Malam yang di tunggu Mia sudah tiba.
Mia mulai bersiap siap untuk menerapkan terapi totok saraf yang ia kuasai pada Garra.
Setelah meminta persetujuan Garra, Mia memposisikan tubuh Garra terlentang.
Melihat Garra sudah rileks , Mia duduk di sisi Garra. Pertama tama ,Mia memulai dari tangan kanan Garra, memijat semua titik saraf Garra yang di curigai Mia sebagai saraf lemah nya.
Lalu membuka seluruh pakaian Garra, menyisakan celanaa daalam nya saja.Kemudian menjelajahi keseluruhan tubuh bagian depan milik Garra.
Selesai bagian depan, Mia merubah posisi Garra dengan posisi tengkurap.
Mia menekan telunjuk jarinya pada bagian punggung dan pinggang Garra, leher pundak dan seluruh tubuh bagian belakang Garra dengan posisi badan nya berlutut di kasur, di sebelah Garra tengkurap.
Peluh mulai membanjiri tubuh Garra, entah panas atau karena menahan sakit luar biasa akibat tekanan ujung jari Mia.
Merasa sudah cukup, Mia berhenti.
Membangunkan tubuh Garra agar duduk bersandar di ranjang, lalu mengambil air hangat untuk mengelap keringat Garra.
Garra tentu saja senang, bahagia. Merasa bahwa Mia saat ini adalah satu satu nya hal paling berharga yang ia miliki. Mia yang begitu peduli padanya, Mia yang mau melakukan apapun untuk dirinya. Garra sungguh terharu!
"Tuan muda, Mulai besok, terapi akan di lakukan setiap pagi sebelum mandi." ucap Mia, membenahi rambut Garra yang berantakan.
Lalu Mia merengkuh kepala Garra untuk kembali membaringkan tubuhnya.
'Ya Tuhan. Aku ingin sekali memeluknya!' jerit hati Garra ketika wajah Mia hampir tidak berjarak dengan wajahnya.
________
Sudah satu mingguan, Mia menerapkan terapi pada Garra, dengan ramuan yang terus Mia berikan pada Garra tanpa telat.
Sudah ada perubahan pada Garra yang mulai bisa menggerakkan jarinya, lalu mengepal kan tangan nya. Membuat Mia dan Bu Asri girang, terlebih Garra.
Bayangkan, hanya bisa menggerakkan jarinya saja Garra sudah senang sekali, apalagi kalau bisa sembuh seperti sedia kala. Mungkin Mia bakalan di gendong nya berlari tujuh kali muter muter halaman rumahnya yang luas.
Hingga di suatu malam, terdengar seseorang mengetuk pintu.
'Siapa?' pikir Mia. Anton sudah dari datang mengantar makanan, bukan makanan geh, lebih tepat nya racun!
Bu Asri juga sudah datang mengantar makanan. Nah, itu baru Makanan sesungguh nya yang di antar Bu Asri.
Mia berdiri, melangkah ragu, lalu membuka pintu.
"Tuan Abraham?" Mia langsung menunduk hormat melihat siapa yang datang.
"Bagaimana kabar Tuan muda Garra? Semenjak kau menikah dengan nya, aku belum sempat menengok nya." tanya Abraham tanpa basa basi untuk menanyakan kabar Mia terlebih dahulu. Abraham langsung masuk menghampiri Garra.
'Belum sempat katamu! Padahal satu atap!'
maki Mia, tapi hanya berani di hati.
"Tuan muda Garra, bagaimana keadaan mu? Apa sudah lebih baik?" tanya Abraham pada Garra, selama ini Abraham meyakini jika Garra tidak bisa mendengar, padahal tidak seperti itu.
Yang di tanya tak menjawab, hanya melirik sekilas dan tersenyum simpul saja.
"Tuan!" panggil Mia.
"Seperti nya keadaan Tuan muda belum juga ada perubahan. Malah semakin hari seperti nya semakin parah saja." sambung Mia, cepat memasang wajah sedih.
"Kenapa bisa seperti itu? Apa kau tidak merawatnya dengan baik hah??" Abraham menoleh pada Mia, bicara dengan nada tinggi.
"Ampun Tuan! Saya merawat nya dengan baik. Sungguh!" jawab Mia menunduk kan kepalanya, takut! Padahal cuma action.
"Cih... berlagak peduli!'
"Sudah lah. Maaf kan aku. Mungkin belum waktu nya Tuan muda sembuh. Kita hanya bisa berdoa saja. Semoga Garra cepat sembuh." sahut Abraham seolah ingin menenangkan hati Mia.
Yang Mia nya memaki kembali. 'Berdoa apa menyumpah hah? Dasar penjilat!'
Entah kenapa Mia begitu yakin jika orang di depan nya inilah , otak dari semua kemalangan hidup Garra.
"Mia,.. ada hal yang ingin aku bicarakan padamu. Selaku istri Tuan muda Garra, kau wajib ku ajak kompromi." ucap Abraham ,tiba tiba dengan nada sok bijak.
"Ada apa tuan?" tanya Mia, sudah bisa menebak apa yang ingin di bicarakan oleh paman dari suaminya ini.
"Begini." Abraham menarik nafas dahulu sebelum akhirnya memulai pembicaraan nya.
"Berhubung sekarang ini Garra sudah menikah, dan atas wasiat dari almarhum Ayah nya Garra. Seluruh harta keluarga Mahendra akan jatuh atas nama nya." sambung Abraham.
"Karena saat ini, seluruh aset masih di pegang oleh Tuan Haris, pengacara keluarga Mahendra, jadi aku sebagai orang terdekat Tuan muda Garra tidak bisa mengontrol penuh. Aku takut terjadi hal hal yang tidak di inginkan pada aset itu. Dan takut mengecewakan Almarhum Kakak ku sendiri jika tidak bisa menjaga nya dengan baik untuk putra semata wayang nya." Abraham kembali menarik nafas untuk merangkai kata kata.
"Jadi, aku butuh bantuan mu untuk menyampaikannya pada Garra. Agar dia mau menandatangani surat warisan itu. Dengan begitu, seluruh aset keluarga Mahendra akan berpindah ke dalam rumah ini. Bisa tersimpan aman di sini agar aku bisa menjaga nya sampai Garra benar benar sembuh, dan aku bisa hidup dengan tenang." sambung Abraham.
"Aku yakin, hanya kau yang bisa mengajak Garra berbicara. Kau tau kan bagaimana keadaan nya sekarang? Susah di ajak berkomunikasi. Apa kau mengerti?" tanya Abraham.
"Iya Tuan, saya akan coba membahas nya dengan Tuan Muda. Semoga saja tuan muda bisa paham dengan maksud baik anda." jawab Mia, di buat se'polos mungkin.
"Bagus lah. Ajak dia bicara secepatnya. Jika Garra sudah siap, kau bisa temui aku. Aku akan memanggil Tuan Haris kemari." ucap Abraham. Tertawa puas dalam hati.
"Baik Tuan.!"
"Ya sudah. Terimakasih sudah merawat keponakan ku dengan baik. Kau pasti lelah. Beristirahat lah. Aku tunggu kabar dari mu." ucap Abraham lagi, sambil menoleh pada Garra yang tidak bergeming. Lalu Abraham melangkah meninggal kan kamar mereka.
Mia segera menutup pintu dan menguncinya. Menghampiri Garra yang langsung menoleh padanya.
"Apa tuan muda mendengar semua ucapan tuan Abraham tadi?" tanya Mia. Garra mengangguk.
"Lalu?"
Garra menggeleng.
"Baik lah, kita bisa berpikir pelan pelan tentang keinginan Tuan Abraham. Berpikir bagaimana caranya untuk mengelabuhinya. Yang terpenting saat ini adalah, kita harus fokus pada penyembuhan Tuan Muda. Itu dulu." ucap Mia.
"Tuan muda tidur ya. Ini sudah malam. Saya juga mau istirahat."
Garra tiba tiba menggeleng, dan terus menggeleng.
"Ada apa?" Mia mencoba bertanya maksud Garra. Garra menggeleng kembali.
"Tuan Muda tidak mau tidur?"
Mia sempat kebingungan dengan maksud Garra kali ini karena terus menggeleng, mata Garra melirik ke sebelah.
"Ah, aku tau. Tuan muda mau saya temani tidur, begitu?" Mia menebak saja. Lalu tercengang ketika Garra mengangguk.
"Hah! Beneran mau di temani?" teriak Mia. Wajah Garra seketika cemberut.
Melihat itu Mia jadi tidak tega.
"Baik lah baiklah. Tidak usah memasang wajah sedih begitu juga kali. Saya akan temani. Jangan cemberut lagi ya?" ucap Mia membuat Garra senang mendengar nya.
Mia berpikir, tidak masalah jika harus tidur di sebelah Garra. Selama ini juga Mia merasa sakit badannya karena terus tidur di sofa. Toh , dengan keadaan Garra, tidak mungkin juga bakalan macam macam sama dirinya.
Mia akhirnya berbaring di samping Garra, menarik selimut Garra dan menutupi tubuh mereka berdua.
Mia sempat melirik Garra yang belum juga memejamkan matanya. Lalu iseng mengangkat tangan nya untuk menyapu wajah Garra.
"Tidur lah Tuan muda. Biar cepat sembuh."
Lama menunggu, akhir nya Garra tertidur juga. Entah kenapa Mia ingin memastikan Garra tertidur dulu sebelum ia ikut memejamkan mata.
Malam terus merambat pelan, kedua insan itu sudah tertidur pulas. Pulas, sampai tidak sadar jika Mia sudah menjadikan Garra sebagai guling nya.
Sampai pagi hari, Garra membuka mata terlebih dahulu. Merasakan kepala Mia ada di pundak nya, sementara tangan Mia erat memeluk perut nya dengan kaki yang menumpang bebas di pahanya. Terasa bebas tanpa dosa!
Garra menghela nafas. Jika saja saat ini Garra bisa memutar tubuhnya, mungkin akan ia lakukan. Memutar tubuhnya, lalu memeluk Mia kembali seperti yang Mia lakukan sekarang.
bersambung.....!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
ira
huh baik ada maunya aja dasar paman laknat🗡️🗡️🗡️cie yg meluk garra🤭🤭🤣
2024-05-18
0
Ling2711
Yg bener acting bukan action
2023-02-03
0
Lilisdayanti
sumungut gara mia 💪💪💪
2023-01-21
0