05

"Diam! Jangan ada yang bicara!" Suara Pandu terdengar menggelegar memenuhi ruangan itu. Mereka semua pun terdiam dan takut melihat kemarahan Pandu.

"Sekarang jawab! Kamu mau memilih yang mana?" tanya Pandu mengintimidasi. Dia menatap Rasya yang justru sedang memutar bola matanya malas.

"Kenapa kamu diam saja?" tanya Pandu heran karena sudah menunggu lama, Rasya sama sekali tidak menjawab.

"Om, gimana sih? Tadi katanya enggak boleh bicara. Sekarang aku diem, marah-marah. Percuma tampan kalau plin-plan!"

"Kamu!" pekik Pandu memotong ucapan Rasya.

"Aku cantik, imut, dan menggemaskan, Om." Rasya masih membalas santai. Pandu mengacak rambutnya dengan kasar karena begitu frustrasi.

"Sudahlah! Aku lelah bicara dengan anak kecil sepertimu. Mulai besok kamu akan tinggal di rumahku." Pandu berjalan menuju ke pintu, dia tidak ingin emosinya naik kalau berada di dekat gadis perusuh itu. Arga pun mengekor di belakang.

"Om," panggil Rasya dengan memelas saat Pandu hampir meraih handle pintu. Pandu menyeringai tipis, dia yakin kalau Rasya akan memohon padanya.

"Apa lagi? Apa kamu mau meminta lebih?" tukas Pandu. Dia menatap Rasya dengan senyum meledek.

"Enggak! Aku mau tanya aja, apa di rumah Om ada kolam renangnya?" Pandu melongo mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Rasya.

"Kamu menghinaku?" seru Pandu. Rasya mendengkus kasar.

"Siapa yang menghina, Om? Aku 'kan cuman tanya, sensi amat kaya cewek lagi PMS," timpal Rasya.

Pandu menatap tajam ke arah Rasya, tetapi gadis itu tetap terlihat tenang. "Kamu pikir aku semiskin dirimu?"

"Jangan ngeledek kali, Om. Miskin-miskin gini aku kerja banting tulang buat makan loh, Om. Kalau enggak ada yang dimakan palingan juga piringnya yang kubanting," ucap Rasya. Gadis itu benar-benar terlihat tenang.

Gatra dengan gemas mencubit lengan Rasya hingga membuat gadis itu merintih. "Sakit, Mas."

"Ehem!" Pandu kembali berdeham.

"Apaan sih, Om! Deham dehem mulu deh perasaan. Ditanya enggak jawab lagi," gerutu Rasya. Dia mengusap bekas cubitan Gatra di lengannya.

"Pertanyaanmu seperti pertanyaan orang bodoh! Tentu saja ada. Kamu pikir aku tidak sanggup bikin kolam renang di—"

"Yes!" teriak Rasya memotong ucapan Pandu. "Aku enggak perlu bayar lagi kalau mau renang." Gadis itu berjingkrak kegirangan.

"Astaga." Pandu menghembuskan napas secara kasar.

"Mukanya jangan jelek gitu, Om. Tunjukkan muka tampanmu dong," goda Rasya. Alis gadis itu naik-turun dengan dua jari berada di pipi gembulnya.

"Kumala Rasya Putri!" bentak Pandu marah.

"Ada apa, Om Panu," sahut Rasya santai. Pandu dan Arga sama-sama mendelik, sedangkan Gatra menggeleng tak percaya.

"Kamu panggil aku apa?" tanya Pandu, masih membentak.

"Om Panu. Eh, kok Om bisa tahu nama panjangku?" tanya Rasya heran. Pandu berusaha bersikap tenang untuk menutupi kegugupannya karena takut Rasya akan curiga.

"Jangan memanggilku sembarangan!" murka Pandu. Sorotan matanya ke arah Rasya begitu tajam seolah hendak melahap habis gadis tersebut.

"Aku enggak manggil kamu sembarangan, Om. Panu 'kan Pandu Nugraha, eh salah!" Rasya menepuk keningnya. Jarinya mengetuk pelipis perlahan, seolah sedang berpikir keras.

"Pandu Nugraha Andaksa, seharusnya Panuan bukan cuma Panu, pantas saja si Om marah. Maaf ya, Om." Rasya mengangkat kedua dua jarinya tanda damai dan menunjukkan rentetan gigi putihnya.

"Namaku Pandu bukan Panu!" Kesabaran Pandu benar-benar sudah sampai pada batasnya. Dia mengangkat tubuh Rasya dan menggedongnya di bahu seperti sedang memanggul karung beras. Tentu saja mereka semua terkejut.

"Aku harus memberimu pelajaran!" seru Pandu. Ia berjalan keluar ruangan, dan tidak peduli meski kini menjadi pusat perhatian pengunjung restoran, bahkan Bella menatapnya dengan tatapan benci.

"Om, turunkan aku!" Rasya meronta. Namun, tubuh kecilnya kalah tenaga dengan tubuh kekar milik Pandu. "Om, tas aku masih di dalam!" pekik Rasya. Ia memukul punggung Pandu, tetapi lelaki itu tetap berjalan dengan santai.

Setelah sampai di samping mobil, Pandu segera membuka pintu dan mendudukkan Rasya di kursi belakang lalu dia duduk di samping gadis itu. Sementara Arga membuka pintu depan mobil dan duduk di balik setir kemudi.

"Om, tas aku masih—"

"Ini tas Anda, Nona." Arga dengan santai menyerahkan tas milik Rasya yang membuat wajah gadis itu berbinar bahagia.

"Keren!" seru Rasya diiringi tepuk tangan. "Kamu seperti asisten pribadi di novel, hanya dengan kedipan mata saja, udah paham yang diinginkan bos kamu."

"Diamlah!" bentak Pandu, "Ga! Jalankan mobilnya!" titah lelaki itu.

Arga mengangguk lalu melajukan mobilnya, sedangkan Pandu menatap heran ke arah Rasya yang sedang duduk bersandar dengan mata terpejam padahal belum ada satu menit gadis itu mengoceh.

"Hey! Bangun!" Pandu menepuk-nepuk pipi Rasya, tetapi gadis itu tidak terusik sama sekali. "Ga, apa dia pingsan?" tanya Pandu. Ia terlihat begitu khawatir.

"Mana mungkin, Tuan." Arga membantah.

"Baru beberapa detik dia masih ngoceh, tapi kenapa sekarang seperti orang pingsan?" tanya Pandu cemas.

"Diamlah, Om. Aku tuh lagi menikmati naik mobil mewah," kata Rasya dengan tenang tanpa membuka mata. Hanya helaan napas panjang yang terdengar dari gadis itu.

"Oh Tuhan, apa salahku?" Pandu mengusap wajahnya dengan kasar, setelah itu dia meremas tangan di depan wajah Rasya dengan gigi gemerutuk karena saking gemasnya dengan gadis tersebut.

Terpopuler

Comments

Novi Anisa

Novi Anisa

author bisa aja nyari namanya🤭keram perutku mba othoorr🤣🤣

2023-05-20

2

Par_mari_ani

Par_mari_ani

Panuan kawin ama Kurap.. ntar anaknya jadi apa?? kutu aer??

2022-12-15

1

Kerimpak Kaca Luya

Kerimpak Kaca Luya

🤣🤣🤣🤣🤣 cukup keren ceritanya

2022-11-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!