"Awas aja tuh mulut, minta gue tabok ntar. "
"Bos..! tuh Velisa nyamperin kesini, Buruan bersihin tuh kursi deket lu. "
Faiz yang melihat Velisa berjalan menuju arah mereka, Bergegas menyuruh Akbar membersihkan tempat duduk yang ada di sampingnya, Karena mereka tahu bahwa Velisa akan ngomel kagak jelas jika duduk di tempat duduk yang kotor , Bahkan akan mengamuk jika ada sisa makanan yang jatuh di tempat biasa yang ia duduki.
"Mampus...! Ngapain tuh anak setiap jam segini selalu bolos kesini, gak di bogem papanya apa."
Ucap Lintang sembari menepuk jidad nya sendiri, ia tak habis fikir walaupun papa Velisa seorang pemilik sekolah dan menjadi kepala sekolah, Velisa tak ada takut-takutnya untuk bolos pelajaran.
"Dasar mulut lemes...! "
Velisa yang berjalan menuju arah Geng Devil terus ngedumel sendirian sambil menendang nendang kan kakinya.
"Ck.Halah pasti jam nya ibu Gres makanya dia kabur, lo tau sendiri kan tuh anak gak suka sama ibu Gres. " Ucap Akbar sambil memakan bakso sapi yang ia pesan.
"Hallo...! bu bos cantik. "
Tegur Faiz yang memang sangat ahli dalam mencairkan suasana yang sedang panas.
Velisa hanya terdiam sambil menghela nafas emosinya.
"Gak makan Ve..nih makan punya gue aja ,gue dah kenyang? " Tanya Akbar sembari menyodorkan mie sisa yang ia makan kepada Velisa.
"Gak...! Masih kenyang "
Dengan nada sedikit menahan emosi Velisa menolak pemberian dari Akbar. Bukan karena jijik , walaupun Velisa suka kebersihan, akan tetapi ia tak akan menolak pemberian dari temannya. Apalagi teman segeng nya entah itu makanan yang habis mereka makan,atau minuman yang habis mereka minum, karena menurut Velisa itu gak menjijikan tapi itu kekeluargaan.
"Kenapa muka lo ketus gitu, cerita oi . "
Akbar menepuk pundak Velisa yang sedari tadi hanya memonyongkan bibirnya sambil menghela nafas tanda ia sedang emosi.
"Cerita dong bu bos...! "
Lintang manusia itu paling kepo,bukan dia namanya kalau gak kepo ,apalagi menyangkut Velisa ,yang saat ini muka Gadis kecil itu sudah di tekuk seperti cucian basah di sertai gembungan pipi yang merupakan ciri khasnya saat marah.
"Gue di usir sama si Gres. "
Perkataan Velisa membuat garpu yang di pegang Faiz terjatuh.
"Kutukupret.. Lo di usir sama selingkuhan papa lo. "
Dengan santainya Faiz melontarkan perkataan yang hampir membuat Velisa naik daun koreksi naik darah maksudnya.
"Jaga bicara lo, Sebelum mereka selingkuh dah gue bacok tuh Gres. "
Plak...!
"Ih...dasar mulut lemes. "
Lintang menampol bagian kepala Faiz yang dari tadi ngomong emang gak pernah di filter dulu, asal keluar aja dari tuh mulut.
"Lanjut gak nih...."
Velisa yang hampir bete akhrinya bercerita tentang apa yang dia alami di kelas, dan kenapa dia bisa sampai ke KBS saat pelajaran Gres.
"Noh bocil lu Bar yang buat bu bos kita di usir. " Ucap Faiz sembari menunjuk ke arah Akbar yang sibuk bermain game di ponsel nya.
"Ya.. maafin lah Vel, otak dia kan kagak penuh dan ngomong nya juga suka ngada-ngadi. " Ucap Akbar sambil memainkan handphonenya tanpa menatap Velisa sedikitpun, ia tahu jika Velisa moodnya sedang kalau, gak bakal ada yang berani ganggu dia.
"Untung pacar lu , kalau kagak dah gue bogem kalik Bar. " sambil mengepalkan tanyanya ke arah Akbar,
Di KBS saat itu hanya ada Velisa, Akbar, Faiz dan Lintang mereka sering menghabiskan waktu bersama saat jam-jam tertentu, sembari bercengkrama satu sama lain. Ya namanya juga geng pasti ada markasnya.
"Ehh... Anak baru....!"
"Dah males bahas dia. "
belum selesai Faiz ngomong Tentang Bima yang ada di kelas Velisa, Velisa memotong apa yang hendak Faiz tanyakan, Karena bagi Velisa itu malah membuat dia naik darah.
"Sensi amat neng, jadi orang "Ucap sosok pria dari belakang Velisa sembari mengacak-ngacak rambut Velisa.
"Ihh ntar rusak... "
Jerit Velisa sambil berusaha menoleh ke arah pria tersebut.
Ketika menolehkan kepalanya ke belakang ternyata yang datang adalah Bima dan Freya. Membuat Velisa kaget.
"Ngapain Frey, tumben gak sama Hellen. "
Ucap Akbar yang heran tentang Freya yang baru kali ini mau datang sendiri tanpa di temani Hellen ke KBS, ya walaupun KBS markas geng Angel dan Devil, tetapi jarang sekali Freya datang tanpa seorang Hellen, karena Akbar tahu Hellen sama Freya kayak prangko yang tak bisa di pisahkan, dimana ada Hellen di situ pasti ada Freya.
"Takut di marahin sama tuh... "
Sambil memajukan wajahnya ke arah Velisa.
"Gak gue gak marah. " ketus Velisa
"Oh ya bawa sapa tuh ,gebetan baru. " Ucap Lintang dengan nada keponya.
"Ni cowok? "ucap Freya
Sambil menunjuk ke arah Bima .
" Murid baru di kelas gue, Namanya Bimo. "
Velisa menjawab pertanyaan dari Lintang yang seharusnya di tujukan kepada Freya.
"Bima Vel...!"Cetus Bima sambil mengoreksi namanya yang salah di ucapkan oleh Velisa, teman-teman Velisa tak heran, emang pada dasarnya Velisa suka mengubah nama orang se enak jidadnya.
" Hm.. !nama kagak penting yang penting gede. "
Cetus Velisa sembari mengangkat garbu yang ada di tangannya.
"Ck.Paaan Vel yang gede, punya gue lebih gede. "sahut Faiz yang
" Mata lo... !yang gue maksud nyalinya oon. "
Velisa yang memang selalu Ceplas-ceplos dalam berbicara sering membuat teman se geng nya merasa ambigu tentang apa yang Velisa omongkan. Apalagi kalau sampai Faiz dengar pasti otak pria berwajah bebelac bermuka buaya itu langsung travelling entah kemana.
"Ngomong dong Vel. "
Sontak perkataan Velisa tadi membuat geng Akbar Dan Lintang menahan tawa
"Nama gue... "
"Akbar kan, kamu Faiz dan kamu Lintang. "
semua hanya menngangguk
.
Belum sempat mereka menyebutkan nama, Bima sudah tahu nama-nama mereka bahkan umur mereka yang masing-masing beda 2 bulan.
"Dan ada satu lagi yaitu Niko, dan kalian semua tergabung dalam geng Devil. "
perkataan Bima Membuat semua terdiam suasana saat itu dari yang rame berubah menjadi sunyi dalam sekejap.
"Kok lo tahu, kan kita belum cerita apa-apa.hah?"Velisa menegur Bima sambil berdiri bertatapan muka kini muka mereka saling bertatapan.
Vampir tampan itu tak ada rasa takut sama sekali menghadapi Velisa, ia tak kehabisan alasan untuk menjawab pertanyaan dari gadis mungil tapi tomboy yang saat ini berdiri di depannya tersebut. Ibarat kalau gak ada perjanjian dengan Valentina pasti nih bocah udah di gigit sama si Bima.
"Oh gue baca di mading bk. "
Dengan wajah sombongnya, Bima menjawab pertanyaan Velisa tanpa gugup sekalipun.
Semua masih terdiam di sertai rasa heran yang amat tinggi di benak mereka masing-masing.
"Dah bocil gue pergi dulu.kenalannya lanjukan nanti aja. "Sambil mengusap kepala Velisa, Bima pergi meninggalkan Velisa dan yang lainya. Membuat jantung Velisa berdegup kencang.
Velisa masih terdiam sambil memegangi dadanya yang berdegup saat Bima mengelus ujung kepalanya.
"Baru gitu aja Baper. "
Ucap Bima dari kejauhan yang ternyata bisa mendengar dekat jantung Velisa.
"Anjirr...! tuh orang hebat banget. "
Celoteh Faiz yang heran dengan Bima.
"Ciee baper... "
Akbar yang sedari tadi melihat tingkah Bima beralih pandangan ke arah Velisa yang masih terdiam memegangi dadanya yang tersus berdegup tak beraturan.
"Paan sih. "
Ucap Velisa tersadar dari lamunannya dan melepaskan tangannya yang sedari tadi memegangi dadanya.
"Yuk cabut Frey,males lama-lama disini. "
Ucap Velisa sambil menarik tangan sahabatnya tersebut, meninggalkan Akbar dan teman-temannya yang lain.
"Buset bos kalau baper sensi amat. " Celoteh Faiz sembari memakan kuaci di depanya.
"Dah yuk cabut, bentar lagi jam pulang sekolah"
Ajak Akbar , Sambil berusaha tidak berfikiran negatif tentang Bima.
Walaupun tidak bisa di pungkiri kalau si Akbar tetap penasaran darimana Bima bisa tahu semuanya, padahal mereka belum juga ngomong, tapi ia singkirkan persaan itu karena ia tak mahu salah sangka kepada murid baru tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Rama Dwi Prasetyo
kasih ingatan lah biar paham gimana sih
2022-07-19
2
MALES NGETIK
farhan mudah emosian dah lah
2022-03-31
1
lamps 2
mampir ya kakak semua makasih
2022-03-31
1