Setelah mengganti bajunya, Mia kembali menghampiri Garra yang masih di kursi roda.
"Apa Tuan juga ingin berganti baju?" Tanya Mia. Yang ditanya tidak menjawab, malah memalingkan mukanya. Entah marah , entah malu, Mia juga tidak mengerti.
'Ah iya, dia kan tidak bisa mendengar.'
Mia mencoba mendekat dan menyentuh kerja baju Garra. Merasa disentuh, Garra menarik kepalanya.
Mia sedikit bingung tapi dia segera mengingat ucapan Bu Asri, jika Tuan Muda Garra tidak mau sembarangan disentuh oleh siapapun.
"Tuan, sekarang saya istri anda. Jadi tugas saya adalah melayani Tuan dan mengurus Tuan. Tidak apa apa ya?" Ucap polos Mia, dia yakin jika Garra bisa sedikit mendengar ucapannya.
Perlahan Mia memegang kerah baju Garra kembali. Pria itu kini diam, meski pandangannya tertuju ke samping, tidak menatap Mia.
Mia membuka kemeja Garra dengan lembut dan menggantinya dengan baju yang ia ambil dari lemari.
Lalu Mia kembali membuka lemari sebelah, berniat mencari celana untuk Garra , tapi ia melihat lemari itu penuh baju wanita.
"Ini baju siapa?" Tanya nya, entah bertanya pada siapa.
"Itu baju Nona. Saya yang menyiapkan nya semalam." Tiba tiba Bu Asri sudah ada di belakangnya.
"Bu,?" Mia menoleh.
"Maaf mengganggu. Saya mengantar makanan untuk kalian Nona." Bu Asri meletakkan baki di atas meja.
"Terimakasih Bu." Jawab Mia yang langsung melangkah kembali mendekati Garra.
"Apa Tuan mau makan?" Tanya Mia.
Garra kali ini mengangguk, melihat itu Bu Asri tersenyum senang. Dan segera mengambil piring berisi makanan dan mengulurkan nya pada Mia.
Mia menyendok nasi dan menyodorkan nya pada mulut Garra. Lama Garra terdiam, menatap Mia yang tersenyum hangat penuh persahabatan padanya. Garra pun membuka mulutnya.
"Alhamdulillah!" Gumam Bu Asri, perempuan itu lega melihat Tuan Mudanya mau disuapin oleh Mia.
"Bu, boleh aku bertanya?" Mia menoleh pada Bu Asri.
"Silahkan Nona?"
"Sejak kapan tuan muda sakit seperti ini?" Tanya Mia.
Bu Asri tidak segera menjawab, malah melangkah menghampiri pintu dan menguncinya, kemudian berjalan kembali mendekati Mia yang masih setia menyuapi Garra.
"Tuan muda sakit sejak dua tahun yang lalu. Tidak lama dari Tuan besar dan Nyonya besar meninggal karena kecelakaan. Awalnya, Tuan Muda hanya demam biasa. Lama kelamaan Tuan muda tidak dapat berjalan dan kemudian tidak dapat berbicara." Jelas Bu Asri.
"Nona, saya minta ketulusan nona dalam menemani Tuan Muda. Jangan tinggalkan Tuan Muda sendirian. Kasian Tuan Muda, sejak Tuan besar dan Nyonya meninggal tidak ada lagi yang tulus padanya, kecuali Tuan Abian dan Nyonya Sulis . Sebenarnya Tuan muda adalah orang yang baik dan ramah. Tapi saya tidak menyangka jika Tuan Muda mendapat ujian seberat ini." ucap Bu Asri.
"Tuan Abian dan Nyonya Sulis? Siapa mereka Bu?" Tanya Mia.
"Nenek dan Kakek Tuan Muda. Saat ini mereka sedang berada di rumah sakit karena Tuan Abian sedang dirawat di sana. Bahkan mereka tidak tau jika hari ini Tuan Muda menikah." Jawab Bu Asri.
Mia merasa aneh, merasa jika memang ada kejanggalan dengan pernikahan mereka. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan dan kesannya terburu buru sekali. Apa lagi mengingat sikap datar dan tidak ramahnya Tuan Abraham dan Nonya Sintia. Lalu mengingat surat perjanjian yang harus ia tandatangani itu. Mia menebak jika memang ada yang tidak beres.
"Apa Tuan muda tidak pernah di bawa berobat?" Tanya Mia.
"Sebenarnya sudah. Bahkan dokter dari luar negeri pun sudah diundang kemari. Tapi.." Bu Asri tidak melanjutkan kata kata nya.
Sampai Mia bertanya. "Tapi apa Bu? Tidak ada hasilnya begitu?"
"Nona. Apa boleh saya berpesan?"
"Tentu Bu."
"Nona percaya pada saya?" Bu Asri seperti ingin menegaskan sesuatu.
Mia mengangguk. Dia merasa perlu mempercayai Bu Asri. Karena perempuan itu, satu satunya yang ia kenal dan dekat di rumah ini.
"Apa menurut nona, Tuan Abraham dan Nyonya Sintia benar benar peduli dengan Tuan Muda?" Tanya Bu Asri.
"Seperti nya begitu Bu. Buktinya, Mereka mencarikan istri Tuan Muda sampai rela mengeluarkan uang yang begitu besar." Jawab Mia sesuai dengan apa yang dia ketahui.
"Tidak seperti yang Nona pikirkan." Ucap Bu Asri.
"Maksud Ibu?"
"Banyak yang terlihat baik, namun berbahaya. Berhati hati lah Nona."
"Bu," Mia seperti tidak puas dengan jawaban Bu Asri.
"Apa Nona tau, maksud dari Tuan Abraham mencarikan istri Tuan Muda?"
"Ya, mungkin agar ada yang mengurus Tuan Muda." Mia menjawab.
"Mereka adalah keluarga terkaya di kota ini. Jika masalah pengurus atau pelayan, bisa dengan sangat mudah membayarnya."
"Lalu..?" Mia semakin tidak mengerti.
"Karena saat ini nona sudah menjadi istri Tuan Muda. Nona perlu sedikit mengetahuinya. Selanjutnya, Nona hanya perlu menjaga Tuan Muda dengan baik. Saya tau Nona gadis yang baik, dan saya yakin Nona tidak mungkin tega menyakiti Tuan Muda."
"Bu, sebenarnya ada apa?" Mia semakin tidak paham. Ia menyimpan piring kosongnya dan meraih gelas untuk memberi minum Garra. Setelah itu Mia segera menoleh pada Bu Asri, menunggu jawaban Bu Asri selanjutnya.
"Tuan muda Garra adalah pewaris tunggal kekayaan keluarga Mahendra. Tapi dengan satu catatan setelah Tuan Muda menikah. Maka kekayaan ini resmi atas namanya. Dan semua orang juga tau bagaimana keadaan Tuan Muda saat ini. Keadaan Tuan muda yang tadi nya di harapkan untuk dirahasiakan oleh tuan muda, sekarang malah tersebar, seolah malah sengaja dipublikasikan." Ucap Bu Asri, kata katanya sempat membuat Mia tidak mengerti. Tapi Mia berusaha mencernanya.
"Jadi maksudnya?"
" Siapa yang tidak tergiur dengan kekayaan Keluarga Mahendra? Ditambah keadaan Tuan muda saat ini. Bagi seseorang yang serakah, ini adalah kesempatan besar. Dan Nona, diyakini oleh Tuan Abraham sebagai wanita bodoh dan akan patuh dengan semua aturan serta perintah Tuan Abraham. Uang, bisa membuat orang lupa segalanya dan Uang, bisa membuat orang berkhianat Nona. Kecuali orang orang yang berhati tulus." Ucap Bu Asri, Mia semakin bingung.
"Apa Nona mau menikah dengan Tuan muda karena bayaran itu?" Pertanyaan Bu Asri kali ini membuat Mia terdiam, matanya berkaca kaca dan setitik kristal jatuh ke pipinya. Garra sempat melihat itu.
Mia segera menyekanya dan kembali melanjutkan suapannya.
"Tentu saja Bu." Jawab nya membuat Garra melirik Mia. Yang dilirik tidak menyadarinya karena menunduk memainkan sendok di atas piring yang di pegangnya.
"Sebenarnya , aku juga tidak tau apa apa Bu? Aku menerima pernikahan ini demi balas Budi ku pada keluarga yang sudah mau menampung anak haram seperti ku. Aku pikir, jika aku keluar dari rumah itu setidaknya mereka akan senang. Dan aku tidak lagi merepotkan mereka." Ucap Mia.
"Tadi nya , aku tidak bisa membayangkan pernikahanku ini. Tapi setelah melihat keadaan Tuan Muda Garra seperti ini, aku jadi mengerti. Mungkin Tuhan ingin aku menjaganya, dan menemaninya. Bu Asri sekarang bisa mempercayakan itu padaku Bu. Sungguh, aku tidak berniat apapun dengan pernikahan ini. Kecuali, untuk berbakti. Pertama untuk Ayah ku, dan sekarang untuk suamiku. Percayalah Bu!" Ucap Mia, dia tidak menyadari jika semua ucapan nya sedikit terdengar oleh Garra. Hati pria itu seketika menghangat. Kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Bersambung……..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
ira
garra sakit bgt pasti ulah dr paman dan bibinya yg jahat itu😤😤😤tapi apakah sekretaris ang tdk tau ya klo garra cmn sakit pura²
2024-05-18
1
Ranny
semoga tuan Garra cepat sembuh setelah di rawat oleh istrinya ya...
2024-04-08
5
Ranny
pasti itu semua perbuatan paman dan bibinya...
2024-04-08
1