"Bagaimana Mas, tentang tanda tangan Garra. Kenapa sampai sekarang belum ada kabar? Kamu ini bisa bekerja tidak sih?" bentak Sintia pada suaminya di dalam ruangan khusus milik mereka.
"Sabar Sintia.. Aku sudah menyuruh istri bodohnya itu untuk membicarakan nya pada Garra. Sebentar lagi, semua ini akan atas nama Garra." jawab Abraham.
"Lalu setelah Garra Wafat, maka akan pindah atas nama Gadis itu. Dan setelah itu... Kita baru akan mengambil nya." timbal Sintia. Tertawa puas.
"Nama kita tetap baik. Harta menjadi milik kita." Abraham menjentil hidung istrinya, ikut tertawa.
"Tapi mas.. kenapa Garra tidak mati mati. Apa kamu benar benar sudah mengarah kan Anton dengan baik?" tanya Sintia.
"Tentu saja. Kabar terakhir yang aku dengar langsung dari Mia, keadaan Garra semakin memburuk. Mungkin hanya tinggal menunggu hitungan hari saja. Pelan tapi pasti. Dan kematian nya sudah bisa di pastikan akibat kerusakan saraf. Tidak akan ada yang dapat mengungkapnya." Abraham semakin puas.
"Apa benar benar aman? Aku tidak mau kalau sampai masuk penjara Mas, karena kelalaiannya mu."
"Kau tenang saja, selain Anton dan Heri, tidak ada yang tau ataupun curiga. Terutama sekretaris bodoh itu. Dan Dokter.. Hahahaha.. Dokter saja bisa takluk dengan amplop tebal." Abraham kembali terkekeh.
"Setelah itu, kita tinggal perlu menyingkirkan dua pelayan itu, sekretaris Ang. Lalu terakhir, Mia!" sambung Abraham.
Wajah Sintia seketika ceria, pandangan nya memutari sekeliling. Pikiran nya sudah traveling kemana mana. Berkhayal tentang negara negara pertama yang akan ia kunjungi, setelah resmi menjadi Nyonya besar di rumah ini.
"Sekarang, sebaik nya kau panggil Sekretaris Ang. Suruh dia memanggil Mia. Kita akan memastikan dari mulut Mia sendiri, bagaimana keputusan keponakan mu itu. Jika masih berbelit juga, suruh Mia menekan nya, ku rasa selama menikah dengan gadis itu, Garra sudah ketergantungan pada gadis itu, dan menurut padanya." ucap Sintia.
Abraham setuju, lalu meraih hp nya untuk menghubungi sekretaris Ang.
Tidak lama menunggu, sekretaris Ang muncul.
"Tuan Abraham? Ada perlu apa?"
"Tuan Ang, bisakah anda memanggilkan Nona Mia kemari? Aku ada perlu dengan nya." pinta Abraham dengan nada menghormati. Walau bagaimana pun juga, sekretaris Ang, adalah orang paling berpengaruh setelah Garra. Jadi seluruh orang akan atau bahkan harus menghormati nya, tidak terkecuali Abraham sendiri.
"Kenapa tidak ke kamarnya saja Tuan?"
"Ini urusan yang sangat penting, aku tidak mau mengganggu ketenangan Tuan muda." jawab Abraham.
"Jika boleh tau, urusan apa sebenarnya Tuan Abraham?" sekretaris Ang penuh selidik.
Abraham menarik nafas, berdiri. Lalu melangkah mendekati Sekretaris Ang.
"Begini Tuan Ang. Tuan muda Garra kan sudah menikah. Aku hanya ingin , pesan almarhum ayah nya cepat terlaksana. Agar dia tenang di sana. Apa Tuan Ang mengerti maksudku?" Abraham mencoba meyakinkan sekretaris Ang.
"Tapi tuan muda masih sakit, saya rasa belum waktu nya membahas ini. Apa tidak lebih baik, kita membahas masalah pengobatannya. Mencoba membawa nya keluar negeri mungkin?" Sekretaris Ang penuh sindiran.
"Itu sebab nya. Jika surat menyurat itu sudah beres, ku rasa kemungkinan besar Tuan muda Garra akan semangat untuk sembuh dan mau di bawa berobat ke luar negeri. Jika Tuan muda tetap menolak, kita bisa memaksanya." kilah Abraham.
Sekretaris Ang meniti semua ucapan Abraham.
'Menolak katamu! Cih... kau saja yang tidak mau membawa tuan muda ke luar negeri. Hanya mendatangkan dokter nya saja. Dasar belis.!' umpat sekretaris Ang, dalam hati.
"Jika semua aset sudah atas nama Tuan muda Garra, semua bisa tenang Tuan Ang, dan aku pun akan menjaga amanah almarhum dengan sebaik baik nya." sambung Abraham mencoba meyakinkan kembali.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan memanggilkan Nona muda Mahendra."
Sintia sontak menoleh, mendengar ucapan terakhir sekretaris Ang.
'Cih!! Nona muda Mahendra. Itu tidak akan pernah terjadi buat seorang gadis gembel macam dia.' mengumpat sambil menatap punggung Sekretaris Ang.
Sekretaris Ang sendiri terus melangkah menuju kamar Garra. Dengan pikiran sedikit khawatir.
'Semoga tidak akan terjadi apa apa pada tuan muda. Cepat sembuh, sebelum belis itu merencanakan sesuatu yang lebih serius lagi.'
Berdiri di depan pintu Garra. Seperti mendengar suara bercakap cakap. Atau Nona Mia sedang menelepon seseorang?
Sekretaris Ang menempel kan telinga untuk menguping.
'Suara Tuan muda!'
Sempat ingin menjerit, tapi sekretaris Ang segera bisa menahan diri. Lalu mengetuk pintu.
"Hus... Tuh kan ada yang mengetuk pintu." ucap Garra. Mia cepat menoleh ke arah pintu dan benar saja terdengar pintu itu di ketuk seseorang.
"Hah!" Mia langsung berdiri, mengangkat kaki Garra tanpa permisi.
"Cepat cepat, akting..!" Mia gugup, sambil meraih bantal dan menaruh nya di belakang punggung Garra. Memposisikan tubuh Garra selayaknya Garra belum bisa apa apa seperti kemarin.
"Ingat! Jangan bersuara dan bergerak. Apapun yang terjadi!" pesan Mia.
Garra mengangguk.
"Kalau Abraham yang datang dan menanyakan tentang tanda tangan bagaimana?" tanya Mia. Lupa , tadi sedang berdiskusi masalah itu tapi malah berdebat.
"Bilang saja aku belum siap. Belum siap bikin rencana. Sudah sana buka pintu."
(?) Mia.
Mia akhirnya melangkah menghampiri pintu. Lalu membukanya.
"Sekertaris Ang??"
Sekretaris Ang sudah berdiri di depan pintu, menundukkan memberi hormat pada Mia.
"Nona muda. Maaf mengganggu."
'Nona muda! Sejak kapan mengganti panggilan ku?'
"Ada apa Tuan Ang?" tanya Mia.
"Tuan Abraham memanggil anda. Bisa kah Nona menemuinya?"
"Kenapa tidak kemari saja? Ah, baik lah. Aku akan menemuinya. Tapi aku harus minta ijin dulu pada Tuan Muda Garra." jawab Mia.
Mia sengaja, memutuskan untuk memenuhi panggilan Abraham.
Menurut Mia , itu lebih baik dari pada Abraham yang datang, takut Garra tidak bisa mengontrol emosi dan malah ketahuan kalau sudah banyak perubahan.
"Tunggu lah sebentar Tuan Ang." pinta Mia, masuk lagi dengan menutup pintu.
Melangkah mendekati Garra.
"Jantung sudah mau copot, eh yang datang bunglon." celetuk Mia.
"Mia, kenapa kau menistakan sekretaris Ang?" tanya Garra mendengar Mia mengganti panggilan orang kepercayaannya seenak jidat.
"Maaf tuan muda. Tapi sekretaris Ang memang seperti bunglon. Saya tidak bermaksud untuk menistakan nya."
"Kenapa harus bunglon?"
"Karena, bisa berubah ubah. Dekat Tuan Abraham seolah memihak nya. Dekat dengan Tuan Muda juga begitu." sahut Mia.
"Kau tidak percaya dengan nya?"
"Em, menurut tuan muda bagaimana?" Mia malah balik bertanya.
"Ang, adalah orang kepercayaan Ayah. Dia setia. Dia bukan salah satu dari antek nya Abraham. Kalau bukan karena bantuan nya, mana aku bisa menikahi mu. Kau harus percaya pada nya Mia."
"Kalau benar begitu, kenapa sekretaris Ang tidak membantu anda berobat? Membiarkan Anda menderita sendirian begini." bantah Mia, menolak pendapat Garra.
"Mia, urusan sekretaris Ang banyak. Perusahaan juga tentunya. Dia juga mungkin tidak berpikiran sejauh itu. Tidak menyangka jika Abraham berbuat sejauh ini."
" Sudah sudah. Tuan Abraham memanggil saya. Bagaimana ini.?" potong Mia. Kesal karena Garra terus membela Sekretaris Ang. Entah kenapa Mia kurang suka pada sekretaris Ang, padahal hati Mia sendiri sebenarnya tidak mencurigai sekretaris Ang.
"Temui saja. Sesuai rencana semula." Garra setengah berbisik.
"Percuma berbisik, suara Tuan sudah terdengar kemana mana. Untung yang datang sekretaris Ang. Coba kalau Anton. Percuma akting." sahut Mia, memutar tubuhnya, melangkah menghampiri Sekretaris Ang yang masih menunggu di balik pintu.
Mia menutup pintu, tak lupa mengunci nya dari luar dan memasukan anak kunci ke dalam saku nya.
(???) Sekretaris Ang.
Mia menoleh, tau sekretaris Ang bertanya di otak nya, kenapa dia harus mengunci pintu segala.
"Hanya untuk jaga jaga Tuan Ang, takut ada setan'."
"Setan? Sejak kapan rumah ini angker? Kalau pun iya, setan tidak perlu membuka pintu kan?" sekretaris Ang rupanya penasaran.
"Setan yang doyan sambel. Masa tidak mengerti juga?" ceplos Mia.
"Ohh." sekretaris Ang, seolah paham, padahal tidak. Lalu melangkah di ikuti Mia di belakang nya.
Bola mata Mia berputar, melihat seluruh ruangan yang di lewati mereka.
'Besar nian! Rumah apa lapangan bola?'
Semenjak masuk ke dalam kamar Garra , baru hari ini Mia keluar, dan melihat dengan jelas ruangan rumah itu.
Maklum lah, pertama masuk sama sekali tidak fokus dengan sekeliling. Hanya menunduk sampai ke depan pintu Garra.
Sekretaris Ang menuruni tangga, masih di ikuti Mia.
Lalu berlanjut ke sebuah ruangan.
Dari jauh, Mia sudah bisa melihat dua manusia yang sedang duduk. Seperti sengaja sedang menunggu nya.
Bersambung...!!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
ira
semoga karakternya Mia g berubah ya
2024-05-18
0
Nadia
mia kq JD sedikit gimana ya, klo awalnya kalem udah dibikin kalem aja
2024-05-01
1
Lilisdayanti
THUR JANGAN di rubah dong katakternya mia,,biar tetap polos dan lugu,, tapi tambah pinter dan jenius,, tetap sabar dan lemh lembut,, Kalau ganti karakter nya TERKESAN lebai dan kaya di paksaan 🤔
2023-01-21
0