Nenek Pingsan

"Halo, Nyonya," Megan menyuguhkan senyum kecil setelah menyapa dengan sopan.

Megan terlihat kikuk saat menyapa. Sang nenek kembali merasa cucunya ini terlihat sangat aneh. Biasanya Megan akan acuh tak peduli dengan siapa dia sedang berhadapan, cucu perawannya ini akan perlihatkan sikap dinginnya.

"Hai, Megan, ternyata kau sudah tumbuh menjadi gadis dewasa. Sangat cantik. Duduk, sayang,"

Megan mengerjap beberapa kali. Wanita ini bahkan memanggilnya sayang, sungguh jiwa keibuan yang mendominasi.

Benar yang kupikirkan, sikap Erick yang bertolak belakang dengan ayahnya ternyata menurun dari wanita ini, ibunya.

Megan duduk di sebelah sang nenek. Nenek terus tersenyum seperti ada sesuatu yang membuatnya terlalu bersemangat.

"Nyonya, sebelumnya saya minta maaf tentang apa yang terjadi terhadap Erick." Megan menunduk hormat menunjukkan bahwa dirinya benar-benar menyesal. Melihat keramahan wanita paruh baya ini membuatnya merasa bersalah karena telah membuat putranya terbaring koma. Mungkin saja kedatangan pasangan ini ada hubungannya dengan kondisi Erick.

"Kenalkan, dia Monik, ibunya Morgan. Dulu dia sudah nenek anggap seperti anak sendiri. Nenek dan mendiang neneknya Morgan adalah sahabat."

Raut wajah Megan berubah. Prasangkanya sudah berlebihan menganggap Morgan beristrikan seorang wanita paruh baya. Pantas saja sang nenek tidak berhenti tersenyum rupanya dia sedang bahagia.

"O... hai, tante, senang berkenalan denganmu."

Tante Monik tersenyum. "Sebenarnya dulu kita sudah saling kenal tapi saat itu usiamu masih balita. Tapi Morgan, kamu mengingat Megan, kan Nak?"

"Ya? Aku tidak ingat, Mah." elak Morgan. Perasaannya mulai tidak enak. Ia pun masih bingung kenapa dirinya masih harus berada disini. "Mah, bukankah tadi Mama memintaku untuk menjemput? Bagaimana kalau kita pergi sekarang?"

Terlihat sekali Morgan tidak menikmati pertemuan kecil ini.

"Nyonya, makanan sudah siap."

Seorang pelayan menghampiri, memaksa Morgan harus melatih kesabarannya karena nenek meminta ibunya untuk menikmati makan bersama sebelum pulang.

Baru saja Selesai menikmati suap demi suap berbagai hidangan lezat yang tersedia, suara nenek kembali terdengar.

"Monik, kau tahu aku ini sudah tua. Tidakkah kau kasihan melihatku?"

"Apa maksudmu ibu?"

"Morgan rupanya sudah lama menduda. Tidakkah sebaiknya dia kembali beristri?"

Megan melotot, menoleh kearah sang nenek. Dia sungguh curiga kemana arah perkataan neneknya.

Morgan pun bereaksi mendengar namanya tiba-tiba menjadi topik pembahasan.

"Cucuku sudah menjadi seorang perawan tua. Aku tidak bisa mati dengan tenang jika dia terus seperti ini. Sebaiknya kita jodohkan mereka."

Morgan dan Megan kompak dengan mata terbuka lebar.

Apa ini perjodohan?

"Aku tidak keberatan, Bu. Hanya saja ... putraku hanya seorang dokter dan juga seorang duda. Aku berpikir ... apa dia pantas untuk seorang seperti Megan?" tante Monik menoleh ke arah Megan. Ia bisa melihat sendiri Megan berusaha menelan ludah dengan berat.

"Morgan, apa bisa nenek yang sudah berusia hampir 80 tahun ini melamarmu untuk Megan?"

"Nenek! Hentikan ucapanmu!" Megan menghardik perkataan sang nenek dengan tatapan tak suka.

"Nyonya lihat sendiri, Nona Megan tidak tertarik dengan obrolan ini."

Morgan merasa legah melihat Megan menolak rencana si nenek.

"Morgan, pikirkan dulu, Nak. Kau sudah berjanji pada mama bahwa tahun ini kau akan memberi dua anak itu ibu sambung. Jika bukan Megan, adakah yang lain? Mama menagih janjimu."

Lagi-lagi Morgan harus mendengar permintaan yang sudah berulang-ulang ini dari mulut sang mama.

"Megan, nenek tahu kau tidak membutuhkan seseorang dihidupmu. Tapi nenek hanya ingin melihatmu menikah."

"Aku tidak perlu menikah, Nek." sahut Megan. Sangat memalukan sekali membahas tentang masalah ini dihadapan tamu. Nenek sungguh kekanakan.

"Lalu apa ini?" Nenek melempar sebuah amplop coklat ke atas meja yang entah berisi dokumen apa.

Megan lantas membukanya dengan gerak cepat. Amplop itu ternyata berisikan gambar yang diambil dari CCTV hotel yang memperlihatkan dirinya bersama Reyhan dan saat dirinya diserang dengan membabi buta oleh istri sah mantan kekasih diam-diamnya itu.

Morgan juga terlihat disana. Nenek juga berterima kasih dengan tulus pada dokter yang kebetulan menjadi penolong sang cucu saat itu.

Morgan mengangguk pelan.

"Masih mampukah perempuan tua ini menyebut cucunya sebagai perawan tua? Kita tidak tahu apa saja yang sudah terjadi antara Megan dengan pria itu. Jadi Monic, cucu berhargaku pasti sudah habis oleg laki-laki itu." Nenek berbicara dengan nanar sedih ke arah cucunya.

"Berjodoh dengan seorang duda tidaklah buruk. Dia bahkan tidak pantas untuk seorang pria lajang." nenek terus menatap sendu cucunya, sementara Megan membalas tatapan itu dengan berani. Ucapan Nenek sungguh menyinggungnya kali ini.

"Baik, aku akan menerima perjodohan ini. Aku menerima dokter Morgan untuk menjadi suamiku."

Entah apa yang sedang merasukinya, Megan mengatakan itu dengan mata terus menatap sang nenek. Ia tidak peduli lagi dengan harga dirinya. Dengan membuat nenek mengetahui aib tak sengajanya ini begitu menyiksa hati Megan. Satu-satunya orang yang tulus menyayanginya, Megan tidak sanggup membuat nenek terus bersedih.

"Apa maksudmu menerima aku? Nona Megan, apa kau sadar apa yang baru saja kau setujui?" Morgan angkat bicara sementara mama Monik hanya terperanga. Ia masih dibuat kaget oleh Megan.

"Nenek lihat? Pria yang sudah nenek lamar untukku, dia menolakku ditempat. Tepat dihadapan nenek. Lihat, aku bahkan tidak pantas untuk seorang duda. Nenek puas sekarang?"

Megan berdiri dari duduknya ingin segera pergi. Mempermalukan dirinya sendiri bukanlah gaya seorang Megan.

"Ibu!"

Megan berhenti melangkah. Mendengar pekikan tante Monik membuatnya membalikkan tubuh.

"Nenek!" Megan berlari ke arah sang nenek yang kini berada dalam gendongan dokter Morgan.

"Ayo bawa Nyonya ke rumah sakit segera."

Megan dan tante Monik mengikuti dari belakang dengan langkah tergesa.

Maafkan aku, Nek.

Megan terus menyalahkan diri diam-diam.

Mereka memasuki mobil Morgan.

"Megan, duduklah dikursi depan. Biar ibu berbaring dipangkuanku." suruh tante Monik.

Malam semakin larut. Nenek belum juga sadarkan diri. Dokter mengatakan bahwa kesehatan jantung nenek sangat tidak baik. Namun dokter mengatakan nenek hanya perlu banyak istirahat baik beristirahat dari aktivitas fisik maupun mental.

Kalau begini terus, terpaksa aku akan kembali tinggal dengan nenek. Hah! Apa bagusnya memiliki suami? Kekasih saja sudah cukup. Orang tidak harus menikah.

"Ayo bicara di ruanganku."

Seolah itu perintah yang harus dia turuti, Megan mengikuti Morgan.

"Apa kau sudah seputus asa itu sampai-sampai menyetujui menikahiku?" Morgan memyerangnya dengan pertanyaan penuh amarah. Tidak berlaku lagi sapaan hormat dengan panggilan 'nona' yang selalu ia sematkan selama ini.

Megan yang sedang tidak berdaya memilih diam sejenak sambil memikirkan apa yang harus ia katakan sebagai jawaban.

"Kau yang tidak bisa mendapatkan jodoh yang tepat tapi kenapa aku yang harus bertanggung jawab?"

Apa nenek berniat membunuhku? Aku bisa mati kedinginan jika terus berada di dekat orang ini. Bagaimana mungkin Nenek memintaku menikahi seseorang yang belum dia kenal?

"Aku tidak putus asa. Nenek yang putus asa memikirkanku. Aku bahkan tidak peduli tentang pernikahan." Megan menjawab dengan nada datar, sungguh dia tidak berenergi untuk adu mulut saat ini.

"Jadi begitu? Tidak heran kau memilih mengencani suami orang."

Degh.

Megan merasa kata-kata itu seperti penghinaan baginya.

.

.

Terpopuler

Comments

Ingka

Ingka

Waduh....Kang Dokter itu mulutnya kyk seblak level 100...pedesss..pake banget..😁🤪 kasihan Megan....sabar..sabar...

2023-01-04

1

🌼ᴍᴇᴀᴍᴏʀ_ᴍʏʀᴀɴᴅʜᴀ🇲🇾

🌼ᴍᴇᴀᴍᴏʀ_ᴍʏʀᴀɴᴅʜᴀ🇲🇾

😂 Dari megan yang kencan sama brondong. Kmudian ibunya erik yang nenek2 🤣 ada apa ini ahahahahahahaha

2022-10-25

2

Kharina.

Kharina.

poor Megan 😭😭😭

2022-10-24

0

lihat semua
Episodes
1 Insiden
2 Dimana Erick?
3 Jangan Mimpi
4 Uluran Tangan
5 Kediaman Nenek
6 Nenek Pingsan
7 Reyhan
8 Jauhi Erick
9 Jadi Salah Lagi?
10 Ayo, Menikah
11 Lelah Menguntit
12 Pernikahan
13 Tante? Panggil Bunda!
14 PERGI DAN PANGGIL AYAHKU!
15 Kesepakatan
16 Ingin Membuangku?
17 Tempat Apa Ini?
18 Mereka Milikku
19 Membuatku Berdebar
20 Wanita Serakah
21 Kau Berkhianat?
22 Genggaman Erat
23 Jangan Menghilang
24 Momen Romantis
25 Ini Masalahmu
26 Megan Sayang
27 Pelan - pelan, Dok
28 Waw! Bukan Main
29 Kami Bukan Anak-anak
30 Sayang?
31 Tergila-gila Padaku...
32 Jaga Bundamu
33 Dua Teman David
34 Kekerasan di Depan David
35 Aku Menyukai Kalian
36 Mengantar David
37 Full Service
38 Dua Ronde
39 Pamer?
40 Mobil Sport
41 Menjelang Perayaan ULTAH Buyut
42 Tangkapan Besar
43 Keluarga Harus Bersama
44 Semakin Akur
45 Tidak Berperasaan?
46 Tersangka
47 Interogasi
48 Kerinduan
49 Bebas
50 Perdebatan
51 Ayo Bersama
52 Paniknya Seorang Megan
53 Ke Bali
54 Hal Mudah Pun, Tak Bisa
55 Gelang Nama.
56 Bunda
57 Salah Jalur
58 Tugas Baru Riko
59 Rumah Lama
60 Marah!
61 Setelah 10 Tahun Pergi
62 Kedatangan Yana
63 Pregnant, Ini gawat ayah!
64 Pelukan Pertama
65 Buka Hati Untuknya
66 David yang Penurut
67 Rindu Sepanjang Hari
68 Diabaikan
69 Kejutan
70 Harinya Erick Erlangga
71 Baby M Baby M Baby M!
72 Menasihati Baby M
73 Baby M atau Bunda..
74 Baby M Lahir
75 Banyak Cinta Katanya
76 Jangan Sakit Lagi, Bunda
77 Masih Bisa Dibicarakan
78 Mervi
79 Terusir
80 Puasa Bicara
81 Sorry Bunda
82 Aku Meniru Bunda
83 Nomor Dirahasiakan
84 Tiada, baru terasa.
85 Hot Duda & Perawan Tua
86 Setelah Tiga Hari Pernikahan
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Insiden
2
Dimana Erick?
3
Jangan Mimpi
4
Uluran Tangan
5
Kediaman Nenek
6
Nenek Pingsan
7
Reyhan
8
Jauhi Erick
9
Jadi Salah Lagi?
10
Ayo, Menikah
11
Lelah Menguntit
12
Pernikahan
13
Tante? Panggil Bunda!
14
PERGI DAN PANGGIL AYAHKU!
15
Kesepakatan
16
Ingin Membuangku?
17
Tempat Apa Ini?
18
Mereka Milikku
19
Membuatku Berdebar
20
Wanita Serakah
21
Kau Berkhianat?
22
Genggaman Erat
23
Jangan Menghilang
24
Momen Romantis
25
Ini Masalahmu
26
Megan Sayang
27
Pelan - pelan, Dok
28
Waw! Bukan Main
29
Kami Bukan Anak-anak
30
Sayang?
31
Tergila-gila Padaku...
32
Jaga Bundamu
33
Dua Teman David
34
Kekerasan di Depan David
35
Aku Menyukai Kalian
36
Mengantar David
37
Full Service
38
Dua Ronde
39
Pamer?
40
Mobil Sport
41
Menjelang Perayaan ULTAH Buyut
42
Tangkapan Besar
43
Keluarga Harus Bersama
44
Semakin Akur
45
Tidak Berperasaan?
46
Tersangka
47
Interogasi
48
Kerinduan
49
Bebas
50
Perdebatan
51
Ayo Bersama
52
Paniknya Seorang Megan
53
Ke Bali
54
Hal Mudah Pun, Tak Bisa
55
Gelang Nama.
56
Bunda
57
Salah Jalur
58
Tugas Baru Riko
59
Rumah Lama
60
Marah!
61
Setelah 10 Tahun Pergi
62
Kedatangan Yana
63
Pregnant, Ini gawat ayah!
64
Pelukan Pertama
65
Buka Hati Untuknya
66
David yang Penurut
67
Rindu Sepanjang Hari
68
Diabaikan
69
Kejutan
70
Harinya Erick Erlangga
71
Baby M Baby M Baby M!
72
Menasihati Baby M
73
Baby M atau Bunda..
74
Baby M Lahir
75
Banyak Cinta Katanya
76
Jangan Sakit Lagi, Bunda
77
Masih Bisa Dibicarakan
78
Mervi
79
Terusir
80
Puasa Bicara
81
Sorry Bunda
82
Aku Meniru Bunda
83
Nomor Dirahasiakan
84
Tiada, baru terasa.
85
Hot Duda & Perawan Tua
86
Setelah Tiga Hari Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!