Wanita Serakah

Akhir pekan yang dinanti-nantikan Erick sudah tiba. Kini dia sedang menunggu kedatangan adik dan sang ayah. Dia menunggu di muka pintu utama vila.

"Lihatlah dia. Seperti itulah saat kecil dulu menunggu ayahnya pulang kerja setiap hari" mama Monic tersenyum mengenang masa kecil cucu pertamanya itu, membuat Megan yang sedang duduk si sebelahnya juga ikut tersenyum.

"Ma, apa menurut mama anak itu akan menerimaku sebagai ibunya?"

Mama menatap Megan. "Apa mungkin kau sungguh-sungguh menganggapnya sebagai putramu?"

"Tentu saja, Ma. Dengan senang hati."

"Kau sesenang itu? Kenapa bisa?" Mama Monic tampak kurang yakin.

"Ya ... siapa yang akan menolak jika diberikan dua anak yang sudah besar? Aku tidak perlu mengandung tapi aku memiliki mereka."

"Begitu kah?" Mama Monic menatap Megan semakin dalam. Monic mengira tidak ada wanita semacam menantunya ini. Dia bahkan tidak siap untuk mengandung ketika hampir sebagian wanita berjuang keras untuk garis dua.

"Nak, maaf, mama mau tanya, kenapa kamu tidak mau hamil? Bukankah itu salah satu tujuan orang yang menikah?"

Dengan entengnya Megan menjawab, "tidak mau terlihat buncit."

Monic mengelus dada, menahan rasa.

"Mama tidak akan meminta cucu dariku, kan? Lagi pula anak-anak sudah sangat besar."

Mama Monic tidak menjawab.

"putra Mama kan juga tidak ingin menambah anak lagi, kedua anak itu juga tidak menginginkan adik. Kurasa ... 2 anak juga cukup, Ma ... dari pada ... kehadiran bayi hanya akan memgacaukan perasaan semua orang."

"Ayah! David!" perbincangan Monic dan Megan terhenti saat Erick antusias menyebut dua nama.

"Nek, ayah datang!" beritahunya pada sang nenek.

David datang membawa wajah takjubnya.

Bangunan luas bergaya abad pertengahan yang sedang ia masuki sungguh memberinya kesan pertama yang menarik.

Dikelilingi oleh banyak pohon di atas pegunungan, sungguh membuatnya jatuh hati.

Ia berpikir, sebanyak apa uang yang dimiliki wanita ini? Sepertinya dia memiliki semua yang belum tentu dimiliki oleh orang lain.

Megan berdiri dan melangkah menyusul mama Monic menyambut kedatangan Morgan yang baru tiba bersama David.

Sembari melangkah ia memastikan penampilannya tidak ada kesalahan.

"Nenek, apa menyenangkan tinggal di tempat ini?"

David menyalami sang nenek dengan cara mencium punggung tangan ibu dari ayahnya itu.

Sedangkan kepada Megan ia hanya sekedar menyapa dengan satu kata, "Tante," dengan gaya canggungnya.

"Kau tidak menyalami bunda Megan?" Monic menegur kesalahan David di depan semua orang.

David bertindak patuh lalu mengulurkan tangannya ke arah Megan.

Ibu barunya itu menyambut dengan senang hati.

Morgan mengulum senyum tipis melihat perilaku manis yang dilakukan putranya bungsunya dengan penuh keterpaksaan.

Beberapa pelayan mengantar koper dan tas milik Morgan dan David ke kamar yang akan mereka tempati masing-masing, sesuai arahan Megan.

"Dok, ini hasil rotgen terbaru tentang kondisi putramu."

Megan menyerahkan sebuah dokumen kepada suaminya ketika keduanya berada di kamar. Morgan mengambilnya untuk dipelajari.

Kembali berdua saja dengan suaminya di ruangan yang sama, Megan merasakan kegugupan luar biasa.

Harus kah aku pindah ke kamar yang lain?

"Oh ya, tentang waktu itu ..."

"Ya?" Megan berhenti melangkah. Baru saja hendak keluar dari kamar.

"Dokter Lena. Dia adalah teman baikku."

"Ya. Erick mengatakannya, Dok."

"Nona Megan tidak marah, kan?"

"Aku keberatan, Dok. Tapi aku bersyukur ada orang yang memperhatikan suamiku karena aku bahkan tidak mampu melakukan hal sekecil itu."

Istri mana yang tidak marah jika suaminya menerima suguhan teh manis dari perempuan lain?

"Jadi kau keberatan?"

Morgan berdiri, meninggalkan dokumen yang tadi ia pegang. Dihampirinya Megan, semakin mendekat.

"Ak-aku ... keberatan tapi tidak marah." Tentu saja Megan semakin gugup dibuatnya. Ingin melangkah mundur, tapi itu bukan gayanya.

"Nona Megan, apa mungkin ... kau ... cemburu?"

"Ya?"

Pertanyaan macam apa ini?

"Pak Dokter, ku kira kita tidak saling menyukai. Jadi mana mungkin aku cemburu."

Sungguh, Megan sedang mengatakan apa yang berlawanan dengan yang dikatakan oleh hatinya.

"Benar. Kita tidak saling menyukai. Tapi ... kita adalah pasangan."

Pak dokter semakin mendekat.

"Iya, lalu?"

"Kau harus cemburu." Morgan menatap dalam seolah mengunci tatapannya sehingga Megan tidak bisa beralih dan harus balas menatap matanya saja.

Tidak. Kalau begini aku bisa mati mendadak. Tatapan apa ini? Apa yang dia inginkan?

"Baik, lain kali aku akan cemburu, Dok."

"Istri yang pintar..." Raut muka Morgan yang dari tadi sangat serius, kini berubah tenang. Di dekapnya Megan dalam pelukannya yang hangat.

Megan yang mendapatkan pelukan tiba-tiba ini sudah pasti semakin berdebar. Bahkan Morgan bisa merasakan debaran jantung istrinya ini, tapi dia biarkan saja.

"Nona Megan,"

Megan dapan mendengar namanya disebut, namun hanya mampu menjawabnya didalam hati saja.

"Terima kasih, sudah menjadi teman hidupku. Terima kasih karena peduli pada anak-anak. Terima kasih atas pengorbananmu yang begitu besar. Kuakui, Kau adalah orang baik. Meski pernikahan ini hanya keterpaksaan, tapi kau melakukan tugasmu sebagai istri dan ibu yang baik. Aku akan menghargai kemurahan hatimu ini."

Megan mendorong pelan tubuh suaminya hingga terlepas.

"Dok, semua yang kau katakan, itu tidak benar. Kau hanya belum mengenalku. Aku tidak murah hati seperti katamu. Aku ini ... perempuan serakah. Aku tidak biasa melakukan sesuatu dengan cuma-cuma."

Entah kemana menghilangnya kegugupan yang tadi membuat jantung Megan berdetak laju.

Wanita ini tidak tersentuh dengan pujian dariku?

"Wanita serakah? Kau memang serakah, tapi tidak ada apapun yang bisa kau ambil dariku. Aku tidak punya apa-apa. Dan Kau tahu itu."

Kau memiliki dirimu Dokter. Kau memiliki dua anak yang boleh aku anggap sebagai anakku. Bagaimana jika aku serakah dan menginginkan kalian bertiga Seutuhnya menjadi kepunyaanku? Bagaimana kalau aku tidak mau melepas kalian dari sisiku?

"Aku akan menunjukkan keserakahanku, Pak Dokter."

Morgan yang tidak benar-benar memahami maksud istrinya, hanya mengangkat bahu dan berkata. "Silahkan, aku menantikan keserakahanmu. Tunjukkan saja sesukamu."

.

.

Di kamar David. Erick masih betah berbincang dengan adiknya itu. Mereka membahas berbagai hal.

"Kak, kenapa wanita itu sepertinya sangat berkuasa?"

David mulai membahas tentang mama baru mereka.

"Aku juga tidak tahu. Telunjuknya itu seperti memiliki kesaktian. Apa pun yang dia perintahkan hanya dengan menggerakkan jari telunjuknya, pasti akan segera terlaksana." ujar Erick mengingat bagaimana luarbiasanya telunjuk sakti milik mama baru yang selalu dia panggil 'kakak' itu.

"Dia memiliki pelayan yang banyak baik disini maupun di rumah besar nenek. Kau tau Kak, kita berdua bahkan memiliki pelayan pribadi di rumah megah itu." David dengan antusias menceritakan bagaimana kisahnya saat berada di rumah nenek buyut.

"Aku tidak menyukainya, tapi kenapa dia sekeren itu? Dari mana dia mendapatkan uang untuk membayar banyak pelayan? Sedangkan dirinya tidak bekerja. Bahkan Nenek Tua juga hanya berdiam di rumah." timpal Erick lagi.

Keduanya mulai merasa curiga.

"Apa jangan-jangan... wanita itu ... pelihara tuyul?"

tebak Erick, dan seketika bulu kuduknya merinding.

"Apa mungkin ... persugihan?" timpal David. bulu kuduknya ikut merinding.

.

.

Semangat guysss

Terpopuler

Comments

Mus Zuliaka

Mus Zuliaka

mngkin sm pesugihan jg 😂😂😂😂

2024-11-13

0

Sweet Girl

Sweet Girl

iya tuyulnya banyak, JD para tuyul tuyul itu yang bekerja.

2024-10-11

0

Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati

Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati

/Scowl//Scowl//Scowl/

2024-09-08

0

lihat semua
Episodes
1 Insiden
2 Dimana Erick?
3 Jangan Mimpi
4 Uluran Tangan
5 Kediaman Nenek
6 Nenek Pingsan
7 Reyhan
8 Jauhi Erick
9 Jadi Salah Lagi?
10 Ayo, Menikah
11 Lelah Menguntit
12 Pernikahan
13 Tante? Panggil Bunda!
14 PERGI DAN PANGGIL AYAHKU!
15 Kesepakatan
16 Ingin Membuangku?
17 Tempat Apa Ini?
18 Mereka Milikku
19 Membuatku Berdebar
20 Wanita Serakah
21 Kau Berkhianat?
22 Genggaman Erat
23 Jangan Menghilang
24 Momen Romantis
25 Ini Masalahmu
26 Megan Sayang
27 Pelan - pelan, Dok
28 Waw! Bukan Main
29 Kami Bukan Anak-anak
30 Sayang?
31 Tergila-gila Padaku...
32 Jaga Bundamu
33 Dua Teman David
34 Kekerasan di Depan David
35 Aku Menyukai Kalian
36 Mengantar David
37 Full Service
38 Dua Ronde
39 Pamer?
40 Mobil Sport
41 Menjelang Perayaan ULTAH Buyut
42 Tangkapan Besar
43 Keluarga Harus Bersama
44 Semakin Akur
45 Tidak Berperasaan?
46 Tersangka
47 Interogasi
48 Kerinduan
49 Bebas
50 Perdebatan
51 Ayo Bersama
52 Paniknya Seorang Megan
53 Ke Bali
54 Hal Mudah Pun, Tak Bisa
55 Gelang Nama.
56 Bunda
57 Salah Jalur
58 Tugas Baru Riko
59 Rumah Lama
60 Marah!
61 Setelah 10 Tahun Pergi
62 Kedatangan Yana
63 Pregnant, Ini gawat ayah!
64 Pelukan Pertama
65 Buka Hati Untuknya
66 David yang Penurut
67 Rindu Sepanjang Hari
68 Diabaikan
69 Kejutan
70 Harinya Erick Erlangga
71 Baby M Baby M Baby M!
72 Menasihati Baby M
73 Baby M atau Bunda..
74 Baby M Lahir
75 Banyak Cinta Katanya
76 Jangan Sakit Lagi, Bunda
77 Masih Bisa Dibicarakan
78 Mervi
79 Terusir
80 Puasa Bicara
81 Sorry Bunda
82 Aku Meniru Bunda
83 Nomor Dirahasiakan
84 Tiada, baru terasa.
85 Hot Duda & Perawan Tua
86 Setelah Tiga Hari Pernikahan
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Insiden
2
Dimana Erick?
3
Jangan Mimpi
4
Uluran Tangan
5
Kediaman Nenek
6
Nenek Pingsan
7
Reyhan
8
Jauhi Erick
9
Jadi Salah Lagi?
10
Ayo, Menikah
11
Lelah Menguntit
12
Pernikahan
13
Tante? Panggil Bunda!
14
PERGI DAN PANGGIL AYAHKU!
15
Kesepakatan
16
Ingin Membuangku?
17
Tempat Apa Ini?
18
Mereka Milikku
19
Membuatku Berdebar
20
Wanita Serakah
21
Kau Berkhianat?
22
Genggaman Erat
23
Jangan Menghilang
24
Momen Romantis
25
Ini Masalahmu
26
Megan Sayang
27
Pelan - pelan, Dok
28
Waw! Bukan Main
29
Kami Bukan Anak-anak
30
Sayang?
31
Tergila-gila Padaku...
32
Jaga Bundamu
33
Dua Teman David
34
Kekerasan di Depan David
35
Aku Menyukai Kalian
36
Mengantar David
37
Full Service
38
Dua Ronde
39
Pamer?
40
Mobil Sport
41
Menjelang Perayaan ULTAH Buyut
42
Tangkapan Besar
43
Keluarga Harus Bersama
44
Semakin Akur
45
Tidak Berperasaan?
46
Tersangka
47
Interogasi
48
Kerinduan
49
Bebas
50
Perdebatan
51
Ayo Bersama
52
Paniknya Seorang Megan
53
Ke Bali
54
Hal Mudah Pun, Tak Bisa
55
Gelang Nama.
56
Bunda
57
Salah Jalur
58
Tugas Baru Riko
59
Rumah Lama
60
Marah!
61
Setelah 10 Tahun Pergi
62
Kedatangan Yana
63
Pregnant, Ini gawat ayah!
64
Pelukan Pertama
65
Buka Hati Untuknya
66
David yang Penurut
67
Rindu Sepanjang Hari
68
Diabaikan
69
Kejutan
70
Harinya Erick Erlangga
71
Baby M Baby M Baby M!
72
Menasihati Baby M
73
Baby M atau Bunda..
74
Baby M Lahir
75
Banyak Cinta Katanya
76
Jangan Sakit Lagi, Bunda
77
Masih Bisa Dibicarakan
78
Mervi
79
Terusir
80
Puasa Bicara
81
Sorry Bunda
82
Aku Meniru Bunda
83
Nomor Dirahasiakan
84
Tiada, baru terasa.
85
Hot Duda & Perawan Tua
86
Setelah Tiga Hari Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!