Mia tidak menyadari jika semua ucapan nya sedikit terdengar oleh Garra. Hati pria itu seketika menghangat. Kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Semenjak orangtuanya meninggal, Garra tidak pernah mendapatkan kasih sayang. Apalagi setelah ia sakit. Baru kali ini dia bisa merasakan kehangatan hati dari seseorang. Tidak disadari Garra menatap wajah Ayu Mia. Yang ditatap tidak sengaja juga menatapnya. Kedua mata mereka saling memandang.
Bibir Garra bergerak, seperti ingin berbicara. Tapi hanya sekilas lalu Garra mengalihkan pandangannya.
Bu Asri tiba tiba bicara kembali.
"Nona, pesan saya hanya satu. Jangan mudah percaya dengan siapapun. Dan maaf sudah banyak berbicara dengan Anda." Ucap Bu Asri, melirik Garra yang tersenyum tipis padanya.
Bu Asri berdiri dan berpamitan.
"Cepat sembuh Tuan Muda. Kami semua merindukan Tuan Muda yang dulu." Ucap Bu Asri pada Garra.
Bu Asri kemudian melangkah keluar kamar.
Setelah Bu Asri pergi, Mia membantu Garra untuk berbaring ke ranjang. Mia menambah bantal untuk pinggang Garra dan memposisikan kepala Garra di sandaran ranjang agar Garra bisa bersandar dengan nyaman. Sementara Mia duduk di sebelah Garra.
Entah kenapa, yang tadi nya Mia merasa takut dengan pernikahan nya, tapi malam ini, setelah ia sudah sah menjadi istri tuan Muda Garra, perasaan takut itu hilang begitu saja.
Dia merasa nyaman berada di sisi Garra. Mendadak Mia seperti menyayangi Garra. Atau mungkin karena selama ini Mia tidak pernah dekat dengan siapa pun. Tidak pernah ada yang menyayangi nya dan tidak pernah ada yang mau di beri kasih sayang oleh nya.
Meskipun dia sayang dengan keluarga nya, dengan ayah dan adik adik nya, tapi Mia tidak dianggap. Mereka tidak Sudi menerima apapun dari Mia kecuali pelayanan dari nya.
Oleh sebab itu Mia benar benar merasa dikucilkan.
Dan melihat keadaan Garra, Mia menjadi iba. Mia kasian. Ternyata ada yang lebih menderita daripada diri nya. Jika Mia masih merasa beruntung karena mempunyai tubuh yang sehat. Tapi Garra, semua mengenalnya sebagai pewaris tunggal, namun kondisinya sungguh menyedihkan.
Katanya pewaris tunggal, tapi kok tidak terurus. Tubuhnya saja dekil, rambut nya berantakan sekali. Belum lagi muka nya kusut. Kulit nya pun mulai keriput. Sungguh pewaris tunggal yang malang. Dia nya yang tidak mau diurus, atau memang tidak ada yang mengurus sih?
Mungkin itu sebabnya Tuan Abraham memilih untuk mencarikan istri untuk nya, agar ada yang mengurusnya.
'Baiklah, berhubung aku sekarang sudah menjadi istri mu. Aku akan mengurusmu dengan baik.'
Mia sedikit menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Garra.
"Tuan,. Apakah anda ingin mandi?" Tanya Mia. Garra hanya diam.
Ah, Mia ingat jika Garra tidak bisa mendengar dengan baik. Lalu Mia melakukan gerakan isyarat agar Garra mengerti dengan maksud ucapan nya. Garra memperhatikan gerakan tangan Mia. Seperti nya Mia berhasil, Garra mengerti maksudnya dan menggeleng tanda tidak mau.
Mia mendengus,
"Baiklah, kalau tidak mau mandi tidak apa apa. Saya akan mengganti celana mu saja." Mia lalu berdiri dan melangkah mencari ganti celana untuk Garra yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Bu Asri.
Mia menemukan celana training milik Garra dan segera membawanya.
Saat Mia hendak membuka celana Garra, terdengar suara Garra.
"Emmm." Suara berat Garra sambil menggelengkan kepala dengan wajahnya yang memerah.
Mia bengong.
"Oh, kau tidak mau, ah maaf maksud saya Anda. Atau anda malu. Ya sudah ya sudah. Begini saja, tutup mata anda." Ucap Mia.
"Begini." Mia mengulurkan tangan nya untuk menutup kedua mata Garra. Pria itu menurut.
Setelah melihat mata Garra tertutup Mia membuka celana Garra.
'Astaga.. gadis ini apa tidak malu membuka celana seorang pria sembarangan!' Teriak Garra tapi hanya sampai di tenggorokan.
Karena penasaran Garra memicingkan matanya untuk mengintip.
'Hah.! Pantas saja.' Garra sedikit tergelak melihat Mia yang ternyata juga menutup matanya.
Garra tersenyum sambil memandangi wajah Mia yang masih menutup matanya sambil mengganti celana nya. Terlihat sudah selesai Garra cepat cepat menutup matanya kembali.
"Ah, sudah. Anda boleh membuka mata kembali." Ucap Mia. Garra pun pura pura membuka matanya kembali.
"Kalau begitu tidak malu kan? Saya saja sebagai wanita tidak malu melepas celana Anda." Sambung Mia. Di dalam hati Garra terbahak melihat tingkah konyol istri nya.
Padahal Garra tau, jika Mia pun malu makanya menutup matanya.
Mia kini mengambil sebuah sisir, dan mulai menyisir rambut Garra dengan memberi sedikit minyak rambut. Garra menurut saja diperlakukan lembut oleh Mia.
"Kenapa rambutmu keriting Tuan? Apa ini dari kecil?" Tanya Mia.
Yang diajak bicara sedikit tergelitik hatinya. Ingin tertawa tapi ingin marah juga, namun hanya bisa di dalam hati.
"Mana panjang, tidak pernah dipotong ya?" Kembali Mia bertanya, padahal dia tau Garra tidak bisa mendengar dengan jelas. Tapi Mia masih saja mengajak Garra berbicara.
Mia tidak sadar, jika Garra sebenarnya mendengar semua ucapan Mia. Garra berusaha untuk pura pura tidak mendengar saja.
Mia lalu menggulung rambut Garra dan mengikat nya dengan ikat rambut milik nya. Sementara Mia membiarkan rambut nya terurai begitu saja karena ikat rambut nya yang ia ambil untuk Garra. Rambut hitam lurus milik Mia semakin membuat Garra terpesona.
'Ternyata gadis ini lebih cantik dari yang kulihat dulu.' gumam Garra di dalam hati.
Mia memandangi wajah Pria di depan nya itu.
Yang dipandang pun juga sama.
Mia tersenyum, lalu mengambil sebuah kaca.
"Lihat Tuan, begini kan lebih baik. Terlihat rapi dan semakin tampan." Ucap Mia memperlihatkan bayangan Garra.
Melihat bayangan dirinya di kaca, Garra tidak terlihat senang. Garra menunduk, matanya berkaca kaca.
"Ya Tuhan. Kenapa anda menangis? Maafkan saya Tuan,maafkan saya." Mia panik melihat Garra menangis. Lalu Mia menyimpan kembali kaca itu.
'Apa mungkin Tuan muda tersinggung melihat bayangan nya sendiri?'
Mia merasa sangat bersalah, ia mengulurkan tangan nya perlahan dan mengusap air mata Garra.
"Jangan bersedih Tuan. Anda pasti bisa melewati masa sulit ini. Saya akan menemani Tuan sampai tuan sembuh dan menemukan kebahagiaan Tuan kembali. Lalu setelah itu, saya akan meminta hidup saya kembali pada tuan." Ucap Mia. Dia yakin Garra mendengar nya walaupun hanya samar.
Garra menatap Mia , lalu tersenyum tipis.
"Kau tersenyum. Yehh.. berarti Tuan bisa mengerti apa maksudku." Mia tiba tiba merasa senang melihat senyuman Garra.
"Mulai sekarang berjanji lah untuk semangat Tuan. Saya adalah gadis yang malang dan bertemu Tuan muda yang malang. Kalau kita bersatu dan kompak. Maka masa sulit ini akan cepat berlalu." Mia bersorak semangat.
Padahal, belum genap semalam bersama Mia, tapi Garra seperti mendapat anugerah dari langit ketujuh. Bertemu wanita yang polos dan tulus seperti Mia, bak malaikat tak bersayap. Dan kini menjadi istrinya. Sungguh hati Garra saat ini sedang bahagia. Mungkin jika Garra bisa melakukan nya saat ini juga ia sudah katrol jungkir balik karena saking senangnya. Tidak sia sia selama ini Garra jatuh hati pada Mia jauh sebelum Garra jatuh sakit. Dan Mia, tidak tau soal itu.
Sementara Mia , ia berpikir jika Garra sembuh, kemungkinan untuk keluar dari rumah ini akan ada. Karena Mia yakin jika Garra adalah orang yang baik. Pasti akan mau memberi kebijakan pada dirinya. Tidak seperti ayah nya dan ibu tirinya yang tidak peduli padanya. Dan tidak seperti Tuan Abraham dan Nyonya Sintia yang tidak ramah.
'Apa! Tidak ramah? Bukan bukan. Mereka bukan tidak ramah. Tapi…!'
Mendadak Mia ingat ucapan Bu Asri.
"Banyak yang terlihat baik, namun berbahaya. Berhati hati lah Nona.
Siapa yang tidak tergiur dengan kekayaan keluarga Mahendra, apalagi saat ini kondisi Tuan muda seperti ini"
Mia terlihat memikirkan ucapan Bu asri tadi.
"Apa mungkin maksud Bu Asri.. Tuan Abraham mempunyai niat tertentu dengan pernikahan ini?" Gumam nya.
Bersambung…..!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
ira
biarkan aku yg mewakilikan dirimu untuk tertawa garra🤣🤣🤣🤣
2024-05-18
0
Erni Bantaeng
nfcn lll
2023-01-13
1
Joey Joey
😂😂😂😂😂😅😅😅🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙊🙊🙊
2022-04-16
1