16

Setelah membeli semua yang kami butuh kan, kami kembali lagi ke sekolah. Hari ini guru tidak masuk, karena para guru tau kami sedang membersihkan kelas dan dalam seminggu ini tidak ada jam pelajaran sama sekali, guru membebaskan kami untuk menata kelas kami sebagus dan secantik mungkin.

“kenapa ga di kancing sih baju nya?”. Tanya ku.

Sedari tadi aku risih melihat nya, dia seolah ingin memamerkan dada nya kepada banyak orang.

“kancing nya copot, ga sempat di jait”. Dia menunjuk kan kancing baju yang diambil nya dari dalam kantong depan baju nya.

“yaudah tunggu sini aku cari benang jait nya dulu”. Tidak ada niat lain aku hanya ingin memperbaiki baju nya.

Setelah aku menemukan benang dan jarum jahit nya aku kembali lagi ke kelas menghampiri fathan yang sedang duduk dengan teman se geng nya.

“nih”. Aku memberikan nya kepada fathan.

“aku ga bisa, bantuin dong”. Aku percaya dia tidak bisa, bisa di lihat dari tampang nya yg memang tidak memiliki jiwa jiwa pintar menjahit.

“yaudah, sini baju nya”. Pinta ku. Terdengar seperti modus padahal tidak sama sekali, aku hanya ingin membantu nya.

“trus aku telanjang?”. Tanya nya. Dia tersenyum jahil, dan teman teman nya pun tertawa.

“ ga gitu maksud aku”.

“trus gimana?”. Tanya nya

“ ga tau lah, nih jait sendiri”. Aku kembali menyodorkan alat jahit itu kepada nya.

“udah mau di bantuin, bukan nya bilang makasih malah di ketawain”. gerutu ku.

“yaudah duduk dulu sini, bantuin aku. Aku kan ga bisa”.

Begitu aku duduk di depan fathan, teman teman nya pun beranjak pergi meninggalkan kami berdua di sini. Sedang kan para murid yang lain sibuk dengan urusan masing masing. Ada yang mengepel lantai, memasang hiasan dinding,mereka semua sibuk bekerja, tidak ada yang memperhatikan kami. Aku juga tidak berharap di perhatikan oleh mereka, yang ada aku malah malu.

“ trus gimana mau jait?”. Tanya ku bingung.

“gini”. Dia memegang kerah baju nya, mendekat kan nya kepada ku sehingga membuat tubuh nya juga berdekatan dengan ku. Kami berjarak hanya beberapa cm saja dan itu membuat jantung ku yang semula berada di dada, kini jatuh kelantai. Hahaaa,,aku hanya bercanda.

Tapi dia benar benar membuat jantung ku rasa nya ingin copot. jantung ku berdetak tak karuan.

bisakah aku menjahit seperti ini?.aku takut nanti yang terjahit bukan lah baju nya.

“a a aku ga bisa gini”. Nah kan untuk berbicara saja rasa nya aku tidak bisa.

Ia laki laki pertama yang berada dekat dengan ku secara hati dan fisik, sedekat ini. Bahkan para pacar ku terdahulu saja tidak pernah. Jangan kan dekat, memegang tangan ku saja tidak pernah.

Lucu jika di ingat, setakut itu aku berdekatan dengan laki laki.bagiku pacaran hanya tentang aku suka kamu, kamu suka aku. Kita saling menjaga layak nya saudara, tidak ada berpegangan tangan, duduk berdekatan, berciuman ataupun berpelukan.

Begitulah aku berpacaran. Hanya saling bertukar kabar melalui sosial media, aku mengingatkannya makan dan begitu juga dengan nya, namun bagi ku itu lebih dari cukup.

Aku tidak pernah mau jika diajak berjumpa, aku akan menolak nya dengan berbagai alasan baik itu alasan yang masuk akal ataupun tidak sama sekali.selama aku bisa menolak aku akan tetap menolak.

Bukan tidak sayang, tetapi memang seperti itu cara ku. Tak jarang juga para lelaki meninggal kan ku karena aku terlalu membosankan dengan hanya mengandalkan handphone dan sosial media.

“udah gapapa gini aja, kan ga mungkin aku buka baju di sini”. Ada benar nya perkataan fathan, mau tidak mau aku harus melakukan nya, tetapi ini sangat tidak aman untuk jantung ku.

Aku mulai menjahit nya, aku menjahit nya dengan penuh kehati hatian jangan sampai benda tajam ini mengenai fathan dan melukai tubuh berharga nya.

aku menjahit nya hingga selesai. Kemudian aku membantu teman teman ku bekerja.

“nanti sore kalian balik lagi ya, bagi yang bisa. Bagi yang tidak akan kami maklumi”. Kata ku kepada para teman sekelas ku.

Namun sore hari nya hanya beberapa orang saja yang datang. Fathan bersama 2 teman nya, aku, ayra, aca, rosa, via, arhan dan teman sebangku nya, dan 2 orang lagi teman sekelas ku yang super centil. Sebenar nya aku tidak pernah berbicara dengan mereka berdua, tetapi yang nama nya sekelas tetap lah teman.

“fathan sama aku aja”. Mereka sibuk memperebutkan fathan. Aku hanya menggeleng geleng kan kepala melihat nya, andai saja aku mempunyai keberanian seperti mereka, aku yakin fathan pasti akan memilih ku.

Hahaaa,,, seperti nya aku terlalu percaya diri.

“nih uang nya”. aku memberikan uang kepada fathan. Aku tidak berniat pergi dengan nya karena melihat dua teman ku yang sibuk memperebutkan nya, aku tidak mau ikutan. Sekarang biar kan lah hanya mereka saja yang pergi.

Selagi fathan pergi aku dan teman teman lain nya melakukan yang perlu kami lakukan. Ada yang membuat hiasan jendela, ada yang menanam bunga, dan ada yang menyapu halaman kelas.

setelah fathan kembali aku mulai membantu fathan membongkar barang barang yang telah di beli nya. Ada beberapa kuas, cat dinding dan cat untuk jendela dan meja.

kemudian aku dan fathan mengeluarkan beberapa meja dan kursi yang perlu di cat.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!