Mikha sudah siap dalam ruang prakteknya.
Memeriksa setiap pasien yang datang, memberikan arahan mengenai tahapan pengobatan, memberikan resep dan tentunya memberikan motivasi dan semangat agar pasien-pasiennya tetap memiliki positive vibes.
Mikha percaya dengan semangat dari dalam diri pasien merupakan obat paling mujarab bagi kesembuhan mereka.
Mikha melihat chat yang ada dgroup whatsapp RS.
Semua dokter diminta untuk hadir di ruang rapat setelah makan siang.
"Dok, tadi pasien terakhir. Ada lagi yang Dokter butuhkan?" tanya perawat yang mendampingi Mikha.
"Tidak sus. Silahkan dilanjutkan pekerjaanmu. Aku juga ada rapat setelah makan siang." Mikha masih berhadapan dengan laptop membuat report.
"Kalau begitu saya permisi dok."
Mikha melanjutkan pekerjaannya.
Hp Mikha berdering.
"Assalamualaikum Kak. Ada apa? tumben telp adek bawelnya."
"Waalaikumsalam Dek. Kakak mau ajak kamu makan siang?"
"Tumben. Pasti ada udang dibalik bakwan nih?" Mikha yang kaget tak biasanya kakaknya berbicara dengan nada serius.
"Kakak mau membicarakan sesuatu sama kamu. Bisa?" Mainaka masih dalam mode serius.
Mikha merasakan ada hal janggal terhadap kakaknya.
"Aduh, sebenarnya setelah makan siang aku masih ada rapat kak di RS. Bagaimana kalau sore?" Mikha memberikan alternatif.
"Baiklah. Sore kabari kakak setelah selesai. Kakak akan jemput kamu." Mainaka menyetujuinya.
"Memang ada apa ka?" Mikha penasaran.
"Nanti kakak akan jelaskan. Jangan lupa kabari kakak kalau kamu sudah selesai." Mainaka mengingatkan.
"Iya Ka."
Mikha menutup telponnya.
Pikirannya panjang.
Mikha merasakan ada sesuatu yang penting hingga sang kakak begitu serius dalam nada bicaranya.
Tok,,,Tok,,,Tok.
"Masuk!" Mikha disadarkan oleh ketukan pintu dari lamunannya.
"Sudah ditunggu diruang rapat Dok." perawat memberitahukan Mikha.
"Oke. Saya akan kesana. Terima kasih."
Mikha berjalan menuju ruang rapat.
Di perusahaan Darren
Darren menyandarkan punggungnya.
Lelah itulah kata yang tepat.
Akhirnya perburuannya akan tindakan pegawainya yang curang dan bermain kotor terbongkar.
"Akhirnya keponakan dan pamannya sudah berada di pihak yang berwajib. Mereka layak mendapatkannya."
Darren sudah membongkar kebusukan pegawainya, sekretaris dan direktur nya yang melakukan banyak sekali kecurangan pada perusahaan.
"Dad." Darren berdiri saat mengetahui yang Daddy masuk ke ruangannya.
"Dad, maaf aku harus..." Darren saat akan menjelaskan.
"No. It's true. I'm proud of you." Daniel menepuk bahu sang putra.
Daniel mengajar Darren duduk di sofa ruangan yang dulu adalah ruangan dirinya sebelum ia serahkan pada Darren.
"Daddy terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan perusahaan dan bertindak benar. Daddy yang salah terlalu percaya kepadanya." wajah Daniel menyesali apa yang terjadi.
"No. Mereka yang telah merusak kepercayaan Daddy. Daddy hanya terlalu baik." Darren tersenyum pada Daniel ayahnya.
"Daddy semakin yakin telah menyerahkan perusahaan ditanganmu. Kamu memang pantas dan layak. Bolehkah Daddy mengatakan sesuatu?" Daniel merangkul bahu putranya.
"Ya, katakanlah Dad." Darren menantikan apa yang akan dikatakan Daddynya.
"Jagalah perusahaan ini, Mommy dan adik-adikmu jika kelak Daddy sudah tiada." Daniel tersenyum saat mengatakan hal yang membuat Darren kaget.
"Kenapa Daddy berbicara begitu. Tidak lucu Dad becanda akan hal itu." Darren tahu Daddy Daniel senang bercanda.
Daniel menyerahkan sebuah berkas kepada Darren.
Darren segera membukanya dan membaca apa yang tertera dalam berkas tersebut.
Betapa terkejutnya Darren membaca apa yang ada dihadapannya.
Seolah ia tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Benarkah ini Dad?" Darren bertanya pada Daniel.
"Apakah Daddy terlihat bercanda?" Daniel menatap sang putra dengan serius.
"Sejak kapan?" Darren menyelisik.
"3 bulan." Daniel menjawab.
"Mommy dan adik-adik tahu?" Darren menatap netra biru sang Daddy.
"Itulah yang akan Daddy minta padamu untuk kamu rahasiakan dari mereka." Daniel mendekatkan jarak keduanya.
"Kamu tahu bagaimana Mommymu dan kedua adikmu. Mereka akan begitu bersedih dan rapuh. Terutama Mommymu, bisa nangis sepanjang hari jika mengetahui kondisi Daddy." Daniel tak bisa membayangkan wajah istri tercintanya sedih mengetahui kebenaran kondisi dirinya.
"Daddy harus segera ditangani. Jangan sampai apa yang Oma alami terjadi pada Daddy. Bagaimanapun Divya dokter, ia akan lebih paham mengenai ini." Darren mencoba membujuk Daniel agar memberitahu Divya setidaknya.
"Ya, untuk itu Daddy memberitahu kamu terlebih dahulu. Baru kita bicarakan Divya perlahan. Meskipun Daddy akan kewalahan menenangkannya." Daniel sangat memahami putrinya yang satu ini memang sangat dekat dengannya dan manja.
"Ini masih awal. Masih bisa disembuhkan. Daddy sudah mendapatkan perawatan dari dokter. Dan dokter pun sudah memberikan saran apa yang akan Daddy akan lakukan. Terlebih tempat Daddy melakukan pengobatan kini tempat Divya praktek sekarang. Untuk itu kita akan bicarakan dengan Divya perlahan sebelum Mommy kita beritahu." Daniel hanya menahan menunggu waktu yang pas untuk membicarakan soal kesehatannya pada sang istri.
Darren memeluk sang Ayah.
"Aku akan pastikan Daddy mendapatkan pengobatan terbaik. Daddy pasti sembuh. Karena aku tak bisa melihat Mommy bersedih." Getar suara Darren menyentuh relung hati Daniel.
"Bukankah kau sering membuat Mommymu sedih dengan tak menerima tawaran perjodohannya." Daniel mengurai pelukan sang putra sambil menggodanya.
"Aku hanya belum menemukan wanita yang tepat Dad, bukannya tak ingin menikah atau bahkan tak normal seperti yang Mommy pikir." Darren dengan tertawa menjawab candaan sang Ayah.
"Kali ini terimalah niat baik Mommymu, selagi Daddy masih sehat dan hidup." Daniel menatap netra milik sang putra yang menurun dari dirinya.
"Daddy akan terus sehat dan panjang umur hingga melihat kami bertiga memiliki putra dan putri, Cucu-cucu Daddy dan Mommy." Darren meyakinkan Daniel meski hatinya bagai disambar petir mengetahui kondisi Daddynya.
"I do hope so Dar. Mari kita lunch. Daddy juga akan mengajak kamu bertemu dengan seseorang. Dia adalah orang yang akan membantu kondisi Daddy." Daniel mengajak Darren makan siang sekaligus bertemu seseorang.
Di Rumah Sakit.
Tampak seluruh dokter berkumpul bersama dengan para management RS.
Mikhayla tengah bergabung bersama yang lainnya siap mendengarkan apa yang akan disampaikan direktur RS.
"Selamat siang semua. Hari ini Saya akan memperkenalkan rekan sejawat kita yang baru saja bergabung bersama kita di RS. Silahkan Dokter perkenalkan diri." Dokter Arjuna selaku Direktur RS mempersilahkan seseorang.
"Selamat siang semuanya rekan sejawat yang Saya hormati. Perkenalkan Saya dr. Divya Harold,Sp.PD. Terima kasih." perkenalan singkat dan jelas.
"Semoga dokter Divya bisa bersama dengan kami semua untuk menjalankan tugas dengan maksimal. Selamat bergabung." Dokter Arjuna dengan profesional selaku pimpinan RS.
Divya tampak tersenyum.
Entah ada rasa bahagia saat melihat wajah Direktur RS nya kini.
"Divya jangan mulai. Ga ada cerita ya. Selama ini Lo main-main selain dilingkungan kerja. Ok!" ancam Divya dalam batinnya.
Selanjutnya rapat berjalan seperti biasa membahas mengenai keadaan RS san management.
Hampir 2 jam dan kini selesai.
Divya melihat tampak ada dokter yang usianya tak jauh dengan dirinya.
Divya pribadi yang supel dan menyenangkan.
Rekan sejawatnya pun tak canggung mengajak ia ngobrol dan sekedar bertanya mengenai dirinya.
"Hai. Dokter Mikhayla. Aku Divya. Salam kenal." Divya memang sejak rapat memperhatiakan wanita yang kini tengah ia ajak kenalan.
"Panggil aka Mikha." Mikha menjabat uluran tangan Divya.
"Dokter Mikha sudah lama bergabung disini?" Divya membuka pembicaraan.
"Kurang lebih hampir 4 bulan. Dokter Divya sebelumnya praktek dimana?" Mikha berbasa basi.
Divya dan Mikha ngobrol dan asik hingga keduanya kini sadar bahwa mereka telah asik berbincang tanpa sadar kalau kedua sudah berada di ruangan praktek kedua.
"Loh, Dokter Mikha masih ada praktek?" tanya Divya.
"Sebenarnya sudah selesai, namun ada pasien khusus yang memang sudah biasa aku tangani diluar jam praktek dan rekomendasi langsung Direktur." Mikha menjelaskan.
Divya tampak menangkap sesuatu antara Mikha dan Direktur.
"Dokter Arjuna seperti apa?" Divya memberanikan diri.
"Maksudnya?" Mikha mengernyitkan dahi.
"Maksudnya Direktur tipikal pemimpin RS yang seperti apa, bukankah aku harus tahu karena aku baru disini?" Divya dengan lihai membelokkan arah pembicaraannya.
"Ya seperti pemimpin pada umumnya. Kelak kamu akan sering berinteraksi dengan Direktur karena Dokter Arjuna akan satu tim dengan kita." Mikha menjawab.
"Kita?"
Divya baru menyadari bahwa mereka bertiga memiliki spesialis dibidang yang sama.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
hayatun nufus
baru mau ketemu nih
2022-09-29
2
Andariya 💖
difia dan mika satu kantor👍🥰
2022-09-24
3