Kabar tentang Anna masuk rumah sakit telah sampai ke telinga Luis. Bukannya langsung pulang dan memastikan keadaan istri pertamanya, Luis malah terlihat santai-santai saja.
Pria itu begitu menikmati kebersamaannya dengan Jesslyn. Bukannya mau pilih kasih, tapi hubungan di antara Luis dan Anna memang sudah tidak sehat lagi.
Sejak dia tahu jika Anna mengkhianati pernikahan mereka, Luis menjadi tidak respect lagi pada istrinya itu. Luis tahu apa yang dilakukan oleh Anna dibelakangnya. Dia bermain gila dengan kakak sepupunya sendiri, dan hal itulah yang membuat Luis sakit hati.
"Kenapa kau masih bersantai di sini? Anna, terluka dan masuk rumah sakit. Apa kau tidak ingin melihat keadaannya?" tegur Jesslyn seraya menghampiri suami kontraknya tersebut.
Luis menggeleng. "Untuk apa, toh dia babak belur di tangan kekasih gelapnya sendiri. Jadi untuk apa aku harus peduli." Jawabnya dingin.
Jesslyn mendesah berat. "Jangan seperti ini, Lu. Kau bisa dicap sebagai suami yang kejam karena tidak peduli pada istrimu yang sedang sakit dan membutuhkanmu!! Bukan hanya nama baikmu yang akan buruk, tapi nama baikku juga, aku pasti akan terseret dan terbawa!!"
"Orang akan berpikir jika kau sangat pilih kasih pada kedua istrimu. Mentang-mentang istri tua disia-siakan sementara istri muda disayang-sayang. Itulah yang nantinya orang lain pikirkan!!" Jesslyn mencoba menasehati Luis dan memberi pengertian padanya. Meskipun dia tau itu akan sulit mengingat betapa keras kepalanya Luis.
Luis mendecih sebal. Kemudian dia menghubungi Kris dan meminta asistennya itu untuk menjemputnya. Luis juga meminta supaya Kris membawakan setelan jas untuknya.
"Sekarang kau puas!!" Ucap Luis sambil menatap sinis pada istri mudanya itu.
Jesslyn tersenyum lebar seraya menganggukkan kepala. Tanpa berkata apa-apa. Jesslyn meninggalkan Luis sendiri diruang keluarga. Kemudian dia kembali sambil membawa kotak P3K, tanpa dijelaskan pun, tentu saja Luis tau untuk apa gadis itu membawa kotak obat tersebut.
Menemui Anna berarti dia harus kembali menjadi Luis yang lumpuh dan cacat. Jesslyn duduk berhadapan dengan Luis dan membantu pria itu memasang perban disisi wajahnya.
Mata kanan Luis yang tidak tertutup apapun menatap Jesslyn tanpa berkedip. Meskipun sadar dirinya sedang diperhatikan, tapi Jesslyn mencoba untuk tetap bersikap tenang. Padahal dia sedang gugup setengah mati, dan rasanya Jesslyn ingin sekali mengutuknya.
Setelah 15 menit. Perban itu telah terpasang rapi disisi kiri wajah Luis. "Aku akan siap-siap dulu," Jesslyn bangkit dari duduknya dan bersiap pergi. Namun tarikan pada pergelangan tangannya menghentikan langkah gadis itu. Luis menarik lengan Jesslyn hingga dia jatuh diatas pangkuannya.
Kedua tangan Jesslyn bertumpuk pada bahu Luis, kontak mata diantara mereka pun tidak bisa terhindarkan. Luis menatap mata Jesslyn tanpa berkedip, membuat gadis itu semakin gugup saja. Jesslyn hendak berdiri, namun tidak diijinkan oleh Luis.
"Lepaskan aku, bagaimana kalau tiba-tiba Kris datang dan melihat kita seperti ini?"
"Memangnya apa yang bisa dia lakukan meskipun melihatnya?" Luis menyeringai.
Kemudian jari-jarinya menelusup ke dalam helaian pandang Jesslyn yang terurai, menekan tengkuknya dengan perlahan tapi pasti sampai akhirnya kedua bibir itu bertemu. Luis menyapu lembut permukaan bibir Jesslyn, mel*matnya dan juga memagutnya.
Meskipun awalnya sempat tidak nyaman dengan apa yang Luis lakukan. Namun pada akhirnya dia tetap bisa menerima ciuman itu dengan sangat baik. Tanpa ragu Jesslyn membalas ciuman Luis dengan mel*mat balik bibirnya dan menyesap lidahnya yang masuk ke dalam mulutnya.
Dan disaat mereka berdua sedang berperang lidah dengan panasnya. Tiba-tiba Kris nyelonong masuk. Mata Kris membelalak, dia mengerem dan nyaris terjungkal ke depan, buru-buru dia berbalik dan melenggang keluar. Kris datang disaat yang tidak tepat.
Berkali-kali Kris memukul kepalanya sendiri, dia merutuki kebodohannya karena tidak lihat-lihat dulu sebelum masuk ke dalam.
Dan setelah 1 menit, Kris memberanikan diri untuk menengok ke dalam. Mereka sudah mengakhiri ciumannya dan Kris barulah bisa masuk dengan tenang.
"Tu..Tuan, ini setelan jas yang Anda minta," Kris mencoba menyembunyikan kegugupannya. Dia benar-benar gugup setengah mati.
Luis memicingkan matanya. "Kenapa kau berkeringat? Apakah berjalan dari halaman kesini begitu menguras tenaga?"
"Hahaha!! Tadi tiba-tiba AC di mati. Tapi sekarang sudah berfungsi lagi, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." Kris membungkuk dan pergi begitu saja.
Kris mengelap keringat dikenangnya dengan sapu tangan. Dia meringis ngilu melihat orang lain yang sedang berciuman hangat seperti itu. Rasanya begitu menyiksa, dia adalah seorang jomblo dan itu rasanya teramat sangat menyesakkan di dada.
"Huhuhu!! Tuhan, kapan engkau akan mengirimkan jodoh untuk hamba? Hamba tidak tahan menjomblo dan harus melihat orang lain bermesraan setiap hari. Kirimkan jodohmu untukku, Tuhan. Please..."
Kris berdoa dan memohon supaya Tuhan segera mengirimkan jodoh untuknya. Kris yang belum pernah pacaran sebelumnya, sekalinya mendapatkan gebetan malah istri orang. Tidak ingin digantung hidup-hidup oleh suami wanita itu, dia pun memilih mundur dengan perlahan-lahan.
.
.
Mereka tiba di rumah sakit. Luis masuk ke dalam bersama Jesslyn dan Kris. Mereka menuju kamar dimana Anna di rawat. Sebenarnya Luis sangat malas untuk datang menjenguk wanita itu, tapi Jesslyn terus memasaknya hingga Luis tidak memiliki pilihan selain mengiyakannya.
Kris dan Jesslyn menghentikan langkahnya. Kemudian Kris membuka pintu bercat coklat tersebut, senyum dibibir Anna pudar seketika melihat Jesslyn yang ikut datang bersama suaminya.
"Lu, kenapa kau harus membawa jal,*ng ini juga?! Membuat moodku jelek saja!!"
"Diam kau!! Jika bukan Jesslyn yang memaksaku untuk datang, aku juga tidak akan Sudi datang kemari!!"
"Luis, beginikah caramu bersikap pada istrimu yang sedang sakit?! Aku sedang sakit, kenapa kau tidak ada perhatiannya sama sekali padaku. Apa kau lupa, saat kau terbaring koma siapa yang merawatmu dari pagi sampai pagi lagi. Apa begini caramu membalas semua kebaikan dan pengabdianku padamu?!" Anna mulai bercucuran air mata.
Anna berharap Luis akan simpatik padanya dengan dia mengungkit tentang hal yang telah berlalu. Tapi sepertinya hal tersebut tidak berpengaruh sama sekali. Luis tetap bersikap acuh dan dingin padanya.
"Hentikan omong kosong mu itu, Anna!! Aku sudah muak mendengarnya. Jika kau memang tulus merawatku, tidak seharusnya kau terus memperhitungkan apa yang telah kau lakukan padaku dulu. Aku tau, jika kau tidak pernah tulus padaku!!"
"Apa maksudmu berkata seperti itu, Lu?! Jika aku memang tidak tulus, mana mungkin aku masih bertahan sampai detik ini untuk menemanimu. Jika aku tidak tulus, pasti aku sudah meninggalkan dirimu!!"
Luis menyeringai dan menatap Anna dengan tatapan meremehkan. "Kau, memuakkan!! Jesslyn, ayo pergi dari sini. Urusanku disini sudah selesai," Jesslyn mengangguk. Dia menyeringai sinis pada Anna. Jesslyn mengolok-olok Anna dari tatapannya.
Ada kepuasan tersendiri di dalam hati Jesslyn melihat Anna yang tersudutkan seperti itu. Wanita jahat dan tukang sel!ngkuh seperti dia memang layak menerima karmanya.
-
-
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
Eric ardy Yahya
enak banget ya dia bilang orang lain murahan , sedangkan dia sendiri gimana ? main sama kakak ipar sendiri saja gak merasa bersalah banget , ditambah dengan dalih dia berjasa merawat Luis ? kayak kaset berputar tuh yang direkam berulang-ulang agar buat Luis percaya ? kayaknya Anna dah salah mencari masalah sama Luis
2024-01-04
0
Ratu Kalinyamat
abna anna knp ga kmu inget""" setidaknya intropeksi diri lah kno suamimu bsa berubah dingin bebgtu sm kmu.../Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
2023-12-26
0
Wirda Lubis
Luis bongkar perselingkuhan Anna
2023-12-10
1