"Nyonya tolong hentikan!" Teriak Garra , ketika Tiara sudah memegang sapu dan siap memukulkan pada Mia. Tiara terkejut menghentikan tangan nya dan menoleh pada Garra.
Garra cepat meraih tubuh Mia dan membantunya berdiri.
"Siapa kamu? Berani nya ikut campur urusan ku. Dan kenapa masuk rumah orang sembarangan?" Tanya Tiara geram, melihat pria berambut ikal panjang itu membantu Mia.
Garra melepas maskernya, Tiara dan kedua anak nya terkesima dengan wajah tampan Garra. Sungguh macho sekali pria ini, pikir mereka bertiga. Apalagi setelah melirik keluar pagar, mendapati sebuah mobil mewah di sana. Mereka langsung bisa menebak, jika pria itu adalah seorang konglomerat. Tidak bagi Mia yang menunduk tanpa berani mengangkat mukanya.
"Kenapa nyonya memarahi gadis baik seperti dia? Apa karena dia terlambat dari pasar?" Tanya Garra.
"Benar Tuan tampan. Biasa nya dia tidak pernah begini. Tapi pagi ini sungguh mengesalkan sekali, hampir satu jam dia terlambat dan kami sudah sangat lapar menunggu sarapan." Jawab Tiara, di sebelahnya Jihan dan Yuri berbisik bisik sambil tersenyum senyum tebar pesona ke arah Garra.
Hati berdua nya berdebar melihat Garra yang begitu tampan dan penuh karisma.
[Iih,.. lihat Yuri. Pria itu tampan sekali. Bahkan rambut berantakan nya tidak mengganggu ketampanan nya] Jihan.
[Benar Jihan.. apa dia kesini karena takdir untuk mempertemukan aku dengan calon pangeran ku?] Yuri.
[Enak saja. Ini bagian ku.] Jihan.
"Brisik..!" Tiara melotot pada kedua anak nya yang langsung diam.
"Maafkan kesalahan nya Nyonya. Dia terlambat karena menolong kakek saya. Tolong jangan memarahinya lagi."ucap Garra masih ingin membela Mia.
"Ah, iya tuan. Iya. Saya tidak tau jika begitu kejadiannya. Saya tidak akan marah lagi." Jawab Tiara. Seketika berubah baik, menghampiri Mia dan meraih pundaknya.
"Maafkan mama ya sayang? Sana masuk. Belanjaan nanti biar mama yang beresin." Suara lembut Tiara sambil mengelus punggung Mia.
'Mama?' Garra bengong mendengar Tiara menyebut mama.
Mia yang ketakutan, langsung memilih masuk tanpa berkata apapun pada mereka.
"Apa dia juga anak nyonya?" Karena penasaran Garra bertanya.
"Ah, iya tuan. Tapi hanya anak tiri. Anak nya memang sedikit bodoh dan liar. Suka membuat masalah dan mengesalkan. Tapi tidak apa apa. Sudah dari kecil memang begitu. Saya memaklumi nya." Jawab Tiara.
'Maklum katamu. Memaklumi kok marah sampai mau memukul. Dasar emak tiri jahat?' maki Garra tapi di dalam hati.
"Oh, baiklah Nyonya. Jangan memarahi nya lagi. Tadi dia menolong kakek saya yang jatuh di jalan. Dan kami mengantarnya pulang. Takut dia semakin terlambat dari belanja sayuran nya." Ucap Garra.
"Iya Tuan. Terima Kasih sudah mengantar anak saya. Bagaimana kalau Tuan masuk dulu dan minum?" Tawar Tiara.
Garra berpikir sejenak.
"Seperti nya saya tidak bisa Nyonya, saya harus mengantar kakek saya pulang dan harus ke kantor. Maaf ya nyonya. Lain kali saja." Jawab Garra. Sebenarnya saat itu Garra penasaran dengan keadaan Mia yang sesungguhnya. Gadis yang belum diketahui namanya oleh Garra itu, terlihat seperti tertindas di rumah itu. Entah kenapa hati Garra seperti tidak terima memikirkannya.
Tapi, mengingat kakek nya yang sudah menunggu di mobil Garra segera memutuskan untuk mengantar Kakeknya pulang dulu.
Dan berjanji pada Tiara, besok akan mengunjungi mereka lagi. Mendengar janji Garra Jihan dan Yuri terlihat sangat senang. Tersenyum lebar lebar pada Garra. Yang mendapat senyuman malah cuek, melirik ke dalam berharap bisa melihat wajah Mia sekali lagi. Tapi sayang, bayangan Mia saja pun, sama sekali tidak terlihat.
Garra kembali melajukan mobilnya setelah duduk di depan setir. Menoleh pada kakeknya yang masih menatap ke arah rumah Kuncoro. Setelah Garra menceritakan apa yang baru saja diketahui nya, Sepertinya bukan hanya Garra yang penasaran dengan keadaan Mia, tapi kakek Abian juga.
"Sepertinya, gadis itu diperlakukan tidak baik oleh keluarga nya." Ucap kakek Abian.
"Sepertinya memang begitu kek. Tapi kakek tenang saja. Berhubung gadis itu sudah menolong kakek ku tersayang. Maka Garra juga akan peduli padanya. Besok Garra akan kembali ke rumah itu untuk menyelidiki nya." Sahut Garra.
"Kau benar Garra, jika benar begitu kau harus menolongnya. Bawa saja gadis itu untuk kakek. Kasihan dia. Gadis yang baik tapi malang." Jawab Kakek Abian dengan semangat tapi matanya terlihat berkaca kaca.
"Kakek? Kenapa menangis?" Tanya Garra.
"Entah lah. Melihat gadis tadi begitu baik dan polos, kakek teringat Menantu kesayangan kakek." Ucapan kakek Abian seketika membuat Garra sesak. Tiga bulan yang lalu, kedua orang tua Garra baru saja meninggal dunia akibat kecelakaan tunggal.
Membuat Garra dan kakeknya begitu kehilangan dan sedih.
Ya, Mama Garra adalah wanita baik yang penuh kelembutan dan kasih sayang. Kakek Abian beserta istrinya sangat menyayangi menantunya itu. Tidak peduli jika Mama Garra berasal dari kampung dan dari keluarga tidak mampu. Tapi ketulusan dan kelembutan nya sungguh membuat kakek Abian sudah menyukainya sejak Bastian Mahendra pertama kali membawanya ke rumah untuk memperkenalkannya pada mereka.
Tapi sayang, orang baik kebanyakan cepat dipanggil oleh yang maha kuasa. Agar segera menempati surga nya.
Sejak itu, baik kakek Abian maupun istrinya begitu merasa kehilangan. Biasanya mama Garra yang selalu menemani mereka dan mengurus kakek Abian dengan telaten tapi sekarang, menantu nya dari istri Abraham adik Bastian yang artinya paman Garra tidak sebaik Mama Garra. Bahkan menantu nya yang satu ini terkesan cuek. Tidak peduli dan juga tidak sopan. Jauh teramat jauh dengan sifat Mama Garra.
Garra mendengus. Menepuk lembut bahu kakeknya.
"Kakek jangan bersedih terus. Nanti Garra akan mencarikan pengganti Mama. Cucu menantu yang sebaik Mama."
"Kau janji?" Kakek Abian menoleh.
"Tentu kek. Garra tidak akan menikah sebelum mendapatkan gadis yang seperti Mama. Yang cantik, manis, baik dan lembut, dan pastinya yang menyayangi kakek dan nenek." Jawab Garra.
"Jangan menilai kecantikan dan derajat Garra. Sebab , gadis cantik pintar dan berpendidikan tidak menjamin hatinya akan sama. Karena sebuah rumah tangga dan keluarga akan bahagia sejati, jika wanita nya berhati baik dan tulus. Contoh lah kakek dan ayah mu." Ucap Kakek Abian. Garra mengangguk, di dalam hatinya ia setuju dengan ucapan Kakeknya.
Garra akhirnya membawa kakek nya pulang kembali ke rumah nya.
Dan besok pagi nya sesuai janji nya pada Tiara , Garra akan kembali mengunjungi mereka.
Seperti biasa, Garra yang memakai masker hitam untuk menutupi mulut nya. Alasan pertama karena memang di negeri ini masih marak nya virus covid 19, dan alasan kedua , Garra memang tidak ingin wajahnya dilihat banyak orang di tempat umum. Itu sudah menjadi kebiasaan Garra lho, jauh sebelum ada nya protokol kesehatan harus pakai masker dari pemerintah.
Mobil Garra yang melaju sudah berada di simpangan jalan menuju rumah Kuncoro. Mata Garra terbelalak dan mendadak menginjak rem saat melihat Mia berjalan melintas di samping kaca mobil nya.
"Gadis itu?" Gumam Garra membatalkan niatnya untuk pergi ke rumah Kuncoro.
Garra memutar mobilnya dan mengikuti Mia. Dilihatnya Mia menyetop angkot.
Garra tidak ingin mencegah, Garra sengaja hanya ingin mengikuti Mia agar bisa menemui Mia jauh dari rumah nya.
Angkot yang dinaiki Mia berhenti di depan pasar, dan seperti rutinitas pagi hari Mia , gadis itu bersiap untuk belanja keperluan dapur keluarga Kuncoro.
Garra melihat itu, menepikan mobilnya dan turun.
Untuk mengejar ke dalam pasar sepertinya tidak etis jika dilakukan oleh seorang Garra, jadi Garra memilih untuk bersabar menunggu Mia di depan pasar.
Lama menunggu, akhirnya yang ditunggu muncul juga, dengan menjinjing keranjang belanjaan yang sama seperti yang pernah dilirik Garra kemarin.
Garra terus mengamati langkah Mia, dia menggeser kaki nya agar lebih menengah ke depan pasar. Saat Mia sudah berjalan sampai di samping nya, Garra langsung menghadang jalan Mia.
"Hei! Apa kabar?" Garra menyapa Mia.
Yang disapa terkejut bukan kepalang, terlebih mengingat wajah bermasker itu. Mia langsung menggeser kaki nya. Menjauh beberapa langkah.
"Tu.. tuan. Ada apa? Ada keperluan apa? Pergi lah. Pergi. Saya.. saya tidak.. saya tidak menggoda tuan." Mia ketakutan, bukan nya menatap Garra yang menyapanya malah memutar kedua bola matanya ke sekeliling. Seolah takut ada yang melihat jika Garra sudah menyapa nya.
bersambung!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
ira
ternyata seperti itu cerita awal pertemuan mereka
2024-05-18
0
Aindwi28
pengen punya mertua begini😭
tapi nanti, umur belum mencukupi😭🤣
2022-03-19
1
Rina Zulkifli
seruuuuuu ya 😍😍
2022-01-05
0