"Mau saya bantu kang?" tanya Hana yang melihat kang Hatim membawa belanjaan yang banyak sehingga terlihat kesusahan.
"Sepertinya tidak perlu!" jawab Kang Hatim yang memaksakan kehendaknya.
"Sudah sini,saya bantu,saya tahu akang kesusahan!"
"Kalau sudah tahu,kenapa harus nanya lagi? kenapa gak langsung aja bantu!"
"Saya kira akang tidak mau di bantu oleh wanita!"
"Sepasang suami istri itu harus saling membantu dalam segala hal!"
"Emangnya kita suami istri? kita hanya murid dan guru kang!"
"Itu menurut kamu,tapi menurut saya beda lagi!"
"Maksudnya?"
"Pikir saja sendiri!"
Astaghfirullah,kenapa umi bisa punya anak laki laki nyebelin sih? padahal teh Dawa juga sudah cukup!
"Jangan mengumpat dalam hati,kalau mau langsung saja di depan orangnya!"
"Kang,nanti tunggu dulu sebentar ya,saya mau beli kalam dan tintanya!"
"Kenapa gak tadi sekalian,kan sekarang sudah nanggung sudah sampai di terminal,sebentar lagi sampai mobil!"
"Ya masa mau ke toko alat tulis bawa belanjaan!"
Kang Hatim tidak membalas lagi ucapan Hana,dia malah buru buru menuju mobil dan membuka bagasi.
Kang Hatim memasukan semua barang belanjaan ke dalam bagasi mobil termasuk yang di bawa Hana.
"Ini biasanya belanja sebanyak ini untuk berapa hari sih?" tanya kang Hatim.
"Minimal satu minggu maksimal dua minggu!" jawab Hana.
"Kang,saya beli kalam dulu ya,gak lama kok!"
"Iya!"
Hana pun pergi meninggalkan kang Hatim yang masih menyusun barang barang di dalam bagasi mobil.
"Bu,ada kalam buat nulis yang bahannya dari kayu?" tanya Hana pada pedagang.
"Yang buat kaligrafi neng?" tanya si ibu ibu pedagang itu.
"Ah iya bu,ada tidak?"
"Sebentar ya,ibu cari dulu!"
"iya bu!"
"Ini bukan neng?" tanya ibu pedagang.
"Ah iya ibu,berapa?"
"Mau satu set neng?"
"Iya bu,dengan tintanya sekalian!"
"Oh iya sebentar ya neng!"
(Kalam,atau pena,atau apalah,Author kurang tahu ^)
"Ini neng!" menyodorkan kantung plastik kecil.
"Be...."
"Berapa bu?" sahut kang Hatim memotong kalimat Hana.
"Tiga puluh lima ribu den!" jawab ibu ibu pedagang itu.
"Ini uangnya bu,kembaliannya ambil saja!" menyodorkan uang kertas berwarna biru.
"Terima kasih den!"
"Saya permisi dulu bu,Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam!"
kang Hatim menuntun tangan Hana agar mengikutinya.
"Di rumah saya juga banyak yang kaya gini!" kata kang Hatim.
"Tapi itu punya akang,bukan punya saya!"
"Punya saya punya kamu juga!"
"Emangnya saya istri akang apa?"
"Iya,kamu buat apa beli ini?" mengalihkan pembicaraan.
Pandai kali dia mengalihkan pembicaraan,dan astaghfirullah,kenapa tangan aku susah di lepasin sih? apa gak akan dosa?
"Saya bertanya kepadamu Hana!"
"Ah iya kang,nanya apa?"
"Kamu buat apa beli ini? makanya jangan bengong,jadi gak fokus!"
"Buat belajar kaligrafi!"
"Belajar? siapa yang akan ajarin kamu?"
"Sekarang ini jaman modern.Jika kita bersungguh sungguh,dari google atau youtube juga bisa belajar apapun!"
"Artinya kamu suka main hp buat belajar kaligrafi dong?"
"Tidak juga,saya suka minjam hand phone teh Alvi untuk belajar menulis kaligrafi dan juga suka di latih oleh teh Zahra!"
"Oh,teh Zahra,pantas saja!"
"Kang,lepasin dong,kang bukan muhrim!" kata Hana berusaha melepaskan tangan yang di genggam oleh kang Hatim.
"Oh iya maaf!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 326 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀
Hana, dipegang tangannya sama kang Hatim, nggak deg-degan apa???
2022-05-07
2
Rostika Ali
Terus terang dong kasihan hana. Lebih baik dia tau kan tambah mesra
2022-03-11
2
Amanah Amanah
udh cukup Hana bingungnya kang,ayo terus terang
2022-02-19
2