Mereka Milikku

Malam, di Miami.

Suasana tenang di vila ini rupanya mampu mengubah suasana hati Erick Erlangga. Saat ini dia sedang memgobrol santai dengan sang nenek. Beberapa kali mereka tampak tersenyum dan terdengar tawa sesekali.

Megan hanya memantau saja dulu, biarkan Erick merasa nyaman bersama mama Monic.

Beberapa kali ia menatap layar ponselnya, namun tidak ada apapun di sana.

Drrrrt drrrt drrrrt.

Seolah tahu Megan sedang menantikannya untuk berdering, layar ponselnya itu menyala dan menunjukkkan ada panggilan Video disana.

Pak Dokter memanggil.

Sungguh ponsel yang pengertian. Pikirnya.

Demi apapun, Megan merasa jantungnya seakan copot dari tempatnya.

Megan sengaja tidak langsung menjawab sebelum dirinya tiba di kamar.

Klik, Megan menggeser tombol hijau untuk menjawab, tentu setelah dirinya mengambil posisi yang pas dan nyaman.

[Hai!] sapa Morgan. Pria itu terlihat masih tampan. Kebetulan ia sedang mengenakan jas putih kebanggaannya.

[Hai, Dok.] jawab Megan.

[Bagaimana cuaca Amerika serikat saat ini?]

Bukannya menanyakan bagaimana kabarku tapi dia lebih ingin tahu kabar cuaca.

[Karena disini waktu malam jadi terasa cukup dingin, dok]

[Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sehat, nona Megan?]

Apa dia punya indra ke enam? Dia bisa membaca suara hatiku.

[Aku baik-baik saja. Apa pak dokter sudah menghubungi Erick atau mama?] Megan balik bertanya.

[Belum. Oia, Nona Megan, aku baru saja mentransfer semua gajiku bulan ini ke rekeningmu.]

Degh...

Megan tertegun.

[Kenapa begitu?] Megan terlihat tidak enak hati.

[Karena memang begitu. Seorang istri tugasnya mengatur keuangan suami. Atukah kau lupa sudah jadi seorang istri?]

Megan tersenyum senang mendengarnya. Senyum kemenangan yang tentu tidak terlihat oleh Morgan karena Megan sengaja menghindar dari kamera.

Rupanya dia mulai menganggapku.

[Trima kasih, Dok. Aku akan membaginya dengan mama dan anak-anak.]

[Tidak perlu berikan ke mama. Dia punya dana pensiun setiap bulan dan itu cukup untuk dirinya sendiri. Gunakan saja untuk membeli bahan makanan disana. Itu tidak seberapa. Kuharap kau mengerti karena aku hanya seorang dokter, bukan pemilik rumah sakit ini.] jelas Morgan panjang lebar.

Morgan sangat sadar bahwa pendapatannya sangat tidak sebanding dengan apa yang dihasilkan oleh sang istri per detik.

Namun disini bukan lagi tentang siapa yang pendapatannya lebih banyak akan tetapi semata tentang tanggung jawab seorang suami.

[Iya, Pak Dokter. Aku mengerti. Aku akan menggunakannya dengan baik. Terima kasih, Dok. Aku merasa bahagia kau menganggap pernikahan ini nyata.] ucap Megan.

[Jadi kau pikir dalam beberapa hari ini aku sedang bermimpi? Aku menikahimu dengan kesadaran penuh.]

[Jangan marah, Dok. Aku hanya bercanda.]

[Aku tidak marah, untuk apa aku memarahimu?]

--- "Morgan, ini teh-mu. Minumlah selagi hangat"--- terlihat jelas oleh Megan pada layar ponselnya, seorang wanita datang menghampiri Morgan membawakan segelas teh. Dan ini sangat mengganggu pemandangan. Megan tidak suka melihatnya.

---"Terima kasih Lena, aku akan meminumnya."---

---"Apa kau lelah, Morgan, aku bisa memberimu pijatan."---

---"Tidak perlu, Lena. Terima kasih. Aku sedang mengobrol dengan istriku."---

---"Istrimu? Oh, maaf. Tapi dimana dia?"---

Wajah Megan tidak lagi terlihat pada layar ponsel. Entah menghilang kemana dia, Morgan juga tidak tahu. Ia pun memanggil nama sang istri beberapa kali setelah kepergian wanita yang bernama Lena.

Kemana dia?

[Maaf, Dok, aku tadi sedang bicara dengan pelayan.]

Terlihat Morgan mengangguk lalu menyerup segelas teh.

[Pak Dokter sarapanlah. Aku ... mau istirahat.]

Sambungan Video berakhir. Megan menarik napasnya dalam-dalam.

"Tenang Megan, ini bukan apa-apa."

Megan kemudian keluar dari kamar yang tiba-tiba terasa pengap. Di ruang tengah sudah tidak tampak lagi mama dan Erick. Kakinya diarahkannya menuju kamar putra sambungnya itu.

"Jadi ... kau lebih menyukai dokter Lena menjadi ibumu?"

Megan termenung di depan pintu ketika tak sengaja mendengar percakapan nenek dan cucunya itu.

"Iya. Dokter Lena sangat menyayangi kami. Kurasa ... ayah tidak menikahinya karena aku menolak ibu tiri. Tapi dari pada kak Megan, dokter Lena lebih terlihat seperti seorang ibu."

Megan tak lagi sanggup melangkahkan kakinya untuk masuk. Bahkan untuk pergi dan menghindar agar tidak mendengar pembicaraan ini kakinya seakan tertahan tak bisa bergerak.

"Apa dokter Lena dan ayahmu berkencan?"

"Aku tidak tahu, Nek. Yang aku tahu mereka sudah terbiasa dekat dan sangat akrab. Kalau saja aku tahu ayah mau menikah, aku akan membiarkan itu terjadi dengan dokter Lena."

"Jangan bilang begitu ... apapun alasannya, bunda Megan adalah istri ayahmu sekarang."

"Tapi mereka hanya melakukan pernikahan bod*oh karena perjodohan, Nek. Kak Megan bukan tipe yang disukai ayahku."

degh degh

degh degh

Megan cukup paham akan situasi dan siapa yang sedang jadi topik pembahasan saat ini.

Dokter Lena yang sedang diperbincangkan oleh Erick adalah orang yang sama dengan nama Lena si penyuguh Teh untuk Morgan beberapa saat lalu. Wanita itu terlihat manis, lembut bahkan menawarkan pijatan pada dokter Morgan.

"Apa aku telah merebut pria milik wanita lain?"

Merasa bersalah dan tertuduh, Megan lantas membalik tubuhnya lalu melangkah kembali ke kamar miliknya.

"Jika demikian, apakah aku harus mengembalikannya?"

Megan berusaha menetralkan detak jantungnya yang berpacu dengan laju. Perkataan Erick yang lebih menginginkan dokter Lena, kini perkeliaran dalam pikirannya.

"Tidak. Mereka Milikku sekarang. Milikku tidak akan berpindah ke tangan orang lain. Kepada orang yang tepat sekali pun, itu tidak akan terjadi."

Megan coba mempercayai apa kata hatinya. Morgan beserta dua remaja itu sudah diikat dalam satu dokumen yang bernama Kartu Keluarga dengannya.

Salah satu dari ketiganya tidak akan Megan biarkan lepas dari genggamannya.

.

.

Satu minggu berlalu.

David bersiap mengikuti ujian kelulusan selama beberapa hari ke depan.

Selain dengan persiapan belajar yang maksimal, remaja itu juga memiliki kesiapan mental yang sangat cukup. Mendapatkan perhatian dari ayah dan nenek buyut membuatnya lebih bersemangat dan fokus dalam belajar. Dan satu lagi, Megan yang berada jauh di belahan dunia lain pun tidak pernah lupa memberinya dukungan.

Meskipun awalnya ia merasa tidak suka, tapi lama kelamaan, perhatian sang bunda sambung melalui pesan singkat atau pun panggilan telepon adalah sesuatu yang tanpa sadar selalu dia tunggu-tunggu.

[Nak, semangatlah berjuang, ya... bunda tahu, kau pasti bisa]

David tersenyum membacanya lalu dengan singkat menyimpan kembali senyumannya.

[Tante, bolehkah aku menyusul ke Miami setelah ujian berakhir?]

Untuk pertama kali David mengirim pesan sepanjang itu kepada Megan yang berisi kalimat tanya.

[Tentu saja boleh, datanglah bersama ayah akhir pekan nanti.]

David bertambah semangat. Jalan-jalan ke benua lain adalah salah satu impiannya.

"Baik, aku akan mengikuti ujian dengan baik."

David keluar dari mobil setelah supirnya ikut memberinya semangat. Cukup menegangkan untuk hari ini. Ujian hari pertama akan di mulai.

.

.

Yuk semangat guys... jangan lupa dukungannya ya...🥰

Terpopuler

Comments

Mus Zuliaka

Mus Zuliaka

ada uket keket rupanya 😤

2024-11-13

0

Rose Mustika Rini

Rose Mustika Rini

anak2 mah kurang kasih sayang dan perhatian aja dr seorang ibu

2023-01-06

2

Ingka

Ingka

Perjuanganmu br di mulai Megan...jangan patah semangat.. Hasil tidak akan mengingkari usaha...kamu pasti bisa...💪 Makin penasaran sm ceritanya...menarik n seru..kuy..lanjut...😁

2023-01-05

1

lihat semua
Episodes
1 Insiden
2 Dimana Erick?
3 Jangan Mimpi
4 Uluran Tangan
5 Kediaman Nenek
6 Nenek Pingsan
7 Reyhan
8 Jauhi Erick
9 Jadi Salah Lagi?
10 Ayo, Menikah
11 Lelah Menguntit
12 Pernikahan
13 Tante? Panggil Bunda!
14 PERGI DAN PANGGIL AYAHKU!
15 Kesepakatan
16 Ingin Membuangku?
17 Tempat Apa Ini?
18 Mereka Milikku
19 Membuatku Berdebar
20 Wanita Serakah
21 Kau Berkhianat?
22 Genggaman Erat
23 Jangan Menghilang
24 Momen Romantis
25 Ini Masalahmu
26 Megan Sayang
27 Pelan - pelan, Dok
28 Waw! Bukan Main
29 Kami Bukan Anak-anak
30 Sayang?
31 Tergila-gila Padaku...
32 Jaga Bundamu
33 Dua Teman David
34 Kekerasan di Depan David
35 Aku Menyukai Kalian
36 Mengantar David
37 Full Service
38 Dua Ronde
39 Pamer?
40 Mobil Sport
41 Menjelang Perayaan ULTAH Buyut
42 Tangkapan Besar
43 Keluarga Harus Bersama
44 Semakin Akur
45 Tidak Berperasaan?
46 Tersangka
47 Interogasi
48 Kerinduan
49 Bebas
50 Perdebatan
51 Ayo Bersama
52 Paniknya Seorang Megan
53 Ke Bali
54 Hal Mudah Pun, Tak Bisa
55 Gelang Nama.
56 Bunda
57 Salah Jalur
58 Tugas Baru Riko
59 Rumah Lama
60 Marah!
61 Setelah 10 Tahun Pergi
62 Kedatangan Yana
63 Pregnant, Ini gawat ayah!
64 Pelukan Pertama
65 Buka Hati Untuknya
66 David yang Penurut
67 Rindu Sepanjang Hari
68 Diabaikan
69 Kejutan
70 Harinya Erick Erlangga
71 Baby M Baby M Baby M!
72 Menasihati Baby M
73 Baby M atau Bunda..
74 Baby M Lahir
75 Banyak Cinta Katanya
76 Jangan Sakit Lagi, Bunda
77 Masih Bisa Dibicarakan
78 Mervi
79 Terusir
80 Puasa Bicara
81 Sorry Bunda
82 Aku Meniru Bunda
83 Nomor Dirahasiakan
84 Tiada, baru terasa.
85 Hot Duda & Perawan Tua
86 Setelah Tiga Hari Pernikahan
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Insiden
2
Dimana Erick?
3
Jangan Mimpi
4
Uluran Tangan
5
Kediaman Nenek
6
Nenek Pingsan
7
Reyhan
8
Jauhi Erick
9
Jadi Salah Lagi?
10
Ayo, Menikah
11
Lelah Menguntit
12
Pernikahan
13
Tante? Panggil Bunda!
14
PERGI DAN PANGGIL AYAHKU!
15
Kesepakatan
16
Ingin Membuangku?
17
Tempat Apa Ini?
18
Mereka Milikku
19
Membuatku Berdebar
20
Wanita Serakah
21
Kau Berkhianat?
22
Genggaman Erat
23
Jangan Menghilang
24
Momen Romantis
25
Ini Masalahmu
26
Megan Sayang
27
Pelan - pelan, Dok
28
Waw! Bukan Main
29
Kami Bukan Anak-anak
30
Sayang?
31
Tergila-gila Padaku...
32
Jaga Bundamu
33
Dua Teman David
34
Kekerasan di Depan David
35
Aku Menyukai Kalian
36
Mengantar David
37
Full Service
38
Dua Ronde
39
Pamer?
40
Mobil Sport
41
Menjelang Perayaan ULTAH Buyut
42
Tangkapan Besar
43
Keluarga Harus Bersama
44
Semakin Akur
45
Tidak Berperasaan?
46
Tersangka
47
Interogasi
48
Kerinduan
49
Bebas
50
Perdebatan
51
Ayo Bersama
52
Paniknya Seorang Megan
53
Ke Bali
54
Hal Mudah Pun, Tak Bisa
55
Gelang Nama.
56
Bunda
57
Salah Jalur
58
Tugas Baru Riko
59
Rumah Lama
60
Marah!
61
Setelah 10 Tahun Pergi
62
Kedatangan Yana
63
Pregnant, Ini gawat ayah!
64
Pelukan Pertama
65
Buka Hati Untuknya
66
David yang Penurut
67
Rindu Sepanjang Hari
68
Diabaikan
69
Kejutan
70
Harinya Erick Erlangga
71
Baby M Baby M Baby M!
72
Menasihati Baby M
73
Baby M atau Bunda..
74
Baby M Lahir
75
Banyak Cinta Katanya
76
Jangan Sakit Lagi, Bunda
77
Masih Bisa Dibicarakan
78
Mervi
79
Terusir
80
Puasa Bicara
81
Sorry Bunda
82
Aku Meniru Bunda
83
Nomor Dirahasiakan
84
Tiada, baru terasa.
85
Hot Duda & Perawan Tua
86
Setelah Tiga Hari Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!