"Kang,ini dataan nama nama orang tua santri dan alamatnya,sebagian ada juga yang dengan nomor teleponnya!" kata Hana sambil menyerahkan map merah.
"Saya cek dulu!" kata kang Hatim sambil membuka map merah itu.
"Silahkan!" jawab Hana menunduk dan hanya di jawab hm oleh kang Hatim.
Hana memperhatikan wajah kang Hatim yang sedang fokus membaca isi dataan para santri itu.
Dia memang tampan! gumam Hana dalam hatinya.
"Kenapa kamu memandang saya seperti itu?" tanya kang Hatim yang melihat Hana memandang wajahnya dengan fokus.
"Ah emh,anu itu eh tidak apa apa kang!" kata Hana gelagapan karena kang Hatim membuyarkan lamunannya.
Pipi di balik cadar milik Hana memerah karena malu.
"Kamu boleh pergi!" kata kang Hatim.
"B-ba-baik kang,saya permisi!" kata Hana pamit.Dia tidak mengucapkan salam kepada kang Hatim karena bukan makhrom nya.
Ma**tanya lebih cantik saat melamun! gumam kang Hatim saat Hana sudah hilang dari pandangannya.
"Kenapa senyum senyum?" tanya Ustadzah Dawa yang tiba tiba masuk ke ruangan kang Hatim.
"Ah apa? tidak kok,kenapa Eteh gak salam dulu?" tanya balik kang Hatim yang kaget karena kakak tergalaknya tiba tiba sudah ada di depan mata.
"Aku sudah mengucapkan salam sampai tiga kali,namun kau tidak menjawabnya.Kau malah senyum senyum sendiri!" jawab Teh Dawa atau Ustadzah Dawa.
"Hheh maaf Teh!" kata kang Hatim.
"Hheh hheh,gimana? dapat atau tidak?" tanya teh Dawa.
"Dapat teh,nih!" jawab kang Hatim sambil mengacungkan kertas isi map merah yang di berikan Hana.
"Sini!" kata Teh Dawa menamprakan tangannya.Kang Hatim pun memberikan kertas itu.
Teh Dawa membaca isi kertas itu dengan seksama.Hingga akhirnya dia mengangguk angguk mengerti.
"Jadi,dia anak dari usahawan terkenal?" tanya Teh Dawa.
"Iya Teh,aku jadi tidak yakin!" jawab kang Hatim.
"Kenapa? karena kita tidak punya harta?" tanya teh Dawa.
"Iya Teh,aku takut kalau orang tuanya mau anaknya nikah sama pengusaha,bukan seorang santri!" jawab kang Hatim.
"Apa kamu tahu suami Zahra? suaminya itu anak dari seorang pengusaha! kamu tahu itu kan? tapi dia mau mau saja menikah sama Zahra yang hanya anak dari ustadzah!" kata Teh Dawa.
"Semoga begitu Teh!" kata Kang Hatim.
"Jangan kecil hati,semua kakak kakakmu dan ibumu mendukungmu!" kata teh Dawa.
"Kenapa sih,aku harus cepat cepat nikah?" tanya kang Hatim.
"Aku,Teh Zahra dan putri menikah di usia yang sama,yaitu di usia delapan belas tahun.Bahkan umi menikah di usia lima belas tahun.Tadinya,aku akan menjodohkan mu di usia delapan belas juga,namun waktu itu kau belum cukup ilmu dan belum dewasa.Mungkin ini saatnya!" jawab Teh Dawa.
"Terus kenapa aku harus nikah dengan wanita itu? apa dia cantik?" tanya kang Hatim.
"Apa kamu belum melihat wajahnya?" tanya balik teh Dawa.
"Belum,aku ingin melihatnya!" jawab kang Hatim.
"Belum saatnya!" kata teh Dawa dan pergi begitu saja dari ruangan adiknya.
Allahuakbar Allahuakbar
Adzan maghrib pun berkumandang.Kang Hatim buru buru membereskan ruangannya dan pergi ke mesjid.
Setiap berjamaah pasti kang Hatim yang menjadi imam sholat,karena tidak ada laki laki lain.
Saudara perempuan kang Hatim juga ada yang tinggal di pesantren baitussalam awal yang khusus laki laki,ada juga yang tinggal di baitussalam sani yang khsus wanita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 326 Episodes
Comments
Yani Cuhayanih
lanjut saja....
2023-12-17
0
Risma Farna
Bukannya memberi salam itu wajib ya??? kok dsni ndak memberi salam krna bukan mahromnya??? maksudnya bgmn??? mohon penjelasannya... masih awam soalnya 🙏🙏🙏🙏🙏
2023-06-07
2
Pisces97
mengucapkan salam tidak ada larangan tapi dilarang berjabat selagi bukan makrum nya
2023-01-09
0