Hari ini bibir Garra tidak lepas dari senyuman. Wajah bahagia pun terus terukir semakin menambah ketampanan yang sebenarnya penuh kharisma. Ya, di luar sana, di perusahaan nya lebih tepat nya dua tahun yang lalu, Garra adalah sosok pria yang tampan Cool dan berwibawa sebagai pemimpin perusahaan pengganti Almarhum ayah nya.
Tidak tapi jika di samping Kakek dan neneknya.
Garra tetap lah menjadi cucu yang manis dan menyenangkan bagi mereka. Tertawa bergurau bahkan masih mau tidur bersama mereka. Selalu patuh dan mengiyakan apapun permintaan Kakek nya.
Sikap manja nya pun begitu besar, atau mungkin karena Garra adalah satu satunya cucu Abian atau kakek Abian. Mungkin. Karena Abraham pun sampai saat ini tidak memiliki keturunan. Entah siapa yang mandul, Abraham kah atau Sintia, males juga yang mau peduli.
Abian dan istri, tidak begitu menyukai mereka karena sikap rakus dan egois mereka. Abian atau kakek Abian sebenarnya sudah curiga pada Abraham tentang sabotase atau manipulasi atau apalah yang Abraham lakukan selama ini, di rumah yang sebenarnya adalah mutlak milik Bastian Kuncoro.
Bagi Abian, Abraham hanyalah seperti parasit, lebih tepat nya benalu yang selalu numpang. Bukan, bukan... tapi ular . Istrinya? Sebut saja sebagai ular betina.
Ah, pokoknya manusia yang tidak punya akhlak lah. Sudah di beri kepercayaan tapi malah memanfaatkan. Yang meraih kesuksesan ini adalah Bastian. Sekali lagi Bastian, bukan warisan atau harta keturunan dari Abian. Bukan..Tapi Bastian lah yang merintis sejak awal, dari bawah sampai atas, bahkan atas sekali.
Lalu merangkul Abraham yang sedang melarat. Melarat karena kualat.
Dulu Abraham sombong, tidak mau peduli dengan Bastian yang masih susah, apalagi dengan kedua orang tuanya, karena sudah menikahi Sintia , putri dari orang kaya. Sedang kan Bastian hanya menikahi Ibu nya Garra, seorang gadis miskin yang sederhana.
Tapi keadaan berbalik. Orang tua Sintia bangkrut. Lantas hidup Abraham dan Sintia jadi kere. Saking kere nya malah, karena terlilit hutang perusahaan peninggalan orang tua Sintia. Dan Bastian kemudian merangkul nya. Menyuruh nya tinggal di rumah besarnya, mengajak nya mengurus perusahaan nya bersama.
Tapi apa? Abraham iri, Abraham dengki. Di tambah pengaruh Sintia. Alhasil, sikap binatang nya menggebu. Menghalalkan segala cara demi menguasai harta kakak nya. Banyak kebusukan nya yang belum tercium, belum terbongkar. Salah satunya terkait kecelakaan tunggal orang tua Garra.
Ah, sudah lah. Ini hanya lah typo typo yang bertebaran, yang sengaja di selipkan untuk memperbanyak kata.
Ho ho hooo... maaf maaf, bukan begitu. Bukan , tapi kita juga memang perlu tau sedikit tentang mereka. Khusus nya, siapa Abraham, siapa Bastian. Ini bukan tentang perebutan harta warisan. Sekali lagi bukan.
Karena harta ini milik Bastian yang tentu nya harus waris kepada putra nya. Bukan harta Abian atau kakek Abian yang harus nya di bagi dua.
Ah, baik lah, kita kembali pada Tuan muda Garra yang masih terlihat senang. Lebih senang lagi ketika melirik Mia yang baru saja keluar dari kamar mandi. Sudah berganti , tentu nya di kamar mandi. Karena sejak kejadian kecerobohan Mia yang telanjangg kepergok Garra, Mia jadi trauma. Memilih menyiapkan ganti terlebih dahulu dan membawa nya langsung ke ke kamar mandi.
Wajah manis tanpa makeup itu terlihat begitu indah di mata Garra.
Lalu Mia menyisir rambutnya yang sengaja tidak di basahi nya dan mengikat nya dengan mengangkat tinggi tinggi serta menggulung nya keatas. Bukan sengaja pamer leher jenjang, tapi sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan nya sejak kecil.
Tapi bagi Garra, penampilan katrok Mia itu malah membuat nya semakin menggilai gadis itu. Ilegal, alias cantik alami tanpa makeup, tanpa luluran tanpa smotingan tanpa pedicure atau sejenisnya.
Melihat Garra sesekali melirik nya, membuat Mia bertanya. "Saya jelek ya Tuan?"
"Sedikit."
"Syukurlah. Ku kira terlalu jelek. Takut mata Tuan muda sakit karena melihat saya terus. Karena memang cuma ada saya di sini."
Garra tersenyum, "Sini." menepuk kasur di samping nya.
Dengan canggung Mia melangkah, menurut saja. Sebenarnya, biasa nya Mia tidak pernah canggung. Bukan cuma duduk di samping Garra, malah mendekat , merengkuh sudah biasa di lakukan. Tapi semenjak Garra bisa menggerakkan tangannya, semenjak Garra bisa bicara, Mia jadi canggung. Takut Garra memegang nya. Dan Garra terkesan cerewet di mata Mia.
"Menurut mu, bagaimana dengan permintaan Abraham?" Garra bertanya, meminta pendapat Mia.
"Abraham Abraham, Paman!" seru Mia.
"Iya Paman maksud ku. Paman laknat."
"Hus, tidak boleh seperti itu. Jika ada orang salah kita harus menyadarkan nya, bukan malah melaknat nya. Itu tidak baik. Yang boleh menilai dan menghakimi hanya Tuhan saja Tuan muda!" ceramah Mia.
"Iiih .. sok bijak. Lalu bagaimana dengan keluarga Kuncoro mu. Apa kau juga tidak melaknatnya? Mereka sudah memperlakukan mu tidak baik. Mereka sudah menjual mu lho..?"
Mia menunduk, merasa jika ucapan Garra memang benar adanya. Mia mendadak menjadi orang munafik. Selama di rumah ayah nya, meskipun terus di sakiti Mia tetap memaafkan mereka. Tetap menyayangi mereka. Tapi setelah penjualan atas dirinya, tidak di pungkiri oleh Mia, Mia membenci mereka. Menyumpahi mereka.
"Bagaimana? Masih tidak membenci mereka?" tanya Garra lagi.
"Itu perkara lain tuan muda. Kasus kita lain." kilah Mia.
"Sama saja. Nasib kita tu sama. Kau tidak di peduli kan , tidak di anggap oleh keluarga mu. Ditindas, terakhir di jual. Sedangkan aku, kau tau sendiri bahkan. Hampir mati, di buat lumpuh seperti ini. Hanya karena apa coba? Lagi lagi harta. Ku rasa keluarga mu juga menjual mu karena itu juga kan?" Garra menoleh, melirik wajah Mia yang menunduk. Ada penyesalan di wajah itu. Penyesalan karena sudah hidup di tengah keluarga Kuncoro yang jahat.
Ada rasa sakit di hati Mia. Dan Garra mampu merasakan.
Tangan Garra bergerak pelan, menyentuh tangan Mia yang tergeletak di kasur tepat di sebelah tangan Garra. Garra ingin meraih tangan itu, menggenggam nya dengan erat. Sambil bilang, 'Sekarang ada aku Mia, tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi. Lihat lah kalau aku sudah sembuh nanti. Akan bikin perhitungan pada mereka. Mereka yang sudah membuat kita menderita.'
Tapi tangan itu cepat bergeser menjauh, lalu Mia mengangkat tangan nya, sekarang malah memangku nya. Garra langsung tersipu, malu. Secara tak langsung mendapat penolakan halus oleh Mia.
"Nasib kita sama Mia. Hanya beda cerita saja." ucap Garra, mengikis rasa malunya.
"Beda!"
"Sama!"
"Jelas berbeda lah." Mia makin keras.
"Sama saja lah." Garra ngotot.
"Berbeda tuan muda. Saya di jual , dan yang membeli itu Tuan muda. Hah.. kan, tuan muda yang membelinya." suara Mia lantang.
"Enak saja. Abraham yang membeli nya." bantah Garra.
"Buat siapa?"
"Ya.. Ya buat aku?"
"Hem, pake uang siapa?"
"Uang? Uang ku lah, uang perusahaan mungkin." jawab Garra.
"Tuh kan. Jadi kasus saya ini, anda juga terlibat. Anda yang memang menginginkan saya dan Sekretaris Ang membantu mu. Bukan begitu Tuan.?" seolah menjadi penekanan untuk memojokkan Garra.
"Mia.. Kan lebih baik begitu, dari pada aku salah menikahi orang. Aku tidak punya pilihan lain menghadapi kelicikan Abraham laknat itu. Sudah ya.. jangan membahas itu lagi. Kan tadi sedang membahas Keinginan Abraham. Kenapa malah kemana mana?"
"Tuan muda yang memulai!" Mia seperti sudah sangat kesal.
"Kamu Mia... Aku kan tadi cuma meminta pendapat tentang Abraham. Kamu malah bilang, paman lah gak boleh beginilah , begitu lah."
"Terus tuan muda merembet kemana mana, malah menyinggung masalah penjualan diriku segala." Mia semakin bersuara kencang.
"Ssstttt... jangan berisik. Katanya kesembuhan ini harus di rahasia kan. Kok bicara malah kencang kencang?" Garra menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir Mia.
"Ih, apaan sih?" Mia langsung menepis tangan Garra.
"Hus... Tuh kan ada yang mengetuk pintu." ucap Garra. Mia cepat menoleh ke arah pintu dan benar saja terdengar pintu itu di ketuk seseorang.
"Hah!" Mia langsung berdiri, mengangkat kaki Garra tanpa permisi.
"Cepat cepat, akting..!" Mia gugup, sambil meraih bantal dan menaruh nya di belakang punggung Garra. Memposisikan tubuh Garra selayaknya Garra belum bisa apa apa seperti kemarin.
"Ingat! Jangan bersuara dan bergerak. Apapun yang terjadi!" pesan Mia.
Garra mengangguk.
"Kalau Abraham yang datang dan menanyakan tentang tanda tangan bagaimana?" tanya Mia. Lupa , tadi sedang berdiskusi masalah itu tapi malah berdebat.
"Bilang saja aku belum siap. Belum siap bikin rencana. Sudah sana buka pintu."
(?..) Mia.
Mia akhirnya melangkah menghampiri pintu.
***bersambung.....!
Nb***: penulis memang sengaja berbeda dari karya karya Author sebelum nya.
Jadi, nikmati saja ya...??
Semoga terhibur...!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
ira
Mia Jagan galak² loh jdi lupa kn 🤣🤣
2024-05-18
0
Arin
kok karkter Mia jdi berubah gni,ttp sperti awal lbih enak di liat...hehe maaf ya Thor,tpi sy ttp suka☺️
2022-10-11
1
SOO🍒
oo.. ternyata Abraham ini tipe suami takut istri ya apa2 smua dikendalikan istri dia cuma dijadikan robot yang mengendalikan kejahatan istrinya si Sintia ini ternyata 🤦♀️🤦♀️😡😡😡
2022-07-21
0