"Apa maksudmu?" tanya Raja Henry tak suka.
"Kau tak perlu pura-pura Yang Mulia!" tekan Raisa.
Dua netra berbeda saling menatap. Manik pekat itu sangat dalam, Raisa nyaris terhipnotis dalam pandangan sang raja. Gadis itu segera menyadarkan otaknya.
Sedang Raja Henry begitu terpana memandang netra amber milik ratunya. Jantungnya berdegup lebih cepat secara tiba-tiba. Desiran halus ia rasakan juga.
'Apa-apaan ini?" tanyanya dalam hati.
"Yang Mulia, saya menemukan beberapa kejanggalan di laporan ini?!" sahut Marquez Albert mengagetkan sang raja.
"Apa, jadi maksudmu Ratu berkata benar?" tanya Henry.
"Benar Yang Mulia!"
Henry segera mengambil semua buku yang ada beberapa catatan memang sangat berantakan dan asal buat. Tatanan hukum yang tak jelas. Data rekam jejak sejarah kerajaan yang tidak sesuai porsinya dan banyak lagi.
"Apa-apaan ini?" tanyanya. "Sir Anthony?"
"A—ampun Yang Mulia!"
"Kumpulkan semua petugas. Minta mereka membenahi ini semua!" titah Henry.
"Memperbaiki itu akan banyak waktu terbuang Yang Mulia!" keluh Sir Anthony.
"Oh begitu ya?"
"Benar Yang Mulia. Terlebih ini hari libur jadi mereka pasti menolak bekerja," lanjut pria itu.
"Marquez Albert!" panggil Henry.
"Saya Yang Mulia!"
"Pecat semua petugas dan staf istana yang menolak merevisi semua catatan ini!" titahnya. "Dan pecut Sir Anthony di depan semua dewan!"
"Ampun Yang Mulia!" teriak Sir Anthony menyesal.
"Pengawal!" teriak Marquez Albert.
"Yang Mulia ... jangan hukum hamba. Tak ada yang mau bekerja di perpustakaan kerajaan tanpa gaji jika bukan saya!" ratap Anthony.
"Kerjakan!" bentak Raja Henry memberi perintah.
Anthony diseret oleh dua pengawal. Semua staf, pegawai dan juga pelayan terkejut mendengar teriakan Anthony.
"Copot gelar kebangsawanan pria itu setelah hukuman selesai dan penjarakan dia!" teriak Henry tegas.
Raisa terdiam melihat kekejaman sang raja pada staf yang memang kurang ajar itu. Tetapi mendengar ada satu kecurangan terjadi di sini.
"Yang Mulia, maaf mengajari bentuk tim investigasi untuk menyelidiki terduga adanya penyelewengan keuangan kerajaan," ujar gadis itu.
"Tentu Yang Mulia, aku akan menyelidiki sendiri tentang itu bersama Albert!' sahut Henry.
Pria itu merasa tercerahkan ketika mendapat protes dari ratu yang tak pernah ia anggap ada selama ini. Ia menatap istrinya, merasa ditatap Geisha atau Raisa menatap balik.
"Apa Yang Mulia Ratu mau menolongku?" pintanya penuh harap.
Geisha sedikit berpikir, ia sebenarnya bisa saja tak peduli dan membiarkan kerajaan ini hancur. Tetapi, jika ia lakukan itu. Apa gunanya ia ada di tubuh seorang ratu.
"Baiklah," jawabnya mengangguk.
Raja Henry tersenyum dan hal itu membuat Geisha atau Raisa terpana. Pria itu benar-benar tampan dan sempurna tanpa cela.
Deg! Deg! Deg! Detak jantung Raisa begitu cepat. Ia meraba dadanya untuk menenangkan detakan itu. Belum lagi ketika seluruh aliran darahnya berdesir.
'Sial ... dia tampan sekali!' umpatnya dalam hati.
Semua staf kerajaan datang dengan langkah tergopoh-gopoh. Mereka semua takut dipecat dan dihukum seperti Anthony. Pria itu diseret ke dalam penjara setelah mendapat hukuman cambuk.
"Bereskan kekacauan di perpustakaan! Data dan revisi kembali semua rekam jejak sejarah!" titahnya.
"Baik Yang Mulia!" sahut delapan petugas dengan wajah sedikit kesal.
"Jika kalian tak suka. Silahkan tinggalkan istana ini dan serahkan juga gelar bangsawan kalian!" lanjut Raja Henry setengah mengancam.
"Kita ke bagian pendataan keuangan kerajaan dan menghitung ulang semuanya,"
Raja Henry duduk bersama Albert dan Raisa. Beberapa staf mulai gusar melihat raja dan ratu mereka memperbaiki data keuangan.
"Yang Mulia, serahkan semua pekerjaan pada kami!" ujar kepala staf.
Raja Henry melirik pria yang menginterupsi pekerjaannya. Marquez Albert langsung berdiri dan menyeret staf itu. Terdengar teriakan menggema. Algojo begitu senang menghukum mereka.
Para pelayan berdatangan membawa makanan juga minuman. Geisha baru tau jika ternyata, Raja Henry begitu cepat menangkap beberapa kesalahan pada pendataan keuangan kerajaannya. Bahkan Marquez Albert juga menemukan adanya pembengkakan pembelian alat perang yang tak pernah ia lihat alatnya.
"Kalau begitu, kumpulkan semua bukti ini. Kita akan adakan pengadilan tinggi terhadap pencuri-pencuri itu!" titah Raja Henry. "Bawa serta Duke Arthur dan juga Marquez Gilbert!" titahnya.
"Baik Yang Mulia!" seru Albert langsung mengerjakan tugasnya.
Raja Henry menarik tangan ratunya. Raisa hendak melepas genggaman tangan yang membuat jantungnya ingin lepas itu.
"Yang Mulia!" cicitnya.
"Diam Ratu!"
Geisha masih memiliki kewarasan untuk tidak melawan perintah raja sekaligus suaminya. Ia sangat yakin, genggaman tangan sang raja untuk mengusir rumor kedekatannya dengan Selir kesayangannya itu.
"Yang Mulia jika ini hanya untuk membuang rumor masalah se ... mmpprrrffssshhh!"
Netra Raisa membola. Bibir sang raja membungkam bibirnya langsung. Bibir yang tadinya hanya menempel, lalu bergerak pelan.
"Yang ... mmpprrrffssshhh!"
Raja Henry menahan tengkuk istrinya yang hendak melepas ciumannya. Geisha merasa kehabisan napas. Ia memukul pelan dada rajanya. Raja Henry akhirnya melepas tautannya.
"Jika melihat itu dengan jelas Ratu!" ujarnya dengan napas menderu.
Raisa mengerutkan keningnya. Ia teringat kejadian ciuman raja dengan selirnya di taman belakang itu. Walau ia tak jelas karena Raisa hanya melihat kepala suaminya saja. Tetapi tangan wanita yang memegang kepala raja menandakan semua.
"Aku tak peduli, kau telah mencuri ciuman pertamaku!" desisnya marah.
"Aku suamimu jika kau lupa!"
"Aku tidak lupa. Tapi aku harap Yang Mulia menjaga batasan!" sahut Raisa marah.
"Aku bisa melakukan apapun padamu Ratu!" tekannya.
"Kau memang memiliki kekuatan untuk mendongkrakku sebagai Raja. Tapi perlu kau ingat, aku adalah keturunan asli Raja dan tak ada yang bisa menggeser dan menghilangkan itu!" lanjutnya.
Raisa mengumpat pelan. Raja Henry terkekeh mendengarnya. Ia merasa jika ratunya jauh lebih menarik dibanding wanita yang selama ini ia simpan di bagian paling belakang istana.
'Mungkin benar kata para bangsawan. Jika memiliki istri yang memiliki pamor. Kenapa harus membuang senjata paling ampuh dengan satu batang kayu?' gumamnya.
Raja Henry akan memberi titah pada semua pengawal untuk mengusir Sonya dari halaman belakang.
"Sesuai dengan plakat turun temurun!" gumamnya bermonolog.
"Apa Yang Mulia?" tanya Raisa.
"Tidak ada!" jawab Raja Henry cepat.
Wajah Raisa ditekuk. Tangan Sang Raja tak lepas dari genggamannya. Sang Ratu yang ternyata selama ini pintar baru diketahui pria itu.
Sementara di tempat lain. Sonya melempar semua benda yang ada di meja riasnya. Ia berteriak tak terima dengan berita yang baru saja ia dengar.
"Wanita sialan!"
"Kau itu hanya wanita bodoh! Untuk apa kau berlaga pintar!" lanjutnya berang.
Beberapa pelayan tampak menunduk takut. Mereka yang ditugaskan rajanya untuk melayani gadis cantik ini, baru melihat perangai asli Sonya .
"Tidak ... mungkin perempuan itu hanya pintar secara kebetulan!" ujarnya menolak semua berita yang ia dengar.
"Maaf Miss Sonya. Yang Mulia Ratu menemani Yang Mulia Raja membenahi data keuangan kerajaan!" lapor salah satu pelayan.
"Hanya menemani saja kan?" senyumnya remeh.
"Tidak, bahkan menurut perkataan para staf jika Yang Mulia Ratu pencetus awal perbaikan semua data di perpustakaan!"
"Bahkan Yang Mulia Ratu berciuman dengan Raja di aula terbuka!" lanjutnya.
"Berengsek, dasar wanita gatal!" maki Sonya murka.
Bersambung.
eh ... maaf yang gatel itu spasa ya?
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Nana Niez
knp gampang banget jatuh dalam pelukan raja,, haish g seru nih
2025-03-30
0
Julia Juliawati
jaman kerajaan blm ada kata pelakor ya Thor? 🤣🤣🤣
2025-03-29
0
Siti solikah
loh loh yang gatal itu kamu sonya
2025-03-18
0