Bulan bulat di atas sana seolah tersenyum lebar melihat sepasang anak manusia yang sedang berciuman dibawa sinarnya yang terang. Luis menekan tengkuk Jesslyn dan semakin memperdalam ciumannya.
Meskipun awalnya terkejut dengan apa yang pria itu lakukan. Namun akhirnya Jesslyn tetap membalasnya. Kedua tangannya yang semula tergantung disisi tubuhnya kini memeluk leher kekar Luis.
Mata Luis yang semula tertutup rapat perlahan terbuka. Dia memperhatikan setiap lekuk wajah Jesslyn dengan seksama. Jesslyn sangat cantik, dan Luis tidak bisa memungkiri hal itu.
Luis mengakhiri ciumannya. Kemudian dia mundur dan berbalik lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Aku akan tidur disini malam ini, sebaiknya kau tidur juga, ini sudah malam," Luis mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Dengan kaku Jesslyn naik ke atas tempat tidur lalu berbaring disamping Luis. Posisi mereka saling memunggungi. Luis menghadap ke kiri sementara Jesslyn ke kanan.
Jesslyn meletakkan tangannya di dadanya. Dia bisa merasakan debaran jantungnya yang cepat dan tak beraturan. Dalam hidupnya, ini pertama kalinya Jesslyn tidur satu ranjang dengan orang lain, apalagi itu adalah seorang pria.
"Apa kau sudah tidur?" Sebuah pertanyaan memecah keheningan. Jesslyn menoleh kebelakang dan mendapati Luis tidur dengan posisi terlentang. Wajahnya menghadap langit-langit kamar.
Kemudian Jesslyn bangkit dari berbaringnya lalu duduk menghadap Luis. "Kenapa? Apa kau tidak bisa tidur karena disini kurang nyaman? Sebaiknya kau pindah saja ke kamarmu. Bukankah kau memiliki kunci cadangannya?"
Luis menggeleng. "Aku hanya belum mengantuk saja. Jika kau lelah, sebaiknya tidur saja."
"Ini masih terlalu sore, dan aku tidak biasa tidur jam segini." Jawab Jesslyn seraya tersenyum tipis.
"Apa kau merindukan ayahmu? Aku tidak akan melarangmu untuk menemuinya. Jika kau mau, kau bisa pergi menemuinya kapanpun."
Jesslyn menggeleng. "Aku memang sangat merindukannya, tapi aku tidak bisa menemuinya sekarang. Karena jika aku bertemu dengannya, pasti akan sangat berat untuk berpisah darinya. Selama aku tau dia baik-baik saja, aku rasa itu sudah lebih dari cukup." Ujar Jesslyn panjang lebar.
"Dimana ibumu, kenapa kau hanya tinggal bersama ayahmu?"
"Aku sendiri tidak tau. Ayah bilang ibuku sudah meninggal. Tapi nenek bilang ibu meninggalkanku saat aku masih kecil dan kemudian pergi dengan pria lain. Dan aku tidak tau siapa yang berkata jujur, nenek atau papa. Papa selalu menghindar setiap kali aku menanyakan tentang mama padanya,"
"Lalu, apa kau tidak berusaha mencari taunya? Mungkin saja dia masih hidup dan berada di suatu tempat!!"
Jesslyn menggeleng. "Untuk apa, jika dia memang masih hidup dan merasa memiliki seorang putri. Pasti dia datang untuk menemui putrinya, tapi dia tidak pernah datang sampai sekarang. Mungkin benar kata papa, jika mamaku memang sudah tidak ada!!"
Setelah perbincangan itu. Tak ada lagi percakapan diantara mereka berdua. Keduanya sama-sama diam dalam keheningan. Suasana di dalam kamar itu benar-benar hening, hanya terdengar suara jarum jam yang memecah dalam keheningan.
Tidak tau apa lagi yang harus diobrolkan. Luis mengakhiri obrolannya dengan Jesslyn lalu dia kembali berbaring dan mencoba menutup matanya meskipun sebenarnya dia masih belum mengantuk. Dan selang beberapa detik, Jesslyn mengikuti jejak Luis.
.
.
Jam didinding menunjukkan pukul 12 tengah malam, namun Jesslyn masih tetap terjaga. Gadis itu tetap tidak bisa menutup matanya meskipun sudah berusaha menutupnya berulang-ulang, namun nihil hasilnya. Mata itu tetap saja terbuka.
Derit ranjang lagi-lagi terdengar dan hal itu membuat Luis sedikit terusik dan terganggu. Siapa lagi pelakunya jika bukan gadis yang berbaring disampingnya. Tubuhnya tertutup selimut tebal, sedari tadi gadis itu bolak-balik ke kanan dan ke kiri yang jelas membuat 'tetangga' disampingnya terganggu.
Derit ranjang terdengar untuk yang kesekian kalinya, Jesslyn kembali membalikkan tubuhnya. Wajahnya terlihat cemas, entah karena suasana kamar yang tiba-tiba memanas atau karena cara tidurnya yang tidak elit.
"Ck!" Luis yang merasa terganggu membuka matanya dengan terpaksa. Dipandangnya tubuh Jesslyn yang memunggunginya. Gadis itu hendak berbalik lagi namun segera dihentikan oleh Luis.
Kedua mata Jesslyn sontak membulat sempurna saat merasakan ada tangan kekar yang melingkari perutnya dan dada seseorang yang menempel sempurna dengan punggungnya.
"Lu..Luis apa yang kau lakukan!!" tanya gadis itu menahan kegugupannya.
"Ck, diamlah! Karena ulahmu aku tidak bisa tidur!" jawabnya ketus.
Dan apa yang Luis lakukan berhasil. Jesslyn diam seketika, dia tidak bolak-balik lagi seperti sebelumnya. Gadis itu pasrah dibawah Kungkungan tangan kekar Luis.
Jesslyn mencoba menutup kembali matanya, ia berusaha untuk tidur. Meskipun awalnya sulit, namun pada akhirnya ia berhasil terlelap dalam mimpinya. Luis tersenyum kecil, menutup matanya dan kembali melanjutkan mimpinya yang tertunda karena ulah istri kontraknya ini.
-
-
Malam berlalu begitu cepat dan pagi sudah datang menjelang. Matahari mulai merangkak dan menuju cakrawala, cahayanya yang hangat mulai menyinari sebagian bumi yang dinaungi.
Sinar matahari yang hangat memaksa masuk melalui sela-sela jendela kaca yang tertutup gorden putih transparan. Burung-burung kecil berkicau riang menyambut datangnya pagi yang tenang.
Jesslyn membuka matanya yang masih agak berat dan langsung disuguhi oleh sebuah pemandangan langkah nan indah. Dihadapannya, di depan matanya, seorang pria masih tertidur pulas. Kelopak matanya tertutup rapat menyembunyikan mata yang selalu terlihat dingin.
Dia memiliki rahang yang tegas, hidung yang mancung, serta bibir berwarna kemerahan. Dan entah sebuah keberanian dari mana, Jesslyn mengangkat tangannya lalu mengarahkan pada wajah tampan itu.
Sudut bibirnya tertarik ke atas. Saat sedang tidur, Luis terlihat seperti bayi yang masih polos. Sangat berbeda dengan ketika mata itu terbuka.
"BOCAH SETAN, APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"
Jesslyn terlonjak kaget karena teriakan nyaring yang berasal dari luar. Bahkan dia tidak sadar jika tangannya masih di pipi Luis, Jesslyn juga tidak sadar jika Luis sudah bangun. Baru saja dia hendak bangkit dari posisinya, namun genggaman pada tangannya membuat gadis itu mengurungkan niatnya.
Jesslyn menoleh. Seringai tercetak jelas disudut bibir Luis. Pria itu menarik lengan Jesslyn hingga tubuhnya kembali berbaring dengan posisi terlentang. Luis pindah ke atas tubuh Jesslyn, kedua mata itu langsung membelalak merasakan benda lunak dan basah menyapu permukaan bibirnya.
Lagi-lagi Luis mencium bibirnya, dan ini yang ketiga kalinya. Dan lagi-lagi Jesslyn tidak bisa menolaknya. Dia menerima ciuman itu dengan baik. Luis terus menginvasi bibir Jesslyn tanpa menghiraukan kegaduhan yang terjadi di luar.
Si kembar berulah lagi dan kali ini yang menjadi korbannya adalah Anna. Mereka menukar jus semangka Anna dengan jus cabai, karena sama-sama berwarna merah. Jadi Anna tidak bisa membedakannya. Ditambah lagi flu berat yang dia derita jadinya Anna tidak bisa mencium aroma jus cabai itu.
-
-
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 293 Episodes
Comments
Eric ardy Yahya
Pandai juga si Kembar , kayaknya si Anna , Elisa , Bram sama Franky bisa mati penasaran kalau tiap hari diganggu sama Si Kembar kali ini
2024-01-03
2
Ratu Kalinyamat
astaga ternyata jahil jufa tuh si ponakan kembarnya. ya /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2023-12-25
1
Wirda Lubis
Anna minum jus cabe
2023-12-10
0