Setan yang doyan sambel!

"Bagaimana Mas, tentang tanda tangan Garra. Kenapa sampai sekarang belum ada kabar? Kamu ini bisa bekerja tidak sih?" bentak Sintia pada suaminya di dalam ruangan khusus milik mereka.

"Sabar Sintia.. Aku sudah menyuruh istri bodohnya itu untuk membicarakan nya pada Garra. Sebentar lagi, semua ini akan atas nama Garra." jawab Abraham.

"Lalu setelah Garra Wafat, maka akan pindah atas nama Gadis itu. Dan setelah itu... Kita baru akan mengambil nya." timbal Sintia. Tertawa puas.

"Nama kita tetap baik. Harta menjadi milik kita." Abraham menjentil hidung istrinya, ikut tertawa.

"Tapi mas.. kenapa Garra tidak mati mati. Apa kamu benar benar sudah mengarah kan Anton dengan baik?" tanya Sintia.

"Tentu saja. Kabar terakhir yang aku dengar langsung dari Mia, keadaan Garra semakin memburuk. Mungkin hanya tinggal menunggu hitungan hari saja. Pelan tapi pasti. Dan kematian nya sudah bisa di pastikan akibat kerusakan saraf. Tidak akan ada yang dapat mengungkapnya." Abraham semakin puas.

"Apa benar benar aman? Aku tidak mau kalau sampai masuk penjara Mas, karena kelalaiannya mu."

"Kau tenang saja, selain Anton dan Heri, tidak ada yang tau ataupun curiga. Terutama sekretaris bodoh itu. Dan Dokter.. Hahahaha.. Dokter saja bisa takluk dengan amplop tebal." Abraham kembali terkekeh.

"Setelah itu, kita tinggal perlu menyingkirkan dua pelayan itu, sekretaris Ang. Lalu terakhir, Mia!" sambung Abraham.

Wajah Sintia seketika ceria, pandangan nya memutari sekeliling. Pikiran nya sudah traveling kemana mana. Berkhayal tentang negara negara pertama yang akan ia kunjungi, setelah resmi menjadi Nyonya besar di rumah ini.

"Sekarang, sebaik nya kau panggil Sekretaris Ang. Suruh dia memanggil Mia. Kita akan memastikan dari mulut Mia sendiri, bagaimana keputusan keponakan mu itu. Jika masih berbelit juga, suruh Mia menekan nya, ku rasa selama menikah dengan gadis itu, Garra sudah ketergantungan pada gadis itu, dan menurut padanya." ucap Sintia.

Abraham setuju, lalu meraih hp nya untuk menghubungi sekretaris Ang.

Tidak lama menunggu, sekretaris Ang muncul.

"Tuan Abraham? Ada perlu apa?"

"Tuan Ang, bisakah anda memanggilkan Nona Mia kemari? Aku ada perlu dengan nya." pinta Abraham dengan nada menghormati. Walau bagaimana pun juga, sekretaris Ang, adalah orang paling berpengaruh setelah Garra. Jadi seluruh orang akan atau bahkan harus menghormati nya, tidak terkecuali Abraham sendiri.

"Kenapa tidak ke kamarnya saja Tuan?"

"Ini urusan yang sangat penting, aku tidak mau mengganggu ketenangan Tuan muda." jawab Abraham.

"Jika boleh tau, urusan apa sebenarnya Tuan Abraham?" sekretaris Ang penuh selidik.

Abraham menarik nafas, berdiri. Lalu melangkah mendekati Sekretaris Ang.

"Begini Tuan Ang. Tuan muda Garra kan sudah menikah. Aku hanya ingin , pesan almarhum ayah nya cepat terlaksana. Agar dia tenang di sana. Apa Tuan Ang mengerti maksudku?" Abraham mencoba meyakinkan sekretaris Ang.

"Tapi tuan muda masih sakit, saya rasa belum waktu nya membahas ini. Apa tidak lebih baik, kita membahas masalah pengobatannya. Mencoba membawa nya keluar negeri mungkin?" Sekretaris Ang penuh sindiran.

"Itu sebab nya. Jika surat menyurat itu sudah beres, ku rasa kemungkinan besar Tuan muda Garra akan semangat untuk sembuh dan mau di bawa berobat ke luar negeri. Jika Tuan muda tetap menolak, kita bisa memaksanya." kilah Abraham.

Sekretaris Ang meniti semua ucapan Abraham.

'Menolak katamu! Cih... kau saja yang tidak mau membawa tuan muda ke luar negeri. Hanya mendatangkan dokter nya saja. Dasar belis.!' umpat sekretaris Ang, dalam hati.

"Jika semua aset sudah atas nama Tuan muda Garra, semua bisa tenang Tuan Ang, dan aku pun akan menjaga amanah almarhum dengan sebaik baik nya." sambung Abraham mencoba meyakinkan kembali.

"Baiklah kalau begitu. Saya akan memanggilkan Nona muda Mahendra."

Sintia sontak menoleh, mendengar ucapan terakhir sekretaris Ang.

'Cih!! Nona muda Mahendra. Itu tidak akan pernah terjadi buat seorang gadis gembel macam dia.' mengumpat sambil menatap punggung Sekretaris Ang.

Sekretaris Ang sendiri terus melangkah menuju kamar Garra. Dengan pikiran sedikit khawatir.

'Semoga tidak akan terjadi apa apa pada tuan muda. Cepat sembuh, sebelum belis itu merencanakan sesuatu yang lebih serius lagi.'

Berdiri di depan pintu Garra. Seperti mendengar suara bercakap cakap. Atau Nona Mia sedang menelepon seseorang?

Sekretaris Ang menempel kan telinga untuk menguping.

'Suara Tuan muda!'

Sempat ingin menjerit, tapi sekretaris Ang segera bisa menahan diri. Lalu mengetuk pintu.

"Hus... Tuh kan ada yang mengetuk pintu." ucap Garra. Mia cepat menoleh ke arah pintu dan benar saja terdengar pintu itu di ketuk seseorang.

"Hah!" Mia langsung berdiri, mengangkat kaki Garra tanpa permisi.

"Cepat cepat, akting..!" Mia gugup, sambil meraih bantal dan menaruh nya di belakang punggung Garra. Memposisikan tubuh Garra selayaknya Garra belum bisa apa apa seperti kemarin.

"Ingat! Jangan bersuara dan bergerak. Apapun yang terjadi!" pesan Mia.

Garra mengangguk.

"Kalau Abraham yang datang dan menanyakan tentang tanda tangan bagaimana?" tanya Mia. Lupa , tadi sedang berdiskusi masalah itu tapi malah berdebat.

"Bilang saja aku belum siap. Belum siap bikin rencana. Sudah sana buka pintu."

(?) Mia.

Mia akhirnya melangkah menghampiri pintu. Lalu membukanya.

"Sekertaris Ang??"

Sekretaris Ang sudah berdiri di depan pintu, menundukkan memberi hormat pada Mia.

"Nona muda. Maaf mengganggu."

'Nona muda! Sejak kapan mengganti panggilan ku?'

"Ada apa Tuan Ang?" tanya Mia.

"Tuan Abraham memanggil anda. Bisa kah Nona menemuinya?"

"Kenapa tidak kemari saja? Ah, baik lah. Aku akan menemuinya. Tapi aku harus minta ijin dulu pada Tuan Muda Garra." jawab Mia.

Mia sengaja, memutuskan untuk memenuhi panggilan Abraham.

Menurut Mia , itu lebih baik dari pada Abraham yang datang, takut Garra tidak bisa mengontrol emosi dan malah ketahuan kalau sudah banyak perubahan.

"Tunggu lah sebentar Tuan Ang." pinta Mia, masuk lagi dengan menutup pintu.

Melangkah mendekati Garra.

"Jantung sudah mau copot, eh yang datang bunglon." celetuk Mia.

"Mia, kenapa kau menistakan sekretaris Ang?" tanya Garra mendengar Mia mengganti panggilan orang kepercayaannya seenak jidat.

"Maaf tuan muda. Tapi sekretaris Ang memang seperti bunglon. Saya tidak bermaksud untuk menistakan nya."

"Kenapa harus bunglon?"

"Karena, bisa berubah ubah. Dekat Tuan Abraham seolah memihak nya. Dekat dengan Tuan Muda juga begitu." sahut Mia.

"Kau tidak percaya dengan nya?"

"Em, menurut tuan muda bagaimana?" Mia malah balik bertanya.

"Ang, adalah orang kepercayaan Ayah. Dia setia. Dia bukan salah satu dari antek nya Abraham. Kalau bukan karena bantuan nya, mana aku bisa menikahi mu. Kau harus percaya pada nya Mia."

"Kalau benar begitu, kenapa sekretaris Ang tidak membantu anda berobat? Membiarkan Anda menderita sendirian begini." bantah Mia, menolak pendapat Garra.

"Mia, urusan sekretaris Ang banyak. Perusahaan juga tentunya. Dia juga mungkin tidak berpikiran sejauh itu. Tidak menyangka jika Abraham berbuat sejauh ini."

" Sudah sudah. Tuan Abraham memanggil saya. Bagaimana ini.?" potong Mia. Kesal karena Garra terus membela Sekretaris Ang. Entah kenapa Mia kurang suka pada sekretaris Ang, padahal hati Mia sendiri sebenarnya tidak mencurigai sekretaris Ang.

"Temui saja. Sesuai rencana semula." Garra setengah berbisik.

"Percuma berbisik, suara Tuan sudah terdengar kemana mana. Untung yang datang sekretaris Ang. Coba kalau Anton. Percuma akting." sahut Mia, memutar tubuhnya, melangkah menghampiri Sekretaris Ang yang masih menunggu di balik pintu.

Mia menutup pintu, tak lupa mengunci nya dari luar dan memasukan anak kunci ke dalam saku nya.

(???) Sekretaris Ang.

Mia menoleh, tau sekretaris Ang bertanya di otak nya, kenapa dia harus mengunci pintu segala.

"Hanya untuk jaga jaga Tuan Ang, takut ada setan'."

"Setan? Sejak kapan rumah ini angker? Kalau pun iya, setan tidak perlu membuka pintu kan?" sekretaris Ang rupanya penasaran.

"Setan yang doyan sambel. Masa tidak mengerti juga?" ceplos Mia.

"Ohh." sekretaris Ang, seolah paham, padahal tidak. Lalu melangkah di ikuti Mia di belakang nya.

Bola mata Mia berputar, melihat seluruh ruangan yang di lewati mereka.

'Besar nian! Rumah apa lapangan bola?'

Semenjak masuk ke dalam kamar Garra , baru hari ini Mia keluar, dan melihat dengan jelas ruangan rumah itu.

Maklum lah, pertama masuk sama sekali tidak fokus dengan sekeliling. Hanya menunduk sampai ke depan pintu Garra.

Sekretaris Ang menuruni tangga, masih di ikuti Mia.

Lalu berlanjut ke sebuah ruangan.

Dari jauh, Mia sudah bisa melihat dua manusia yang sedang duduk. Seperti sengaja sedang menunggu nya.

Bersambung...!!!!

Terpopuler

Comments

ira

ira

semoga karakternya Mia g berubah ya

2024-05-18

0

Nadia

Nadia

mia kq JD sedikit gimana ya, klo awalnya kalem udah dibikin kalem aja

2024-05-01

1

Lilisdayanti

Lilisdayanti

THUR JANGAN di rubah dong katakternya mia,,biar tetap polos dan lugu,, tapi tambah pinter dan jenius,, tetap sabar dan lemh lembut,, Kalau ganti karakter nya TERKESAN lebai dan kaya di paksaan 🤔

2023-01-21

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Awal mula
3 Hari pernikahan.
4 Pesan Bu Asri.
5 Merasa nyaman dan Kasihan.
6 Flashback dua tahun yang lalu.
7 Masih Flashback dua tahun yang lalu.
8 Awal mula penderitaan Garra.
9 Luar biasa malu dan canggung! (karena anu)
10 Hanya ingin melindungi Tuan muda!
11 Mia seorang Otodidak!
12 Rencana yang sempurna!
13 Bayi raksasa.
14 Cih...! Berlagak peduli.(Abraham Penjilat)
15 Pertemuan Mia dengan kakek Abian.
16 "Maafkan aku Mia! [ Garra bisa bicara ]
17 Garra cerewet!
18 Kita sama saja!
19 Setan yang doyan sambel!
20 Glubrak....!!!
21 Ngelag!
22 Sepasang suami istri yang kompak!
23 Biawak!
24 "Kau berhutang padaku!"
25 Serangga.
26 Pertengkaran kecil [ Adu argument ]
27 Setan mulai ikut bicara.
28 Seharga Tempe!
29 Lihat aku Mia.
30 Dari ku, hanya dari ku. Untuk mu hanya untuk mu.
31 Garra akan menikah lagi.
32 Satu langkah lagi.
33 Cara membuat cicit.
34 Cuap cuap author Any.
35 Tentu bisa Mia.!
36 Lain kali saja. [ Alias Zonk..!! ]
37 Abang Garra sayang!
38 Judul nya , Kerang ijo.!
39 Sikap Aneh Yuri.
40 Yuri mendadak Ustadzah.
41 Rengekan Tiara.
42 Garra kena tampol.
43 Dua kesalahan besar Yuri.
44 Salah paham.
45 Ciuman yang benar.
46 Penyesalan Yuri Plus Mia terkena serangan Jantung!
47 TBC...!
48 Edisi kebersamaan Mia dan Yuri.
49 Minta HP.
50 Cekrek! [ HP baru ]
51 Junior oh.. Junior..!! Siapa gerangan.
52 Ambyar...!!!
53 Garra dengan dua istri?
54 Malaikat tak bersayap?? Cih...!!!
55 Let's Go Mia! Tumbang kan Pelakor!!
56 Metamorfosis Mia.
57 Pengakuan cinta dari Mia.
58 Obrolan Yang menyesatkan.
59 Sedang bahagia.
60 Berjalan Sempurna.
61 Darah siapa?? Hah! ( Polos Mia kumat lagi.)
62 Ang, keceplosan!
63 Sekretaris Ang Curhat pada bocil.
64 Malam pertama Garra.
65 Stempel Kepemilikan.
66 Tidak seperti biasa.
67 Malu setengah mati.
68 Malam panjang yang kedua.
69 Sekretaris Ang kena sumpah.
70 Menemukan mereka.
71 Garra Mahendra! Menantu Durhaka.
72 Kebaikan Garra.
73 Menemui bi Sumi.
74 Ang, mulai gila!
75 Masih menganggap Bocah.
76 Bucin semua. Tinggal Ang saja.
77 Kesucian Yuri terenggut?
78 Malu!
79 Pria sejati.
80 Patah harapan.
81 Bonus ilmu biologi plus Sekretaris Ang Melamar Yuri?
82 Gatot!
83 Dinner berjalan lancar.
84 Ciuman yang kedua.
85 Meminta bekal.
86 Di kantor part 1.
87 Di Kantor Part 2.
88 Cinta telat pria dewasa.
89 Pengumuman saja, tapi harap di baca juga.
90 Menyelinap ke kamar Yuri??
91 Keadaan yang berbalik. ( Lamaran sekretaris Ang.)
92 Dua koper uang.
93 Nasab Mia kepada Ibunya.
94 Makan siang yang kacau.
95 Garra menderita Sindrom Couvade!
96 Pernikahan Ang, yang di tunda.
97 Di luar nalar!
98 Nama Panjang Sekretaris Ang!
99 Mengantar Pulang Yuri.
100 Ang Mesum!
101 Bangga!
102 6.115.000! Mahar Anggara ( Episode special hari Pernikahan Sekretaris Ang.)
103 Rencana untuk menunda kehamilan!
104 Episode Spesial [ Malam pertama.]
105 Dasar lemah!
106 Entahlah! [ kecil kecil cabe rawit! ]
107 Serasa kejatuhan Bulan!
108 Pisah Ranjang!
109 Sekali lagi. Selamat sekretaris Ang!
110 Giliran Mia yang Ngidam!
111 Hari Persalinan Mia.
112 Bayi Mia!
113 Histerektomi Mia!
114 Pengumuman saja!
115 Kedatangan Bi Sumi!
116 Pengalaman Pribadi.
117 Benalu Tumbuhan Terkutuk Yang Ampuh!
118 Nama Tuan Muda Mahendra!
119 Bonus dari Calon Penerus Mahendra Group!
120 Keinginan Garra!
121 Pesta Penuh Kejutan!
122 Penyesalan Sekretaris Ang!
123 Rencana Prosedur Bayi Tabung.
124 Mengenai Bayi Tabung.
125 Dua garis merah muda!
126 Kegagalan.
127 Menjaga Calon Pengantinnya kelak!
128 Aib keluarga.
129 Rahasia kita berdua.
130 Kepergian Rayyan.
131 Pertemuan yang menyesakkan.
132 Tekad Sekretaris Ang.
133 Terbongkar.
134 Epilog.
135 Bab Penjelasan mengenai Mahram.
136 Promosi Karya baru.
137 Promosi Karya Time Travel!
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Prolog
2
Awal mula
3
Hari pernikahan.
4
Pesan Bu Asri.
5
Merasa nyaman dan Kasihan.
6
Flashback dua tahun yang lalu.
7
Masih Flashback dua tahun yang lalu.
8
Awal mula penderitaan Garra.
9
Luar biasa malu dan canggung! (karena anu)
10
Hanya ingin melindungi Tuan muda!
11
Mia seorang Otodidak!
12
Rencana yang sempurna!
13
Bayi raksasa.
14
Cih...! Berlagak peduli.(Abraham Penjilat)
15
Pertemuan Mia dengan kakek Abian.
16
"Maafkan aku Mia! [ Garra bisa bicara ]
17
Garra cerewet!
18
Kita sama saja!
19
Setan yang doyan sambel!
20
Glubrak....!!!
21
Ngelag!
22
Sepasang suami istri yang kompak!
23
Biawak!
24
"Kau berhutang padaku!"
25
Serangga.
26
Pertengkaran kecil [ Adu argument ]
27
Setan mulai ikut bicara.
28
Seharga Tempe!
29
Lihat aku Mia.
30
Dari ku, hanya dari ku. Untuk mu hanya untuk mu.
31
Garra akan menikah lagi.
32
Satu langkah lagi.
33
Cara membuat cicit.
34
Cuap cuap author Any.
35
Tentu bisa Mia.!
36
Lain kali saja. [ Alias Zonk..!! ]
37
Abang Garra sayang!
38
Judul nya , Kerang ijo.!
39
Sikap Aneh Yuri.
40
Yuri mendadak Ustadzah.
41
Rengekan Tiara.
42
Garra kena tampol.
43
Dua kesalahan besar Yuri.
44
Salah paham.
45
Ciuman yang benar.
46
Penyesalan Yuri Plus Mia terkena serangan Jantung!
47
TBC...!
48
Edisi kebersamaan Mia dan Yuri.
49
Minta HP.
50
Cekrek! [ HP baru ]
51
Junior oh.. Junior..!! Siapa gerangan.
52
Ambyar...!!!
53
Garra dengan dua istri?
54
Malaikat tak bersayap?? Cih...!!!
55
Let's Go Mia! Tumbang kan Pelakor!!
56
Metamorfosis Mia.
57
Pengakuan cinta dari Mia.
58
Obrolan Yang menyesatkan.
59
Sedang bahagia.
60
Berjalan Sempurna.
61
Darah siapa?? Hah! ( Polos Mia kumat lagi.)
62
Ang, keceplosan!
63
Sekretaris Ang Curhat pada bocil.
64
Malam pertama Garra.
65
Stempel Kepemilikan.
66
Tidak seperti biasa.
67
Malu setengah mati.
68
Malam panjang yang kedua.
69
Sekretaris Ang kena sumpah.
70
Menemukan mereka.
71
Garra Mahendra! Menantu Durhaka.
72
Kebaikan Garra.
73
Menemui bi Sumi.
74
Ang, mulai gila!
75
Masih menganggap Bocah.
76
Bucin semua. Tinggal Ang saja.
77
Kesucian Yuri terenggut?
78
Malu!
79
Pria sejati.
80
Patah harapan.
81
Bonus ilmu biologi plus Sekretaris Ang Melamar Yuri?
82
Gatot!
83
Dinner berjalan lancar.
84
Ciuman yang kedua.
85
Meminta bekal.
86
Di kantor part 1.
87
Di Kantor Part 2.
88
Cinta telat pria dewasa.
89
Pengumuman saja, tapi harap di baca juga.
90
Menyelinap ke kamar Yuri??
91
Keadaan yang berbalik. ( Lamaran sekretaris Ang.)
92
Dua koper uang.
93
Nasab Mia kepada Ibunya.
94
Makan siang yang kacau.
95
Garra menderita Sindrom Couvade!
96
Pernikahan Ang, yang di tunda.
97
Di luar nalar!
98
Nama Panjang Sekretaris Ang!
99
Mengantar Pulang Yuri.
100
Ang Mesum!
101
Bangga!
102
6.115.000! Mahar Anggara ( Episode special hari Pernikahan Sekretaris Ang.)
103
Rencana untuk menunda kehamilan!
104
Episode Spesial [ Malam pertama.]
105
Dasar lemah!
106
Entahlah! [ kecil kecil cabe rawit! ]
107
Serasa kejatuhan Bulan!
108
Pisah Ranjang!
109
Sekali lagi. Selamat sekretaris Ang!
110
Giliran Mia yang Ngidam!
111
Hari Persalinan Mia.
112
Bayi Mia!
113
Histerektomi Mia!
114
Pengumuman saja!
115
Kedatangan Bi Sumi!
116
Pengalaman Pribadi.
117
Benalu Tumbuhan Terkutuk Yang Ampuh!
118
Nama Tuan Muda Mahendra!
119
Bonus dari Calon Penerus Mahendra Group!
120
Keinginan Garra!
121
Pesta Penuh Kejutan!
122
Penyesalan Sekretaris Ang!
123
Rencana Prosedur Bayi Tabung.
124
Mengenai Bayi Tabung.
125
Dua garis merah muda!
126
Kegagalan.
127
Menjaga Calon Pengantinnya kelak!
128
Aib keluarga.
129
Rahasia kita berdua.
130
Kepergian Rayyan.
131
Pertemuan yang menyesakkan.
132
Tekad Sekretaris Ang.
133
Terbongkar.
134
Epilog.
135
Bab Penjelasan mengenai Mahram.
136
Promosi Karya baru.
137
Promosi Karya Time Travel!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!