"Hallo" sapa Diana meski ragu, ia takut jika yang menelponnya tadi adalah sang pemilik barang.
"Hallo.. hallo" ulangnya lagi dengan mata melirik kearah Amel.
Tuuuut..
"Di matiin, Mel" ucap Diana, ia meletakan ponselnya itu keatas meja dan perasaan bersalah pun mulai menggelayuti hatinya.
"Aku takut ini yang punya, gimana?"
Amel mengusap punggung sahabatnya itu untuk menenangkan seraya berkata jika semuanya baik-baik saja.
"Pas lo buka, ponsel udah keadaan siap pakai?" tanya Amel.
"Enggak, masih segel. Tapi ada kartu didalamnya. Dan aku pakai kartu yang sudah ada didalam dusnya itu" jelas Diana.
"Ya sudah, mungkin hanya salah sambung, lo bisa ganti kartu nanti kalo gak nyaman, gimana?"
"Iya" jawab Diana, rasa senang nya kini berubah menjadi rasa takut dan serba salah serta rasa sesal karna sudah menggunakan barang yang bukan miliknya.
Lamunan Diana buyar saat bell berbunyi dengan sangat kerasnya, satu pelajaran di dua jam pertama pun sekaan tak masuk kedalam otak Diana.
"Dee, lo kenapa sih?" bisik Amel.
"Gak apa-apa, gak apa-apa kok" jawabnya tergagap.
Diana harus berkali-kali membuang nafas kasar untuk menentralkan perasaannya sendiri.
******
Adam yang sudah menuju Diana di kantin dengan senyum yang tak lepas sedari pagi semakin tak sabar setelah lima belas menit berlalu.
"Lama banget! emang tuh orang ga laper, apa?" sungutnya kesal karna sejak pagi belum melihat Diana.
"Lo kenapa?" tanya Jeno yang seakan aneh melihat Adam sering uring-uringan tak jelas sambil bergumam.
"Gue rasa Adam punya tuyul atau lagi CS sama genderuwo" bisik Ardi sambil terkekeh.
"Emang kenapa?"
"Lo liat aja, dia sering ngomong sendiri. Gue rasa mereka lagi mengadakan rapat ghaib"
Ardi dan Jeno tertawa lepas tapi tidak dengan Akram ia hanya tersenyum simpul sambil sesekali melirik kearah Adam yang pandangannya tak lepas dari pintu masuk kantin.
Adam yang tak sadar sedang menjadi bahan ghibah dua temannya itu pun merogoh saku celana seragamnya, di ambilnya benda pipi miliknya itu dan menekankan salah satu kontak nomer disana.
Maaf, nomer yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, silahkan coba beberapa saat lagi.
Adam yang mendengar suara operator telepon pun langsung terperanjat kaget, ia yang tak percaya mengulang panggilannya hingga berulang kali dan hasilnya tetap sama.
"Lo telepon siapa sih? ribet banget" ujar Jeno pada Adam.
Pemadam Kebakaran.
pemuda tampan itu langsung bangkit dari duduknya, ia yang masih penasaran terus menghubungi nomer yang baru tadi pagi tersambung setelah tiga hari ia menunggu.
Adam mencari ke kelas Diana, meski hanya melongkokkan kepalanya tapi ia bisa memastikan jika gadis itu tak ada, langkahnya kini memutar arah menuju perpustakaan dan hasilnya tetap sama meski Adam sudah memutari rakrak buku yang amat tinggi.
"Kemana sih?! mana nomernya mati" rutuknya kesal.
Adam turun lagi ke bawah, kini ia mencoba mencari ke luar sekolah berharap kali ini, gadis. incarannya itu ada.
"Dari mana lo?!" tanya Adam saat melihat Diana dan Amel di gerbang sekolah.
"Dari..... "
"Aw! sakit, Dam" pekik Diana, ia yang belum sempat menjawab justru malah di tarik oleh Adam menuju taman belakang sekolah, Amel yang di tinggalkan malah tertegun kaget dengan apa yang di lakukan Adam pada sahabatnya.
"Dee, lo mau kemana?"
Diana dan Adam langsung menoleh. Namun, dengan tatapan yang jauh berbeda. Diana dengan sorot mata memohon agar Amel untuk diam dan jangan mendekat, sedangkan Adam melempar padangan tajam supaya Amel diam dan tak ikut campur.
"Sakit, Dam" lirih Diana saat ia di dudukkan di atas kayu dari pohon besar.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lo bisa gak sih! gak usah ilang dan bikin gue panik?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 161 Episodes
Comments
Ragil Saputri
yaelah siabang dh kayak kebakaran jenggot aja panggil pemadam kebakaran......
hellow emang Lo siapa gue
2023-07-27
1
Tua Jemima
ceritanya bertele tele
2023-03-20
0
Susan Handayani
eh babang Adam kl cintrong blng ja jgn diam"ja 😋😋😋
2022-12-25
0