Sebuah Harga

Kami berdua terus bersama menikmati waktu kami berbincang-bincang, selain hanya meminum air putih mereka juga memberiku berbagi pupuk yang di taruh di bawah kaki (akar) untuk ku serap.

“Aku tidak pernah merasa senang ini selama hidupku.” ucap ratu semut sambil menyesap cangkir Nektar ke tiga yang aku berikan padanya.

“Tidak aku sangka bersosialisasi dengan ras lain akan semenarik ini.”

“Hemm.. apa sebelumnya kau tidak melakukannya pada serangga lain?.”

“Tidak. Alam begitu ganas dan juga bodoh.”

“Aku tidak mengerti.”

Melihat kebingunganku membuat ratu semut tertawa kecil hinga dia kembali melanjutkan perkataannya.

“Sebelum aku mencapai evolusi kelima kecerdasanku masihlah seperti serangga lain

Lebih mengandalkan insting daripada otak. Bahkan aku dapat mengerti bahasa yang aku gunakan sekarang karena evolusi itu.”

Mendengar penjelasan ratu semut membuatku termenung. Tidak lama kemudian aku pun menyadarkan sesuatu.

“Jika dipikir-pikir memang hanya ratu lah yang bisa mengerti perkataan ku. Bahkan cacing yang seperti memiliki pikiran pun tidak mencoba berkomunikasi denganku.”

“Tentu mereka mengikuti sifat alami mereka, menahan apapun yang memiliki jenis berbeda dari diri mereka sendiri, walaupun aku agak bingung saat mendengar jika cacing besar itu memilih untuk menunggumu berevolusi daripada langsung memakan mu.” ratu terus berbicara sambil memakan daging cacing yang sedang kami bicarakan.

Ya aku juga tidak mengerti kenapa cacing itu lebih suka menunggu daripada langsung kenalanku.

“Well, karena kau sudah tahu betapa berharganya Nektar yang kau hasilkan, sekarang kita bisa membicarakan tentang bisnis kita.” tiba-tiba keadaan di sekitar menjadi begitu serius.

“Kerja sama?, Apa kau tidak akan memonopoli atau malah menjadikan aku sebagai budaj?.”

Suasana seketika menjadi hening setelah aku mengatakan itu. Ratu semut menatapku dengan aneh yang membuat merasa seperti orang bodoh.

“Ap… apa ada yang salah?.”

“Tidak, bukan apa-apa.”

Balasan dari ratu semut yang seolah menyembunyikan sesuatu membuat keadaan seketika menjadi canggung.

“Aku tidak akan memaksamu untuk membantuku membangun koloni milikku, karena pemaksaan bukanlah jalan ninjaku.”

Dalam sekejap ketegangan di dalam ruangan itu hancur.

“Ninja?, Kau itu semut.”

“Ratu semut.”

“TERSERAH.”

Tanpa sadar aku meneriaki ratu semut yang mengatakan kata-kata ikonik ninja pirang pada serial anime tertentu. Aku tidak tahu kenapa dia tahu kata-kata itu tapi yang jelas kepalaku terasa pusing saat terus berbicara dengan semut raksasa ini.

Aku rasa ratu semut mulai mabuk karena terlalu banyak meminum necktar.

“Sungguh dari mana kau mendapat kata-kata itu?, Apa kau memiliki televisi atau manga di sini?.”

“Aku tidak tahu tentang televisi dan manga yang kau bicarakan, tapi semua pengetahuanku tiba-tiba saja muncul di otakku setelah evolusi.”

Pernyataan ratu semut membuatku heran, tapi setelah dipikir lagi aku kemudian sadar jika dunia ini hanyalah game yang dibuat oleh sekelompok manusia.

‘Mungkin salah satu pengembang game Civilization of Warlord adalah penggemar ninja pirang jadi dia meletakkan easter egg ini’

Game virtual reality ini begitu realistis hingga membuatku tidak dapat membedakan antara kenyataan dan virtual. Menempatkan beberapa easter egg yang membuat pemain menyadari jika Civilization of Warlord hanyalah sebuah permainan menurut ku itu benar-benar ide yang brilian.

“Baiklah kembali ke bisnis kita. Aku menginginkan Nektar darimu, selain untuk diriku sendiri, aku juga akan memberikan nektarmu pada anak-anakku agar mereka tumbuh semakin kuat.”

“Bisakah kau berhenti mengatakan ‘Nektarmu’ karena aku merasa seperti orang c4bul saat seseorang mengatakan itu padaku.”

***

Ratu menginginkan pertukaran yang adil. Tapi pertanyaannya apa yang aku inginkan darinya?.

“Aku menginginkan sesuatu yang membuatku lebih cepat menaikkan level agar bisa melakukan evolusi.” ucapku.

“Dan apa itu?.”

“Aku menginginkan….”

Perkataan ku terhenti saat ratu tiba-tiba menunjukkan reaksi aneh, tidak lama kemudian salah satu telur semut yang memenuhi ruangan tiba-tiba mulai menetas. Ratu kemudian dengan sopan meminta ijin untuk pergi melihat telur itu.

“Terlihat bagus, Kemarilah anakku... Sekarang kau akan menjadi prajurit hebat yang melindungi saudara-saudaramu.”

Semut putih kecil keluar dari cangkang yang langsung diambil oleh ratu lalu untuk dilihat dengan seksama. Kemudian hanya berselang beberapa detik setelah kelahirannya semut putih itu tumbuh dengan cepat, cangkangnya mulai menghitam dan ukurannya sama seperti semut yang sebelumnya aku lihat.

‘Mereka tumbuh dewasa hanya beberapa detik setelah menetas?,’

‘Benar ini hanya sebuah game.’

Setelah semut itu mampu berdiri dia segera keluar dari ruangan ini, kemudian ratu pun kembali ke posisinya semula. Kami pun kembali melanjutkan percakapan yang tertunda.

“Bagaimana anda tahu jika dua adalah semut prajurit bukan pekerja bahkan saat baru menetas dimana mereka tidak berbeda dengan semut lain?.”

“Itu mudah, karena sebelum mereka menetas aku telah menentukan jenis apa yang akan muncul.”

Ratu kemudian menjelaskan banyak hal tentang proses kelahiran anak-anaknya yang membuatku semakin menganggap siapapun yang membuat desain dari koloni semut ini benar-benar gila.

Itu sepertinya memainkan sebuah game dengan dirimu yang dapat mempunyai seorang anak. Tapi anak yang akan player dapat tidaklah dilahirkan secara alami, game tersebut memberikan player kuasa untuk menentukan anak seperti apa yang akan player dapat. Entah itu jenis kelamin, warna kulit bahkan sifat dari anaknya pun dapat ditentukan oleh player sebelum si anak terlahir.

“Setiap kali salah satu anakku terbunuh Maja salah satu dari telur-telur ini akan menetas.”

“Itu artinya anda memiliki batas untuk memiliki seberapa banyak semut dewasa yang dapat di miliki?.”

“Benar. Sebelum berevolusi karena Nektar aku hanya mampu memiliki sepuluh ribu pasukan, lalu setelah menembus batas evolusi jumlah itu menjadi dua kali lipat.”

Dari penjelasan ratu aku menyadari jika makhluk seperti semut pun memiliki batas dalam jumlah pasukan yang dapat di miliki. Itu sama seperti para player.

Itu tidak sedikitpun membuat ku heran karena Ratu dapat menelurkan sebanyak apapun yang dia inginkan selama ruangan penetasan masih memiliki tempat. Jadi bayangkan jika tidak ada batasan pada jumlah semut dewasa yang dia miliki, maka koloni ini akan memiliki semut sebesar anjing dengan jumlah tak terbatas.

“Itu akan menjadi sebuah bencana.” gumamku sambil kembali meminum air yang didapat dari kolam bawah tabah. Itu terasa begitu segar membuatku ingin mandi.

“Jadi apa yang kau inginkan untuk memberikan Nektar itu?.” ratu semut kembali bertanya.

“Karena Nektar ini satu satunya hal paling berharga yang ku miliki, aku pun meminta hal yang paling berharga darimu sebagai imbalannya.”

Mendengar perkataan ku, ratu semut kembali menatapku dengan penuh curiga. Itu membuatku merasa tidak nyaman.

“Kau menginginkan keperawanan ku?.”

Aku hanya bisa terdiam melih seekor semut raksasa yang memiliki dua puluh ribu anak mengatakan hal seperti itu dengan suara malu-malu.

“Apa yang kau bicarakan, Memangnya kau masih memilikinya?.”

“Apa maksudmu, tentu aku masih karena aku belum pernah melakukan pada siapapun. Aku sudah mengatakan jika dapat memproduksi telur tanpa batas dengan diriku sendiri, kau ingat?”

“Tidak, kau tidak pernah mengatakan itu.”

Pada akhirnya jamu berdua berdebat tentang sesuatu yang samasekali tidak penting. Dia terus menjunjung tinggi predikatnya sebagai ratu koloni, karena keegoisan itu dua tidak ingin memiliki keturunan dengan makhluk yang bukan seorang raja.

“Jadi menang kau menginginkannya bukan?.” dia kembali menanyakan hal yang sama membuatku cukup kesal.

“Untuk apa, aku juga sama wanita seperti mu!.”

“Tapi itu hal terpenting yang aku miliki.”

“Tidak, masih ada satu yaitu anak-anakmu.”

Seolah di sambar petir, ratu semut menunjukkan keterkejutan luar biasa pada tawaran yang aku ajukan.

Hal terpenting yang di miliki dari koloni semut selai sang ratu, tentu saja pasukan semut itu sendiri.

“Aku tidak mengira jika kau kau mau memberikan nektarmu yang berharga untuk sesuatu yang tidak berguna seperti itu.”

Dalam sekejap keadaan berbalik, aku merasa begitu terkejut dengan sikap ratu yang mengaggap pasukan semut yang tidak lain adalah anak-anaknya sendiri, dua anggap tidak berharga.

‘Dia benar-benar seperti Ratu tirani yang menganggap jika anak-anaknya hanya sebuah alat.’

***

Chp 11 end.

Terpopuler

Comments

Hinata Sakaguchi

Hinata Sakaguchi

Awokwkwkwk Jalan Ninza

2021-11-04

0

Zul Khaidir

Zul Khaidir

up

2021-08-05

0

lux.reinzel

lux.reinzel

ahhh... ~~~ sifat ini, bener bener nostalgia sama ningrum

2021-08-04

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!