Unlucky Girl

Nilam mengantarkan kembali mobil sewaannya. Lalu dia sendiri pulang dengan taksi ke rumahnya setelah itu. Nilam masuk ke dalam rumah dengan langkahnya yang gontai. Hatinya masih berdenyut ngilu setiap teringat dan mendengar rekaman percakapan Indra dan selingkuhannya. Sering Nilam berharap bahwa ini hanya lah mimpi, sayangnya itulah kenyataan.

Kadang Nilam sering berpikir, kenapa dia tidak pernah beruntung dalam percintaan. Pertama kali menjejakkan kaki ke Jakarta dia juga salah mengenal pria. Sekarang, setelah menikah pun sama. Tak ada yang mencintainya dengan tulus. Dia juga sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik, yang selalu ikut kata suami. Tapi semua hal itu nampaknya sia-sia saja.

Nilam duduk dengan bertopang dagu, bersila sembari memainkan ponselnya sampai jenuh. Ingin rasanya bercerita panjang lebar dengan seseorang yang bisa dia percaya. Yuki. Nampaknya Nilam mesti menghubungi mantan managernya itu. Ia berharap sekali Yuki tidak sibuk.

"Ya, Nilam?"

"Kau sedang sibuk gak, Mbak?" tanya Nilam.

"Kebetulan enggak nih, kenapa? Mau keluar?"

"Ya, sekalian ada yang mau aku ceritakan. Aku gak kuat memendam ini sendirian."

"Ya sudah, setengah jam lagi ya aku ke rumahmu. Tapi, memangnya tak apa?" tanya Yuki, Nilam tentu paham bahwa Yuki pasti nanti merasa tak enak jika ada Indra.

"Sudahlah, Mbak, santai saja. Aku tunggu ya."

"Oke, baiklah. Eh, dandan yang cantik juga ya, kebetulan aku ada undangan acara peresmian pembukaan studio baru orang penting yang punya saham di beberapa acara televisi."

"Oke deh, Mbak, daripada aku di rumah gak ada kerjaan."

"Baiklah, sebentar lagi aku jemput."

Klik, sambungan itu terputus.

Nilam bergegas ke kamar, dia akan mandi lagi untuk membersihkan diri. Entah mengapa, sekarang Nilam rajin sekali membersihkan dirinya dengan air. Dia seolah jijik dengan bekas-bekas sentuhan Indra yang terasa masih menempel di tubuhnya.

Selepas mandi dan merasa sudah wangi karena sempat luluran juga, Nilam meraih dress cantik simpel yang pas di tubuh sintalnya. Lalu ia menyematkan anting-anting dan kalung yang semakin menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Baru saja dia hendak meraih tas kecil di dalam lemari, Indra datang.

Dia nampak memandang Nilam dengan terpukau karena memang sudah cukup lama Nilam tak berdandan seperti itu. Meski make upnya tipis dengan dress simpel tetapi ia tetap terlihat lain. Sedang Nilam hanya berusaha tersenyum kecil lalu mengalihkan perhatiannya ke arah lain seolah sedang menyibukkan diri sendiri. Dia marah kepada Indra, tapi hanya bisa memendamnya untuk sementara ini.

"Kau mau kemana, Lam? Aku kan sudah ambil libur untuk menemanimu seharian di rumah."

Indra nampak mendekat, Nilam gegas menghindar berusaha agar Indra tak menyentuhnya.

"Ada acara bersama mbak Yuki. Kalau kau mau kembali bekerja lagi hari ini tak apa, Ndra. Aku sedang malas di rumah."

Nilam berkata dengan santai sembari memasang high heels hingga dia jadi menjulang cantik. Indra tampak hendak protes tetapi Nilam segera menggeleng kecil sembari meletakkan telunjuknya di depan bibir.

"Aku sedang ingin bertemu teman-teman lamaku. Tak apa kan? Lagipula aku bukannya akan berjalan dengan lelaki, Ndra. Hanya mbak Yuki."

Tanpa menunggu persetujuan Indra, Nilam bergegas turun ke bawah. Kebetulan suara klakson mobil Yuki terdengar. Nilam sembari kecil segera keluar dari pagar halaman rumahnya dan masuk ke dalam mobil Yuki.

"Nah, gini dong. Ini loh, Nilam yang aku kenal."

Tampak Yuki mengacungkan jempolnya melihat penampilan Nilam yang sangat cantik hari ini. Mereka segera berangkat ke acara. Rupanya, acara itu berlangsung di hotel yang sama dengan tempat semalam Nilam menginap dan tempat yang sama dimana dia telah menguntit suaminya.

Nilam menarik nafas panjang. Hal itu rupanya disadari oleh Yuki.

"Kau kenapa, Lam. Ayo turun."

"Mbak, katanya tadi ke studio baru kok sekarang ke hotel ini lagi?"

"Lagi? Kan baru kali ini aku mengajakmu ke sini, Lam. Lagipula, yang punya hotel ini juga adalah orang yang sama yang akan membuka studio barunya. Kita bukan ke hotelnya, tapi ke area belakang karena di sanalah tempat itu berada."

Nilam manggut-manggut mendengarnya. Nanti sajalah dia ceritakan kepada Yuki tentang kejadian semalam di hotel ini. Mereka memang berjalan agak jauh ke belakang, melewati lobby hotel lalu menuju sebuah tempat dengan banyak sekali orang-orang yang telah hadir. Banyak orang-orang dari panggung hiburan, para artis dengan managernya, para sutradara dengan produser-produser ternama. Mereka semua menyapa Nilam dan Yuki. Bahkan tak sedikit wartawan yang membidikkan kamera.

"Astaga, aku grogi sekali, Mbak, sekian lama gak ngartis lagi."

"Itu tandanya, kau mesti balik jadi artis lagi."

"Apa masih ada kesempatan, Mbak."

Yuki menoleh, padahal tadinya dia hanya bercanda karena dia tahu, Nilam sangat patuh kepada Indra.

"Aku serius, Mbak, apa masih ada kesempatan buatku?" ulang Nilam.

"Tentu saja, Lam. Cuma ..."

"Indra?" tebak Nilam. Yuki mengangguk.

"Kalau dia bisa mengkhianati aku kenapa aku harus patuh kepadanya, Mbak."

"Kau masih yakin dia selingkuh, Lam?"

"Aku punya semua buktinya. Nanti ku tunjukkan sama Mbak. Sekarang, ayo kita masuk dulu."

Yuki mengangguk saja, dia geleng-geleng kepala. Kalau benar apa yang terjadi pada Nilam bahwa Indra sudah mengkhianatinya, sungguh Nilam memang tidak pernah beruntung dalam kisah percintaannya.

Terpopuler

Comments

Anonim

Anonim

dah ngartis lagi ajah Nilam...dapat duit banyak, terhibur lagi pastinya

2024-05-28

3

Dewi Zuhro

Dewi Zuhro

hdgdhwjdusdh9

2024-05-24

0

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

akan datang juga kebahagiaan mu Nilam.....

2024-04-01

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!