"Mbak-mbak, aku seperti lihat Indra!" Nilam memekik tertahan.
"Mana, Lam, aku gak lihat."
"Sudah menghilang Mbak, mungkin ke sisi lain. Aku tinggal dulu, Mbak." Nilam bergegas keluar, berusaha melangkah secepatnya untuk mencari sosok yang dia yakin adalah Indra.
"Aku ikut, Lam. Tunggu!"
Yuki mengejar Nilam yang sudah hampir menghilang dari pandangan. Ia berhasil mensejajarkan langkah dengan nafas yang tersengal. Yuki memandang sekeliling seperti yang sedang Nilam lakukan.
"Kau salah lihat sepertinya, Lam."
"Sumpah, Mbak. Aku paling hafal bentuk Indra dari atas sampai bawah, dari depan sampai belakang. Sampai tahi lalatnya di mana aja juga aku tahu."
"Ya sudah, kita cari ke sana."
Yuki menunjuk sebuah lorong di dalam mall. Nilam mengangguk lalu secepat mungkin keduanya segera mencari keberadaan seseorang yang diyakini sebagai Indra.
"Dia sendiri, Lam?" tanya Yuki di sela langkah mereka yang cepat itu.
Nilam menoleh sebentar kemudian menggeleng.
"Aku lihat ada perempuan di sampingnya, Mbak."
Yuki segera menghentikan langkah. "Serius?" tanyanya tak percaya.
"Ya, aku yakin dia bersama perempuan."
Yuki mengangguk-angguk lagi. Namun, setelah jauh mereka mencari, memutar kesana kemari, tidak juga ditemukan keberadaan Indra. Nilam mulai melambatkan laju langkahnya.
"Sepertinya kau memang salah lihat, Lam." Yuki mulai skeptis. Mungkin saja Nilam yang terlalu curiga hingga membuatnya jadi berhalusinasi dengan melihat bayangan suaminya sendiri bersama perempuan lain.
"Aku yakin tak salah lihat, Mbak."
"Coba kalau begitu kau datangi saja ruangannya, Lam. Daripada terus-menerus curiga begini. Kau juga yang akan pusing."
Nilam tampak berpikir. Akhirnya dia setuju, jadi bersama Yuki dia kembali keluar. Kantor berada di sisi lain gedung mall terkenal itu. Nilam pernah beberapa kali datang dahulu untuk mengantar makanan untuk Indra. Tapi beberapa bulan ini, Indra tak mengizinkannya lagi melakukan hal itu. Nilam pun menurut saja. Barulah sekarang dia kembali menjejakkan kaki di tempat itu.
"Cari siapa, Mbak?" tanya seorang perempuan dengan pakaian hitam putih. Sepertinya dia pegawai baru jadi tak tahu siapa Nilam.
"Saya mau ke ruangan pak Indra."
"Maaf, Mbak ini siapa? Apa sudah membuat janji dengan pak Indra karena pak Indra sekarang sedang ada tamu orang pusat."
"Aku istrinya!" bentak Nilam tanpa sadar. "Maaf, aku istrinya. Ada perlu dengan Indra." Akhirnya Nilam memelankan suaranya. Dia memang terbawa suasana. Yuki juga berusaha untuk menenangkan Nilam.
"Maaf, Mbak. Tapi betulan pak Indra sedang ada tamu."
"Pasti tamu perempuan yang aku lihat tadi! Awas kau, Ndra! Minggir!"
Nilam menerobos masuk, membuat perempuan tadi kewalahan menahannya. Tapi Yuki menyarankan kepada gadis itu untuk membiarkan Nilam, sebab dia paling tahu watak Nilam.
Akhirnya, Nilam bisa melangkah menuju ruangan Indra berada. Tapi saat dia memaksa masuk dan saat pintu terbuka, yang ada di dalam ruangan itu adalah beberapa orang pusat dan semuanya laki-laki.
Indra menatap Nilam dengan melotot. Ia mengisyaratkan kepada Nilam untuk segera pergi. Tetapi karena Nilam masih tertegun di tempatnya berdiri, akhirnya ia yang mendekati Nilam.
"Saya tinggal sebentar, Bapak-bapak," kata Indra kepada para orang pusat yang jadi merasa terganggu karena Nilam barusan.
Sementara itu, Nilam sekarang diseret paksa oleh Indra keluar dari ruangan. Indra membawa Nilam menuju lorong gelap yang ada di kantor itu.
"Maksudmu apa? Kau mau mempermalukan aku?!"
"Aku melihat kau tadi, Ndra! Jadi aku mengikutimu!" Nilam tak mau kalah, ia tetap bertahan dengan keyakinannya.
"Melihatku dimana, sedari tadi aku di sini bersama orang pusat! Jangan kekanakan! Aku gerah selalu saja kau curigai!"
"Firasatku tak pernah salah, Ndra! Bahkan baju ini baju yang aku lihat dengan orang yang katamu bukan kau!"
"Sudahlah jangan aneh-aneh! Aku juga sudah bilang jangan pernah ke sini saat aku sedang bekerja!"
Indra kemudian berlalu dari hadapan Nilam, meninggalkan Nilam yang hanya bisa mengepalkan tangannya. Nilam kemudian pergi ke depan lagi. Di sana Yuki sudah menunggunya.
"Aku ke toilet dulu, Mbak."
Yuki mengangguk. Nilam pergi ke toilet dengan langkah gontai. Saat ia tiba di depan wastafel, ia mendengar salah satu pintu terbuka. Nilam tak begitu mengacuhkannya tetapi kemudian ia terkenang perempuan yang diyakininya berjalan mesra dengan Indra beberapa saat yang lalu.
Rok mini perempuan itu yang paling dikenang oleh Nilam juga rambutnya yang pirang kemerahan. Perempuan itu berlalu begitu saja. Nilam yakin, dia tak salah lihat. Artinya, perempuan itu satu departemen dengan suaminya.
Betul tak benar ini. Nilam yakin memang sudah ada yang terjadi dengan suaminya. Ia yakin Indra memang sedang bermain api di belakangnya. Dia akan menyelidiki siapa perempuan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Nova Angel
selidikin dl jgn asal labrak klu udh ada buktiny baru main cantik lah lam
2024-09-10
1
Nyoman Nusa
benar nilam jang lela karena dia se, orang laki-laki, kita jadi takut
nilam harus smangat janga ragu jangan bimbang
2024-08-10
1
Maria Magdalena Indarti
nilam kuat dan bermain cantik. kasih pelajaran
2024-04-14
1