Ayo, Menikah

"Agh!"

Reyhan kembali berhasil mendapatkan Megan. bahkan sebelum wanita itu berhasil membuka pintu.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu lolos, sayang?"

Dengan kasar Reyhan menyeret Megan dan dalam sekejap tubuh keduanya jatuh bersama di atas sofa.

"Tolong, jangan begini. Reyhan, lep-"

Reyhan menggeleng. Ia bekap mulut Megan dengan satu tangan, dan tangan yang lain menahan dua tangan wanita itu.

"Sssuuuut, jangan ribut, sayang. Ikuti saja apa mauku, okey?"

Megan menggeleng dan terus meronta dan itu membuat gairah Rayhan semakin terpancing untuk menuntaskan apa maunya. Namun ia akan membujuk Megan dengan perlahan dan wanita itu harus melakukannya dengan rasa cinta terhadap dirinya.

Megan hanya bisa berharap dalam hati, dokter Morgan segera tiba untuk menyeret pria ini ke penjara.

Pintu terbuka dan tidak membuat Reyhan menyadarinya dengan fokus penuh ia sedang menekan tubuh Megan sambil terus mengatakan berbagai hal.

"Biad*ab! Rupanya kau di sini, ya..."

Bugh!

Morgan menarik kerah baju pria itu menyerang dengan buah gennggaman.

Reyhan tampak mengusap bibirnya yang terasa menghangat.

Tak ingin memberi cela untuk pria ini kabur, Morgan membuat Reyhan jatuh tak sadarkan diri tanpa sempat melawan.

Bruk, pingsan.

"Nona Megan,"

"Pak Dokter,"

Didorong dengan rasa khawatir, Morgan segera menghampiri Megan yang kini sedang meringkuk di atas sofa.

Dipeluknya wanita itu dan mengatakan bahwa tidak perlu takut lagi. "Aku disini, jangan takut."

Megan tidak bereaksi apa-apa. Dia hanya diam dengan wajah datar, merasakan debaran jantungnya yang masih berdetak kencang karena rasa takut. Membiarkan pria itu memeluknya, hangat, hangat dan sangat menenangkan sekali.

Tak lama polisi tiba dan Morgan mengendur pelukannya.

"Silahkan bawa orang ini, Pak. Kami akan menyusul sebagai korban dan saksi." pinta Morgan. Ia tahu, bahwa Megan terus menatap Reyhan yang sedang pingsan, entah apa yang perawan tua, oh tidak, wanita kacau ini pikirkan tentang Reyhan.

Petugas polisi pun berterima kasih dan pergi membawa Reyhan.

"Kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?" Morgan kembali memberi perhatian.

Megan menggeleng. Kedua tangannya sibuk membaiki tampilan kemejanya yang terbuka.

"Kau sangat hebat, Nona Megan. Kau bahkan tidak menangis."

Morgan berusaha menghibur hati Megan agar ketakutannya segera pergi.

"Sejak kapan Dokter suka memuji? Bukankah Dokter masih marah padaku?"

"Aku tidak marah untuk saat ini karena kondisi Nona Megan membuatku merasa iba."

Megan mengangguk seraya menghembuskan napas legah.

"Dok, terima kasih. Anda datang tepat waktu."

Morgan tersenyum, dan ini untuk pertama kalinya Megan melihat senyum sang dokter. Cukup mendebarkan membuat Megan sejenak melupakan rasa tak sukanya.

"Baiklah, ayo tinggalkan tempat ini."

"Dok, bisa tunggu sebentar? Aku akan mandi dan ganti pakaian."

"Tentu saja, Nona Megan."

Keduanya kini masuk ke dalam lift. Saling diam.

Tiba di basmen, Morgan lagi-lagi menunjukkan perhatiannya. "Ayo ikut mobilku saja. Menyetir sendiri berbahaya saat hati sedang kacau."

Megan mengangguk setelah berpikir sejenak, tak ada salahnya menghargai niat baik seseorang.

Baik Megan maupun Morgan, keduanya merasa sama-sama canggung saat ini. Entah mengapa.

"Apa mungkin Kau merasa sedih, nona Megan?"

"Ya?"

Memangnya mengapa aku bersedih?

"Mungkinkah Kau sedih karena kekasihmu berubah jadi tersangka?" Morgan yang biasa tidak terlalu banyak bicara, ebtah pagi ini ada energi apa yang membuatnya tidak berhenti bertanya. Megan merasa sedikit heran, tapi Morgan sedang mengusir kecanggungan diantara mereka.

"Aku sama sekali tidak sedih." Megan kembali ke mode jutek.

Menyadari ketidaksukaan Megan dengan pertanyaannya, Morgan sengaja terus berkata usil. "Ataukah sudah move on dan telah mendapatkan penggantinya?"

Hah! Pengganti kepalamu! Aku tidak akan menikah!

"Dok, apa Anda merasa senang melihatku dalam keadaan kacau? Aku curiga Pak Dokter sedang menertawaiku dalam hati. iya, kan?"

Kecanggungan benar-benar telah pergi. Megan bahkan berani menatap Pak Dokter dengan wajah kesalnya. Hilang sudah rasa canggung tadi. Sayangnya sang dokter menatap lurus ke jalanan di depannya.

Keduanya mendatangi rumah sakit terlebih dulu sebelum ke kantor polisi.

"Megan, kau sudah datang lagi, sayang?" Nenek menyambut kedatangan cucunya dengan wajah sumringah, apalagi saat melihat dokter Morgan juga datang.

Nenek sama sekali tidak tahu apa yang telah dialami oleh cucu yang selalu ia khawatirkan ini.

Megan duduk di sisi kanan sang Nenek, sementara Morgan berdiri di sisi kiri nyonya tua itu.

"Nek, apa Nenek sudah sehat?"

"Aku lebih sehat jika pulang sayang, nenek ingin beristirahat di kamar nenek saja."

Megan mengangguk pasti beberapa kali. "Iya, kita akan pulang. Aku berjanji akan pulang dan tinggal bersama Nenek." dielusnya tangan keriput sang nenek.

Sungguh nenek merasa legah mendengarnya. Nyonya tua itu menggeser pandangannya menatap Morgan.

"Dokter Morgan, maafkan nenek karena sempat membuatmu bingung atas perjodohan yang tiba-tiba. Nenek sangat malu melihatmu."

Morgan menarik dan menghembuskan napasnya perlahan. "Saya akan menikahi Nona Megan, Nyonya."

Morgan mengatakan itu sambil menatap wajah si perawan tua yang tentu saja sangat terkejut. Lihat saja wajah cantiknya yang terlihat semakin cantik dengan matanya yang melotot.

"Morgan, apa nenek tidak salah dengar?" Senyuman nenek kembali merekah. "Dengar, Megan, Morgan sudah setuju untuk menikahimu, sayang.."

Tak menghiraukan tatapan terkejut sang cucu, nenek tetap tersenyum dan mengambil satu tangan Morgan, membuat kedua tangan itu saling bertumpuh dalam genggamannya.

"Dok, apa kau sedang kehilangan akal?" Megan pun tak peduli betapa bahagianya sang nenek. Ia terus menancapkan sinar laser dari matanya menatap Morgan dengan berani.

Namun, perlahan pandangan tajam itu beralih ketika merasa tangan pria itu menggenggam jemarinya. Nenek merasa semakin bahagia saat menyadari kedua tangan yang baru ia satukan kini saling berpegangan.

Nenek ahirnya melepas tangannya untuk mengelus dada. "Kalau begini Nenek akan cepat sehat."

Apa-apaan ini? Dia sangat mencurigakan. Ada angin apa ini? Megan menarik tangannya.

"Nek, sepertinya kami harus bicara empat mata."

Di ruang rawat Erick. Tempat ini adalah yang teraman dari semua tempat di rumah sakit ini untuk bicara serius.

"Dok, apa maksudmu? Apa kau tuli? Aku bilang tidak ingin menikah!"

Keduanya kini duduk bersebelahan.

"Aku juga tidak ingin menikah. Tapi entah, aku merasa bahwa aku harus menikahimu." dengan datar Morgan menatap. Hanya dialah yang tahu alasannya menikahi Megan.

"Iya, tapi kenapa? Apa Dokter berpikir kita bisa menikah dan hidup bersama?"

"Apa susahnya hidup bersama? Jalani hubungan dengan status menikah." Morgan kembali membuang pandangan.

Megan memikirkan perkataan ini dengan setengah mati.

"Jangan khawatir, kita tidak perlu melahirkan anak seperti yang kau takutkan."

Degh.

Dari mana dokter Morgan mengetahui tentang rahasia ini?

"Jangan kaget begitu. Aku tak sengaja mendengar mantan kekasih kadalmu itu mengatakannya tadi pagi." Morgan tampak santai tapi terdengar serius. "Aku juga tidak berpikir memiliki anak lagi." sambungnya.

Lagi-lagi Megan harus menahan malu di hadapan pria ini.

Ini terasa seperti dia sedang menelanjangiku pelan-pelan. Memalukan.

"Oke, tapi bagaimana kalau aku memberi syarat. Dokter harus setuju jika nekad mengajakku menikah."

"Apa itu?" Morgan menoleh datar. Jika boleh jujur, pikirannya pun terasa sangat kacau.

"Izinkan aku mengirim Erick ke Miami." Megan berucap mantap dengan nada tenang. Kembali ia mengambil kesempatan ini untuk Erick bisa mendapatkan perawatan di rumah sakit yang lebih baik menurutnya.

Entah apa yang dirasakan oleh Morgan, wajahnya tampak kecewa namun ia mengangguk.

.

Sekian dulu, guys...

Jangan lupa dukung Megan Morgan yaaa.🙏

Terpopuler

Comments

Ingka

Ingka

Moga Erik cepet sadar. Kyknya Megan udh sayang sm Erik deh.

2023-01-04

1

Kharina.

Kharina.

Megan curiga 🤣🤣🤣

2022-10-24

0

Kharina.

Kharina.

ternyata Morgan usil juga ya 🤣🤣🤣

2022-10-24

2

lihat semua
Episodes
1 Insiden
2 Dimana Erick?
3 Jangan Mimpi
4 Uluran Tangan
5 Kediaman Nenek
6 Nenek Pingsan
7 Reyhan
8 Jauhi Erick
9 Jadi Salah Lagi?
10 Ayo, Menikah
11 Lelah Menguntit
12 Pernikahan
13 Tante? Panggil Bunda!
14 PERGI DAN PANGGIL AYAHKU!
15 Kesepakatan
16 Ingin Membuangku?
17 Tempat Apa Ini?
18 Mereka Milikku
19 Membuatku Berdebar
20 Wanita Serakah
21 Kau Berkhianat?
22 Genggaman Erat
23 Jangan Menghilang
24 Momen Romantis
25 Ini Masalahmu
26 Megan Sayang
27 Pelan - pelan, Dok
28 Waw! Bukan Main
29 Kami Bukan Anak-anak
30 Sayang?
31 Tergila-gila Padaku...
32 Jaga Bundamu
33 Dua Teman David
34 Kekerasan di Depan David
35 Aku Menyukai Kalian
36 Mengantar David
37 Full Service
38 Dua Ronde
39 Pamer?
40 Mobil Sport
41 Menjelang Perayaan ULTAH Buyut
42 Tangkapan Besar
43 Keluarga Harus Bersama
44 Semakin Akur
45 Tidak Berperasaan?
46 Tersangka
47 Interogasi
48 Kerinduan
49 Bebas
50 Perdebatan
51 Ayo Bersama
52 Paniknya Seorang Megan
53 Ke Bali
54 Hal Mudah Pun, Tak Bisa
55 Gelang Nama.
56 Bunda
57 Salah Jalur
58 Tugas Baru Riko
59 Rumah Lama
60 Marah!
61 Setelah 10 Tahun Pergi
62 Kedatangan Yana
63 Pregnant, Ini gawat ayah!
64 Pelukan Pertama
65 Buka Hati Untuknya
66 David yang Penurut
67 Rindu Sepanjang Hari
68 Diabaikan
69 Kejutan
70 Harinya Erick Erlangga
71 Baby M Baby M Baby M!
72 Menasihati Baby M
73 Baby M atau Bunda..
74 Baby M Lahir
75 Banyak Cinta Katanya
76 Jangan Sakit Lagi, Bunda
77 Masih Bisa Dibicarakan
78 Mervi
79 Terusir
80 Puasa Bicara
81 Sorry Bunda
82 Aku Meniru Bunda
83 Nomor Dirahasiakan
84 Tiada, baru terasa.
85 Hot Duda & Perawan Tua
86 Setelah Tiga Hari Pernikahan
Episodes

Updated 86 Episodes

1
Insiden
2
Dimana Erick?
3
Jangan Mimpi
4
Uluran Tangan
5
Kediaman Nenek
6
Nenek Pingsan
7
Reyhan
8
Jauhi Erick
9
Jadi Salah Lagi?
10
Ayo, Menikah
11
Lelah Menguntit
12
Pernikahan
13
Tante? Panggil Bunda!
14
PERGI DAN PANGGIL AYAHKU!
15
Kesepakatan
16
Ingin Membuangku?
17
Tempat Apa Ini?
18
Mereka Milikku
19
Membuatku Berdebar
20
Wanita Serakah
21
Kau Berkhianat?
22
Genggaman Erat
23
Jangan Menghilang
24
Momen Romantis
25
Ini Masalahmu
26
Megan Sayang
27
Pelan - pelan, Dok
28
Waw! Bukan Main
29
Kami Bukan Anak-anak
30
Sayang?
31
Tergila-gila Padaku...
32
Jaga Bundamu
33
Dua Teman David
34
Kekerasan di Depan David
35
Aku Menyukai Kalian
36
Mengantar David
37
Full Service
38
Dua Ronde
39
Pamer?
40
Mobil Sport
41
Menjelang Perayaan ULTAH Buyut
42
Tangkapan Besar
43
Keluarga Harus Bersama
44
Semakin Akur
45
Tidak Berperasaan?
46
Tersangka
47
Interogasi
48
Kerinduan
49
Bebas
50
Perdebatan
51
Ayo Bersama
52
Paniknya Seorang Megan
53
Ke Bali
54
Hal Mudah Pun, Tak Bisa
55
Gelang Nama.
56
Bunda
57
Salah Jalur
58
Tugas Baru Riko
59
Rumah Lama
60
Marah!
61
Setelah 10 Tahun Pergi
62
Kedatangan Yana
63
Pregnant, Ini gawat ayah!
64
Pelukan Pertama
65
Buka Hati Untuknya
66
David yang Penurut
67
Rindu Sepanjang Hari
68
Diabaikan
69
Kejutan
70
Harinya Erick Erlangga
71
Baby M Baby M Baby M!
72
Menasihati Baby M
73
Baby M atau Bunda..
74
Baby M Lahir
75
Banyak Cinta Katanya
76
Jangan Sakit Lagi, Bunda
77
Masih Bisa Dibicarakan
78
Mervi
79
Terusir
80
Puasa Bicara
81
Sorry Bunda
82
Aku Meniru Bunda
83
Nomor Dirahasiakan
84
Tiada, baru terasa.
85
Hot Duda & Perawan Tua
86
Setelah Tiga Hari Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!