Tepuk tangan kembali membahana di seluruh penjuru ruangan luas dan megah itu setelah Tommy selesai memberikan pidato singkat di atas panggung. Wajahnya yang tampan masih saja membius para artis-artis yang ikut hadir hari itu. Banyak orang terkesima kepadanya. Sebagian lagi berebutan ingin mengambil gambar dengan Tommy ketika dia telah turun.
"Maaf, Tuan kami sedang tidak bisa melayani permintaan berfoto bersama." Asistennya dan beberapa orang layaknya pengawal segera menghalangi beberapa awak media juga artis-artis baru naik daun yang mengerubungi.
"Biarkan saja, Des," sergah Tommy cepat.
Desta, asisten setia Tommy segera menoleh dan mengerutkan dahi, dia paling tahu bahwa selama ini Tommy paling tak suka keramaian apalagi diminta untuk berfoto bersama. Sebenarnya, Desta juga bingung, karena selama ini, Tommy tak pernah mau muncul di depan orang-orang, baru kali ini dia mengusulkan diru sendiri untuk berada di atas panggung dan menampilkan wajahnya.
Entahlah, semenjak pagi tadi, tuan muda itu memang sedikit aneh. Dia seolah ingin menunjukkan dirinya untuk sesuatu yang Desta sendiri tak paham apa itu.
Jadi sekarang, dia hanya bisa membiarkan Tommy meladeni permintaan berfoto bersama. Di kursinya sendiri, Nilam memandang bingung. Kenapa para artis itu sekarang bak seorang fans fanatik?
"Lam Lam, ayo kita ke sana! Kita foto bareng juga yuk!" Yuki begitu bersemangat, menyeret lengan Nilam yang tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kehendak menagernya itu.
"Mbak, ya ampun, kenapa aku diseret-seret begini sih? Haduh. Mau ngapain lagi ke sana kayak semut sedang ngerubungin gula tau gak sih?!" Nilam protes karena langkahnya sekarang jadi sangat cepat mengimbangi Yuki yang mendadak genit setelah melihat pemilik dari tempat ini.
"Memang itu papi gula, Lam! Sugardady masa kini!"
Ingin sekali Nilam menoyor kening Yuki yang sudah blingsatan kegenitan seperti remaja baru puber itu. Mereka tiba di antara kerumunan para artis yang mendadak jadi fans Tommy Orlando. Yuki juga sudah berfoto bersama Tommy, berbagai pose.
Nilam sendirian yang membeku di tempatnya sementara Tommy sedari tadi menatapnya dengan penuh misteri. Tatapan itu membuat Nilam risih.
Dia pasti bukan pria baik-baik!
Kekecewaan Nilam kepada suaminya sendiri jadi terbawa-bawa ke pria-pria lain. Nilam hanya menatap sebal Tommy yang sedang menatapnya dengan satu alisnya yang terangkat.
"Hei, kamu, ayo ke sini."
Tommy melambai ke arahnya. Nilam menoleh ke kanan kiri depan belakang, siapa tahu ada orang lain yang sedang dipanggil oleh Tommy untuk mendekat ke arahnya. Ternyata tak ada, hanya dia satu-satunya orang paling terbelakang saat ini.
"Mari, Nona, tuan muda jarang sekali begini. Anda sedang ketiban rejeki." Desta segera menghampiri Nilam, membawanya menuju Tommy.
"Eh, tapi ..."
"Tak perlu sungkan, Nona. Ini kesempatan langka, setelah ini akan kecil kemungkinan untuk bisa bertemu tuan Tommy lagi."
Hei! Siapa yang mau berfoto dengannya??!
Meski dalam hati menolak keras, tapi nyatanya Nilam ikut saja saat Desta membawanya tepat di samping Tommy sekarang. Tanpa ragu, Tommy merangkul bahu Nilam, membuat Nilam sedikit terperanjat tapi mau tak mau harus tersenyum di depan kamera. Image nya harus murah senyum karena sebentar lagi dia akan kembali jadi artis.
Entah berapa foto yang diambil oleh fotografer, yang jelas Yuki pun memandang Nilam dengan rasa senang karena di mata Yuki, kedua orang itu tampak begitu serasi.
Setelah selesai berfoto, Nilam segera kembali ke tempat semula, bersama Yuki dia berusaha menenangkan dirinya. Dia menatap Tommy dengan pandangan kesal sedangkan yang dipandang hanya menatapnya dengan kerlingan jahil.
"Dia kemari, Lam!" bisik Yuki menarik-narik bagian belakang dress Nilam. "Dia mendekatimu!" pekik Yuki lagi.
Nilam jengah, rasanya mau segera pergi saja. Sebenarnya dia tak ada masalah dengan Tommy, tapi mengingat kejadian di antara mereka pagi tadi dan beberapa saat yang lalu di depan toilet, Nilam jadi kesal sendiri. Apalagi, Tommy sudah lancang menyebut tentang pengintaiannya semalaman. Walau juga dia paham bahwa lelaki itu adalah pemilik hotel megah itu. Tapi kan itu juga privasinya.
"Tommy." Dia menjulurkan kelima jemari di depan Nilam.
Nilam masih membeku, tak tahu harus bagaimana. Tetapi Yuki bergerak cepat, di raihnya lengan Nilam lalu dibuatnya Nilam membalas jabat tangan Tommy barusan.
"Nilam Asmarani."
Tommy mengangguk, kemudian melepaskan jabat tangan mereka lalu pergi begitu saja. Nilam dan Yuki berpandangan lalu Yuki berseru.
"Ya ampun, Nilam, percayalah, dia naksir dirimu!"
Nilam meraih tisu lalu menempelkannya ke kening Yuki yang dirasanya mulai halu. Jadilah Yuki seperti vampir cina yang berjalan loncat-loncat menyusul Nilam. Nilam geleng-geleng kepala, selain sudah membuatnya kesal, pengaruh Tommy juga jadi membuat otak Yuki jadi sedikit bergeser.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Izzatul Jannah
udah tinggal aja suami tukang selingkuhnya nilam
2024-08-27
2
Dewa Rana
dia sudah suka sama nilam
2024-08-22
0
Anonim
ayo Yuki segera bangunkan artis yg kau manageri itu dari mimpi buruknya untuk segera bangun berbenah diri segera mengurus rumah tangganya yg tak bahagia karena suami yg selingkuh.
Segera menyambut masa depannya yang cerah, siapa tahu berjodoh sama Tommy Orlando
2024-05-29
3