Dari jauh, Mia sudah bisa melihat dua manusia yang sedang duduk. Seperti sengaja sedang menunggu nya.
Sekretaris Ang mempersilahkan Mia untuk masuk.
Mia menurut saja.
"Tuan Abraham! Nona Mia sudah datang." sekretaris Ang lebih dulu maju.
"Oh, terimakasih Tuan Ang. Anda boleh pergi kalau begitu." sahut Abraham menoleh.
"Mia, duduk lah!" perintah Abraham beralih pada Mia yang masih berdiri.
Mia mengangguk. Lalu duduk di depan suami istri itu.
Abraham sendiri langsung menoleh pada sekretaris Ang yang masih berdiri di sana seperti menegaskan sekali lagi agar dia meninggalkan ruangan.
Sekretaris Ang memutar tubuh, lalu melangkah pergi. Padahal dia ingin sekali tau apa yang akan di bicarakan Abraham. Tapi ya sudah lah. Dia tidak ingin terlihat mencolok, memilih menyingkir.
"Mia!" panggil Abraham.
Mia mendongak.
"Iya Tuan.."
"Bagaimana? Apa kau sudah menyampaikan pada Tuan Muda Garra tentang niat ku kemarin?"
Mia mendengus, sudah menduga.
"Belum Tuan, karena Tuan muda Garra sepertinya belum siap. Akhir akhir ini kondisi nya semakin buruk, menoleh pun sudah tidak bisa." Mia berdusta, melirik wajah Sintia yang nampak sumringah, tapi segera berpura pura sedih, menunduk menyeka air mata buaya nya.
"Aku sudah mempercayaimu supaya bisa mengurus nya dengan baik. Apa kau tidak memberinya obat dengan baik?" Abraham pura pura marah.
Hati Mia mengumpat.
'Memang tidak.'
"Sudah tuan, sudah. Sungguh! Saya selalu merawat Tuan muda dengan baik. Memberi nya makan tiga kali sehari, setiap kali Tuan Anton mengantar makanan langsung saya berikan pada Tuan Muda. Dan obat tiga kali juga. Bahkan selera makan Tuan muda meningkat. Sayur dan bubur selalu habis tanpa sisa sekuah kuah nya. Tapi saya juga tidak habis pikir, kenapa Tuan Muda tidak kunjung ada perubahan." tutur Mia memberi penjelasan palsu.
"Sudah lah ! Ini bukan salah mu. Mungkin Tuan Muda memang belum waktunya sembuh." sahut Abraham.
"Saya takut Tuan, takut tuan muda tidak bisa tertolong. Sudah beberapa hari ini Tuan muda selalu tidur, tidur dan tidur. Atau jangan jangan dia memang sudah tidak kuat lagi. Hiks... hiks..." Mia menangis, raut wajah di buat sesedih mungkin.
"Mia , bukan hanya kamu saja yang sedih. Kami juga begitu. Tapi mau bagaimana lagi. Usaha juga tidak putus putus. Mungkin ini ujian untuk kita." ucap Abraham, melirik istrinya yang tersenyum sinis.
"Kalau begitu, cepat kau bujuk dia Mia. Aku juga takut. Takut tidak bisa memenuhi wasiat dari kakak ku." ucap Abraham lagi.
Mia melirik, berpikir ulang harus menjawab apa.
"Baik Tuan. Saya pastikan , besok anda akan mendapat kabar baik dari saya." jawab Mia.
Sintia cepat menoleh, tidak menyangka jika Mia akan mengatakan itu.
"Kau serius.?"
"Iya Nyonya. Saya yakin itu."
'Kenapa bisa seyakin itu?' Sintia.
"Baiklah, berhubung kau sudah berjanji, aku akan pegang omongan mu ini. Besok , segeralah menghubungi ku!" Abraham.
'Gadis bodoh ini sungguh bermanfaat' Sintia.
"Baiklah Tuan, saya harus kembali ke kamar. Tidak bisa meninggalkan Tuan muda terlalu lama." Mia yang tak sanggup untuk terus terus beraction pun memutuskan untuk segera berpamitan.
Segera bergegas setelah sepasang suami istri laknat itu mengiyakan.
Sambil membersihkan sisa air matanya yang masih menempel di pipi, Mia terus melangkah.
"Nona Mia menangis?" sekretaris Ang mengejutkan Mia karena sudah ada di depan langkah nya.
"Mana ada." sahut Mia.
"Itu,?" Sekretaris Ang menunjuk wajah Mia.
"Oh, ini. Namanya air mata bawang!"
"(?)"
"Tidak mengerti juga. Sudah sudah, sekretaris andalan kok tidak mengerti apa apa. Bagaimana sih?" celoteh Mia terus saja melangkah.
"(?)" Sekretaris Ang semakin tidak mengerti.
Mia menoleh, ternyata sekretaris Ang mengikuti di belakang.
"Kenapa mengikuti saya?"
"Saya.. saya hanya ingin mengantar Nona. Takut Nona Mia tersesat." jawab Sekretaris Ang, padahal dia sebenarnya ingin menanyakan apa yang di bicarakan Abraham. Tapi melihat sorot mata Mia yang tidak bersahabat, sekretaris Ang urung.
"Tidak perlu mengantar tuan Ang. Saya bisa sendiri. Tidak mungkin juga bakal tersesat di sini." Mia tak peduli, terus saja melangkah.
Sekretaris Ang sendiri, memilih menekan rasa penasaran nya dan memutar langkah nya untuk kembali.
Mia sudah berada di depan kamar Garra, segera membuka pintu dan masuk menghampiri Garra yang sudah menunggunya dengan gelisah.
"Kenapa lama sekali?" Garra langsung bertanya.
"Cuma lima belas menit tuan muda." balas Mia.
"Masa iya. Kok rasanya sudah seperti dua puluh empat jam saja."
"Heleh... lebay Tuan muda ini." ejek Mia ,duduk di sebelahnya.
"Bagaimana?"
"Seperti dugaan kita." jawab Mia.
"Lalu?"
"Saya bilang, tuan muda akan menandatangani surat itu besok. Apa Tuan muda bersedia?" tanya Mia.
"Hah! Kenapa jadi melenceng dari rencana semula?" Garra tercengang mendengar ucapan Mia.
"Tanda tangani saja Tuan muda. Apa susah nya? Toh , atas nama Tuan muda Garra juga kan?"
"Mia! Bukan Masalah itu. Tapi kita sama saja meluluskan keinginan mereka kalau begitu." Garra ngotot.
"Siapa bilang. Justru itu akan membuat mereka melambung ke awan awan, dan akan jatuh ketika sudah mencapai tingkat ketinggian. Pasti sakit sekali." jawab Mia, sambil tersenyum senyum.
"Maksud nya..?" Garra rupanya tidak mengerti.
Mia menghela nafas, ia berpikir kok tuan muda ini bodoh ya? Pikiran nya gak sampai kesitu.
"Kita buat mereka senang setinggi langit dulu, setelah itu tuan muda bisa menghempaskan mereka sesuka hati, kapan nanti setelah tiba waktunya.
Dengan menanda tangani surat itu, mereka pasti senang. Tapi harapan mereka melihat Tuan muda tidak selamat , tidak akan pernah terjadi. Karena saya yakin, tuan muda sebentar lagi akan sembuh dengan sempurna. Di saat itu, Tuan muda bertindak. Bagaimana?" Mia menjelaskan dengan sedikit mendekat kan wajahnya.
Yang di dekati, jelas jantung nya maraton.
"Jangan dekat dekat Mia! Takut khilaf."
"Habis tuan muda tidak paham paham juga. Lagian , jangan sok sok dulu. Takut khilaf... Memang bisa apa? Masih belum sembuh total lho.?" ejek Mia.
"Awas saja nanti.!"
"Mengancam.? Saya tinggal pergi lho. Biar tidak berlanjut pengobatan nya." Mia balik mengancam.
"Jangan donk Mia. Kan sudah berjanji akan melewati ini sama sama. Masa mau meninggalkan aku sendiri?" Garra merengek.
"Makanya jangan mengancam."
"Iya maaf. Terus bagaimana selanjutnya. Setelah aku menandatangani surat itu nanti?" Garra ternyata masih belum sepenuhnya paham.
"Suruh Pengacara keluarga Mahendra tetap menjaga seluruh aset itu. Dengan begitu, Taun Abraham pasti banyak pertanyaan. Dan Tuan Muda akan segera siap menjawab nya." Mia kembali menjabarkan rencana nya.
"Jenius! Istri ku memang jenius!"
Tak sadar, Mia tersenyum mendapat pujian dari Garra.
____
Malam sudah larut, Mia menyuruh Garra untuk tidur. Sementara Mia sendiri bersiap untuk kembali tidur di sofa.
Tidak mungkin juga Mia berani lagi tidur di sebelah Garra.
Garra sebenarnya sedih, melihat Mia keberatan tidur lagi di sebelahnya. Tapi dia bisa apa. Tidak berani memaksa.
Garra seperti ada penyesalan, saat kemarin dia belum bisa apa apa. Mia selalu ada dan mau di dekatnya. Tapi setelah Garra berangsur sembuh, Mia malah menjaga jarak. 'Bagaimana kalau aku sembuh total nanti. Jangan jangan , Mia akan menghindari. Lalu berlari menjauh.'
Garra seperti tidak rela untuk sembuh!
Ah, tapi sampai kapan dia akan menjadi pria cacat tidak berguna. Jangan kan untuk melindungi Mia, melindungi diri saja tidak bisa. Garra bertekad untuk semangat. Masalah Mia ingin pergi, urusan nanti. Dia bisa berjuang kembali. Berjuang untuk mengambil hati Mia! Dan membuat Mia jatuh cinta padanya. Dan tidak bisa lari dari nya. Bila perlu, merantai Mia!
Malam melaju, terasa begitu cepat kali ini.
Kedua insan itu sudah terbuai jauh ke alam mimpi. Lelap. Pulas!
Sampai tidak mendengar ketika ada suara seperti sesuatu yang jatuh.
Glubrakkk...!!!!
Ternyata suara itu, adalah suara tubuh Garra yang terjatuh dari ranjang nya. Entah sedang bermimpi apa dia sampai lolos begitu saja dari tempat tidur. Hanya dia dan Tuhan saja yang tau.
Pria itu menggeliat! Memegangi pinggang nya yang sakit akibat jatuh.
"Ahhrg... pinggang ku." rintih Garra. Berdiri dan melangkahkan kaki nya menuju ranjang nya kembali!
bersambung....!!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
ira
hayoloh mimpi apa tuh🤣🤭wah kakinya garra sdh sembuh tuh
2024-05-18
0
Arin
sy sllu like Thor,biar tmbh smngt pagi"sy ksih author kopi ya....☺️
2022-10-11
0
Lysa Lisa
sukses selalu thour
2022-03-29
1