Part time

Aku masih teringat jelas saat itu, saat ketika ayahku mengenalkan aku pada dunia menakjubkan yang disebut dengan ‘Game’.

Saat itu aku tidak sengaja menemukan katak hitam yang tersimpan didalam kardus di gudang. Di dalam kardus itu bukan hanya berisi kotak hitam tadi melainkan ada puluhan piringan bergambar aneka ragam dan sangat menarik perhatianku. Seketika aku membawa seluruh kotak kepada ayahku.

“Oh, kira kau telah menemukan harta Karun ayah.” ucapnya dengan kebahagiaan dan wajah yang dipenuhi nostalgia.

“Apa kira ingin bermain game?.” tawar ayahku sambil melihat-lihat beberapa piringan di dalam kotak.

“Game?, Apa itu permainan yang ada di komputer paman?.” aku kembali teringat dengan pamanku yang bermain game tembak menembak di laptopnya. Aku pernah diajari oleh paman namun memainkan game bertipe kompetisi benar-benar sulit.

“Yah, bisa dibilang seperti itu, tapi ini berbeda.” ayah kemudian mengambil kotak hitam yang aku bawa bersama kardus tadi.

“Ini dinamakan Console game, alat untuk bermain game di masa lalu.”

Ayahku begitu antusias memperlihatkan benda dengan logo PS2 itu padaku. Kemudian kami pun bermain bersama, berbagai permainan kami coba hingga tidak terasa waktu cepat berlalu, pada akhirnya kami berhenti ketika kemarahan ibuku membuat telinga kami berdua memerah.

Sejak saat itu aku terus bermain game konsol, aku begitu jatuh cinta dengan beragam cerita dan keunikan masing-masing permainan. Sangat berbeda dengan online yang sebelumnya paman tunjukkan padaku.

Diantara 50 CD game yang ayah berikan padaku, ada beberapa game yang benar-benar aku sukai dan salah satunya adalah kisah tentang romansa 3 kerajaan. Seri kelima adalah sebuah mahakarya namun seri ketujuh dan kedelapan merupakan permainan yang harus menggunakan konsol lain. Sedangkan seri keenam adalah sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada.

Aku terus bermain game konsol dalam waktu yang lama, aku tidak peduli jika orang yang aku sukai di sekolah berkencan dengan teman baikku, tapi aku akan menangis seharian jika ada kerusakan pada konsol pemberian ayahku ini.

Aku juga sering menabung hanya untuk membeli CD game langka yang dijual dengan harga fantastis, itu dikarenakan memang saat ini game untuk konsol PlayStation memang sudah tidak diproduksi lagi.

Namun pada akhirnya aku harus meninggalkan alat yang telah menemaniku hampir 10 tahun. Konsol itu telah rusak, aku yang telah belajar untuk memperbaikinya pun tidak mengerti apa yang salah, seolah kotak hitam itu mengatakan jika inilah saatnya kami berpisah. Pada akhirnya aku merelakan kotak hitam yang telah menemaniku bahkan dimasa tersulit ketika kedua orang tua meninggal, untuk beristirahat dengan damai.

-TOMAT

(Tapi bohong :')

***

Kerinci~ Kerinci~ Kerinci~

Bell pintu berbunyi menandakan seseorang telah memasuki caffe ini. Lalu Kirana segera mengalihkan perhatian dari artikel berita yang dia lihat pada layar laptop lalu menatap pengunjung yang baru memasuki tokonya.

“Selamat datang.” sapa perempuan itu dengan ramah menyambut kedatangan tamu pertamanya hari ini.

Di depan pintu ada sepasang suami istri yang sudah berumur. Keduanya saling bergandengan satu sama lain saat berjalan seolah seperti sepasang muda-mudi yang saling berpacaran.

“Nek Tris dam kakek dirman, kalian terlihat mesra seperti biasa.” ucap perempuan itu menyambut kedatangan pelanggan tetap tokonya.

“Mesra apanya, kalo dia tidak dipegangi bisa bisa anak tetangga yang baru 12 tahun mungkin hilang dia cilik.” balas nenek-nenek itu dengan candaan gelap.

“Hus, jaga bicaramu kau pikir aku pedo fil!.” kakek itupun tidak terima dengan lelucon yang dikatakan istrinya. Melihat kedekatan keduanya membuat Kirana tersenyum cerah, hingga akhirnya kedua suami istri itu pun memesan secangkir kopi hitam beserta beragam kue.

“Pesanan yang sama setiap kali kakek nenek kemari,” ucapnya sambil mencatat pesanan.

Sudah setengah tahun Kirana meninggalkan profesinya sebagai gamer profesional. Saat ini dia sedang bekerja part time di kedai kopi milik bibinya.

Setelah kematian kedua orang tuanya, Kirana memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Walaupun paman dan bibinya sempat khawatir dengan masa depan gadis itu, tapi setelah melihat bakat yang dimiliki Kirana keduanya yang sekarang menjadi orang tua pengganti pun merasa jika Kirana dapat memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya sendirilah.

***

Waktu terus berjalan, kedai kopi yang buka sari jam enam pagi telah dikunjungi oleh puluhan pelanggan hingga sore hari. Kemudian saat jam menunjukkan jam tida sore sekumpulan gadis berseragam sekolah memasuki kedai.

“Kira-ne… aku pulang!.” suara seorang gadi yang begitu enerjik terdengar di seluruh kedai membuat keadaan sedikit ribut. Namun seakan sudah terbiasa tidak adak ada satupun pengunjung kedai yang protes.

“Slamat datang Anie.” balas Kirana yang telah mengantarkan pesanan salah satu pelanggan.

Anie Febriani 17 tahun anak pertama pamanku, dia satu tahun lebih muda dariku sehingga kedekatan kami seolah kakak dan adik sedarah. Dia memiliki perawakan periang atau lebih tepatnya hiper aktif. Setelah masuk kedalam kedai Anie segera mengambil kursi di depan dan segera meminta jus buah lalu disusul dengan 3 temannya yang mengikutinya.

“Sore Bella, apa Anie memaksamu lagi ikut bersamanya?.” ketika Kirana menyuguhkan minuman yang dipesan Anie, dia bertanya pada salah satu teman sepupunya itu.

“Eh.. ummm..” gadis berambut hitam lebat itu terlihat begitu kikuk.

“Umm… ka...kapucino please…” bukannya menjawab pertanyaan Kirana, gadis itu justru langsung memesan. Seolah dia takut jika akan diusir jika tidak memesan apapun. Melihat perilaku gadis bernama Bella itu membuat Kirana tertawa kecil.

“Oh my my (Ara Ara), apakah aku begitu menyeramk untukmu?.” ucapnya sambil mengusap rambut Bella agar gadis itu menjadi sedikit tenang.

Sikap penakut Bella bukan tanpa alasan, itu adalah sebuah trauma masa lalu dimana gadis itu pernah diculik. Dua tahun lalu Bella dan keluarganya pindah ke daerah sekitar kedai berharap gadis itu dapat memulihkan kondisi metalnya di lingkungan baru.

Merasakan belaian lembut di kepalanya membuat Bella agak tenang hingga akhirnya gadis itu dapat melihat wajah Kirana tanpa rasa takut lagi.

Sementara itu gadis terakhir terus memperhatikan smartphone ditangannya tanpa peduli dengan lingkungan sekitar.

“Maaf nona, tidak diperbolehkan menggunakan handphone sebelum mengucapkan salam.” ucap Kirana sambil merebut ponsel gadis itu.

“Ah… ah... maaf kak, aku tadi telalu fokus hingga tidak sadar jika sudah sampai di kedai.” dengan sangat terkejut gadis itu mohon untuk dikembalikan smartphone miliknya.

Jesika, gadis berkacamata yang terlihat seperti kutu buku, wajahnya yang terlihat tegas bagaikan seorang ketua kelas yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan.

“Tidak biasanya kau begitu lekat dengan smartphone mu, memangnya apa yang kau lihat.”

Merasa penasehat Kirana kemudian melihat smartphone m8lik Jesika, namun yang dia lihat sungguh mengejutkan hingga membuat gadis itu terbatuk-batuk. Anie pun ikut penasaran setelah melihat Kirana yang menjadi seperti itu, dua seketika merebut gadget itu dari tangan Kirana. Bukan hanya Anie, Bella pun ikut melirik apa yang sebenarnya ada di layar smartphone milik Jesika, dan hasilnya keduanya pun menjadi begitu tercengang.

“Pantas saja kamu begitu lekat dengan smartphone, ternyata ini yang kau tonton.” ucap Anie dengan wajah seolah mengerti.

“Yah, diusia Jesika memang dudah sewajarnya tertarik dengan hal seperti itu.” lanjut Kirana.

Sementara itu Bella tidak mengatakan apapun, namun wajahnya begitu merah dan matanya terus berputar-putar.

“Apaan sih?. aku cuman nonton ulasan tentang game terbaru kok.” merasa ada yang aneh Jesika mengambil smartphone miliknya dari Anie, dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat sebuah video terlarang sedang diputar di sana.

“Ti… tidak aku tidak mungkin melihat hal seperti ini!.” dengan panik gadis yang merupakan ketua OSIS di sekolahnya itu berusaha membantah.

“Apa yang kau katakan?, Itu sudah jelas ada di smartphone mu.” perkataan Anie membuat Jesika tidak dapat mengelak, gadis itu pun hampir menangis karena takut teman-temannya mengaggap dia sebagai gadis aneh.

Tidak tega melihat Jesika, akhirnya Kirana mengakui jika sebenarnya dialah yang mengirim video itu pada Jesika.

“Well…. Itu sebenarnya adalah video yang didapat dari paman untuk mengajarkan Anie tentang pergaulan bebas. Dia tidak berani menyerahkan secara langsung karena takut dibunuh oleh bibi, jadi dia memintaku untuk melakukannya.”

Mendengar penjelasan Kirana membuat ketiganya terdiam karena tidak mengerti satu hal pun yang dikatakan gadis itu.

***

“Jadi apa yang kau lihat sehingga begitu serius.” Kirana kembali memulai pembicaraan ketika menyuguhkan kue tiramisu sebagai permintaan maaf atas kejahilannya pada Jesika. Sementara itu wajah Bella begitu senang setelah meminum capuccino yang dia pesan.

“Um… ini adalah tentang perilisan game Civilization of Warlord versi VR yang akan diluncurkan 3 hari lagi.” balas Jesika sambil menunjukkan layar smartphone milik tepat di depan wajah Kirana seolah ingin menunjukkan jika dia tidak sedang menonton video terlarang.

“Oh…. Okey....” sontak Kirana terkejut dengan tindakan Jesika hingga membuatnya mundur beberapa langkah.

Sementara itu Anie melihat ekspresi lain diwajah sepupunya itu selain keterkejutan, ekspresi seorang sedang mengenang masa lalu.

“Apa kak kira nggak ada niat buat mencoba game ini?, walaupun ini adalah versi reality virtual CoW (Civilization of Warlord). Tapi para Beta tester bilang game ini benar-benar berbeda dari versi PC bahkan Mobile.”

Anie mengetahui masa lalu kelsm Kirana dan game CoW, tragedi yang menyebabkan sepupunya tidak memiliki keinginan untuk memainkan game manapun. Mendengar pertanyaan Anie membuat dua sahabatnya ikut menata Kirana seolah menunggu jawaban.

“Em… entahlah, saat ini aku sangat sibuk. Terlebih helem Vgear masihlah terlalu mahal untuk orang yang tinggal sendirian sepertiku.” ucap Kirana memberikan alasan. Namun Anie justru sangat bersemangat mendengar alasan itu.

“Jika hanya itu alasannya maka aku akan meminta ayah untuk membelikan….”

Bletak!!!!

“Huyaaaaa!!!!.”

Sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya, sebuah jitakan dari Kirana menghantam kepalanya dengan keras.

“Jangan pernah berpikir untuk meminta paman untuk membelikan benda tidak berguna super mahal itu untukku!.”

“Ta… tapi aku ingin bermain game bareng kakak lagi.” wajah Anie terlihat sedih hingga air mata mulai membasahi pipinya, entah Itu karena rasa sakit di kepalanya atau dia memsng sungguh ingin memainkan game itu bersama Kirana.

“Hah… dasar.” gumam Kirana melihat tingkah kekanak-kanakan sepupunya itu.

***

Malam telah tiba, kedai kopi itu akan tetap buka hingga tengah malam namun waktu bekerja Kirana telah usai, dia sekarang digantikan oleh paman dan bibinya.

“Paman ada apa dengan wajahmu?, Apa sesuatu terjadi dengan mu dan bibi?.”

Kirana bertanya setelah melihat cap telapak tangan pada pipi adik dari almarhum ayahnya.

“Haaa…. Yah, ini adalah kenang-kenangan dari perang dunia ke13 yang aku alami.” jawaban yang tidak mungkin dapat dimengerti.

“Benarkah?, Apa penyebab perang itu?.”

“Yah itu sangat sepele, hanya sebuah miss komunikasi kecil saja dengan sang ratu nera.….”

Ketika paman ingin mengakhiri kalimatnya, tiba-tiba pintu kedai terbuka lalu muncul seorang wanita begitu cantik karena memiliki baby face yang membuatnya terlihat lebih muda dri usianya yang sesungguhnya, ditunjang dengan tinggi badan yang lebih pendek membuat Orang yang baru pertama kali melihatnya tidak akan Mengira jika dua telah memilih 2 orang anak.

“Ratu apa.” ucap bibi yang baru saja masuk kedai dengan tatapan tajam pada suaminya.

Merasakan jika perang dunia ke 14 akan segera terjadi, aku segera berniat meninggalkan medan perang.

“Hoaaammm… aku sudah begitu mengantuk karena bekerja seharian, kupikir akan langsung tertidur saat sampai rumah.” dengan alasan ingin segera beristirahat aku segera kabur dari kedai. Dari belakang aku dapat merasakan tatapan paman yang meminta pertolongan, namun maaf aku tidak ingin terlibat dengan perkelahian antar suami istri karena aku tidak memiliki pengalaman tentang hal itu.

Tapi sebelum aku keluar dari kedai, bibi mengatakan jika ada paket yang datang untuk. Namun aku tidak merasa akan ada paket yang datang hari ini. Merasa penasaran aku pun segera pulang untuk melihat paket yang dikatakan sudah datang dari tadi siang.

Chp 001 end.

Terpopuler

Comments

Hinata Sakaguchi

Hinata Sakaguchi

Ara Ara

2021-11-04

0

Kamila Chan

Kamila Chan

masi menunggu vivi atau Artemis kembali lo thor
bukan manusia serigala yang gue tunggu😔
btw novel ini semangat bikinnya🥰

2021-07-28

3

Xing愿

Xing愿

next

2021-07-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!