulisan aksara jawa kuno." ucapku sambil meraba setiap tulisan aksara yang terukir dengan begitu indah.

Sayang sekali seandainya aku bisa membaca tulisan aksara mungkin aku tidak sesusah ini untuk mencari tahu artinya.

"Yah ampun, aku sampai lupa mematikan kran air!"

Saat berjalan menuju wastafel, mataku terkejut bukan main. Ternyata air yang aku pergunakan sedari tadi adalah darah yang mengalir begitu deras dan segar.

"Argh!" teriak ku begitu keras karena kaget, seketika aku seperti ingin memuntahkan seluruh isi perutku. Bau amis dan anyir darah mulai tercium diruangan ini.

Saat melihat kearah layar ponselku aku menjadi semangkin merasa jijik, "Sial, wajahku juga penuh dengan darah!!" dengan cepat aku membersihkan wajahku dengan pergelangan bajuku.

"Putri!Putri!Putri!"

Terdengar ada suara yang seperti memanggil namaku, tetapi semangkin kucari asal suara ini dia seakan menjauh dari pendengaranku. Aku terus berjalan mencari asal dari suara tersebut dan tidak juga menemukannya. Aku membuka ponselku dan melihat ternyata sudah pukul 9 pagi, itu artinya aku harus bergegas meninggalkan tempat ini sebelum orang lain mengetahui keberadaanku.

"Putri!Putri!"

Benar sekali ini ternyata adalah suara orang yang sedang memanggilku dari luar rumah, oke aku harus keluar sekarang. Sedari tadi aku mencari pintu utama untuk keluar tapi tidak ketemukan sama sekali, hampir semua pintu dirumah terlihat sama satu dan yang lain buat ku menjadi pusing dan binggung.

"Tetap tenang putri, pikirkan baik-baik dari sebelah mana kedatangmu awalnya." setelah menenangkan napas yang panik, aku mulai memikirkan langkah awal ku saat masuk.

"That's raight, aku menemukan jalan keluarnya."

Saat keluar dari dalam rumah tersebut mataku seperti buta karena didalam terlalu gelap membuatku tidak terbiasa melihat cahaya begitu keluar dari sana, ah aku benci seperti ini. Tubuhku juga seketika menjadi kaku dan susah untuk berdiri, tapi aku memaksakan diri untuk bisa bertahan.

"Ada, apa denganku sebenarnya? Kenapa aku menjadi sangat begitu kelelahan saat keluar? Seperti seluruh energi telah tersedot dengan habis!" gumamku dengan penuh cucuran keringat didahi.

"Pak Anwar, ini neng Putri pak!"

"Pak Yono, kenapa dia bisa tahu aku berada disini? Apa saat pergi Pak Yono sudah mengikutiku dari belakang? Tapi tidak mungkin juga dia mengetahui rencanaku." tutur batinku saat menoleh kearahnya.

"Anakku, dari mana saja kamu nak?! Ayah dan Ibu sangat begitu cemas mencarimu, beruntung para warga disini sangat baik membantu Ayah mencarimu. Ayah sampai membuat laporan tentang kehilanganmu ke pihak berwajib." jelas Ayah sambil memelukku.

Aku yang masih tidak memahami keadaan sekitad hanya bisa diam saja dengan isi pikiran yang penuh dengan pertanyaan.

"Padahal aku baru saja meninggalkan rumah selama 3 jam kenapa Ayah sampai harus membuat laporan? Ibu kenapa dia menangis tersendu-sendu seperti itu? Dan juga kenapa ada begitu banyak warga saat ini?" pertanyaan itu lah yang terlintas dalam benakku tapi tidak bisa kujawab sendiri.

"Syukurlah nak, akhirnya kami bisa menemukanmu." sambung Ibu kembali memelukku.

"Ada apa ini sebenarnya?" tanyaku dengan binggung sambil melihat kearah mereka.

"Kamu bertanya-tanya ini ada apa?"

"Seseorang bisakah kalian menjelaskannya padaku?"

"Seharusnya Ayah yang bertanya kepadamu, kemana aja kamu selama 3 hari ini nak? Kenapa tidak ada kabar saat kamu hendak pergi? Dan apa yang kamu lakukan didalam rumah itu?"

Pertanyaan Ayah bertubi-tubi membuat mulutku tidak bisa berbicara, bahkan jantungku serasa ingin copot saat mendengar bahwa aku telah menghilang selama 3 hari. Padahal aku merasa bahwa baru 3 jam aku pergi.

"A-aku," mulutku terasa sangat begitu terkecat sewaktu hendak berbicara.

"Sudah itu tidak penting ayo kita kembali kerumah nak, Ayah dan Ibu melihatmu saja sudah sangat begitu senang."

Setelah mereka berterimakasih kepada warga, kami pun pulang kerumah. Sedari tadi pandangan ku hanya tertuju kepada Pak Yono dia memegang rantai besi pagar begitu lama, dia juga memungut secarik kertas yang berada diluar pagar lalu melihat dengan tajam kearahku.

"Berani memulai, maka harus berani menyelesaikan." perkataan itu lah yang terdengar oleh telingaku, saat diucapkan Pak Yono. Membuatku sangat begitu takut saat bertatapan dengannya.

Sesampai dirumah aku membersihkan diri begitu lama dikamar mandi, saat menyalakan shower aku langsung teringat dengan air berdarah di wastafel rumah tua itu. Seketika membuatku menjadi muntah, betapa menjijikannya air itu. Bahkan aku sudah meminumnya sedikit itu yang membuatku terus memikirkannya.

"Ada apa Putri?" tanya Ibu dengan panik dari luar.

"Tidak, apa-apa Bu."

"Kalau begitu cepat selesaikan mandimu, kita akan makan diruang tamu sekarang nak."

"Baik Bu, sahutku dari dalam."

Dengan shower yang masih menyala aku duduk dibawah, memikir setiap kejadian yang terjadi diluar rencana.

Tok...Tok...

"Yah Bu, sebentar lagi aku akan selesai." sahutku dari dalam begitu mendengar suara ketukan dari luar.

Setelah selesai aku membuka pintu kamar mandi, tidak sengaja kakiku menginjak secarik kertas. "Siapa yang membuatnya disini?"aku tidak terlalu ambil pusing dengan kertas itu, dan langsung membuangnya tanpa membaca sedikit pun.

...Hai, terimakasih sudah mau membaca. Harap bersabar yah sebagian dari episode dalam novel ini sedang dalam tahap revisi....

Terpopuler

Comments

Putri Minwa

Putri Minwa

wah, apa maksud Pak Yono Itu ya?

2023-02-07

0

Ning Hari Mulyana

Ning Hari Mulyana

🙄🙄🙄🤔🤔🤔

2022-09-25

0

Turholiyah

Turholiyah

ko bs si tg hari

2021-05-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!