Setelah mengantar kepulangan Arumi di bandara, Kirana duduk kembali di sebuah kursi tunggu untuk merapikan dirinya setelah meneteskan air mata saat perpisahan dengan Arumi, Hani memeluknya untuk menguatkan hatinya.
"Sudah Beb, semuanya akan baik-baik saja, ada aku disini" ucap Hani.
"Iya Han, makasih ya, aku hanya merasa sedih saja saat bekerja jauh dari ibu Arumi, terasa seperti kehilangan sosok ibu"
"Iya sudah, anggap saja aku seperti ibu_, eh gak jadi, enak saja, tua banget aku kalau kamu anggap ibumu" ucap Hani konyol dan membuat Kirana tertawa seketika, begitulah kedua wanita ini, selalu bisa saling menghibur dengan bercandaan yang tidak di sengaja.
"Sudah ketawanya, puaskan sekarang kiran, dasar kamu, aku lapar ni, cari makan yok, dimana gitu"
"Iya ibu, anakmu akan mencarikan makanan lezat malam ini, hahaha" sahut Kirana sambil beranjak dari duduknya dan tertawa melihat ekspresi aneh dari sahabatnya.
"Kiran tunggu, dasar anak durhaka kau!!" Teriak Hana segera berlari mengikuti langkah cepat Kirana tanpa perduli dengan banyaknya orang yang melihat kelakuannya.
Kirana sudah duduk di dalam mobil dengan santai, sementara Hani masih terengah-engah menata nafasnya kembali.
"Dasar kau ini Kiran, sudah tau kaki kamu itu panjang banget, jalannya pelan dikit kenapa sih, aku jadi engap ini nyusul kamu" omel Hani kesal karena sudah maraton di malam hari.
"Masuk, atur nafasnya di dalam saja, biar aku yang nyetir kali ini, bonus buat ibu Hani dari Kiran Anaknya" ucap Kirana lalu terkekeh saat tatapan tajam dari Hani dilempar padanya.
"Sekali lagi Panggil aku ibu, aku bakalan pergi nyusul Bu Arumi, biar kamu sendirian di negeri orang" ancam Hani dengan muka jengkelnya.
"Ih, ngancem, dasar, mau makan dimana nih kita, cepet cari info Restoran yang halal, aku juga sudah lapar banget ini Ib_" suara Kirana tertahan saat Hani sudah melototkan matanya,
"Berani panggil ibu lagi, Hem?"
sontak Kirana terkekeh mendengar ancaman Hani, setelah itu Hani berhasil menghajar Kirana hingga akhirnya terdiam.
Di tengah perbincangan keduanya di dalam mobil menuju Restoran yang di maksut, tiba-tiba saja
Ciit
Dug
"Adoh, Kirana!"
Teriak Hani saat kepalanya sudah menyapa dasboard mobil karena Rem mendadak yang dilakukan oleh sahabatnya.
"Hehe, sorry Han, kamu gak apa-apa kan?" Tanya Kirana sambil hati-hati memeriksa kepala Hani yang sudah benjol karena kelakuannya.
"Dasar kamu Kiran, keluar!, Biar aku yang nyetir, bisa-bisa aku bonyok duluan sebelum sampai Restoran" teriak Hani yang seketika langsung emosi dan berjalan keluar untuk menggantikan posisi Kirana.
"Kita mau kemana ini?, Kamu yang baca petunjuknya" ucap Hani dengan serius, sementara Kirana menahan tawanya.
"Ke Restoran yang kita tuju Han"
"Tau, terus kita mau kemana, maju apa belok Kiran, jangan buat emosi lagi ni, perutku makin lapar" ucap Hani.
"Tinggal mundur aja dikit, lalu belok kiri, sampai deh"
"What!, Jadi kita dah sampai dan kebablasan?" Jawab Hani terkejut.
"Iya, memangnya ngapain tadi aku nginjak rem mendadak gitu" ucap Kirana yang sudah tidak kuat menahan tawanya.
"Ish, kau ini, kenapa gak bilang dari tadi, tau gitu ngapain aku gantiin nyetir gini, dasar!"
"Mangkanya jangan emosi sayang, jadinya gak konek kan?"
"Ih, ngapain sih manggil sayang, geli kuping ku dengernya Kiran"
"Hadeh bawel, kamu juga kadang panggil aku Beby, ih lebih bikin geli itu, aku panggil ibu lagi lo, mau?"
"Hani Beb, namaku Hani, susah ya manggil Hani, ribet banget kamu itu, niat sekali kamu ngerjain aku malam ini, aku sumpahin ketemu orang yang paling menyebalkan, tau rasa ya"
Kirana tertawa sambil berjalan masuk ke Restoran yang berlogo Halal untuk menikmati makan malamnya, gestur seorang model memang tidak bisa di sembunyikan, sesederhana apapun penampilan Kirana akan selalu mengundang perhatian.
Begitu juga dengan Hani yang tubuhnya lebih mungil dari Kirana, terlihat energik dengan senyuman manisnya ke semua orang, merupakan nilai lebih yang membuat daya tariknya sama kuatnya dengan sang model di sampingnya.
Sejenak setelah mereka duduk dan memilih menu yang ada, datang pelayan wanita dan menanyakan menu yang mereka pilih, saat sang pelayan bertanya dengan bahasa Indonesia, keduanya langsung terkejut dan tersenyum.
"Wow, jadi anda juga bisa berbahasa Indonesia?" Tanya Kirana senang.
"Iya nona, tapi masih agak kaku, pelayan disini banyak yang menguasai bahasa Indonesia, bahkan ada beberapa yang lahir disana"
"What!, Luar biasa, aku akan Favoritkan tempat ini Kirana, bagaimana pendapatmu?" Ucap Hani
"Tentu saja, aku sangat menyukai tempat ini dan menu-menu makanan yang ada" jawab Kirana.
"Terimakasih Nona-nona Cantik, saya akan segera menyiapkan pesanan anda, hati-hati disini banyak yang terpesona dengan kecantikan kalian" ucap sang pelayan wanita dengan senyuman mengembang pergi meninggalkan mereka berdua.
"Benarkah?" Tanya Kirana yang kemudian menatap sekitar dan mendapat beberapa kedipan mata dan lambaian tangan dari beberapa pria yang sedang menikmati pesona kecantikan Kirana.
"Sudah biasa Beb, gak usah bingung gitu, kau itu selalu tidak sadar dengan Semua kelebihan mu" ucap Hani yang juga tersenyum saat beberapa laki-laki menyapanya.
"Kadang aku bingung Han, ini kelebihan apa cobaan ya, susah membedakannya, takut sendiri kalau aku ini jadi bahan khayalan nafsu mereka, menji*jikkan!"
"Itu urusan merekalah, yang penting niat kita baik, mana ada kamu pakek pakaian seksi, sejauh mataku memandang, kamu itu lebih suka pakai pakaian kedodoran gitu, tapi anehnya makin kelihatan modis ya saat kamu pakek, coba aku yang pakek, ilang deh aku, tenggelam masuk ke bajunya"
Keduanya langsung tertawa bareng saat membayangkan Hani dengan Tubuh mungilnya memakai pakaian Kirana yang longgarnya minta ampun.
Saatnya menikmati makanan yang dipesan, dengan berdoa sejenak keduanya segera meng eksekusi semua makanan yang ada di atas meja, banyak mata yang memandang heran namun juga takjub saat keduanya beralih menggunakan jari jemarinya yang lentik untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Makan dengan tangan memang selalu nikmat ya Beb?"
"Tentu saja, kan memang dianjurkan banget, banyak nikmat dan manfaat luar biasa disana" sahut Kirana.
"Apalagi ditambah suapan tangan dari sang kekasih, pasti nyes"
"Mau kamu disuapin es balok?"
"Ih, kok es balok?
"Itu tadi nyes, apaan coba?"
"Ih, dasar, kamu itu model papan atas tapi ilmu soal percintaan Nol" ucap Hani
"Kayak kamu sendiri nggak"
"Eh enak aja, biar jomblo gini aku masih mengikuti trend percintaan abad ini ya"
"Buktinya mana, tetep aku saja kan yang kamu peluk tiap malam, apalagi kalau ada masalah, bawaannya nggelendot di bahu aku terus kayak ibu hamil ngidam gak keturutan"
"Kiran!!, Apaan sih, helo.. apa kabar kamu yang lebih ekstrim dari aku, makan masih sering minta aku suapin, mandi kadang minta aku temenin, pikiran kalut minta di manja menggosok punggung dan kepala segala, untung aku bisa ngejelasin itu semua ke para wartawan, kalau enggak kita sudah dikira pasangan gila, tau nggak?!"
Seketika Kirana tertawa kembali dan iseng menoel pipi sahabatnya. Sontak Hani langsung menampel dengan sengit sebelum banyak pikiran orang yang melihatnya traveling kemana-mana.
Kirana tertawa melihat ekspresi Hani yang sudah memanyunkan mulutnya dan keduanya segera makan dengan tenang tanpa bersuara mengisi perutnya yang sudah kelaparan dari tadi.
Keduanya segera membersihkan tangan dan bersiap untuk kembali pulang setelah makan malam sukses dihabiskan, setelah membayar semua makannya, para pelayan memberikan senyuman melepaskan kepergian keduanya
"Datang lagi ya nona, kami sangat suka dengan kedatangan anda, kalian pasangan yang sangat lucu dan keren"
"Ha!, Apa?, Maksudnya?!" Ucap Hani yang langsung membelalakkan matanya terkejut.
"Maksud saya pasangan sahabat nona, maaf"
"Oh, syukurlah" ucap Hani menormalkan wajahnya lega, sambil mengelus dadanya, Kirana tertawa melihat apa yang dilakukan sahabatnya.
"Okey, kita pergi dulu, makasih semuanya" ucap Kirana sambil tersenyum dan melambaikan tangan ke beberapa pelayan yang ada di sana.
Kirana berjalan Sambil menggoda Hani dengan berusaha menggenggam jari jemarinya, dengan sengit Hani melemparkan tangan Kirana yang gerayangan menyentuh tangannya, hingga keduanya saling dorong di tengah suara tawa Kirana, lalu kemudian..
BRUG
Kirana menabrak seseorang dan seketika meminta maaf sambil menundukkan wajahnya tanpa melihat siapa orang yang sudah di tabrak nya, sementara Hani membelalakkan matanya terkejut melihat sosok laki-laki yang ada di depannya, tangannya segera menarik-narik tangan Kirana.
"Kirana?"
Kirana terkejut ketika namanya di sebut oleh seseorang yang suaranya seperti dia kenal, perlahan dirinya mengangkat kepalanya dan kini menatap seorang laki-laki tepat di depannya.
DEG
Dunia terasa berhenti berputar, kisah masa lalu seakan hadir kembali, sebuah janji yang pernah dia dengar seakan merobek hatinya, entah apa yang kini bisa dirasakan oleh Kirana, yang dia tau dirinya semakin terluka melihat sosok laki-laki yang pernah berjanji akan kembali padanya, hingga kemudian hampir tiga tahun menghilang tanpa kabar.
"Maaf, saya tidak sengaja menabrak anda, permisi" ucap Kirana yang segera mengalihkan pandangannya dan berlalu begitu saja seolah tidak pernah mengenal laki-laki yang masih shock menatap dirinya.
Sampai jarak keduanya sudah lumayan jauh, laki-laki itu disadarkan oleh sahabatnya.
"Ada apa Faro, kau mengenalnya?"
Alfaro segera tersadar dari kebingungannya dan berlari berusaha mengejar Kirana yang sudah berada di dalam mobilnya.
"Kirana, tunggu, Kiran!!" Teriak Alfaro sambil berlari mengetuk pintu mobil Kirana yang tetap berjalan dan tidak memperdulikan dirinya.
**
Penasaran..sabar..tunggu di episode selanjutnya gaes..
Jangan lupa menangkan hadiah menarik dari Author dengan memberikan
VOTE, HADIAH, KOMEN dan LIKE sebanyak-banyaknya, dan pemenang akan di umumkan di episode 60.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Wahyu Suroso
dasar laki2 gak tau diri suka coblos sana sini .gak rela kalau kiran dapat bekas kayak faro
2025-01-02
0
nobita
tuh kan Faro kamu sih meninggalkan Kirana demi wanita lain....
2025-02-16
0
Runik Runma
dasar laki egois
2024-08-24
2