Dia Lagi?!

Memang sangat ramai. Ruangan itu sangat luas dengan banyak orang-orang penting dan terkenal di dalamnya. Sedari tadi, Nilam banyak disapa oleh artis-artis muda yang juga tengah naik daun sekarang. Ada pula yang sombong, tak mau menyapanya sama sekali. Nilam tak ambil pusing, dia sudah cukup bahagia bisa berada di antara orang-orang itu.

Yuki tampak berbicara dengan beberapa produser sembari menunjuk Nilam. Mereka melambaikan tangannya ke arah Nilam yang tengah menikmati buah anggur di kursinya. Tak lama kemudian, nampak Yuki mendekatinya dengan langkah riang.

"Kesempatan buatmu balik ke panggung hiburan masih terbuka lebar, Lam. Kau lihat sendiri betapa orang-orang dengan nama besar itu sangat berminat terhadapmu."

"Syukurlah, Mbak. Tawaran terakhir Mbak waktu itu juga masih berlaku bukan?"

"Tentu, syuting masih lama, kau masih punya waktu untuk mempersiapkan segalanya."

"Baiklah, Mbak, akan aku kabari Mbak secepatnya."

"Oh iya, dari tadi orang paling penting dan yang punya studio baru ini belum muncul ya?"

"Sepertinya belum, Mbak. Dari tadi juga MC nya yang sibuk di atas panggung."

Yuki mengangguk.

"Eh, ku dengar, dia itu orang sukses, Lam. Orang hebat lah pokoknya. Tetapi dia jarang sekali mau menunjukkan dirinya di hadapan semua orang. Dia selalu diwakilkan, tapi entahlah kalau hari ini mungkin dia mau muncul."

"Memangnya sehebat apa sih, Mbak? Dari tadi juga aku mendengar orang-orang membicarakan tentangnya."

"Entahlah, tapi katanya orangnya juga ganteng banget. Lajang pula, Lam."

Nilam hanya mengangguk saja, kemudian ia merasakan panggilan alam. Dia harus segera ke kamar mandi.

"Mbak, aku ke toilet dulu. Udah kebelet."

Yuki mengangguk, membiarkan Nilam pergi dengan terburu-buru. Toilet di dalam ruangan itu sangat mewah, dilengkapi banyak cermin besar di depannya yang estetik sekali untuk berpose.

Nilam segera masuk ke salah satu bilik untuk menuntaskan panggilan alamnya. Ia keluar lagi beberapa saat kemudian dengan tampang lega.

Setelah mengambil beberapa pose cantik di depan cermin dan mengunggahnya di media sosial, Nilam segera keluar dari ruangan toilet yang cukup luas itu. Baru beberapa langkah ia berjalan karena sibuk mencari lipstik, dia jadi tidak sadar menabrak seseorang.

Kali ini, Nilam terjatuh. Sedang seseorang yang tadi bertabrakan dengannya masih tegak berdiri dengan kedua tangan masuk ke celana.

"Heh! Kalau jalan itu pakai mata!" Nilam berseru lalu mengangkat wajahnya. Eh, itu pria yang sama dengan yang bertabrakan dengannya pagi tadi bukan?

Ya ampun, sial apa aku ini? Belum juga beberapa jam sudah bertemu lagi dengan pria sinting ini! Mana gayanya sok cool begitu lagi? Dia pikir dia keren? Eh, memang keren sih. Nggak! Dia gak keren, dia menyebalkan. Lihat saja tampangnya, sudah seperti orang yang punya tempat ini saja!!!

Nilam jadi mengumpat dalam hati ketika melihat lelaki itu. Seseorang yang sama yang bertabrakan dengannya sebelum masuk lift pagi tadi, hanya bajunya yang sudah berganti. Lelaki dengan tinggi proporsional dan wajah tampan dengan bulu-bulu halus dan rapi di wajahnya.

"Yang matanya kemana-mana itu kau! Jadi perempuan itu jalan yang anggun. Yang benar!" Lelaki itu balas memarahinya.

Nilam gegas berdiri lalu mendekat dan menantangnya dengan kepala mendongak dan matanya yang melotot. Dalam hati, pria itu tertawa tetapi di wajahnya sengaja menampakkan wajah sangar untuk perempuan di depannya itu.

"Jangan mengatur-atur cara jalan orang lain! Memangnya kau siapa? Sok sekali!"

Lelaki itu maju, Nilam refleks mundur beberapa langkah. Saat sudah menempel dengan tembok, Nilam jadi terpojok. Lelaki itu mengurungnya dengan kedua tangan, sembari menunduk. Nilam refleks memejamkan mata, dia takut lelaki itu akan menghajarnya sekarang.

Terasa beberapa ketukan di kening Nilam. Nilam membuka matanya, melihat satu jari lelaki itu sudah mengetuk-ngetuk dahinya.

"Sayang, aku bukan seperti yang dulu. Aku tidak akan tega mengkasari perempuan yang tengah patah hati sepertimu."

Lelaki itu menghentikan aksinya mengetuk-ngetuk dahi Nilam kemudian merenggangkan tubuhnya menjauh dari Nilam dan berbalik.

"Heh! Tau apa kau! Siapa bilang aku sedang patah hati! Jangan sok tahu!"

Pria tadi berbalik lagi kemudian didekatinya lagi Nilam.

"Untuk apa mengintai laki-laki dan perempuan lain hingga sampai ikut menginap di depan kamar mereka. Aku tahu semua hal yang terjadi di dalam hotel ini, Nona Nilam Asmarani. Dan lagi, gak ada sejarahnya orang jalan pakai mata, pakai kaki!"

Lelaki itu kembali berbalik, meninggalkan Nilam yang melongo. Darimana pria itu tahu semua hal yang terjadi dengannya di hotel ini? Termasuk semua pengintaian yang dia lakukan kemarin? Sampai tahu pula nama aslinya dan kamar ia menginap semalam?

Nilam menghentakkan kakinya dengan kesal. Lihat saja, dia akan komplain tentang pria itu kepada staff hotel dan security di sini. Pasti pria itu sudah begitu lancang minta rekaman CCTV hotel ini karena kesal dengannya pagi tadi.

Terpopuler

Comments

Shepty Ani

Shepty Ani

dia emg yg punya hotel nilam segera buang itu pulu pulu yg dirumah ganti yg ini lebih segalanya

2024-06-23

1

Anonim

Anonim

Nilam...sabaaarrr...

2024-05-28

1

Retno Anggiri Milagros Excellent

Retno Anggiri Milagros Excellent

ternyata itu lah yang punya hotel n

2024-03-04

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!