Nilam terus mengikuti mobil Indra yang telah keluar jauh dari area kompleks. Hatinya sedang terbakar tetapi ia berusaha untuk tetap menenangkan diri. Dia harus tetap bertahan dengan main cantiknya, agar lancar pengumpulan bukti atas perselingkuhan suaminya itu.
Sekarang, mobil Indra dengan selingkuhan durjananya sedang memasuki sebuah hotel. Loh, kok ke hotel? Buat apa perumahan elit itu kalau masih mau main di hotel juga? Sebetulnya, perasaan Nilam sudah campur aduk sedari tadi. Rasa ingin langsung melabrak saja, tapi dia tidak mau gegabah lagi.
Sudah cukup tadi salah orang, tapi kali ini dia nampaknya betulan tak salah orang. Apalagi setelah melihat Indra dan perempuan tadi turun dari mobil lalu saling berangkulan mesra. Jijik sekali Nilam melihatnya. Nilam tak langsung turun, dia harus memastikan situasi aman baru berani turun.
"Mereka ke arah samping hotel."
Ternyata ada restoran mewah di samping hotel itu. Nilam bingung mesti bagaimana dia masuk dan mengumpulkan bukti-bukti baru. Indra pasti mengenali dirinya jika nekat masuk dan duduk di tempat yang sama. Otak Nilam berputar cepat, lalu dia memiliki ide.
"Mbak, bisa saya bicara sebentar?" tanya Nilam menghentikan langkah seorang cleaning servis yang kebetulan mau masuk ke dalam restoran itu.
Perempuan bertubuh tambun dengan rambut disanggul rapi itu mengerutkan kening ke arah Nilam. Sembari menilik penampilan Nilam dari atas sampai bawah.
"Mbak artis ya? Kok tidak asing?" tanyanya sambil berpikir.
"Gak penting saya artis atau bukan, sekarang saya bisa gak minta bantuan Mbak. Saya bayar."
Nilam mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan lalu menyerahkannya kepada perempuan itu.
"Loh, apa ini maksudnya, Mbak?"
"Tolong, saya butuh bantuan orang yang bisa merekam percakapan dua orang itu."
Nilam menunjuk Indra dan selingkuhannya yang tengah berbicara serius. Sesekali terlihat Indra mengecup jemari perempuan itu dengan mesra, membuat Nilam kepanasan di tempatnya mengintai.
"Tapi buat apa, Mbak? Saya takut nanti ketahuan."
"Saya tambah dua ratus ribu lagi, tugasmu hanya membawa ponsel saya ini, letakkan tepat di belakang mereka itu kan ada meja kecil dengan vas bunga. Tapi kau harus tetap mengawasinya."
Si cleaning servis tampak mengangguk-angguk. "Saya kebetulan memang akan sedikit lama membersihkan area itu, Mbak. Tapi untuk apa, Mbak? Bukankah itu privasi orang lain?"
"Itu suami saya, dia sedang bersama selingkuhannya. Saya harus punya cukup bukti. Sampai di sini kamu paham kan?"
"Oalah, kenapa gak bilang dari tadi, Mbak. Baiklah, saya juga benci perselingkuhan. Saya akan membantu Mbak."
Nilam tersenyum kemudian dia menyerahkan uang tambahan lagi untuk cleaning servis itu dan sekalian ponsel dalam kondisi perekaman suara yang sudah aktif.
Nilam memantau dari kejauhan, dilihatnya pembicaraan dua orang itu nampak semakin serius saja. Indra juga memesan makanan enak untuk mereka berdua. Nilam tak berhenti mengepalkan tangannya, hatinya terluka, ingin sekali dia menghajar Indra berikut perempuan itu.
Sementara itu, Cleaning servis sudah meletakkan ponsel di atas meja kecil tepat di belakang Indra dan selingkuhannya. Matanya awas mengawasi sembari membereskan beberapa piring dan membersihkan meja bekas orang makan sebelumnya.
Hampir lima belas menit berlalu, cleaning servis itu kembali lalu menyerahkan ponsel Nilam.
"Maaf, Mbak. Saya cuma bisa mendapatkan sedikit informasi sebab atasan saya sudah memanggil sedari tadi." Di menunjukkan HT yang tergantung di celananya.
"Baiklah, terima kasih ya."
Nilam menyimpan rekaman itu. Tadinya dia ingin langsung ke mobil tetapi dia urungkan, dia masih ingin bertahan dengan pengintaiannya. Barangkali dia akan mendapatkan sesuatu yang baru lagi selain bukti rekaman yang belum sempat didengarnya itu.
Hampir setengah jam berada di tempatnya mengintai, akhirnya Nilam melihat suaminya beranjak. Bersama selingkuhannya, Indra masuk ke lobi hotel, Nilam bergegas menyembunyikan dirinya agar tak ketahuan ketika mereka keluar. Nilam kira Indra akan keluar dan hanya sekedar makan saja di hotel mewah itu, ternyata dugaannya kali ini meleset lagi.
Indra sekarang berada di depan resepsionist, sudah dipastikan mereka akan check-in malam ini. Mau tak mau, Nilam juga harus ikut menginap di hotel yang sama meski di kamar yang berbeda.
"Mbak, tadi itu pak Indra ya, saya agak ragu tapi memang perawakannya mirip. Dia teman saya," kata Nilam kepada resepsionist.
"Betul, Mbak. Itu pak Indra. Mbak akan menginap sendirian?" tanya resepsionist itu. Nilam mengangguk.
"Wah kebetulan sekali, sudah lama saya tidak bertemu dengannya. Kalau boleh tahu mereka menginap di kamar nomor berapa ya? Mungkin saya akan menghubunginya kelak untuk bertemu, agar mereka tidak kaget."
Setelah mendapatkan nomor kamar yang sebelumnya agak hati-hati diberikan oleh resepsionist, Nilam mengangguk-angguk paham. Ia merasa beruntung sebab kamarnya bertepatan di depan kamar pasangan haram itu.
Nilam pergi ke lift dengan perasaan sudah amblas sampai ke dasarnya. Setibanya di kamar sewaannya, dia menatap sebentar ke arah kamar di depan yang sudah berisi pasangan haram itu. Hati Nilam seperti tertusuk duri, malam di mana Indra berjanji akan mengajaknya dinner tapi ternyata janji itu hanya omong kosong hanya untuk menyenangkan hatinya saja.
Nilam menekan kontak telepon suaminya, mulai menanti panggilan dijawab oleh lelaki itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Rhea Latifa
ingat pengalaman waktu diselingkuhi mantan suami
2024-12-02
0
Mimik Pribadi
Benar2 bikin emosi, aku jga perempuan bisa ngerasain jika ada diposisi Nilam 😭😭,,,,panggil polisi grebek atas dasar perselingkuhan,bukti udh didpt,msk2 dah Indra dipenjara,,,,biar mikir,,,biar merenung,,,dlm rmh tangga wajar ada ketidak cocokan cm alangkah baiknya dibicarakan,cari solusi,bkn mlh menambah mslh,,,,
Apa alasan Indra memutuskan selingkuh???? Biasanya ada tuh sikap istri yng dikambing hitamkan suami,utk menutupi boroknya,,,,
2024-06-03
5
Jamaliah
aku ikut emosi bacanya melihat dunia nyata pun tak lepas dengan
perselikuhan tanpa. memikirkan hati anak istrinya yang terluka
2024-05-24
2