Baroness Imelda dan putrinya menekuk kaki hingga Raja Henry mempersilahkan mereka duduk.
"Bisa langsung saja Baroness?" ujar Henry malas berbasa-basi.
"Maaf Yang Mulia, jika kami mengganggu ketenangan Yang Mulia. Kami datang atas perintah kerajaan Darly untuk menepatkan diri sebagai staf di kerajaan ini!" Jelas Baroness Imelda.
Ia mengeluarkan surat dengan stempel kerajaan di sana. Salah seorang staf istana datang membawa baki dari perak beralaskan beludru meras dengan simbol-simbol kerajaan. Imelda meletakkan surat itu di atas baki. Staf membawanya ke hadapan rajanya.
"Buka dan bacalah!" titah Henry.
Pria pembawa baki mengambil surat itu dan langsung mengambil kertas dalam amplop dan membacanya.
"Kerajaan Darly mengirim Baroness Imelda dan juga putrinya Baroness Hilda untuk ditempatkan pada staf kerajaan bagian pendataan barang dan harta kekayaan seusai dengan pendidikan keduanya. Tertanda Raja Joe Darly!"
"Kalau begitu. Kirim surat untuk Raja Harly jika Baroness Imelda dan putrinya diterima di kerajaan ini sebagai staf pendataan kekayaan kerajaan di bawah pimpinan Marquez Goerge!" titah Henry.
"Baik Yang Mulia!" sahut staf.
Pria itu kembali mendatangi dua wanita dan mengajak mereka ke ruangan paling selatan istana. Di sana adalah ruangan bagi para pekerja istana yang mencatat semua kekayaan yang diterima dan juga dikeluarkan oleh istana.
Hilda menatap pria berkuasa yang kini kembali menggandeng istrinya. Ia masih saja kesal dengan kehadiran sosok cantik itu.
"Ibu ... apa itu adalah selir dari Raja Henry, kudengar Raja tak menyukai ratunya sendiri. Makanya ia memamerkan selirnya tadi," ujar Hilda.
"Jangan banyak bertanya perihal Yang Mulia Hilda. Sayangi nyawamu sendiri," peringat Imelda pada putrinya.
"Bukan begitu Ibu. Tapi, seorang selir tak boleh berjalan bermesraan di istana terlebih masih ada sang ratu yang menjadi pendamping Raja!" sahut Hilda beralasan.
Imelda hanya diam, ia tak mau menanggapi begitu dalam kehidupan raja yang baru saja ia temui.
"Dia sangat tampan Bu," sahut Hilda lagi lalu berkhayal.
"Hentikan pikiranmu Nak. Ibu masih ingin hidup!" peringat Imelda lagi.
Hilda hanya berdecak. Gadis itu mengamati seluruh isi istana yang begitu indah dan banyak ornamen-ornamen mewah yang menghiasi seluruh ruangan.
"Istana ini memang kecil, tapi sangat indah dan mewah, bahkan lebih mewah dari istana Darly,' gumamnya memuji dalam hati.
"Ini kamar Anda Yang Mulia Baroness!" tunjuk pria yang mengantar dua staf baru raja itu.
"Apa kami tidur di satu kamar?"
"Tidak Yang Mulia Baroness, ada kamar lain di dalam ruangan ini," jawab staf asisten kerajaan.
"Maksudnya?" tanya Hilda tak mengerti.
Staf itu membuka pintu berukiran dengan cat emas itu. Pintu terbuka, seperti masuk ke rumah. Di sana ada ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan juga dapur.
"Di ruangan ini ada dua kamar utama, satu kamar tamu dan dua kamar maid.
Ruangan dengan nuansa serba putih dan cat emas. itu benar-benar memukau mata semua orang. Hilda berkali-kali berdecak kagum melihat ruangan itu.
Empat maid datang dengan seragam seba hitam mereka. Ke-empatnya membungkuk hormat.
"Mereka akan melayani anda, gaji mereka dari potongan pendapatan anda selama bekerja di istana ini!" jelas Staf Asisten istana.
"Yang Mulia Baroness mendapat jatah libur satu bulan tiga kali boleh keluar istana, libur setiap akhir tahun," lanjutnya.
Staf pergi. Para maid mengatur pakaian keduanya di kamar berbeda. Baik Imelda dan Hilda hanya diam mengamati saja.
"Semua sudah beres Yang Mulia Baroness," ujar salah satu maid.
"Baik lah. Kerjakan yang lainnya,"
Keempat maid membungkuk hormat. Mereka memilih memasak untuk makan siang majikan baru mereka.
Sementara di ruangan lain. Henry memanggil beberapa petugas pelaksana hukuman pada sebelas maid yang menghina ratunya. Pria itu tak ingin ada kesalahan sedikitpun dengan semua tindakan.
"Apa kalian mengerti?"
"Mengerti Yang Mulia Raja!" sahut empat eksekutor membungkuk hormat.
Empat pria kekar keluar dari ruangan raja. Henry memijit kepalanya, ia pun memanggil staf penanganan pekerja dapur dan pelayan istana.
"Yang Mulia Raja!" sebut pria berambut putih membungkuk hormat.
"Cari pengganti semua maid yang sudah keluar. Aku memerintahkan delapan maid berjaga di luar kamar Yang Mulia Ratu!" titahnya.
"Baik Yang Mulia!" sahut pria itu.
Henry hanya mengkodekan tangannya agar pria itu pergi. Setelah itu pria penguasa itu berdiri dan menuju kediaman ratunya.
"Yang Mulia!" sambut semua maid yang berdiri di depan kamar istrinya.
"Jangan ada yang mengganggu!" titahnya.
Semua membungkuk hormat. Henry masuk ke dalam ruangan istrinya. Para maid pun berjalan mundur hingga dua puluh langkah.
"Ratuku!" panggilnya mesra.
Raisa merona mendapat panggilan itu. Ia datang dengan kepala tertunduk. Sungguh jiwa Geisha tak mampu meredam degup jantung di tubu yang ia tempati ini.
"Tolong buka jubahku," pinta Henry dengan suara berat.
Dengan tangan yang gemetaran Raisa membuka jubah suaminya. Napas keduanya menderu. Henry begitu tak sabaran melihat istrinya terlalu lamban membuka jubahnya.
'Sabar ... sabar!' gumamnya dalam hati.
Baik dada Henry dan Raisa naik turun dengan helaan napas kasar terdengar. Jubah terlepas. Gadis itu membuka satu persatu kancing kemeja yang membungkus ketat tubuh suaminya.
Dada kekar sang raja terlihat. Otot-otot yang indah dan bentuk kotak-kotak di perut sang raja mempesona mata Raisa.
Tak sadar gadis itu meraba dada bidang nan kekar suaminya.
"Kecuplah sayang," pinta pria itu dengan suara berat.
Seperti terhipnotis, Raisa mengecup dada suaminya, hingga terdengar helaan napas besar dari Henry.
Kecupan-kecupan dari bibir Raisa membuat gairah sang raja terbakar. Raisa yang polos berubah liar malam itu.
Jiwa Geisha bukan gadis sepolos Raisa. Ia paham teknik bercumbu, karena ia adalah seorang praktisi kesehatan juga akan menjadi dokter jika saja nyawanya tak berpindah ke raga ini.
Gaun yang dipakai Raisa merosot ke lantai. Henry mengecup bahu istrinya yang putih bersih. Ciuman itu merambat hingga menyatukan dua indera pengecap.
Ciuman panas tercipta, mereka saling memagut. Henry menggendong istrinya ala pengantin ke ranjangnya. Pria itu juga sudah tak memakai benang sehelai pun di tubuhnya.
Lalu keduanya pun menyatu, walau Henry harus menerjang kuat untuk menjebol gawang yang masih tersegel rapat.
"Aaah!" pekik keduanya.
Raisa merasakan tubuhnya terbelah, sedang Henry merasa punggungnya nyeri akibat sang istri yang menancapkan kuku panjangnya.
Napas keduanya terengah-engah, peluh bercucuran. Henry menatap istrinya penuh cinta. Lalu tubuh keduanya mengayun lembut seiring ritme jantung yang memacu. Mereka bergelut dalam gelora cinta yang membakar hasrat mereka.
"Aaahh!" Raisa melentingkan tubuhnya laksana busur panah.
Wanita itu mendapat pelepasan pertamanya. Henry makin cepat mendaki, ia juga ingin mencapai puncaknya. Hingga ....
"Aaahh ... sayang!" lenguhnya ketika menyemburkan semua benih ke rahim istrinya.
Henry terkulai di sisi Raisa dengan napas yang menderu, ia memeluknya erat dan mengecup kening sang istri mesra.
"Terima kasih sayang," ujarnya sebelum terlelap.
bersambung.
huuffhhh .... 😅
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
uuuuuu....haredang
2024-11-23
0
Miss Typo
akhirnya jebol juga gawang Raisa 😁
2024-10-09
0
Leni Ani
udah belah duren dong😆😅
2024-10-03
0