Chapter 10 Awal Petualangan.
Mentari pagi telah muncul di ufuk timur, malam yang bercahaya kan bulan telah diganti dengan sinar matahari. Pagi ini berselimutkan awan hitam, seakan-akan langit turut merasakan kepahitan dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Burung-burung yang biasanya berkicau di pagi hari, kini menjadi terdiam, menambah suasananya menjadi hening, seolah-olah ikut merasakan kesedihan.
Sebuah desa kecil terlihat terbakar, dengan asap hitam dan putih membumbung tinggi ke langit, dan menyatu dengan awan hitam yang berada di atas desa itu.
Di batang pohon yang besar, terlihat seorang anak kecil yang sedang menatap desanya. Jarak dia sangat jauh dari desa itu, dan berniat tidak segera menuju ke desanya karena masih banyak orang yang telah membuat bencana.
Anak itu adalah Excel Shimo yang telah meloloskan dirinya dari serangan Ming Lai, dan berhasil menyembunyikan dirinya dari kejaran bawahan Ming Lai.
Excel Shimo bersembunyi di dalam cincin dimensi miliknya, saat dirinya menghantam pepohonan dan tertimbun. Mengetahui jika Ming Lai mengejarnya dirinya, Excel Shimo segera masuk kedalam cincin dimensi, saat dirinya masih tertimbun pepohonan dan tanah.
Sebab itu Ming Lai dan anak buahnya tidak menemukan jejak Excel Shimo saat mencarinya. Excel Shimo juga mendengar percakapan Ming Lai kepada Ming Kwong, yang memerintahkan Ming Kwong untuk menyewa organisasi Gagak Hitam untuk membunuhnya.
Cincin dimensi yang dibuat oleh Ayah Excel Shimo tidak mungkin bisa ditemukan oleh siapapun, bahkan dengan kekuatan tingkat yang jauh lebih tinggi dari kekuatan manapun.
Mata Excel Shimo masih berwarna merah darah, dan terlihat tatapannya sangat sedih. Namun, Excel Shimo tidak menangis lagi, seperti saat masih berada didepan kediaman Kepala Desa.
"Zhu'er, Bibi Hua, Bibi Zan, Ibu, Aya--"
Gumam Excel Shimo sembari menatap ke Desa Bunga yang terbakar habis oleh api, dia menyebut nama-nama orang yang telah dia cintai walau hanya bertemu selama 3 hari ini. Excel Shimo tidak mampu berbicara lagi, karena dadanya sangat terasa sesak.
Excel Shimo teringat kebahagiaan di Desa Bunga, seperti gambaran jelas di matanya saat melihat tawa dan kebahagiaan orang-orang yang dia cintai.
"Aku akan membalas semua ini ribuan kali lipat dari apa yang diderita oleh keluargaku, Klan Ming!" sumpah Excel Shimo terucap dari mulutnya, sembari terus melihat kearah desanya.
(Gemuruh)
Zretttt... Cedarrrr
Setelah Excel Shimo bersumpah, suara gemuruh di langit mengema dan di susul petir yang menyambar-nyambar disekitar wilayah Desa Bunga, seakan-akan sumpah Excel Shimo telah di terima oleh langit.
"Mari kita kembali!" aja Ming Li setelah membakar habis semua pondok penduduk Desa Bunga beserta penduduk beserta mayat-mayat mereka.
Di gerbong kereta, Ming Li Ling telah terbangun dan saat membuka matanya ia langsung hafal dengan tempat dia berada.
Ming Li Ling yang teringat calon suaminya, segera bangun dari ranjangnya, lalu ia membasuh mukanya dengan air bersih yang telah tersedia di gerbong.
Setelah keluar dari kamarnya, Ming Li Ling melihat ayahnya yang duduk di kursi dan terlihat murung dengan menundukkan kepala.
"Ayah, ada apa? Kenapa Ayah terlihat sedih!" tanya Ming Li Ling kepada Ming Lai.
Niatnya Ming Li Ling segera keluar dari gerbongnya, tetapi dia urungkan saat melihat wajah Ayahnya yang tampak sedih dan tertekan.
"Ling'er, maafkan ayah yang tidak bisa melindungi calon suamimu dan seluruh penduduk Desa Bunga!" jawab Ming Lai kepada Putrinya.
"Ayah, ada apa sebenarnya, cepat katakan bagaimana keadaan Shimo?" tanya Ming Li Ling yang sudah panik saat mengerti apa yang diucapkan oleh Ayahnya.
"Hahmm...!" Ming Lai menghela nafas berat, seakan-akan apa yang akan dia ceritakan itu akan menyakiti Putrinya.
"Semalam, setelah kita berpesta dan tertidur karena minuman keras. Para binatang buas menyerang desa, kita yang tidak sempat bereaksi, membuat para binatang buas itu dengan mudah membunuh semua penduduk desa...hah ... "
Ming Lai menjawab pertanyaan Putrinya dan berhenti berbicara untuk menghela nafas secara kasar. Ming Li Ling yang mendengarkan Ayahnya berbicara, sudah mengeluarkan air matanya.
"Ayahmu ini, yang akhirnya terbangun karena mendengar keributan, segera melawan banyak binatang buas itu. Untung saja ayah tidak menjadi korban mereka, dengan bantuan kedua Pamanmu dan beberapa pengawal yang juga terbangun. Sebagian pengawal kita juga telah menjadi korban dari keganasan binatang buas itu..." kembali Ming Lai berhenti berbicara untuk menghirup udara.
"Ayah, bagaimana dengan Shimo... Hikss..." tanya Ming Li Ling sambil menangis tersedu-sedu, dia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan calon suaminya.
"Shimo...! Dia juga menjadi korban keganasan binatang buas saat tertidur. Tidak ad--"
"Ayah, tidak, aku tidak mau Shimo mati... Hikss... Tidak, tidak, aku tidak mau mendengar dia mati... Hikss"
Ming Li Ling semakin menangis dengan memeluk ayahnya, dia memotong ucapan Ayahnya. Tangisannya membuat Ming Li segera mengetuk pintu gerbong.
Tok... Tok
"Pemimpin, semuanya sudah kita bersihkan dari kekacauan." lapor Ming Li yang sedikit menata ucapannya, agar Ming Li Ling tidak mencurigai kejadian subuh berdarah.
"Buka saja." jawab Ming Lai yang meminta Ming Li untuk membuka pintu.
"Pemimpin, ini milik Shimo!" Ming Li memberikan pakaian Excel Shimo yang dipakai saat perayaan di Desa Bunga.
Ming Li Ling yang mengenali pakaian calon suaminya, segera mengambil sebelum ayahnya menerima pakaian milik Excel Shimo.
"Shimo... Hikss, jangan tinggalkan aku, Shimo... Hikss"
Ming Li Ling memeluk erat pakaian milik Excel Shimo di dadanya sambil menangis sejadi-jadinya, dan terus menerus memanggil namanya.
Ming Lai mengangguk kepalanya kepada Ming Lai, tanda untuk kembali ke Klan Ming. Ming Li terlihat sedih melihat keponakannya yang menangis, dengan menutup pintu gerbong kereta kuda.
"Shimooo... Jangan tinggalkan akuuu...!"
Teriakan sedih terdengar dari mulut Ming Li Ling, saat gerbong kereta kuda telah berjalan. Teriakan itu juga di dengar oleh Excel Shimo yang sedari tadi memperhatikan pergerakan mereka.
Excel Shimo melihat gerbong kereta kuda milik kamar dagang Ming di kejauhan, dan mengepalkan kedua tangannya dengan niat membunuh yang mengerikan.
"Lihat saja, lihat saja nanti. Pembalasan ku lebih kejam dari apa yang kalian lakukan!" gumam Excel Shimo yang tidak peduli dengan suara Ming Li Ling, yang berteriak memanggil namanya dengan kesedihan yang teramat dalam.
Wushhhh
Excel Shimo yang sudah tidak melihat lagi gerbong kereta kuda kamar dagang Ming, segera melesat dengan sayapnya, dan menuju ke Desa Bunga.
Sesampainya di desa, Excel Shimo melihat tumpukan arang, tercium bau daging yang terbakar. Lalu dia melihat sekitarnya dan yang tersisa hanya bara api.
Kemudian, Excel Shimo berjalan menuju tempat tinggalnya, dan lagi-lagi yang dia lihat hanya bara api yang masih mengeluarkan api.
Kemudian, Excel Shimo berjalan melewati bara api, dia tidak perduli dengan panasnya api, karena panas itu tidak berarti apa-apa pada tubuhnya.
Lalu Excel Shimo berjongkok tepat di dimana dia tidur bersama keempat wanitanya, dan mengambil abu mereka.
"Dari tanah kembali ketanah, jiwa-jiwa pergilah dalam damai, lahirlah kembali dengan tubuh baru dan kembalilah setelah lelah.
Udara berhembus membelai jiwa, jiwa luka akan kembali pulih... Pulanglah...!" ucap Excel Shimo dengan menaburkan abu mayat dari keempat wanitanya di udara.
Lalu Excel Shimo mendongakkan kepalanya, dengan memejamkan matanya. Excel Shimo membuang ingatan kebahagiaan yang dia alami bersama-sama mereka yang dia cintai.
"Ini adalah awal petualangan ku!" gumam Excel Shimo dengan membuka matanya.
Lalu Excel Shimo melihat 3 cincin dimensi yang berkelap-kelip diantara tumpukan bara api, sudah dipastikan itu milik Ju Hua, Chu Ju, Xin Zan.
Setelah mengambil cincin dimensi itu, Excel Shimo kembali menuju tumpukan mayat yang dibakar didepan pemukiman penduduk desa. Dia mencari cincin dimensi yang dipakai Ayahnya.
Setelah mencari beberapa saat, Excel Shimo menemukan cincin dimensi milik ayahnya. Lalu dia melihat kearah pintu gerbang desa, dan tidak melihat mayat pemimpin bandit Bajing Loncat.
"Ming Lai, apa rencanamu sebenarnya, hingga tega membunuh semua penduduk desa yang tidak bersalah. Jangan-jangan ... " gumam Excel Shimo saat memikirkan penyebab perubahan sikap dari pemimpin kamar dagang Ming.
Sebenarnya Excel Shimo telah mendapatkan firasat buruk saat melihat Ming Lai yang mabuk dan tertidur pulas, karena tidak mungkin setingkat Raja bisa mabuk dengan mudah.
Namun, firasat buruk itu dia abaikan, karena tidak mungkin calon mertuanya akan bertindak melewati batasnya. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur, dan tidak ada obat untuk penyesalan, yang ada adalah tindakan untuk membuktikannya kepada mereka yang telah berkumpul di Alam Jiwa.
"Hah...!" Excel Shimo kembali mendesah karena dirinya merasa bersalah, karena tidak menanggapi firasat buruk itu dengan serius.
"Apa hubunganmu dengan bandit itu?" gumam Excel Shimo yang masih memikirkan semua kejadian hari ini, dan juga mengingat kejadian kemarin.
Karena tidak bisa menemukan jawaban, Excel Shimo hanya menggelengkan kepalanya, dan melihat kembali lagi seluruh Desa Bunga untuk terakhir kalinya sebelum dia pergi.
"Suatu hari nanti kita akan bertemu lagi!"
Wushhhh
Setelah berbicara, Excel Shimo melesat ke langit dan terbang tinggi seperti burung elang, sorot matanya menatap ke arah bawah.
"Putraku, saat inilah perjalanan panjangmu di mulai, semoga kejadian hari ini memicu semangatmu untuk menjadi lebih kuat, dan dewasa untuk jiwamu." gumam seorang wanita dewasa yang sangat cantik saat Excel Shimo meninggalkan Desa Bunga.
"Semoga saja, dia harus belajar dari pengalaman ini!" kata seorang pria paruh baya yang berdiri di langit sejajar dengan wanita dewasa itu.
Zlappp
Dua orang itu tiba-tiba menghilang di langit, setelah melihat punggung Excel Shimo yang dia sebut sebagai Putranya.
Excel Shimo yang merasakan aura familiar, segera berhenti dan melihat kebelakang dimana tempat Desa Bunga berada.
Excel Shimo memicingkan matanya untuk melihat disekitarnya.
"Mungkin hanya perasaanku!" ucap lirih Excel Shimo yang tidak menemukan keberadaan aura yang pernah dia rasakan ketika dia terjatuh dari langit.
Kembali Excel Shimo terbang sedikit lebih lambat, karena dia sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk awal petualangan ini.
"Target utamaku adalah menghancurkan Klan Ming secara diam-diam dari dalam.
Pertama-tama aku harus meningkatkan kekuatan ku untuk membalas dendam.
Kedua..." Excel Shimo garuk-garuk kepalanya karena bingung.
Wajar jika Excel Shimo kebingungan, walau kecerdasannya melebihi orang dewasa, tetap saja dia masih balita dan tidak memiliki pengalaman dan keluarga lagi di Benua Jiangshan.
"Oh, iya. Kenapa aku tidak kepikiran untuk berlatih di cincin dimensi. Seingat ku, Ibu telah memberitahukan untuk mempelajari semua teknik di dalam cincin dimensi." gumam Excel Shimo seperti orang gila yang sedang berbicara sendiri.
Di saat kebingungan, dia menjadi teringat dengan suara Ibunya saat dia akan terjatuh dari langit. Buru-buru Excel Shimo kembali memasuki cincin dimensi miliknya dan menghilang seperti udara.
Saat di dalam cincin dimensi, Excel Shimo yang tadi belum sempat menjelajahi luasnya cincin dimensi, segera melepaskan kesadarannya.
"Ada rumah besar...!"
Setelah memeriksa dengan cermat, Excel Shimo melihat sebuah rumah yang sangat besar, rumah itu berlantai 10. Panjangnya mencapai 2.000 meter dan lebarnya mencapai 1.000 meter.
Excel Shimo juga melihat banyak tanaman roh, tanaman obat, pohon buah yang semua sangat langka. Tumbuhan itu tumbuh subur, karena pengaruh energi Asal Muasal.
Sayangnya Excel Shimo belum mengetahui, sebab dirinya belum memilik teknik budidaya. Excel Shimo hanya memiliki akar elemen utama, yaitu api, kayu, angin, tanah, air, logam, ruang dan waktu.
Di dalam cincin dimensi, Excel Shimo bisa dikatakan sangat kaya raya, karena kedua orang tuanya telah memberikan segalanya kepadanya.
Perunggu, perak, emas, platinum, batu roh, batu mistik dan lain sebagainya yang sangat langkah dan berharga. Excel Shimo segera terbang menuju mansion yang dibuat oleh Ayahnya, yang dia kira itu adalah rumah.
Sesampainya di mansion, Excel melihat sebuah kolam yang memiliki 7 warna. Kolam itu cukup besar dengan bentuk kotak, ukurannya 10 meter persegi.
Karena tidak tahu apa nama kolam itu, Excel Shimo kembali memejamkan matanya, untuk mengingat kembali semua informasi yang dia dapatkan saat dia baru pertama kali bangun dari cangkangnya.
"Kolam 7 warna pembasuh tulang. Tetapi sebelum aku menempa tulang, aku harus mempelajari teknik budidaya terlebih dahulu." gumam Excel Shimo sembari berjalan menuju pintu masuk mansion.
Di dalam mansion menyediakan banyak ruang khusus, seperti ruang perpustakaan, ruang berlatih, kamar tidur yang berjumlah ratusan kamar dan lain sebagainya.
Excel Shimo berjalan menyusuri mansion dan menuju ruang perpustakaan. Excel Shimo sebenarnya mampu mengambil apapun saat berada di luar cincin dimensi, tetapi sesaat di dalam cincin dimensi, dia harus melakukan apapun secara manual.
Setelah memasuki ruang perpustakaan, Excel Shimo melihat 20 lemari yang tingginya mencapai 4 meter dan panjangnya mencapai 6 meter. Setiap lemari dibagi menjadi 12 bagian rak dari bawah ke atas.
20 lemari itu telah tertulis nama-nama segala macam teknik. Teknik rendah, menengah, atas dan puncak. Ada teknik budidaya, teknik Roh, teknik akar elemen dan segala macam pengetahuan.
Selain itu di tengah-tengah ruang perpustakaan, melayang beberapa ratus gulungan yang terbuat dari kulit binatang, yang biasanya disebut perkamen.
"Menarik!" gumam Excel Shimo saat melihat ratusan gulungan perkamen yang melayang itu.
Setiap perkamen itu berputar-putar dan mengeluarkan sinar berbagai warna yang berbeda-beda di setiap gulungan. Excel Shimo mendongakkan kepalanya dan tertarik dengan gulungan itu.
"Aku membutuhkan teknik budidaya yang paling terbaik dari yang terbaik, yang cocok untuk ku!" suara Excel Shimo mengema di ruang perpustakaan yang sangat sepi.
Mendengarkan suara Excel Shimo, gulungan perkamen itu berputar-putar semakin cepat, dan sinarnya juga semakin terang benderang.
Demikian juga semua gulungan yang berada di dalam rak lemari, semua gulungan bergetar hebat. Mereka seakan-akan mengerti apa yang diucapkan oleh Excel Shimo, perkataan Excel Shimo ibarat Tuan yang harus di patuhi setiap gulungan perkamen.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 478 Episodes
Comments
Aru Lauje
didalam cincin
2024-12-29
0
XiaoAriya
Curiga kamarnya buat istri2 nya si Excel🗿
2024-07-11
0
Iron Mustapa
lanjut😜😜😜
2023-11-16
0