Mao Aotian masih diam di sana tanpa berkata-kata lagi. Ia benar-benar takut jika sampai menyinggung perasaan dua Heavenly Immortal God yang tidak ia duga. Tapi, setelah ia menenangkan pernapasan dan mentalnya, ia mengangkat tangan kanannya.
"Pertandingan Hidup dan Mati, Rong Weilan melawan Rong Heixan. Dimulai!"
Mao Aotian menjauh dari arena pertandingan dan keluar dari pelindung mencoba untuk menyelematkan dirinya agar tidak masuk dalam pertarungan.
Bang!
Baru saja Mao Aotian meninggalkan arena, dentuman yang keras memekakkan telinga terdengar bersamaan dengan pelindung biru yang bergetar, serta asap putih yang menghalangi pandangan semua orang di sana.
Pelindung biru itu sendiri bukan ciptaan Kultivator, melainkan pelindung yang diciptakan oleh Pusat Pemerintah Kota Jishu.
Angin bertiup dengan kecepatan yang stabil, menghilangkan asap tebal yang menghalangi pandangan, memperlihatkan Rong Weilan dan Ring Heixan yang saling beradu sebuah pukulan.
Dalam pertandingan ini, Lin Chen menahan kekuatannya sebanyak mungkin, dan membiarkannya setara dengan Jenderal Dewa, Dewa Giok agar pertarungan ini berlangsung lama. Tapi alasan sebenarnya, ia ingin berolahraga sebanyak mungkin, karena selama ini ia menyerang sekuat tenaga dan membunuh dengan mudah.
Lin Chen yang kaki kirinya berada di depan itu melompat tidak terlalu tinggi seraya memutar tubuhnya ke kanan, dan menendang kepala Rong Heixan menggunakan tumit kaki kanannya.
Rong Heixan mengangkat lengan kanannya, menangkis tendangan yang diarahkan pada kepalanya.
Rong Heixan yang menangkis dan melihat Lin Chen dalam keadaan tidak menguntungkan, ia memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. Ia mengangkat kaki kirinya menendang punggung Lin Chen, yang kekuatan tendangan ini mampu menghancurkan barisan gunung.
Lin Chen yang melompat belasan inchi dari permukaan arena itu memutar tubuhnya ke kiri dan menahan tendangan Rong Heixan menggunakan telapak tangan kanannya.
Rong Heixan yang kaki kirinya ditahan itu tidak berhenti, dan memutuskan untuk melompat menggunakan kaki kanannya sebagai tumpuan. Ia berputar di udara, kemudian menendang kepala Lin Chen dengan tumit kaki kanannya.
Lin Chen mengangkat tangan kirinya, menahan tendangan Rong Heixan menggunakan lengannya.
Setiap mereka bertukar serangan sederhana, akan ada suara yang sangat keras dan merusak arena luas.
Kecepatan gerak mereka juga tidak bisa dilihat dengan penglihatan biasa. Yang mereka lihat di arena hanyalah dua cahaya yang saling berseteru dan asap putih yang tebal, menghalangi pandangan.
Setelah bertukar beberapa pukulan, Lin Chen dan Rong Heixan bergerak ke arah yang berlawanan. Keduanya tetap diam dan menunggu ada tebal yang menghalangi. Keduanya merasa arena untuk bertarung sangat kecil, hanya seluas 100 hektar saja.
Angin kembali bertiup menghilangkan asap putih kecokelatan, memperlihatkan arena yang hancur lebur dengan bebatuan yang mencuat keluar dari dalam tanah. Lin Chen dan Rong Heixan juga tidak memperlihatkan tanda-tanda kelelahan ataupun berhenti dalam pertarungan.
Rong Heixan menaikkan sudut bibirnya saat melihat arena yang hancur. "Apakah kau merasakannya? Arena di sini sangat kecil. Untuk Heavenly Immortal God seperti kita, setidaknya membutuhkan lahan sepuluh kali Kota Jishu agar bisa melepaskan seluruh kekuatan."
Lin Chen tidak bisa tidak setuju dengan pendapat Rong Heixan. Untuknya yang sedang menyamar dan menurunkan kekuatan, tentunya arena ini terlalu sempit untuk melepaskan berbagai teknik. Jika ia tidak menyamar sebagai Rong Weilan dan berpura-pura menjadi Jenderal Dewa, ia akan menunjuk pada Rong Heixan, dan membunuhnya dalam sekejap.
"Bagaimana kalau kita bertarung di luar Kota Jishu? Arena di sini terlalu sempit untuk kita bisa mengeluarkan seluruh kekuatan. Bahkan, hanya karena pukulan kita yang saling beradu, pelindung arena bergetar."
Rong Heixan menyeringai lebar dengan keinginan membunuh yang terpancar di matanya. "Ide yang bagus!"
Lin Chen mengangguk kecil dan bergerak sangat cepat. Ia sudah berada di depan Rong Heixan dengan posisi sedikit membungkuk, kemudian mengangkat kaki kanannya, menendang dagu Rong Heixan menggunakan telapak kakinya.
Kecepatan serangannya melebihi apa yang bisa dilihat Rong Heixan, sehingga ia tidak sempat untuk bereaksi lebih cepat, membuatnya melesat naik menghantam dinding biru.
Boom!
Dinding biru itu bergetar hebat dan memperlihatkan retakan-retakan tipis, namun menyebar hampir ke seluruh permukaan dinding biru.
Lin Chen berjongkok dengan kaki kiri yang menekuk dan kaki kanan yang terbuka lebar, dengan telapak tangan kanannya menyentuh lantai yang berantakan. Dengan sedikit gerakan, ia menghilang dari atas arena dan berpindah tempat di bawah Rong Heixan yang masih sedikit menempel di dinding pelindung.
Lin Chen mengangkat tangan kirinya menahan dada Rong Heixan, kemudian memukulkan tinju kanannya pada bagian perut.
Bang!
Dinding pelindung itu hancur dan melemparkan Rong Heixan lebih tinggi lagi melewati kapal perang.
Kapal perang berukuran kecil yang berjaga-jaga itu mulai bergerak saat situasi lepas kendali, namun gerakan mereka tertahan saat Lin Chen melewatinya.
Lin Chen mengarahkan telapak tangan kirinya pada Rong Heixan, membuat Rong Heixan berpindah tempat, keluar dari pelindung Kota Jishu. Ia juga berpindah dari dalam kota, dan memutuskan untuk melanjutkan di luar pelindung agar dapat mengeluarkan kekuatan penuh dari Jenderal Dewa.
"Apakah kau tidak ingin berterimakasih padaku karena sudah membawamu keluar dari Kota Jishu?"
Rong Heixan batuk berulang kali dan memuntahkan darah segar dari dalam mulutnya. Ia mengalami luka dalam yang cukup parah karena terkena pukulan tadi. "Kau, itu bukan pukulan Dewa Giok." Ia mengelap darah di sudut bibirnya menggunakan punggung tangan kanannya.
Lin Chen mengangkat kedua bahunya. "Aku mengembangkan teknik kultivasi yang berbeda, aku berendam di kolam darah dari membunuh ratusan juta gadis untuk memperkuat fisikku."
Rong Heixan tertegun untuk beberapa saat, sebelum memperlihatkan seringai lebar. "Memang begitulah seharusnya!"
Keduanya masih tetap diam menatap satu sama lain, saling mengamati kemampuan yang ada dan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.
Pusat Pemerintahan Kota Jishu tidak menyangka jika kekuatan Kultivator lebih kuat dari apa yang mereka duga. Bahkan sampai mampu menghancurkan pelindung yang ada dan meniadakan pelindung, karena mampu bergerak sesuka hati.
Lin Chen dan Rong Heixan mengangguk kecil, kemudian keduanya bergerak secara bersamaan, menciptakan suara keras yang memekakkan telinga dan menggetarkan daratan.
Kamera teknologi dari Kota Jishu tidak bisa menangkap gambar pergerakan Lin Chen dan Rong Weilan. Yang terlihat hanyalah cahaya merah dan hitam yang saling mengejar satu sama lain, yang setiap kali bertemu akan selalu menimbulkan dentuman keras bersamaan dengan gelombang angin bagaikan pedang tajam.
Rong Heixang menangkap pukulan Lin Chen dengan tangan kirinya, kemudian membalas pukulan dengan tinju kanannya yang diselimuti energi kuat membentuk kabut hitam. Ia mengayunkan tinjunya, memukulkannya keras pada dada Lin Chen.
Lin Chen tetap diam saat menerima pukulan, kemudian terbesit ide di dalam pikirannya. Ia berpura-pura terlempar sangat jauh ke dalam hutan yang tidak jauh dari kota. Tubuhnya terus terdorong menggesek tanah, membuat jurang yang sangat lebar dalam garis lurus.
Pepohonan sekitar beterbangan ke segala arah dan ada beberapa yang berubah menjadi abu, itu semua hanya dari Lin Chen yang terlempar. Hingga ia menghantam gunung yang menembus awan, barulah ia berhenti.
Rong Heixan menyeringai lebar dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Ia melukai pergelangan tangan kirinya, memperlihatkan darah segar yang mengalir deras seperti aliran sungai. "Teknik Aliran Pedang, Gerakan Kedua. Pedang Darah Pembantaian!" Ia mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin.
Aliran darah yang keluar dari pergelangan tangan kiri Rong Heixan itu berubah arah dan mulai naik ke langit yang tinggi. Darah itu mulai bertambah banyak, seperti ada aliran darah lain yang berasal dari udara kosong.
Darah itu mulai membentuk pedang sepanjang sepuluh mil dan sangat tajam. Hanya dari pedang yang benar-benar memadat, aura yang dikeluarkan sangat menekan dan membuat getaran di daratan.
Rong Heixan mengepalkan tangan kanannya, kemudian mengayunkannya ke arah Lin Chen secara vertikal. "Mati!"
Pedang yang sangat besar itu jatuh sangat cepat dan memberikan tekanan pada udara di bawahnya. Dari jatuhnya pedang ini juga membuat angin menyebar ke segala arah, serta memperlihatkan retakan-retakan celah di udara kosong.
Badai angin kencang tercipta saat celah ruang mulai terbuka, dan ada kilatan-kilatan petir ungu di dalam celah ruang.
Penduduk di Bintang Sheng yang melihat ini, entah dari Kota Jishu maupun kota-kota lainnya tidak menyangka akan melihat kekuatan yang mengerikan, yang mampu menyamai teknologi buatan mereka. Dari hal ini, mulai banyak yang berkeinginan untuk menapaki Jalan Kultivator, mengikuti Leluhur Bintang Sheng dulu.
Bang!
Dentuman lain yang terdengar lebih keras dari sebelumnya terjadi, bersama dengan asap yang lebih tebal dan luas, menutupi wilayah dalam radius lima ratusan mil.
Tidak membutuhkan waktu lama, setelah asap tebal itu muncul, asap itu mulai tergulung membentuk tornado. Kemudian meledak menyebar ke segala arah membentuk cincin cokelat kerena debu.
Terlihat, dari pusat ledakan Raja Surgawi yang merupakan Brahma tengah duduk di atas bunga teratai emas. Kedua tangan Raja Surgawi yang memegang Aksamala atau Tasbih dan Pustaka itu terangkat, menangkap Pedang Darah Pembantaian dengan kedua telapak tangan yang bersentuhan.
Lin Chen duduk bersila di bagian depan Brahma dan di bawahnya ada bunga teratai dengan warna yang sama. "Jangan tergesa-gesa untuk mengakhiri ini semua, pertandingan baru saja dimulai."
...
***
*Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 270 Episodes
Comments
Harman LokeST
buuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuunuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
2024-03-28
1
Duda lapuk
pertarungan mereka akan membawa sejarah baru dan bisa merubah pikiran mereka
2023-03-23
0
Alehandro 099
jji
2022-11-03
0