"Habis sudah! aku benar-benar bangkrut sekarang," Suban *******-***** rambutnya.
Pria pemilik depot kayu terbesar, dan pemilik toko bangunan terbesar di kota Tanggerang itu tampak frustasi. Pasalnya semua bahan bangunan, dan juga puluhan kubik kayu miliknya habis dijarah maling. Selain tidak memiliki satpam penjaga, keteledoran yang Suban lakukan adalah dengan tidak memasang Cctv pada toko dan depot kayunya itu.
"Kok bisa sih mas? kok bisa pas banget kejadiannya? sewaktu kita liburan. Rasanya ada yang ndak beres. Ini pasti ada sangkut pautnya dengan karyawan sampeyan. Ndak mungkin bisa sampai habis begitu barang-barangnya, kalau ndak malingnya santai," tanya Supinah.
"Ya aku mesti nuduh siapa? nggak ada bukti, kalau karyawanku yang melakukan semua itu. Lagi pula karyawanku itu nggak cuma satu, ada 16 orang. Mana tahu siapa yang melakukan pencurian itu?" ucap Suban.
"Pasti mereka semua bersekongkol mas. Sampeyan ojo meneng wae toh mas. Ndang cepet lapor polisi. Biar polisi yang usut," ujar Supinah.
"Daripada melibatkan polisi tapi nggak ada bukti, mending kamu jual dulu semua perhiasanmu buat modal lagi. Kali ini kita harus memasang semua Cctv disetiap sudut toko dan depot," ucap Suban.
"Yo emoh aku mas. Nanti setelah terjual, bangkrut lagi. Terus kita jadi gembel? sampeyan aja itung-itungannya ndak pas. Cari karyawan ndak becus. Pokok'e aku ndak mau perhiasanku dijual mas," Supinah menolak mentah-mentah permintaan Suban.
"Ya kalau depot dan toko bangunan nggak jalan lagi, kita makan apa Pin? nggak ada salahnya kamu bantu suami dulu. Lagian perhiasan itu juga hasil dari toko dan depot," ucap Suban.
"Jadi sampeyan ngungkit mas?" tanya Supinah dengan nafas naik turun.
"Bukan ngungkit. Tapi harusnya kamu bisa pengertian, kalau saat ini suamimu lagi butuh dukungan. Nggak cuma dukungan omongan, tapi juga dukungan materi." Jawab Suban.
"Pokok'e sekali emoh tetap emoh," ujar Supinah sembari pergi dari toko bangunan.
Abian dan Ardan yang mengintip pertengkaran itu hanya bisa saling berpegangan tangan. Mereka paling hafal dengan perangai kedua orang tuanya yang keras. Meski usia Ardan dan Abian hanya berbeda 3 tahun, tapi mereka selalu akur dan sangat dekat.
"Enak aja mau jual perhiasanku. Apa dia pikir selama ini aku cuma jadi istri diam saja di rumah? pria gila cari duit seperti dia, mana tahu apa yang dibutuhkan wong wadon," Supinah mengemasi beberapa pakaiannya kedalam koper.
"Ya mas?" tanya Supinah sembari menempelkan ponsel ke telinganya.
"Iya. Sudah selesai, kamu tunggu di depan ya!" ujar Supinah yang kembali menjawab ucapan pria diseberang telpon.
Supinah kemudian mengakhiri percakapan itu dan bergegas menyeret kopernya.
"Ibu mau kemana?" tanya Ardan.
Ardan dan Abian memang pulang lebih dulu, karena jarak rumah dan toko hanya berjarak satu kilometer jika ditempuh berjalan kaki.
"Kalian baik-baik tinggal sama ayah kalian. Ibu ndak bisa lagi ngurus kalian berdua. Ibu mau pergi jauh." Jawab Supinah tanpa mempertimbangkan mental anak-anaknya. Padahal saat itu Ardian baru berumur 9 tahun, sementara Abian baru berumur 6 tahun.
"Ibu jangan pergi Bu. Kalau Ibu pergi aku sama adek bagaimana?" tanya Ardan.
"Kamu itu anak laki-laki. Jangan cengeng! harus bisa ngurus diri sendiri dan ngurus adik kamu." Jawab Supinah yang kemudian melenggang pergi.
"Bu. Jangan pergi Bu! Abian janji nggak nakal lagi, Abian janji akan nurut sama ibu. Ibu jangan pergi! hiks...." Abian menarik-narik tangan Supinah, namun pada akhirnya tubuh kecil itu terpental akibat dorongan dari tangan Supinah.
Ardan menghampiri Abian, dan dua kakak beradik itu menangis berjama'ah. Namun baru saja Supinah akan beranjak beberapa langkah, Suban tiba-tiba pulang dan heran saat mendengar suara tangisan kedua anaknya.
"Ada apa ini?" tanya Suban.
"Mulai hari ini urus anak-anak. Nanti surat cerai aku yang urus." Jawab Supinah, yang kemudian melenggang pergi.
Tap
Suban mencekal tangan Supinah, hingga tubuh kecil wanita itu berpaling pada suaminya.
"Jangan gila kamu. Jangan mentang-mentang aku sudah bangkrut, terus kamu mau kabur gitu aja. Ingat anak-anak, ini cobaan buat rumah tangga kita. Eling kamu!" ucap Suban.
"Aku ndak perduli mas. Asal sampeyan tahu ya mas, aku ndak bisa hidup kere sama kamu. Aku masih muda, masih cantik. Aku ndak bisa hidup sama kamu yang bodoh dalam bisnis. Aku lebih milih sama dia," Supinah menunjuk kearah mobil sedan yang terparkir tidak jauh dari rumahnya.
"Kamu tenang saja. Aku ndak akan nuntut harta gono gini dari kamu. Jatah rumah ini aku berikan untuk Ardan dan Abian," sambung Supinah.
"Nggak! kamu nggak bisa ninggali aku dalam keadaan seperti ini Pin," Supinah tidak perduli dengan teriakkan Suban. Wanita itu membuka pintu mobil setelah memasukkan koper. Suban yang syok langsung tersadar, saat melihat mobil itu sudah menjauh.
Brukkk
Suban menjatuhkan lututnya ke tanah. Pria itu menangis, karena tidak menyangka sang istri sudah kabur dengan pria lain. Sejak hari itu Suban lebih banyak diam. Dia benar-benar terpuruk, dan juga tidak mengurus Ardan Abian dengan baik.
Ardan terkadang membeli makanan dari luar seadanya, dengan uang hasil memecahkan celengan ayam yang dia simpan selama bertahun-tahun. Ardan dan Abian tidak berani bersuara, karena takut melihat Suban yang sudah mirip seorang tahanan. Semua anak rambut diwajah pria itu dia biarkan tumbuh subur.
"A-Ayah. Abian demam," ujar Ardan dengan suara sedikit bergetar. Namun tak ada respon apapun dari pria berusia 34 tahun itu.
Ardan tidak berani berkata apa-apa lagi. Dia lebih memilih mengambil air sebaskom, dan mencari handuk kecil untuk mengompres dahi Abian.
"I-Ibu....," tubuh Abian menggigil kedinginan sembari memanggil-manggil ibunya. Ardan hanya bisa menangisi keadaan adiknya itu.
*****
Srakkk
Srakkk
Srakkk
Ardan mencuci pakaiannya dan pakaian Abian. Mau tak mau dia harus melakukan itu, karena mereka sudah tidak mempunyai pakaian bersih lagi. Suban yang hendak buang hajat, melihat apa yang dilakukan putranya itu sejenak namun akhirnya tidak dia perdulikan lagi. Setelah selesai ke kamar mandi, Suban memperingatkan Ardan.
"Kalau semua pakaian sudah kering, segera masukkan kedalam tas saja. Kita akan pindah setelah rumah ini laku," ujar Suban.
"Iya Yah." Jawab Ardan.
Ingin rasanya dia bertanya mereka akan pindah kemana, tapi Ardan tidak memiliki keberanian.
"Kita mau pindah kak?" tanya Abian yang ternyata mendengar ucapan Suban.
"Ya." Jawab Ardan.
"Kemana?" tanya Abian.
Ardan hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.
"Sudah tidak pusing lagi?" tanya Ardan.
"Sedikit. Ibu nggak pulang kak?" Anak berusia 6 tahun itu masih sangat berharap Supinah pulang dan mengurus mereka.
"Tidak usah mengingat yang tidak pantas diingat. Kita anak laki-laki, kita pasti bisa ngurus diri sendiri." Jawab Ardan.
"Ada dia dan nggak ada dia sama saja. Dia nggak pernah manjain kita," sambung Ardan sembari membilas pakaian yang dia cuci.
"Biar aku bantu kak," ucap Abian.
"Tidak usah. Kamu tiduran saja, biar cepat sembuh. Kalau sembuh kita bisa berkemas sama-sama," ujar Ardan yang membuat kepala Abian mengangguk.
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Ardan kembali masuk kedalam rumah. Untuk meringankan pekerjaannya, Ardan mencicil mengemasi barang-barang di rumahnya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
YuWie
ada ibuk rak genah begitu
2024-08-17
1
Ta..h
ya ampun itu emak nya bukan ngurus anak malah minggat 🤦🤦.
2024-04-22
0
Yunerty Blessa
Teganya seorang ibu meninggalkan anak²dan suami ketika suami lagi bangkrut..
2023-06-06
0