Rumah sakit Media Tama. Kota C.
"Baiklah saya akan memindahkan pasien ini ke ruang rawat agar lebih aman! " Seru seorang perawat ke arah wanita berambut hitam panjang terurai . Lengkap dengan tas branded yang melingkar di tangan kanannya.
"Saya tidak mau jika pemuda ini bangun sebelum rencana saya terselesaikan! " Ucap wanita itu kepada perawat sembari menyodorkan segepok amplop coklat.
"Hmm... Tentu saya akan menuruti perintah nyonya! " Balas perawat itu dengan senyum licik ke arah wanita tersebut, sembari menerima amplop coklat yang pastinya berisikan uang tersebut.
"Sebentar lagi Rafael Than sayang? Kamu akan jadi penguasa harta kekayaan keluarga Alsan! " Bisik wanita itu ke telinga kanan pemuda bernama Rafael tersebut dengan sorot mata penuh rahasia yang ia simpan.
.............................................................
"Sus, tolong bantu saya bawa adik saya! " Teriak Suga ke suster yang ada di depanya.
"Kenapa dengan adik mas ini? " Tanya suster tersebut sembari membantu Suga memapah Farhan yang nampak tak sadarkan diri, dan menaruhnya di kursi roda.
"Tiba-tiba saja dia pingsan! " Balas Suga dengan nada panik berusaha berlari kecil bersama suster tersebut dan membawa Farhan ke ruang instalasi.
"Mas tunggu sebentar! Biar kami yang tangani! "
Salah satu perawat melarang Suga untuk ikut masuk kedalam rungan itu.Suga hanya mengangguk kecil tanpa lawanan, ia tahu pasti pihak rumah sakit akan berusaha semaksimal mungkin.Tak lama pintu ruang instalasi tertutup dan menyisakan Suga di luar sendirian.
Di rumah yang megah nan besar seorang Alena duduk terdiam menunggu kabar dari sang kakak, tiba-tiba entah kenapa setelah menatap layar ponselnya, gadis belia itu berlari ke dalam rumahnya, meninggalkan para pelayan yang bermain bersamanya.
"Maaaaaa...Kak Arsyan maa.! " Teriakan Alena menggema di dalam rumah mewah tersebut, memanggil Alsan yang masih bercengkrama dengan kakak tertuanya. Alena dibuat terkejut, oleh pesan yang barusan ia Terima dari kakaknya yaitu Suga, yang memberitahu keadaan kakak yang paling ia cintai masuk rumah sakit bahkan sampai tak sadarkan diri.
"Kenapa kakak mu? " Alsan terbangun spontan mendengar Alena putri semata wayangnya menyebut nama Arsyan.
"Tadi Alena lihat kak Arsyan di bawa kak Suga, katanya mau ke rumah sakit, tapi tadi kak Arsyan dalam keadaan sadar ma. Tapi, sekarang kata kak Suga, kakak Arsyan tak sadarkan diri, gimana ma hik.. Hikss... Hikss! "
Penjelasan sang putri sembari menangis tanpa henti membuat Alena bingung .Di sisi lain, dia harus menyelesaikan rencananya dengan Arthan. Tetapi, di sisi lain dirinya harus menjadi ibu buat dua anak nya yang lain.
"Tenang sayang, baiklah ayo kita pergi jenguk kakak mu! " Ucap Alena sembari menatap lembut kedua bola mata putrinya yang masih berkaca-kaca.
Alena mengangguk kecil, dan kembali mengeratkan pelukannya ke tubuh Alsan.
"Ck.. Drama! " Gumam Arthan yang melihat kejadian itu dari kejauhan.
"Yaudah gih siap-siap, mama mau ngomong dulu sama kak Arthan, siapa tahu dia mau ikut. " Ucap Alsan sembari mengusap rambut Alena yang berantakan. Alena hanya mengangguk mendengar perintah sang mama, ia berlari kecil ke kamarnya untuk berganti pakaian dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit, tempat sang kakak di rawat.
"Arthan, mau ikut sayang? " Ucap Alsan menghampiri Arthan yang masih terduduk di sofa sembari bermain ponsel di tangannya.
"Gak deh, mama aja sama Alen, biar Arthan di sini jaga rumah! " Balas Arthan dengan suara lugasnya. Membuat Alsan hanya menggelengkan kepalanya dan perlahan berjalan pergi meninggalkan sang putra sulungnya itu.
"Sampai kapan kamu harus jadi musuh adik kamu Arthan? " Gumam Alsan sepanjang perjalanan menjauhi Arthan.
Arthan dan Arsyan memang terlahir dengan jarak yang cukup jauh, kebencian Arthan kepada sang adik di mulai ketika sang adik di nobatkan sebagai pewaris utama keluarga Alsan, yang seharusnya kepercayaan itu jatuh kepada dirinya sebagai putra tertua. Namun,Arthan bagi Alsan hanya pintar dalam kelicikan.Sedangkan, Arsyan yang memiliki kepintaran di atas kakak-kakaknya, di anggap mampu meneruskan bisnis keluarga yang telah lama mereka jalani.
"Erika! " Suara pria dengan nada tinggi terdengar tiba-tiba dari ruangan tersebut, memanggil nama Erika, ajudan wanita keluarga Alsan.
"Iy.. Iyyaa tuan! " Jawab Erika yang sudah berada tepat di depan pria parubaya tersebut. Tanpa basa-basi, tanpa menegur Arthan yang terduduk di depannya pria parubaya tersebut berlari kecil meninggalkan rumah dan bergegas masuk ke dalam mobil yang terparkir rapi di depan pintu rumah besar itu.
"Erika! Apa itu tadi papa? " Tegur Arthan ke arah Erika yang berjalan kembali ke arah Kantornya.
"Iya tuan, tadi tuan besar datang bertanya tentang tuan muda Arsyan! " Jawab Erika yang gugup, ia tahu bahwa majikan mudanya itu paling sensitif di banding yang lain.
"Sepenting itukah Arsyan bagi papa? Begitu saja pergi, meninggalkan anak sulungnya yang ada di depanya ini? " Gumam Arthan sembari membuang mukanya yang semula menatap Erika, kini tatapan pemuda itu kembali fokus ke ponselnya. Memainkan beberapa game untuk menghilangkan rasa bosanya.
Terimakasih semua buat pembaca, pengikut dan yang sudah komen&like 😆❤❤❤ semoga rezeki kalian lancar. Maaf juga bila beberapa kata mungkin kurang berkesan&beberapa diksi mungkin kagak pas maaf ya para pembaca next eps, bakal di perbaiki ❤❤🌈🌈🌈
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
lamps 2
jangan lupa mampir❤
2022-07-11
1